
Langit biru yang indah kini sudah berubah menjadi jingga dengan semburat merah. Sang surya pun sudah mulai turun dari singgasana seiring waktu yang semakin sore.
Seorang pemuda ber iris blue sky melangkahkan kaki nya di trotoar jalan yang mulai sepi. Dirinya masih mencari keberadaan Raile yang sempat menghilang saat pulang sekolah tadi.
Riz berdecak kesal. Harusnya ia menunggu nya tadi, maka hal seperti ini tak akan terjadi. "Kemana anak itu... Revan bahkan tak memberi kabar." Gerutu nya kesal.
Ah, Revan pasti lupa mengabari Riz saat itu.
Langkah kaki nya membawa nya masuk ke dalam sebuah gang sempit, siapa tau menemukan tempat persembunyian para mafia atau apapun itu yang menculik Raile. Walau dirinya saja sudah yakin jika Dark Devil lah dalang di balik semua ini.
"Sialan mereka. Jika saja mereka berani melukai Riz, bakal ku hajar mereka semua! Ditambah lagi nih Revan gak bisa di hubungi, jangan bilang dia juga di tangkap. Ah!! Gak ada kah yang bisa ku mintai bantuan??" Omel nya panjang lebar mengutarakan kekesalan nya.
Tak tak tak...
Namun langkah Riz seketika terhenti saat mendengar suara langkah orang lain. Kini dirinya berada di sebuah yang sempit, apa ada orang yang akan datang ke tempat seperti ini pada jam segini?
Riz bersembunyi di balik tong sampah, dan dari sebrang nya, seorang pemuda dengan suara yang tak lagi asing bagi nya berjalan mendekat.
Sebisa mungkin Riz mencoba tak berisik agar keberadaan nya tak di sadari.
'Itu suara Thory kan? Apa yang dia lakukan di sini?' batin nya sambil mendengarkan.
BRAK!
SREK
Secara tiba tiba terdengar suara keras seperti sesuatu menghantam benda lain. Namun setelahnya justru terdengar seperti benda yang di seret.
'Suara apa itu?' batin Riz. Setelah di perhatikan suara nya seperti tali atau semak yang di tarik. Ah! Otaknya masih belum bisa mencerna apa itu.
"Jadi memang benar, mereka sekarang membantu Revan?" Tanya Thory pada seseorang.
__ADS_1
"Iya tuan, ada tiga orang yang membantu nya. Sedangkan PiGenSai bersaudara dan Himaki sudah di kalahkan." Jawab pria itu dengan nada suara seperti ketakutan.
"Bagaimana bisa ada yang membantu nya?!"
"S-saya tidak tau tuan."
Suasana hening sesaat membuat Riz meneguk ludah paksa. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Entah kenapa ada rasa takut yang ia rasakan seakan Thory sedang memperhatikan nya.
"Baiklah. Kembali ke markas Dark Devil sekarang." Ujar Thory yang langsung di tanggapi oleh bawahan nya.
Riz menarik nafas lega. Namun tak sampai menit berganti, tubuhnya kembali menegang begitu mendengar suara derap langkah kaki menuju ke arah nya bersamaan dengan suara gesekan entah benda apapun itu yang di bawa Thory.
"Jadi akhirnya mereka keluar dari tempat persembunyian nya ya..." Gumam Thory dengan suara pelan. "Senjata jadi semakin banyak deh... Hanya perlu persiapan untuk membuat mereka kembali. Haha... Gak sabar deh. Saat melihat kemampuan mereka dalam kendali ku."
BRAK!
Sebuah sulur berduri menghantam tong sampah dengan keras nya sampai tong sampah itu peot dan menyebarkan sampah di dalam nya.
Riz yang melihat itu tentu tak bisa untuk tidak terkejut. Bukan hanya Revan, ternyata ada orang lain yang memiliki kemampuan seperti itu. Tapi sejak kapan? Bagaimana Thory bisa memiliki nya?
Pemuda ber mata zamrud itu berjalan dan pergi menjauhi Riz. Beruntung dia tak menyadari Riz yang sedari tadi bersembunyi di balik tong sampah. Jika saja ia sampai ketahuan, tamat sudah riwayat nya.
Begitu merasa sudah aman, Riz langsung berdiri, keluar dari persembunyian nya. "Fuh... Untung gak ketahuan. Tapi..." Riz melihat tempat sekitar nya yang berantakan dengan sampah yang berceceran di mana mana. Bahkan ada yang mengenai Riz saat Thory memukul tong sampah tadi.
"Setidaknya gak usah berantakin tempat ini juga kali! Mana sampah nya bau lagi! Ah! Masa muka ganteng, baju bau gara gara kena sampah sih! Menyebalkan!" Omel Riz kesal.
Tapi... Dari yang di dengar nya tadi, Revan sudah berhasil menyelamatkan Raile. Hanya saja ada yang masih membuat nya penasaran. Siapa orang yang Thory maksud membantu Revan? Apa mungkin manusia percobaan lainnya?
"Cih. Sebenarnya sebanyak apa sih mereka?" Riz mendengus kesal. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Masih ada yang membuat nya penasaran, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mencari tau. Ditambah, ia bisa menanyakan beberapa hal pada Revan juga.
*****
__ADS_1
Di sebuah rumah yang juga menjadi tempat berkumpul nya lara Esper, Raile menatap orang orang yang asing di depan nya dengan tatapan menuntut penjelasan. Erano yang memahami itu mulai menjelaskan.
"Singkatnya saja, kami adalah orang orang yang kabur dari markas Dark Devil. Tujuan kami untuk menghancurkan Dark Devil sampai ke akar akar nya. Alasan nya jelas, agar tak ada lagi anak anak yang bernasib sama seperti kami." Jelas Erano.
"Menjadi kelinci percobaan mafia itu? Lalu kenapa kalian tak bergabung dengan Shadow Agen saja?" Tanya Raile.
"Karena tak semua dari mereka bisa di percaya. Menurutmu, apa yang akan terjadi setelah banyak orang yang tau jika anak anak seperti kami memiliki kemampuan khusus? Mungkin pada akhirnya mereka akan melakukan hal yang sama seperti para mafia itu bukan?"
Eden menambahkan. "Kami tak mau lagi di manfaatkan. Maka dari itu kami memutuskan untuk bergerak sendiri."
Raile terdiam. Tujuan mereka sebenarnya tak jauh berbeda dengan Shadow Agen. Tapi apa yang mereka katakan ada benarnya. Tak semua orang bisa di percaya sekarang. Bahkan anggota dalam organisasi sendiri. Mengingat apa yang terjadi sebelumnya, wajar saja jika akan sulit untuk percaya pada orang lain sekarang.
"Jadi kami mohon bantuan mu, jangan bocorkan informasi tentang kami dan... Mungkin kita bisa saling bekerjasama." Usul Aira, satu satunya wanita di sana.
Raile memandang Revan yang sedang duduk santai sambil memainkan handphone nya. "Baiklah. Kalau Revan sendiri mau, aku pun akan bergabung."
Revan sedikit terkejut. Kenapa malah dirinya yang di jadikan patokan?
Erano tersenyum puas. "Baiklah. Jika begitu, mohon kerjasama nya."
Raile mengangguk. Namun, tak lama pandangan nya teralih pada arah lain. Tepatnya, seorang pemuda keturunan Jepang yang sedang duduk sambil menatap keluar jendela. "Ngomong ngomong... Apa yang dia lakukan di sini?"
Ah ya, ada satu orang yang mereka lupakan. Lantas semuanya langsung memandang ke arah Aira. "Dia bisa di percaya kok!"
Raile justru memandang Himaki ragu. "Kau yakin? Dia anggota mafia loh."
"Dia cuma korban."
"Bagaimana kau bisa tau?"
"karena..."
__ADS_1