Shadow Agen

Shadow Agen
Shadow Agen


__ADS_3

Menjalankan misi, pelatihan, rencana untuk memberantas kejahatan, ketenangan dan langkah untuk meraih kembali kebahagiaan. Ya itulah yang dipikirkan oleh seorang pemuda ber iris ruby yang termenung di ruangannya. Entah kenapa pikirannya masih belum bisa lepas dari apa yang Sein tawarkan.


Apa dia bisa melakukan ini? Apa Avren tak akan tau? Ah lupakan. Apa pedulinya pada Avren? Tapi sayangnya itu juga berkaitan dengan nyawanya.


Kalian tahu, terkadang kenyataan itu pahit. Tapi bagaimanapun kita harus terimanya. Rasanya sepahit minum kopi tanpa gula di pagi hari. Memulai pagi dengan hal yang pahit sepahit fakta hidup ini yang begitu kejam.  Oke lupakan.


Tapi... Bukannya cukup sulit jika pergi di saat seperti ini? Anggota Dark Devil yang lain bisa tahu. Sebenarnya ia cukup penasaran dengan apa yang pria berkacamata itu rencanakan. Tapi semoga bukan hal yang terlalu buruk atau melibatkan dirinya dalam masalah yang membuatnya disiksa habis habisan.


Baiklah dirinya harus berpikir positif... Hilangkan pikiran pikiran negatif yang mengganggu.


"Peranmu benar benar menjadi 'shadow agen' disini. Menjadi agen di balik bayangan dan hanya beberapa orang yang tau. Apa akan berhasil? "


"Ya, mungkin saja. Lagipula ini bisa jadi langkah berikutnya untuk menghancurkan para mafia busuk itu. Aku tak ingin ada anak anak lain yang bernasib sama denganku"


"Izinkan aku mengambil alih saat situasi kau terpojok"


Revan terdiam. Apa itu perlu? Sebenarnya terlalu beresiko jika ia membiarkan makhluk itu untuk mengendalikannya. Ia tak ingin orang yang tak bersalah celaka karenanya. Tapi jika benar benar dirinya terpojok atau tak bisa melawan mungkin bisa.


"Ya baiklah... " Jawab Revan akhirnya.


"Kau berbicara dengan siapa? "


Revan langsung menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Sein yang sedang bersandar di dinding dekat pintu. Apa Sein mendengar semua yang ia bincang kan dengan makhluk itu? Tapi dirinya berbicara seperti telepati yang didengar hanya suaranya. Tapi tetap saja semoga tak mendengar!


"A... Aku bicara dengan diriku sendiri" Jawab Revan. Ia tak berbohong kan? Walau bagaimanpun makhluk itu bagian dari dirinya. Tepatnya 'Reverse' nya.


"Baiklah, jadi siap ke Shadow Agen sekarang? " Tanya Sein.


Revan sempat berpikir namun akhirnya dengan mantap ia pun menjawab "ya."


***


Pagi itu terasa sedikit aneh baginya. Memandang ke luar jendela sambil menopang dagu. Raile terlihat bosan atau tepatnya menahan kantuk. Pak Pala yang sedang menerangkan pelajaran pun dia abaikan. Entah apa yang ada di pikiran pemuda ber manik gold itu sekarang.


Ya, Raile sedang di sekolah sekarang. Biasanya Raile adalah anak yang rajin dan tak akan melewatkan pelajaran. Tapi sekarang justru mengabaikannya. Entah apa yang merasukinya.


Riz yang duduk di sebelahnya memandang heran ke arah sepupunya itu. Tak biasanya Raile seperti itu. Tiba tiba pikiran jahil pun memasuki otak pemuda itu yang langsung menarik tangan Raile dan membuat pemuda itu terkejut.


"Apa apaan sih Riz! Ganggu aja" Keluh Raile yang kesal.


"Raile? Aku membantu tau. Membantu menyadarkan mu dari lamunanmu itu. Ada apa Raile? Apa kau sedang ada masalah? Apa kau sakit? Katakan saja" Tanya Riz.

__ADS_1


Raile sedikit termenung. Pikirannya terarah pada apa yang di dengarnya. Tapi ia masih belum bisa memastikan dengan jelas apa itu benar karena dia dalam keadaan setengah sadar saat itu. Namun hal itu membuatnya jadi semakin merasa bingung. Jika semua itu benar artinya Revan saudaranya yang terpisah dengannya. Apa yang harus ia lakukan?


"Raile?" Lagi lagi Riz mengejutkan Raile dari lamunannya. Ia memandang ke arah pemuda itu yang justru menatapnya dengan raut wajah khawatir. "Kau baik baik saja? " Tanya Riz.


Haruskah dia menjawab tidak dan menanyakan itu? Tapi sepertinya belum saatnya. Setidaknya Riz harus mencari lebih banyak bukti. "Aku baik baik saja. Hanya... Masih pusing sedikit. "


"Pusing?! Perlu ku bawa ke UKS? Kau juga masih harus istirahat kan? Aku bilang ke Pak Pala untuk izin ke UKS ya? "


"T.. Tidak perlu sungguh aku baik baik saja kok! "


"Kau yakin?"


"Iya." Jawab Raile singkat. Pikirannya masih terarah pada cerita itu. Tapi menurut pandangannya tetap saja Revan yang salah. Dia masih belum bisa percaya Revan adiknya. Belum cukup bukti baginya. Tak mungkin dia menyimpulkan secepat itu.


Terkadang seseorang lebih mementingkan ego dan pemikirannya sendiri daripada melihat fakta yang ada. Walau kenyataan sudah di depan mata, kebencian yang ada dalam dirinya selalu menutup celah untuk jalan kebenaran itu bisa terbuka.


Nut nut..


Ponsel Riz dan Revan bergetar menandakan pesan masuk. Mereka pun membacanya dan setelahnya mengangkat tangan bersamaan.


"Pak Pala izin ke toilet mau neduh dari panas" Ucap Riz. Raile pun melirik sepupunya itu seolah berkata 'bisakah mencari alasan yang lebih masuk akal? '


Dan benar saja itu membuat seisi kelas memandang mereka berdua. Malu nih...


Dengan cepat kedua pemuda itu pun segera pergi ke luar. Namun di samping itu, terlihat Fangga yang sedikit menyipitkan mata. Pandangannya ter arah pada mereka lalu berdecih kesal. "Kenapa hanya mereka? " Gumamnya.


Sedangkan seisi kelas masih memandang heran mereka. Ke toilet untuk berteduh? Yang benar saja. Tapi itu segera dialihkan oleh...


"Haa~ murid murid, hari ini ada... UJIAN DADAKAN MATEMATIKA!!!!! "


"TIDAAAAAKKKKK!!!!! " teriak seisi kelas histeris tak terkecuali satu orang.


"Sungguh malang nasibku ini.... "


Kembali pada Revan


Di sebuah ruangan dengan cahaya remang remang menyorot pada seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi. Sementara di hadapannya terlihat Revan dan Sein yang berdiri tegap.


"Jadi kau anak itu? Apa kau benar benar ingin menjadi agen?" Tanya pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah agen Raka.


"Aku yakin ingin menjadi agen. " Ucap Revan yakin.

__ADS_1


"Baguslah. Asal kau tak berhianat. Sein sudah menceritakan semuanya padaku. Mungkin kau bisa mulai menjalankan misi dengannya lebih dulu. Setelah itu kau bisa mulai dengan yang lain. Ya sepertinya mereka tak keberatan. Untuk masalah Raile, biar kami yang urus. " Ucap agen Raka.


"Terimakasih." Jawab Revan singkat.


"Tumben baik. Biasanya galak. Kaya singa yang kelaparan dan mencari mangsa lezat untuk dimakan." Gumam Sein secara tiba tiba namun masih bisa didengar Revan dan Raka. Revan terlihat mengerenyitkan dahi bingung.


"Maksudnya? " Tanya Raka


"Ah tidak bukan apa apa. Aku hanya bicara sendiri tadi. " Ucap Sein sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Jika begitu Sein, bisa kau ajak Revan melihat lihat tempat ini? "


"Ah baiklah! Ayo Revan" Ajak Sein. Revan pun mengangguk. Setelah itu mereka memberikan hormat pada agen Raka dan berjalan meninggalkan ruangan.


Sein pun mulai menjelaskan berbagai hal mengenai tempat tempat di sana dan juga mengenalkan Revan pada beberapa anggota agen yang lain. Revan terlihat senang menyimak dan beberapa kali menjawab pertanyaan dari agen lain atau bertanya tentang beberapa hal.


Sampai... "Sein, bisa kau jelaskan tentang Raile? Bagaimana saat dia menjalankan misi? "


"Raile ya... Dia anak yang cukup baik dalam menjalankan misi. Sikapnya selalu serius dan teliti dalam setiap misinya. Ya... Bisa dibilang dia anggota termuda di sini. Walau bukan satu satunya sih.. Ada Riz dan Rei yang juga merupakan anggota termuda. Di umur mereka sekarang prestasi mereka cukup bagus dan jarang mengecewakan. Ya.. Salah satu tim ter sukses."


"Raile memiliki jiwa kepemimpinan yang bagus yang bisa mengatur strategi dan tugas tugas rekannya. Namun kadang sikapnya malah mirip seperti ibu ibu. Walau terkadang dia terlihat murung dan beberapa hari terakhir dia sering mendadak pingsan. Mungkin efek samping amnesianya? "


Amnesia? Mungkin saja. Tapi jelas ada yang memicu hal itu bukan? Apa mungkin karena dirinya? Kemunculannya bisa saja mempengaruhi ingatannya bukan?


"Semoga dia baik baik saja... Apa Raile pernah mengatakan sesuatu tentangku? " Tanya Revan.


Seketika langkah Sein berhenti. "Ya. Beberapa hal. Tapi... Mengenai kau yang dia benci. " Ucapnya.


Revan terdiam. Wajar saja... Kali pertama dia bertemu dengannya saja memberi kesan buruk dengan membunuh rekannya. Walau dia dikendalikan tapi bagaimanapun dia sudah membunuh salah satu rekan Raile yang jelas wajar saja jika dia benci padanya. Andai saja Revan bisa mengubah hal itu...


"Begitu ya... Haah kurasa wajar... " Gumam Revan namun masih bisa didengar Sein. Pria itu pun mengusap puncak kepala pemuda di hadapannya itu. "Semuanya akan baik baik saja. " Ucapnya sambil tersenyum.


Revan sedikit mengangkat kepalanya menatap Sein yang tersenyum padanya. Ia pun mengangguk. Mereka pun kembali berjalan sampai...


BRUK!


"Auch... " Rintih seseorang yang terjatuh setelah menabrak Revan dari belakang. Terlihat banyak kotak dan buku buku berserakan di lantai. Sudah jelas dia sedang buru buru membawa barang barang itu dan tak memperhatikan apa yang ada di depannya. "Maaf aku tak sengaja! Aku buru buru" Ucapnya.


Revan pun langsung mencoba membantunya membereskan barang pemuda itu. "Biar ku bant-" Revan sedikit terkejut. "Rei? "


Pemuda itu yang merasa namanya dipanggil langsung memandang ke arah orang itu. Suara yang sungguh tak asing. Sudah jelas siapa pemilik suara itu. " Rev kau... "

__ADS_1


TBC


__ADS_2