
Bunga bunga yang bermekaran terlihat begitu indah menghiasi halaman rumah. Berbagai macam jenis bunga dengan berbagai warna terdapat di sana. Salah satunya adalah bunga mawar peach kesukaan nya. Bunga mawar yang memiliki warna seperti peach yang juga memiliki arti kehangatan kesopanan.
Sama seperti seorang anak ber iris mata emas yang sedang bermain di sana.
Seorang anak berusia 5 tahun terlihat begitu senang berlari mengincar seekor belalang yang hinggap di sebuah bunga mawar. Mata nya menyipit, menatap fokus pada target nya, mengambil ancang ancang untuk segera melompat dan menangkap serangga itu. Namun..
Hap!
Krek
"HUAA SAKIT!! "
Jeritan lolos dari mulutnya saat tangan nya tanpa sengaja terkena duri mawar yang tajam. Untuk sesaat ia benar-benar melupakan jika batang bunga mawar itu berduri.
Anak kecil itu menangis, terlebih lagi melihat sebuah duri kecil yang masih menancap di tangan nya. Walau hanya sebuah duri, itu cukup menyakitkan bagi anak anak seperti nya.
"Kak Ile! Kakak gak apa?" Tanya seorang anak sambil berlari ke arah nya. Entah mengapa Raile tidak bisa melihat wajahnya anak itu dengan jelas. Yang ia lihat hanya anak itu yang mengenakan baju merah hitam.
Anak bermata emas itu, Raile, mengangguk. Ia mengulurkan tangan nya, menunjukkan sebuah duri kecil yang menancap di sana.
Anak di hadapan nya memegang tangan sang kakak, mencoba mencabut duri itu perlahan. "Sakit R** pelan pelan... Hiks..."
Anak berbaju merah itu mengangguk dan tersenyum. "Aku cabut nya pelan pelan kok! Kak Ile tenang aja." Ucap anak itu. Ia meniup tangan sang kakak dan perlahan mencabut duri yang menancap di sana.
Karena takut, Raile langsung memejamkan mata nya erat, mencoba menahan rasa sakit.
"Sudah!"
Mendengar itu seketika Raile membuka mata nya lagi. Ia kira akan merasakan rasa sakit saat duri itu di cabut dari tangan nya, tapi ternyata tidak.
"Gimana? Sakit enggak?" Tanya anak berbaju merah itu.
Dengan cepat Raile kecil menggeleng. "Enggak! Kukira bakal sakit. Makasih R**!!" Raile tersenyum lebar. Air mata di mata nya pun telah berhenti mengalir.
Anak berbaju merah itu juga ikut tersenyum. Melihat senyuman sang kakak membuatnya senang. Namun ia teringat sesuatu dan mengambil sebuah pot kecil yang ada di belakang nya. "Sama sama! Oh, ini buat kakak!"
Raile mengernyitkan dahi. "Itu bunga apa?" Tanya Raile.
__ADS_1
"Ini mawar peach kesukaan kakak! Aku beli ini untuk kakak!"
Bunga mawar itu masih kuncup dan terlihat kecil. Seulas senyuman tercetak di wajah nya saat melihat bunga itu.
"Terimakasih R** aku akan menjaga nya baik baik!!
****
" Ile..."
"Raile...."
"Raile!"
"Woy Raile bangun!! Dah siang!!"
Sreg!
"Huwa!!!"
Brug!
Sungguh, cara membangunkan orang yang tidak elit, tapi cukup berguna kalo gak mau stress sendiri karena bangunin orang yang tidur nya kek beruang hibernasi.
Sementara si pelaku hanya tersenyum sambil menggaruk belakang kepala nya yang gak gatal. "Habisnya dah di bangunin berkali kali gak bangun bangun. Tidur kek beruang hibernasi gitu, nanti telat loh. Makanya tidur tuh jangan kepagian... Begadang aja teros.. Nanti telat baru tau rasa." Omel Riz panjang lebar.
Sungguh? Bukannya biasanya dirinya lah yang paling sulit untuk dibangunkan? Bahkan Raile dan Fio saja sampai kehabisan cara untuk membangunkan anak itu.
Sadarlah pada dirimu sendiri, Riz...
"Iya iya deh aku salah..." Ucap Raile akhirnya. Tidak mau memperpanjang masalah dia.
"Cepetan gih mandi. Setengah jam lagi masuk loh." Ucap Riz dengan santai nya.
Raile yang baru bangun hanya mengangguk dan berdiri. Namun, seketika tubuhnya membeku begitu menyadari kata kata Riz tadi.
"SETENGAH JAM LAGI MASUK??!!! KENAPA GAK BANGUNIN AKU DARI TADI RIZ!!!??" Secepat kilat, Raile langsung bersiap siap untuk pergi ke sekolah.
__ADS_1
Sungguh, belum masuk berbunyi 30 menit lagi, tapi Riz masih bisa bersikap santai seperti itu. Sungguh luar biasa...
Ya, itu sudah jelas. Karena sebenarnya Riz sudah merencanakan hal lain di balik itu.
Beberapa menit berlalu dan Kedua pemuda itu pun berjalan keluar rumah. Namun, pandangan Raile seketika terarah pada pot bunga mawar di halaman.
Ia tau bunga itu sudah lama ada di sana. Bahkan sudah tumbuh besar dan banyak berbunga sekarang. Namun ia teringat mimpi nya tadi, apa itu bunga yang sama dengan apa yang ada di mimpi nya?
"Raile? Ada apa?" Tanya Riz saat menyadari saudara nya itu yang tiba tiba berhenti berjalan. Mata nya mengikuti arah pandangan Raile yang masih menatap bunga itu.
"Bunga ini... Siapa yang membeli nya?" Tanya Raile. Riz terdiam. Senyuman kecil muncul di bibir nya.
"Seseorang yang mungkin kau kenal. Dahlah pikir nanti aja. Kalo telat bisa di hukum tau!!" Riz langsung menarik tangan Raile dan berlari menuju sekolah.
Walau dalam pikiran pemuda ber iris mata emas itu masih terpikir tentang mimpi nya. Seakan ada ingatan yang hilang tentang anak itu. Ia yakin dirinya mengenal baik anak itu. Ditambah lagi, anak kecil itu yang juga memanggil nya kakak?
'Apa aku punya adik? Ah, tidak mungkin kan?'
Raile menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya lagi. Mencoba menenangkan dirinya. Kepala nya mulai pusing sekarang. Lebih baik ia melupakan itu untuk sementara waktu. Tentu Raile tidak mau pingsan di saat seperti itu bukan?
Sementara Riz yang memperhatikan saudaranya itu hanya tersenyum kecil. Ia ingat jelas bunga itu dari Revan. Justru bagus jika Raile perlahan lahan mulai mengingat nya lagi. Setidak nya ingatan nya yang hilang sudah mulai kembali lagi sekarang.
Tapi, walau begitu, tujuan dan rencana yang sudah ia rancang akan terus berjalan.
Sampai di gerbang sekolah, Riz menghentikan langkah nya, membuat Raile juga berhenti.
"Ada apa? Bentar lagi masuk loh..." Ucap Raile.
Riz menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Aku lupa bawa buku catatan ku. Aku ambil dulu bentar ya..."
Raile menepuk dahi. Ia kira saudara nya itu sudah tobat. Tapi ternyata masih sama. "Jangan kelamaan, ku tunggu di kelas."
Dengan cepat Riz memberi hormat. "Siap komandan!! Sampai nanti, Ile!!" Ucap Riz dan langsung pergi dari sana.
Raile menghela nafas. "Baiklah..."
Raile berbalik dan melanjutkan jalan nya menuju kelas. Lagi lagi ia menghela nafas. Ia mencoba melupakan mimpi nya itu, namun bayang bayang anak itu tetap terpikir dalam ingatan nya. Andai ia bisa mengingat wajah anak itu.
__ADS_1
"Siapa dia sebenarnya?"
TBC