Shadow Agen

Shadow Agen
Apa benar ini yang kau inginkan?


__ADS_3

"Cepat atau lambat, mereka pasti akan datang. Masuk ke markas ini untuk menghancurkan semua yang sudah kita rencanakan selama ini. Mengincar kebebasan yang mereka impikan selama ini. Tapi... Kita tentu tidak bisa membiarkan itu begitu saja bukan?" Tanya Thory yang dengan santai duduk di atas meja sembari melainkan bunga mawar hitam yang di pegang nya.


Di samping nya, Avren hanya menatap datar, lalu mengambil segelas kopi yang di sajikan dan menyeruput nya pelan, menikmati rasa dan aroma kopi itu. "Senjata ku yang sebenarnya kau. Tapi kau yakin sudah siap?"


Thory terkekeh. "Tentu saja aku sudah siap. Sudah lama... Aku ingin menghancurkan mereka semua. Tenang saja, dua di antara nya sudah ku tangani. Sekarang hanya perlu fokus pada mereka."


Mengingat Farel dan Naru sudah berhasil ia kalahkan dengan mudah, sekarang tidak perlu khawatir pada kedua orang itu.


"Lalu, kenapa tidak kau hancurkan sekarang saja? Buat apa kau malah menunggu mereka sendiri yang datang ke mari? Bukannya akan bahaya?"


Thory memandang mata orange Avren yang menatap nya balik dengan tatapan penuh tanda tanya. "Karena lebih seru begitu bukan? Mereka sendiri yang datang menuju kematian. Mereka tidak tahu... Apa yang kita persiapkan, sudah siap sekarang."


Thory tertawa kejam. Iris mata hijau zamrud nya berkilau, bersamaan dengan senyuman lebar yang mengembang, justru membuat nya terkesan mengerikan.


Thory kembali memandang Avren yang masih menikmati kopi nya. "Bukankah begitu? Jika semua ini berhasil, kau bisa menguasai Delaria City dan menghancurkan para orang sialan itu." Lanjut Thory. Senyuman nya masih belum luntur dari wajah nya. Mengisyaratkan kekejaman bagaikan iblis.


Avren sendiri tak mengatakan apapun. Memang yang Thory katakan tidak salah. Ia akan mendapatkan semuanya jika mereka berhasil. Meraih tujuan awalnya untuk memberi orang orang itu pelajaran. Lalu, untuk apa dirinya ragu?


Avren meletakkan cangkir kopi nya. Ia menghela nafas sejenak dan menolehkan kepala nya, memandang ke luar jendela. "Hanya tinggal menghancurkan satu penghalang, dan ia akan benar-benar berkuasa... Kan?"


Tapi...


'Apa benar itu yang kau inginkan?'


"Hey, sepertinya mereka sudah datang! Ayo kita sambut mereka!" Seru Thory ceria, membuat Avren sedikit terkejut.


"Kau saja. Aku tunggu di sini saja." Ujar Avren.


Thory menggembungkan pipi nya, ala anak yang sedang ngambek. "Dasar pak tua. Baiklah..." Ujar nya dan beranjak pergi.


Perempatan imajiner muncul di dahi Avren ketika mendengar kata itu. "Sudah ku bilang, jangan memanggil ku pak tua, dasar bocah!" Seru Avren kesal. Sementara, Thory hanya tertawa sambil menjulurkan lidah nya.


Pintu ruangan kembali tertutup, kini hanya menyisakan dirinya seorang di ruangan itu. Avren bangun dari duduk nya dan melangkah menuju jendela, melihat ke luar, memperhatikan langit biru yang membentang di angkasa.

__ADS_1


Sekali lagi ia menghela nafas. Seharusnya ia semangat untuk hari ini, namun... Entah mengapa ada perasaan lain yang mengganggu nya.


"Tsk! Menyebalkan!" Avren mengepalkan tangan nya kuat, mencoba menghilangkan perasaan itu dan kembali pada tujuan utama nya.


Mata nya bergerak memandang halaman luar markas Dark Devil. Lokasi yang strategis untuk di jadikan markas mafia. Tidak banyak orang yang akan ke sini.


Namun, mata nya menangkap objek yang membuat nya sedikit mengernyitkan dahi. Yang di katakan Thory benar, mereka sudah datang.


Avren melihat Revan dan teman teman nya mulai masuk. Bahkan diantara nya ada orang orang yang sempat kabur dari markas dulu.


Jadi mereka bekerjasama untuk menghancurkan Dark Devil rupanya...


Terakhir kali, kemampuan mereka mungkin masih belum terlalu kuat. Tapi itu bertahun tahun yang lalu. Ia yakin, sekarang anak anak itu sudah tumbuh semakin kuat.


Namun satu hal yang cukup menarik perhatian nya. Keberadaan Himaki yang juga ikut bersama mereka. "Rupanya kau memutuskan mengambil jalan mu sendiri ya..." Gumam nya.


Sebenarnya sejak awal Avren sudah tau tentang keraguan yang Himaki rasakan. Mengingat tentang masa lalu nya, ia sudah menduga jika suatu saat nanti Himaki akan berhianat.


Dan ternyata itu memang benar.


*******


"Jika itu Avren, saat ini dia pasti sedang ada di ruangan nya. Kita langsung saja ke sana?" Tanya Eden pada rekan nya yang lain.


"Langsung saja. semoga kita tidak bertemu dengan Thory sekarang." Balas Himaki. Ia khawatir jika mereka justru bertemu dengan Thory, mereka justru tak bisa mengatasi nya.


Kini Eden, Sein dan Himaki sedang menuju ruangan Avren, untuk langsung mengalahkan nya.


Hanya perlu mengalahkan nya, dan tugas mereka akan selesai. Tapi... Mengingat kemampuan Avren, rasanya tidak akan semudah itu.


Selama perjalanan, mereka sempat bertemu beberapa anggota Dark Devil lainnya. Namun untung nya berhasil mereka kalahkan dengan mudah. Untuk antisipasi agar tidak menghabiskan tenaga terlalu banyak untuk mengatasi para bawahan Avren, Eden sengaja memanipulasi rekaman CCTV, dan dengan bantuan Himaki mereka bisa lolos dengan mudah dari orang orang yang berlalu lalang.


Sampai akhirnya mereka sampai di depan ruangan Avren. Eden menarik nafas panjang dan menarik kenop pintu, lalu membuka nya.

__ADS_1


Di dalam sana, terlihat Avren yang sedang duduk memandang keluar jendela. Namun yang membuat mereka terkejut adalah, sebuah bom berukuran besar yang ada di dekat nya.


Apa Avren berencana meledakkan mereka semua? Apa yang Avren rencanakan sebenarnya?


"Yo~ sudah sampai rupanya. Ternyata cepat juga. Kukira kalian di hadang dulu oleh anak anak buah ku." Sapa Avren santai sambil tersenyum memandang mereka.


Himaki berdecak kesal. "Apa sebenarnya yang kau rencanakan? Mau meledakkan kami semua hah?!" Tanya Himaki kesal, melihat bom yang ada di dekat Avren.


"Kurasa begitu... Tapi aku tidak akan langsung menggunakan nya. Aku tidak mau mati konyol dengan bom rakitan ku sendiri."


Jika tidak mau langsung menggunakan nya, lalu untuk apa bom itu?


"Kau ingin mempermainkan kami ya?" Tanya Eden. "Sudah lama tidak bertemu dengan mu. Tapi... Apa kau yakin akan menggunakan itu? Untuk balas dendam pada orang-orang yang mengabaikan mu?"


Deg.


Avren terdiam mendengar itu. Apa yang pemuda itu maksud sebenarnya?


"Bagiku pekerjaan sebagai pengemis dan pemulung itu lebih mulia, daripada mencuri atau membunuh orang lain. Apa kau yakin, balas dendam adalah jawaban nya?" Tanya Eden lagi.


Sein yang mendengar itu menatap tidak mengerti. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan sih? Sejauh apa yang mereka tau?


Jujur rasanya seperti di daftarkan dalam lomba cerdas cermat tanpa tau apapun.


Sedangkan Avren sendiri terdiam. Ia tau jelas apa yang di maksud Eden. Tapi... Bagaimana mereka bisa tau?


"Sialan. Aku tidak tau darimana kalian mengetahui semua itu. Tapi... Memang benar. Tujuan ku selama ini untuk balas dendam. Menghancurkan orang-orang seperti kalian yang tidak punya hati!"


Tangan Avren bergerak menekan pengatur waktu pada bom itu. Waktu mulai berjalan, 10 menit sebelum bom itu meledak. Seringaian muncul di wajah pria itu. Ia mengambil sebuah belati dari balik jaket nya.


"Akan ku bunuh kalian semua." Ujar nya dan langsung menerjang maju.


'Apa benar, ini yang kau inginkan?'

__ADS_1


"Singkirkan suara itu dari pikiran ku! Akan ku habisi kalian semua!"


Bertaruh dengan waktu untuk mengalahkan Avren dan mematikan waktu pada bom itu. Tentu tidaka kan mudah. Mereka benar-benar tidak tahu apa uang Avren rencanakan. Tapi yang jelas, mereka harus menyelesaikan ini secepatnya dan menjinakkan bom itu.


__ADS_2