
"Bagaimana? Kau sudah dapat barang nya?" Tanya Farel dari sebrang telepon.
Saat ini Naru sedang berjalan di dalam sebuah gang sempit setelah menerima barang dari pria yang ia temui di cafe tadi. Seringaian muncul di bibir nya mendengar pertanyaan Farel.
"Tantu saja aku dapat. Kau kira aku dirimu yang tak bisa sabar?" Celetuk nya sedikit meledek rekan nya itu.
Farel mendengus kesal. "Bukannya aku yang nggak sabar, dia nya aja yang terlalu lama. Jadi wajar kan kalo aku protes." Ujarnya dengan nada kesal. "Selain itu, kesabaran mu saja yang melebihi tingkat kesabaran manusia normal." Lanjut Farel.
Naru terdiam. Memang kesabaran manusia normal itu berapa?
"Sudahlah, yang penting kita sudah mendapatkan nya. Beruntung orang itu mau membantu kita. Jangan sampai kesempatan ini hilang sia sia. Aku akan ke sana sekarang. Siapkan semua peralatan nya."
"Yoi bos!"
Setelah itu Naru langsung menutup sambungan telepon nya dan kembali berjalan. Tak sia sia penantian dan usaha mereka selama ini untuk mendapatkan nya, akhirnya mereka mendapat 'kunci' dari senjata yang Avren buat.
Semua orang pasti tau rasanya kehilangan, apalagi jika itu adalah orang yang paling di sayangi nya. Terkadang melepas dan mengikhlaskan terasa begitu sulit untuk di lakukan. Apalagi jika kematian orang terkasih itu di sebabkan oleh orang lain yang tak lain dan tak bukan adalah musuh nya sendiri.
Rasa tidak rela dan emosi yang berkecambuk dalam hati, tak jarang menimbulkan dendam pada orang yang sudah melakukan hal keji seperti itu.
Seakan dendam itu tak akan hilang sebelum mereka berhasil membalas kematian orang tersayang nya, apapun rela mereka lakukan untuk melampiaskan kekesalan dan membalas orang yang telah membuat mereka merasakan kehilangan.
__ADS_1
Sekiranya itulah yang di rasakan Farel dan Naru. Seakan mereka belum puas sebelum melakukan hal yang sama pada Revan, orang yang telah membunuh Saki.
"Beruntung dokter itu mau membantu. Semoga saja Avren tidak tau. Kalau tau, mati kami di hajar nya nanti..." Gumam Naru. Kaki nya bergerak menendang sebuah kaleng kosong di tepi jalan sehingga terlempar dan membentur dinding, membuat suara yang cukup keras. Di tambah suasana gang itu yang sunyi membuat suaranya terdengar begitu jelas.
Krek
Tak terkecuali suara kecil sekalipun. Langkah nya seketika terhenti dan berbalik begitu mendengar suara itu. Ia merasa sedang di awasi sekarang, seakan ada yang memata-matai nya sekarang.
"Siapa itu?" Tanya Naru sambil mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Namun tak ada jawaban. Mata Naru bergerak memandang sebuah tong sampah cukup besar tak jauh dari nya. Ia menduga suara itu berasal dari sana.
Apa benar ada yang mengikuti nya?
Naru berjalan semakin dekat, mengikis jarak antara dirinya dan tong sampah itu. Namun...
Seekor tikus kecil secara tiba-tiba keluar dari balik tong sampah dan berlari melalui nya, lalu masuk ke dalam lubang selokan.
"Ternyata cuma tikus. Huh! Buat kaget aja." Naru kembali berbalik dan melanjutkan langkah nya.
Sementara itu, di balik tong sampah, tujuh pemuda tampak menarik nafas lega karena tidak ketahuan oleh pria itu.
"Tsk, kan sudah ku bilang hati hati. Kau ceroboh sih... Lihat jalan dong!" Omel Aira sambil sedikit mendorong Riz.
__ADS_1
"Maaf maaf nggak sengaja. Lagian mana ku tau kalo ada kaleng di belakang?" Balas Riz sambil meminta maaf.
"Setidaknya ya lebih teliti dan hati hati gitu loh..."
"Iya iya maaf."
"Kalian berdua bisa berhenti bertengkar?" Akhirnya Raile angkat suara sambil memukul mukul kan tangan nya. Seketika bulu kuduk kedua pemuda itu berdiri karena merinding sekaligus takut.
"Maaf Raile!" Ucap keduanya nyaris bersamaan.
Sementara itu, Revan masih saja memperhatikan arah pergi Naru sebelumnya. "Dia bilang tadi dokter? Apa yang di maksud dokter yang membantu Avren menjalankan percobaan pada setiap anak di markas Dark Devil?"
Perhatian rekan rekan nya langsung terarah pada Revan. Jika di pikir pikir, hanya ada satu dokter yang selalu ada dan selalu membantu Avren. Kemungkinan besar memang itu yang di maksud.
"Tapi kalau begitu data yang di maksud data percobaan yang sudah Avren lakukan pada kita?" Tanya Eden.
Aira memandang serius. "Kalau mereka mendapatkan itu bisa gawat. Bisa saja mereka tau kelemahan kita dari hasil percobaan itu. Atau lebih buruk, mengendalikan."
Jika Farel dan Naru dapat data itu, bukan hanya Avren, tapi mereka pun bisa saja melakukan hal yang sama pada anak anak lain, atau justru memanfaatkan itu untuk mengendalikan Revan dan teman teman nya.
"Gak bisa di biarkan! Kita rebut lagi data itu!" Ujar Revan yang langsung di setujui rekan rakan nya.
__ADS_1
"Tapi... Yang membuat ku penasaran, kenapa mereka sampai mencuri data itu diam diam dari dokter yang membantu Avren? Bukannya mereka bawahan terpercaya Avren?" Tanya Hinaki. Yang di katakan pria itu benar. Jika Avren tau, akan jadi masalah besar nanti nya, mengingat semua percobaan yang di lakukan nya sangat di jaga kerahasiaan nya.