
Tok tok tok
Pintu di ketuk oleh Revan yang baru saja sampai. Tak lama kemudian, seorang anak laki laki membukakan pintu dan langsung berlari memeluk dua pemuda di hadapan nya.
"Kak Ile! Kak Rev! Lama banget sih pulang nya." Ujar nya dengan ekspresi ngambek dan pipi yang di kembangkan. Walau ngambek gitu tapi dengan wajah manis nya justru membuat nya terlihat menggemaskan!
"Maaf ya Fio, kami ikut ekskul tadi, makanya kami pulang telat." Bohong Raile sambil tersenyum dan mengusap pucuk kepala anak lelaki itu. Ya, mana mungkin juga mereka mengatakan sebenarnya jika Raile baru saja di culik kan? Bisa ribut satu sumpah karena panik nanti?
"Baiklah... Kak Riz nyariin tuh. Ngambek kayak nya. Pulang pulang muka nya udah kusut kaya baju gak di setrika gitu." Fio menunjuk ke lantai atas dimana Riz menunggu mereka.
Sudah jelas Riz benar-benar marah sekarang. Apa yang harus mereka jelaskan...
"Baiklah, aku dan kak Raile ke atas dulu ya Fio." Ujar Revan sembari mengusap kepala anak itu yang membalas nya dengan senyuman ceria.
"Baiklah! Hati hati di ngap nanti."
Kedua nya hanya membalas dengan senyuman yang terkesan terpaksa, dan berjalan menaiki tangga ke lantai atas. Derap langkah mereka terdengar jelas saat menaiki tangga, lalu melihat ke sebuah kamar dengan pintu berwarna biru langit, sama seperti warna mata sang pemilik kamar itu.
"Riz? Kau di dalam?" Tanya Revan sembari mengetuk pintu. Tak lama, pintu terbuka. Namun kejadian selanjutnya justru di luar dugaan Revan.
BUG!
Sebuah bantal meluncur dengan kencang ke arah nya. Beruntung Revan sempat menghindari bantal itu yang langsung meluncurkan menabrak dinding di belakang Revan. Jika tidak, sudah jelas muka nya akan terkena bantal itu.
__ADS_1
"Kenapa menghindar? Kalau kena, nggak bakal sakit juga kali!" Seru Riz dengan ekspresi kesal nya.
"Kaya perempuan saja marah sampai segitunya." Ujar Raile.
Riz menggembungkan pipi nya. "Aku kesal tau. Raile dah ketemu kenapa gak kasih kabar? Kan cape cari kesana sini. Raile juga. Kau ini sudah besar, masih di culik aja kaya anak kecil."
"Maaf aku lupa, dan handphone ku mati." Jawab Revan dengan singkat dan padat nya sambil menunjukkan handphone nya yang mati karena kehabisan baterai.
Sementara, seketika perempatan imajiner. Muncul di dahi Raile. "Kau bilang kaya anak kecil ya hah?!" Seru nya marah sembari menunjukkan kepalan tangan nya. Di sisi lain Revan hanya menghela nafas. Jangan lupakan kemarahan Raile itu sama mengerikan nya dengan kemarahan emak emak.
"E-enggak lupakan mama." Riz memalingkan wajah nya dan menggaruk belakang kepala nya yang tak.
"Mama kau bilang?! Aku bukan mama mu lah! Dsn lagi, aku laki laki!" Seru Raile.
"Lebih baik kita bicarakan di dalam. Jangan sampai kakek dan Fio dengar." Saran Revan. Keduanya pun mengangguk dan masuk ke dalam kamar Riz.
Lampu di nyalakan. Pemandangan dinding yang bercatkan biru muda dengan garis putih, ditambah dengan bingkai bingkai foto yang menghiasi dinding membuat suasana tenang sekaligus sejuk. Seakan menjadi dinding kenangan yang menunjukkan foto dari masa ke masa, membuat mereka bernostalgia.
Tak di sangka jika Riz menyimpan semua foto masa kecil mereka bertiga.
Revan berjalan mendekati sebuah foto yang terpajang di dinding tak jauh dari jendela. Dalam foto itu ada Raile, dirinya dan Riz yang sedang bermain bola.
Jika di lihat lihat, mungkin usianya masih sekitar tiga tahun saat itu.
__ADS_1
Tapi tak ada foto mereka bertiga saat sudah dewasa. Yang ada hanya foto Riz dengan teman teman sekolah nya, mengingat Riz adalah anak yang cukup populer dan ceria, membuatnya mudah mendapatkan teman.
"Sudah lama sekali kita gak kumpulan kaya gitu. Tapi aku senang... Sekarang bisa bersama kalian berdua lagi." Riz merangkul Revan yang menunjukkan senyuman tipis nya.
"Kau benar..." Walau ingatan nya belum sepenuhnya pulih, tapi sudah banyak hal yang ia ingat. Ditambah, dia sudah semakin akrab dengan Raile sekarang.
Setidaknya sudah tidak seperti kucing dan tikus yang kejar kejaran di atap sembari baku tembak.
"Ngomong ngomong sekarang... Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi?" Tanya Riz sambil mendudukkan dirinya di atas kasur. Kedua pemuda di hadapan nya saling berpandangan satu sama lain.
Ada rasa ragu untuk memberitahu. Walau sepertinya tak mungkin, di satu sisi mereka takut informasi tentang Erano dan teman teman nya akan bocor setelah Riz mengetahui ini.
Tapi di sisi lain mereka juga khawatir jika Riz tau dan terlibat, ini justru juga akan membahayakan dirinya. Sudah cukup banyak masalah yang mereka hadapi.
"Sebenarnya..."
"Kalian berhasil mengalahkan orang-orang yang menculik Raile dengan bantuan beberapa teman atau kenalan kalian lagi?" Tanya Riz membuat kedua pemuda di hadapan nya terkejut. Bagaimana Riz bisa tahu tentang itu?
Revan mencoba untuk berbohong. "Tidak kok, Revan hanya sendiri."
"Aku tanpa sengaja bertemu anggota Dark Devil yang mengatakan itu. Jadi, siapa yang membantu Revan?"
Oke, jika begini mau tidak mau mereka harus menjelaskan semuanya.
__ADS_1