Shadow Agen

Shadow Agen
Ancaman


__ADS_3

"Ada apa?"


"Raile... Menghilang."


Cukup dengan dua kata itu sudah menjelaskan semua kekhawatiran Revan. Namun bagi mereka, sudah jelas siapa pelaku nya. Siapa lagi jika bukan Dark Devil? Organisasi yang sejak awal menjadi musuh mereka.


Revan mengepalkan tangan nya sepenuhnya menahan amarah. Rupanya mereka mulai bergerak lagi sekarang. Entah apa yang akan mereka lakukan pada Raile, jelas Revan tak akan membiarkan mereka melukai sedikitpun tubuh Raile.


Kling...


Sampai akhirnya suara notifikasi di handphone nya kembali menyadarkan Revan. Ada satu pesan dari nomor tidak di kenal.


'Jika kau mau adik mu selamat, datang ke lokasi ini dalam 30 menit. Cepat lah jika kau tidak ingin melihat kematian saudara mu.'


Revan tak bisa lagi menahan amarah nya. Orang itu mengirim sebuah pesan bersama sebuah gambar. Foto Raile yang tengah diikat sebuah kursi dengan tubuh yang terikat. Di samping nya ada seorang pemuda berkacamata yang nampak tersenyum licik.


Kemudian disusul dengan pesan beruntun yang berisi ancaman sekaligus koordinat lokasi.


Rahangnya mengeras membaca untaian kata yang membuat emosinya tak terkontrol.


"Mereka benar benar keterlaluan!"


"Boleh kami ikut dengan mu? Diapa tau ini jebakan." Ujar Erano dan kedua teman nya yang juga menatap serius.


Revan menghela nafas. Ada benarnya. Bisa saja ini hanya jebakan untuk memancing nya. Namun tentu ia tak bisa membiarkan Raile begitu saja.


Tapi pergi ke sana seorang diri juga cuma cari mati. Ia sudah tau bagaimana liciknya rencana Avren. Dia pasti mengirimkan bawahan kepercayaan nya untuk hal seperti ini.


"Baiklah. Mohon bantuan nya."


"Kau bisa percaya kami." Erano menepuk pundak Revan sambil tersenyum. Setelah nya mereka langsung menuju ke lokasi.


*******


Di sebuah ruangan di gedung tua yang di telantarkan, pemuda ber iris emas terduduk dengan kondisi tangan dan kaki yang di ikat di sebuah kursi.

__ADS_1


Sungguh bodoh rasanya bisa sampai di culik seperti ini. Apalagi masih di lingkungan sekolah. Sebagai anggota organisasi agensi rahasia seharusnya ia bisa lebih waspada. Ditambah dengan keberadaan Dark Devil dan mafia lainnya di kota ini, berada di sekolah bukan berarti dirinya akan aman.


Sejenak ia melupakan sisi gelap dari kota ini. Tempat di mana mafia dengan bebas berkeliaran. Kota dengan tingkat kriminalisasi terbesar di dunia. Seharusnya ia tau itu. Ceroboh nya dia justru lalai dan menjadi korban penculikan seperti anak kecil.


Raile mencoba melepaskan ikatan di tangan nya. Namun hasilnya sia sia. Ikatan nya begitu kuat bahkan membuat tangan nya sulit untuk di gerakkan.


"Umphhhh..." Raile mencoba untuk berteriak, namun sia sia. Mulut nya di tutup dengan lakban nyang membuat nya kesulitan untuk berbicara.


Sungguh situasi yang menyebalkan!


Kriett...


Mendengar suara pintu di buka, Raile mengangkat kepala nya, melihat sosok seorang anak lelaki yang berjalan ke arah nya. Ia memiliki rambut sedikit di semir pirang dan iris mata coklat.


Tunggu, bukannya dia sudah tertangkap?


Pemuda itu berjalan santai sambil memain mainkan sebuah pistol di tangan nya. Ia menyeringai melihat Raile yang menatap tajam ke arah nya.


"Wah wah lihat siapa yang ada di sini... Kau masih mengingat ku bukan? Pian, yang akan menjadi malaikat maut untuk mu." Ujar Pian dengan nada menekan di akhir kalimat.


Ia mendekati Raile yang masih mempertahankan tatapan tajam nya pada Pian.


Pian terkekeh dan menempelkan pistol yang di pegang nya tadi ke dahi Raile. "Pasti seru jika kau mati sekarang. Tapi tenang... Aku tak akan membunuh mu sekarang kok. Saudara mu sedang ke sini untuk menyelamatkan mu. Akan ku bunuh dia lebih dulu sebelum membunuh mu. Itu akan lebih menyenangkan bukan? Jadi... Sebaiknya kau diam saja. Atau... Aku bisa saja membunuh mu sekarang." Ancam Pian. Dan menjauhkan pistol yang di pegang nya.


"Hmphh!!!" Raile seakan mencoba mengatakan sesuatu sambil terus mencoba melepas tangan nya yang terikat.


"Ada yang ingin kau katakan? Baiklah..."


Srekk!


Pian melepas lakban yang menutup mulut Raile, membiarkan pemuda bermata emas itu untuk berbicara.


"Jika kau berani mencelakai Revan, aku tak akan mengampuni mu! Apa mau mu sebenarnya hah?!" Ketus Raile.


"Aku hanya menjalankan perintah tuan ku saja. Tidak lebih..." Jawab Pian santai.

__ADS_1


"Tuan mu? Si sialan ketua Dark Devil itu? Kau mau saja di jadikan boneka oleh makhluk seperti nya hah?!"


Sreg!


Tanpa aba aba Pian langsung menarik kerah baju Raile dengan kuat. Tatapan tajam nan menusuk di berikan nya pada Raile yang seenaknya saja mengatakan hal buruk tentang Avren. "Beraninya kau berkata seperti itu tentang Avren. Jaga bicara mu bren*sek!"


Bukannya takut, Raile hanya menatap kosong iris mata coklat pemuda di hadapan nya. "Avren hanya memanfaatkan mu bodoh. Lagipula... Sebentar lagi organisasi itu akan hancur." Tatapan Raile berubah menjadi tajam. "Dan akan ku pastikan kalian semua mendapatkan hukuman yang setimpal dari apa yang sudah kalian lakukan dasar mafia busuk!"


BUK!


Satu pukulan di luncurkan tepat mengenai pipi kanan Raile. Pemuda itu merintih menahan sakit di wajah nyam bahkan pipi nya memerah akibat pukulan itu.


Sreg


Pian menarik rambut Raile, memaksa Raile mendongak ke arah nya. "Hukuman yang setimpal? Kau yang akan ku kirim ke neraka lebih dulu!"


"Kak Pian cukup!"


Mendengar seruan yang memanggil nama nya, Pian melepaskan cengkraman nya dan berbalik ke belakang.


Seorang pemuda yang sedikit lebih muda dari nya berlari ke arah nya dengan tatapan khawatir. Pemuda itu memakai perban yang menutupi sebelah mata nya. Ia menghampiri Pian dengan ekspresi khawatir yang lalu berubah menjadi ekspresi kesal.


"Bukannya tuan Avren sudah bilang jangan sakiti dia? Jika tuan Avren tau nanti dia bisa marah." Ujar Gen, pemuda itu.


Pian mendengus kesal. Ia masih ingin melampiaskan kemarahan nya, namun yang di katakan adiknya itu ada benarnya. Akan jadi masalah jika umpan ini kenapa napa nantinya.


Ditambah, ia tak ingin membuat kecewa orang yang sudah membebaskan mereka dari penjara dan menjamin hidup nya sekarang.


"Maaf aku terpancing emosi tadi." Sesal Pian.


Gen hanya sedikit menghela nafas. "Baiklah... Pastiin aja aman ya. Target kita bentar lagi datang."


Mendengar itu membuat senyuman Pian kembali merekah. "Baguslah! Aku gak sabar main main dengan mereka." Ujarnya sambil memutar pistol yang di pegang nya.


Sedangkan Raile justru sebaliknya. Takut ia rasakan saat mendengar itu. Ia tau yang dimaksud Pian adalah Revan. Seandainya dirinya lebih berhati hati pasti hal ini tak akan terjadi.

__ADS_1


Ia takut Revan kembali menjadi korban karena kecerobohan nya.


Ia takut kali ini akan benar benar kehilangan Revan.


__ADS_2