Shadow Agen

Shadow Agen
Mimpi yang menjadi petunjuk


__ADS_3

Seorang pria ber iris jingga sedang berjalan di Koridor rumah sakit. Ia mengenakan jas berwarna hitam dengan baju jingga. Pria itu menghela nafas. Tampaknya ia sedang kesal.


Namun pandangan nya justru teralihkan saat melihat anak kecil yang sedang menangis seorang diri. Senyuman tipis terbentuk di wajah pria itu. Ia pun berjalan menghampiri anak itu.


"Nak, kenapa kamu menangis?"


"Hiks... Kakak... Sama ayah ibu... Hiks... Kecelakaan..."


"Begitu ya... Gimana kalo ikut paman ke taman bermain? Nanti paman beliin permen"


"Ibu bilang jangan ikut orang yang gak di kenal..."


Pria itu tampak menghela nafas. "Paman bukan orang jahat kok! Ikut ya... Nanti paman belikan permen yang banyak."


"Hiks... Beneran? Tapi... Kakak gimana?"


"Cuma sebentar kok... Mau ya? Kita ke taman bermain gimana?"


"I-iya."


"Baiklah... Anak baik... Udah, jangan nangis ya... Nanti imut nya ilang loh..."


"Aku gak imut!"


"Hahaha... Baiklah.. Ayo ikut paman!"


Seorang pria dan anak kecil berjalan ke luar rumah sakit dan menuju sebuah mobil yang terparkir di sana. Pria itu melaju menuju sebuah gedung yang cukup besar. Anak kecil itu tampak kagum melihatnya.


Namun, ia merasa aneh. "Paman... Katanya mau ke taman bermain?" Tanya anak itu.


Pria itu mengusap pucuk kepala anak itu sambil tersenyum ramah. "Ikut paman sebentar ya... Um... Namamu siapa?"


"Revan! Namaku Revan." Ucap nya sambil tersenyum menunjukkan gigi putih nya.


Pria itu memberikan senyuman manis namun memiliki arti lain. "Baiklah Revan, ikut paman sebentar ya... Setelah ini pasti seru."

__ADS_1


Revan mengangguk dan mengikuti pria asing itu sampai ke sebuah ruangan. Dilihatnya banyak anak anak seusia nya yang bermain di sana membuat Revan tersenyum.


"Paman paman! Aku boleh main sama mereka enggak?" Tanya Revan dengan wajah polosnya.


"Boleh kok. Tapi ikut paman dulu ya..."


"Yeeyy!!! Baik!"


Tak lama kemudian, mereka sampai di suatu ruangan seperti laboratorium. Revan yang tak mengerti menganggap itu sesuatu yang cukup mengagumkan. Banyak botol botol kimia dan alat alat yang cukup menarik bagi nya.


"Sekarang kamu tiduran di sini ya..." Ucap pria itu sambil mengangkat tubuh kecil Revan dan memintanya berbaring.


"Baik! Tapi katanya mau ke taman bermain..." Ucap Revan sambil sedikit memajukan bibir nya yang justru membuat nya terlihat menggemaskan.


Avren tertawa kecil dan mengusap pucuk kepala anak itu. "Nanti ya, setelah ini. Nanti paman juga akan mengajak anak anak itu. Semakin ramai pasti semakin asik kan?"


Mata Revan berbinar "iya!"


Revan membaringkan tubuhnya. Tapi ia tak mengetahui jika itu adalah hari terakhirnya merasakan kebahagiaan. Dia telah di tipu dan akan dijadikan sebagai kelinci percobaan.


"Kita mulai percobaannya. Dia cukup menarik, kuharap percobaan untuk membuat senjata penakluk ini berhasil padanya." Ucap pria itu.


Setelahnya...


"HUAAAA!!!! SAKIT!!!!!" Jerit Revan saat listrik mengaliri tubuhnya.


***


"JANGAN!!"


Teriak Revan. Tumbuhnya dibasahi keringat dingin dan nafasnya tak beraturan. Ia mengepalkan tangannya kuat. "Kenapa... Aku memimpikan masa lalu ku?" Gumam nya sambil mencoba mengatur nafas.


Terlihat jelas di ingatan nya bagaimana senyuman palsu itu di berikan dan percobaan percobaan itu dilakukan padanya. Rasa sakit saat listrik mengaliri tubuhnya. Belum lagi itu juga menjadi hari terakhirnya bersama keluarganya yang membuat luka semakin dalam untuk Revan.


Namun... Ia merasa ada yang sedikit janggal. Dari kata 'untuk membuat senjata penakluk.' Revan tau jika ia dijadikan sebagai senjata oleh Avren. Tapi...

__ADS_1


Sepertinya ada hal lain.


Tidak, lebih dari itu.


Avren merencanakan sesuatu yang lebih besar.


Tapi apa?


"Itulah yang akan kucari tahu." Gumam Revan.


Terdengar suara pintu di buka dan membuat pemuda ber iris ruby itu menoleh ke arahnya. Seorang pria mengenakan kacamata kuning cerah memasuki ruangan.


"Hai Revan. Kau siap menjalankan misi lagi?" Tanya Sein sambil tersenyum.


Kesempatan. Ini bisa digunakan untuk nya mencari informasi lebih selagi dia menjalankan misi. "Baiklah, aku siap."


Revan segera menggunakan penyamaran nya dan keluar mengikuti Sein. Setidaknya dengan penyamaran ini tak perlu khawatir jika bertemu dengan Raile. Karena Raile sendiri tak menyadari jika itu adalah dirinya.


Sesampainya di markas Shadow Agen, mereka langsung menuju ke ruangan Raka. Di dalam sudah ada Raile, Riz dan Rei yang menunggu.


"Akhirnya kalian sampai juga. Kenapa terlambat?" Tanya Raka.


Sein menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. " Tadi jalanan macet." Jawabnya.


"Baiklah, jadi kita mulai saja. Misi kalian kali ini menangkap penyusup yang meretas data pemerintah. Amankan semua data dan tangkap pelakunya." Ujar Raka.


"Baik!" Jawab mereka dan segera pergi.


Namun mendadak Revan menghentikan langkah nya. Perasaan nya tiba tiba terasa tidak enak.


"Ada apa Ren?" Tanya Raile membuat Ren sedikit terkejut dan refleks memandang pemuda di hadapan nya.


Revan menggalang dan kembali berjalan "tidak apa." Bohong nya.


'Semoga semuanya baik baik saja....'

__ADS_1


TBC


__ADS_2