
"APA?! LAGI LAGI ADA ANGGOTA YANG MENGHILANG?!" Seru Avren kesal.
BRAK!
Ia memukul kencang meja nya yang menjadi bahan pelampiasan. Membuat orang di hadapan nya terkejut. Sudah beberapa hari ini ada saja anggotanya yang menghilang tiba tiba tanpa kabar. Bahkan ia tak tau apa mereka masih hidup atau tidak. Ini benar-benar membuat Avren kesal!
Ditambah lagi Revan, kelinci percobaan nya yang hampir sempurna justru melarikan diri. Memang, Avren sudah membuat rencana tersendiri untuk nya, tapi jika terlalu lama di luar, ia sendiri yang akan kesulitan untuk mengendalikan pemuda itu lagi.
Terlebih lagi ada seorang penghianat di markasnya. Karena jika dipikirkan lagi, tidak mungkin Revan akan pergi begitu saja tanpa ia ketahui. Jelas ini kerjaan orang dalam.
Sepertinya ia harus mencari cara membebaskan anak buah nya yang tertangkap. Setidaknya ia juga membutuhkan bantuan lain di sini. Semua anggota nya benar-benar tidak berguna!
"Panggil Sein ke sini." Suruh Avren.
"Maaf tuan, Sein sedang tidak ada di markas." Ucap pria itu.
Avren menghela nafas. Apa semua anggotanya mulai kabur? Yang benar saja!!
"Panggil Himaki."
"Siap tuan!" Ucap pria itu sambil sedikit membungkuk lalu berjalan pergi.
Avren memijat pelipis nya. Sekarang tidak lagi. Jika terus begini, Dark Devil bisa hancur. Setidak nya ia harus mencari solusi untuk mempertahankan nya. Selain itu, juga menyempurnakan semua percobaan nya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Segera saja, Avren meminta nya untuk masuk. " Cepat masuk."
Pintu di buka. Seorang pria bermanik silver berjalan memasuki ruangan dan sedikit menunduk di hadapan Avren. "Ada apa tuan memanggil saya?" Tanya pria itu.
"Cepat bebaskan Farel dan lainnya dengan jaminan. Aku punya pekerjaan untuk mereka." Ujar Avren.
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab Himaki dan pergi. Percakapan yang cukup singkat, tapi entah mengapa Avren merasa sedikit aneh dengan pria itu. Tapi dengan cepat ia langsung menepis pemikiran nya itu. Toh kalo benar pun, ia hanya tinggal membunuh nya saja apa susahnya?
Sekarang yang perlu ia lakukan menunggu dan... Kembali melakukan percobaan pada kelinci percobaan lama nya.
Avren bangun dari duduk nya, mendekati sebuah rak buku di ruangan itu. Ia menarik salah satu buku dan rak itu pun bergeser. Membuka jalan untuk nya memasuki ruang bawah tanah.
Ia berjalan turun. Perlahan rak buku itu pun kembali tertutup.
Lampu lampu menyala mempermudah penglihatan nya. Sampai tiba di suatu ruangan yang cukup luas namun terlihat cukup berantakan.
Seorang pemuda terbaring di lantai dengan kondisi tangan yang terikat ke belakang. Ada beberapa bekas luka dan memar di tubuh nya. Terlihat cukup menyedihkan.
"Hoi bangun!" Seru pria bermanik jingga itu dan menendang perut pemuda itu.
"Ukh..." Keluh Rei sambil menahan sakit. Sungguh, apa tak bisa tidak bersikap kasar seperti itu?
"Hoi hoi pak tua... Jangan kasar sama anak kecil dong...Kan kasihan. Lagipula jika dia mati, kau sendiri yang rugi kan?" Sosok pemuda tiba tiba muncul di belakang Avren. Menyandarkan tubuh nya di dinding sambil memakan sebuah apel merah.
Pemuda itu melanjutkan."Lagipula, dia sama berharga nya seperti Revan kan?"
Avren menghela nafas. "Jangan panggil aku pak tua. Aku tak setua itu! Dan lagi, bisa tolong hilangkan kebiasaan mu yang suka muncul tiba tiba? Kau membuatku takut."
Pemuda itu terkekeh. "Kau nya saja yang mudah takut, dasar pak tua." Ucap nya. Namun pandangan nya kini teralih pada sosok pemuda seusia nya yg masih terbaring di lantai.
Ia melangkahkan kaki nya lalu berjongkok di hadapan pemuda itu. "Hai! Gimana kabar mu? Lama gak bertemu! Masih ingat aku kan? Rei." Ucapnya dengan nada ceria dan senyuman lebar di mulut nya.
Mata Rei membulat saat bertatapan langsung dengan iris zamrud pemuda itu. "K-kau..." Lirih nya.
"Ya, ada apa? Terkejut melihat ku di sini?" Pemuda itu tertawa. "Lucu sekali Rei... Padahal dulu kita cukup akrab di Shadow Agen bukan? Tapi lihat dirimu sekarang? Kembali ke tempat ini." Ujar Thory sambil sedikit tertawa.
Yang Rei tau, Thory adalah anggota Shadow Agen sama seperti nya. Selain saat bersama Raile dan Riz, Rei juga sering mengobrol dan bercanda dengan Thory saat jam istirahat. Melihat dari sikap nya yang ceria, polos dan cukup manis, membuat Rei tak menyadari sama sekali jika Thory mengambil peran ganda di sini.
__ADS_1
Sebagai tokoh protagonis yang ia anggap sebagai sahabat nya, tapi sebenarnya tokoh antagonis yang kini menjadi musuh nya.
"Kenapa... Kau berhianat, Thory? " Tanya Rei.
Pemuda itu, Thory menggigit apel nya lalu memasang pose berfikir. "Siapa juga yang berhianat. Sejak awal aku memang gak mihak Shadow Agen. Hahaha! Ya! Sejak awal aku memang anggota Dark Devil!"
Rei menggeram kesal. "Keterlaluan... Kau membohongi kami selama ini!"
Thory tertawa. "Itu kau nya saja yang mudah tertipu!" Thory berdiri. "Bukannya kau harusnya senang Rei? Karena memiliki kemampuan khusus dari percobaan ini? Kau akan jadi yang paling kuat loh... Bersama kita akan kendalikan semuanya!!"
"Tidak akan!" Seru Rei. Ia menatap marah sekaligus benci. "Aku tidak akan mau dijadikan alat oleh mafia busuk seperti kalian!! "
Thory memiringkan kepala nya, lalu melempar apel nya ke sembarang tempat. "Baiklah... Kau bisa bebas kok!! Itu kalau kau masih hidup dan bisa keluar dari sini.. Tapi sayang, kami tak akan pernah membiarkan itu."
"Keterlaluan!! Lepaskan aku!!" Rei mencoba melepaskan diri, tapi ikatan tali di tangan nya terlalu kuat. Ditambah tenaga nya yang sudah banyak terkuras dan luka luka serta lebam di tubuh nya membuat Rei sedikit kesulitan bergerak.
"Hey diam kau!!"
BUG!
"Akh!!" Ditambah satu pukulan keras sukses meluncur di kepala nya membuat Rei kesakitan.
Thory yang melihat perlakuan Avren justru tersenyum seakan itu suatu hiburan tersendiri untuk nya. Pandangan nya kini teralih pada pria bermata jingga yang memegang posisi sebagai ketua mafia itu.
"Lanjutkan percobaan nya. Aku mau jalan jalan bentar. Cari udara segar sambil melihat bunga bunga sepertinya asik!" Ucap Thory dengan nada ceria.
"Ah, percepat proses pembebasan anak anak baru itu. Aku kesepian tau..."
Avren mengangguk. "Baiklah baiklah... Dah sana pergi. Urus aja tanaman mu itu." Avren mengibas ibaskan tangan nya seperti mengusir. Tapi Thory hanya mengabaikan nya dan berjalan menaiki tangga keluar dari ruangan itu.
Avren mendengus kesal. Dalam pikiran nya tersimpan berbagai umpatan yang ia tujukan pada anak itu.
__ADS_1
TBC