Shadow Agen

Shadow Agen
Tujuan Sebenarnya


__ADS_3

Ada saat di mana dirinya sudah menyerah dengan hidup. Terus merasakan derita dan rasa sakit karena di jadikan sebagai percobaan tentu bukan hal yang mudah.


Ia bisa pergi awalnya. Bisa terlepas dari semua derita itu walau sementara. Namun pada akhirnya, ia kembali lagi ke tempat itu. Tempat dimana ia selalu merasakan sakit. Tempat di mana semua kebahagiaan dan harapan nya untuk hidup kian menipis, semakin hilang dan akhirnya lenyap.


Pernah terpikir jika mengakhiri hidup akan lebih baik. Setidaknya tak akan ada lagi penderitaan dan rasa sakit yang ia alami. Dirinya sudah lelah terus menahan semua penderitaan dan rasa sakit yang tak kunjung berakhir.


Namun sayang, Tuhan sudah memiliki rencana lain.


Takdir justru membuat nya berjalan ke arah lain. Ia tak tau ini termasuk hal baik atau sebaliknya. Tapi untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanya menjalani nya. Walau dalam hatinya ia masih berharap bisa mendapatkan kembali kebahagiaan dan kebebasan yang selalu ia harapkan selama ini.


Perlahan mata pemuda itu terbuka menampilkan manik mata yang indah. Pandangan nya sedikit buram membuat nya harus mengerjap beberapa kali untuk memulihkan penglihatan nya dan menyesuaikan dengan cahaya lampu yang memasuki penglihatan nya.


Ah iya, kini ia sudah ada di luar Dark Devil. Di samping nya, seorang pemuda ber rambut silver tertidur dengan nyenyak. Tangan kanan nya nampak menggenggam tangan pemuda itu, yang membuat nya jadi ragu untuk bergerak karena takut membangunkan pemuda ber rambut perak itu.


Ia melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Pantas saja pemuda di samping nya itu masih tertidur.


Rei menatap wajah pemuda itu lekat. Rasa tak asing kembali menghampiri nya. Rasanya pernah melihat orang itu, atau justru memang mengenal nya. Namun ia tak bisa mengingat hal itu. Atau mungkin hanya perasaan nya saja?


Tapi... Benarkah ia aman di sini? Ia takut akhirnya akan di manfaatkan lagi sebagai senjata atau semacamnya.


Sejak kejadian itu terulang lagi, ia tak bisa lagi percaya dengan sembarangan orang. Tak semua orang bisa ia percaya sekarang, bahkan yang terlihat baik sekalipun.

__ADS_1


Rei menarik nafas panjang. Di sisi lain, ia juga memikirkan keadaan Revan. Apa dia baik baik saja? Seharusnya ia tak perlu khawatir karena sekarang Revan sudah ada di Shadow Agen kan? Tapi... Entah mengapa kekhawatiran itu tetap saja muncul.


******


Sinar matahari menerobos masuk melalui cela jendela. Angin berhembus sejuk membangunkan Rei. Ia sedikit melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul 7 pagi. Ia sempat tertidur lagi tadi. Pemuda di samping nya pun sudah tidak ada. Jelas lah, dia pasti sudah bangun.


Kriett..


Pintu terbuka menarik perhatian Rai untuk memandang ke arah sana. Dari balik pintu, Erano masuk sambil mengeringkan rambut nya menggunakan handuk. Sudah jelas dia baru selesai mandi.


"Oh kau sudah bangun rupanya. Bagaimana kondisi mu? Masih ada yang sakit?" Tanya Erano sambil berjalan mendekati Rei.


Rei terdiam dan mencoba untuk duduk. "Aku baik baik saja. Jika boleh tau, kalian sebenarnya ada di pihak mana?" Tanya Rei langsung pada inti nya.


Rei mengangguk. "Aku hanya tak ingin di manfaatkan lagi."


Lagi lagi pemuda ber rambut silver itu menghela nafas. Ia berjalan ke arah sebuah meja belajar di samping tempat tidur dan menarik kursi nya lalu mendudukkan dirinya di sana. "Seperti yang ku katakan, kami ada di pihak mu. Aku Erano, juga sama seperti mu yang menjadi korban manusia percobaan dari Dark Devil. Namun berkat bantuan Revan, kami berhasil kabur dengan selamat. Tapi sayang nya, Revan kembali tertangkap."


Mendengar penjelasan Erano, Rei membulatkan mata. Jadi mereka juga mengalami hal yang sama seperti dirinya dan Revan? Tapi... Kenapa ia tak pernah melihat mereka, dan bahkan tak bisa mengingat nya padahal berasal dari tempat yang sama? "Apa sebelum nya kita pernah bertemu?"


Erano tentu mengangguk. "Ya tentu. Kita cukup akrab dulu. Bahkan kalian selalu memanggil nama ku dengan singkatan. Padahal kan nama Erano dah bagus. Tapi... Setelah kami pergi, aku terpaksa menghapus ingatan kalian tentang kami."

__ADS_1


"Menghapus?"


"Ya. Aku memiliki kemampuan mengendalikan orang lain, termasuk ingatan mereka. Aku menghapus semua kenangan kita bersama. Maafkan aku..."


"Jadi, seperti Revan... Kau juga memiliki kemampuan spesial?"


"Begitulah." Erano sedikit menjeda ucapan nya. Pandangan nya teralih ke luar jendela. "Sebagai percobaan yang akan di jadikan sebagai senjata, kita semua memiliki kemampuan itu, walau berbeda. Kau sudah tau kemampuan ku, lalu Eden rekan ku, bisa mengendalikan teknologi di sekitar nya. Itu memudahkan kami mencuri data. Lalu Revan, seperti yang kau tau memiliki kemampuan mengendalikan listrik. Itu semua hasil dari percobaan yang Avren lakukan."


"Itu artinya.. Kemungkinan aku pun punya?" Tanya Rei.


Erano mengangguk. Setiap anak yang menjadi percobaan Avren pasti akhirnya akan menjadi Esper, atau orang dengan kemampuan khusus. Jadi bukan tak mungkin Rei pun sama, tapi mungkin kemampuan nya masih belum bangkit.


"Tujuan kami sekarang untuk menghancurkan Dark Devil sampai ke akar akar nya. Menghentikan semua percobaan gila itu untuk selama nya. Jadi, sudah jelas kami tak akan memanfaatkan mu, karena kami pun sama dengan mu."


Rei mengerti sekarang. Tujuan utama mereka untuk balas dendam dan menghancurkan Dark Devil. Mereka menolong anak anak lainnya yang menjadi percobaan dan membuat nya bergabung bersama mereka untuk menambah kekuatan.


Ini memang ide yang bagus, tapi juga beresiko di saat yang bersamaan. "Kenapa tidak bekerjasama dengan Shadow Agen saja?"


Erano menopang dagu. "Aku tak bisa percaya dengan semua orang di sana. Bisa saja ada mata mata. Kau pun juga tau itu bukan?" Yang di katakan Erano benar. Jika Ice saja bisa jadi mata mata untuk menyelidiki Dark Devil, bukan tak mungkin Dark Devil pun melakukan hal yang sama untuk Shadow agen.


"Tapi aku senang..." Rei mengalihkan pandangan nya pada Erano yang tampak tersenyum sambil menatap nya. "Karena Revan sudah bahagia sekarang. Kurasa... Itu cukup bukan?"

__ADS_1


Rei sedikit memandang sendu. Jika saja Erano tau bagaimana perjuangan Revan sampai akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaan seperti itu bukanlah hal yang mudah. Banyak penderitaan dan rasa sakit yang harus di alami nya. Bahkan di benci orang yang menjadi harapan hidup nya. Walau benar, sekarang dia sudah bahagia di sana dan bisa kembali kepada keluarga nya.


"Walau begitu aku tetap ingin membawa Revan bergabung dengan kita. Dia... Juga Esper kan? Semakin banyak kekuatan maka akan semakin baik."


__ADS_2