
"Rupanya kau di situ. Jangan kira aku tidak bisa menemukan mu!"
Glek.
Tubuh Raile menegang seketika. Apa ia ketahuan?? Tamat sudah riwayatnya... Sepertinya ia harus kabur sekarang.
"Jangan mencoba untuk kabur, atau ku hancurkan kau sekarang juga!"
Raile semakin ketakutan. Ia benar-benar sudah ketahuan sekarang. Apa yang harus ia lakukan???
"Beraninya kau!!"
BRAK!
Raile menutup mata nya erat erat. Namun tidak terjadi apa apa. Tunggu sebentar,
Raile melihat melalui lubang lubang dan melihat Avren yang memukul seekor kecoa dengan gulungan koran.
Raile menepuk dahi. Beruntung tak ada siapapun yang melihatnya. Jika tidak, ia akan sangat malu. Ia pikir yang dimaksud Avren dirinya. Ternyata kecoa. Sungguh konyol.
Tok tok tok
Pintu di ketuk membuat Avren berjalan mendekati pintu. Saat pintu di buka, Ice ada di depan sana, mengajak Avren untuk pergi. Tentu itu menjadi kesempatan bagus bagi Raile untuk masuk ke dalam.
Raile melompat memasuki ruangan itu dan sesegera mungkin mencari jalan untuk menuju ruang bawah tanah yang Ice maksud.
Ia melihat sekitar nya. Sepertinya tidak ada jalan. Apa tidak ada petunjuk lain untuk lebih mudah menemukan ruang rahasia itu?
"Andai saja kak Ice memberi petunjuk lebih! "
"Aku mungkin bisa bantu."
Raile terkejut dan refleks menoleh. Di belakangnya, Thory duduk di jendela sambil tersenyum ke arah nya. Rambutnya berkibar tertiup angin membuat nya sedikit berkilau.
"Sejak kapan kau di situ?" Tanya Raile.
"Sejak aku melihatmu di jalan dan aku mengikuti mu ke sini." Jawab nya. Raile hanya terdiam. Memang benar saat itu ia kurang memperhatikan sekitarnya. Jadi wajar saja jika ia diikuti. Tapi beruntung kali ini yang mengikutinya bukan mafia. Jika tidak, bisa bahaya nanti.
Tapi... Bagaimanapun ini cukup aneh. Secara tiba tiba mengikuti nya, bahkan tanpa ketahuan. Ice pasti sudah mengetahui itu. Ditambah lagi, Thory yang tiba tiba ada di jendela. Jika masuk lewat jendela, itu akan sulit tentu. Di tambah tidak ada jalan yang memudahkan nya memanjat. Kecuali jika... Thory memang sudah ada di sana sedari tadi
"Tunggu, kau benar benar ke sini hanya karena mengikuti ku?" Tanya Raile curiga.
Thory tersenyum dan sedikit terkekeh. Ia melangkahkan kaki nya mendekati Raile. "Kau curiga padaku? Aku berkata jujur lah."
Tidak... Itu hanya kebohongan.
"Aku sudah lama menyelidiki nya juga. Aku dan agen Ice juga sudah mencari tahu detail tempat ini. Aku bisa membantu mu. " Ujar Thory.
Tidak... Raile tidak bisa langsung percaya begitu saja. Ditambah, Ice tidak pernah mengatakan jika ia juga bekerjasama dengan Thory. Jika iya, Ice pasti sudah memberitahu nya. "Kau sungguh bekerjasama dengan kak Ice?"
Thory mengangguk dan menunjukkan senyuman polos nya. "Iya tentu saja. Apa... Tidak boleh? Aku... Gak boleh bantu ya..."
"A-ah tidak! Bukan.. Bukan begitu. Baiklah, aku Terima bantuan mu. Mohon kerjasama nya." Ujar Raile akhirnya. Di sisi lain ia tak ingin membuat nya kecewa atau berpikiran tidak tidak karena ia mencurigainya. Tapi di sisi lain... Ini terlalu kebetulan. Raile tentu tidak bisa langsung percaya seperti itu.
Pilihan yang sulit!
Thory tampak sedikit berkeliling dan menarik salah satu buku di rak buku. Yang kemudian membuka pintu ke sebuah ruangan. Bertambah sudah kecurigaan Raile. Tapi ada kemungkinan juga Thory memang ikhlas membantu.
__ADS_1
"Ayo sebelum mereka datang." Ucap Thory. Raile hanya mengikuti nya dari belakang.
Lampu menyala dan mereka terus berjalan menuruni tangga sampai tiba di suatu ruangan. Raile cukup terkejut melihat isi ruangan itu. Ruangan yang penuh dengan senjata dan berbagai macam barang percobaan. Ada beberapa komputer di sana yang ia tebak berisi data yang ia butuhkan.
Segera saja, Raile menuju komputer itu dan mulai mencari data.
Memang ada. Dengan begini, misi nya selesai.
"Data itu akan mengakhiri organisasi ini kan?" Tanya Thory tiba tiba.
"Tentu saja. Organisasi busuk seperti mereka tidak bisa di biarkan begitu saja bukan?" Jawab Raile. Namun tangan dan pandangan nya masih tetap fokus pada komputer itu.
Tanpa ia sadari, senyuman manis itu berubah menjadi seringaian kejam.
"Semuanya... Akan berakhir kan?"
Raile mengangguk. "Tentu. Tidak akan ada lagi masalah."
"Begitu juga dengan dirimu."
Raile menghentikan kegiatan nya. Secepat mungkin ia langsung menghindar.
DAR!!
Nyaris saja, sebuah peluru melesat nyaris mengenai kepala nya. Ternyata dugaan nya benar.
"Kau itu terlalu cepat percaya dengan orang lain, Raile." Ucap Thory.
"Kau benar benar anggota mereka rupanya... "
"Yap, dan sekarang aku akan mengakhiri hidup mu di sini!!!" Thory mengeluarkan sebuah belati dari saku celana nya dan langsung menusukkan nya pada Raile. Beruntung pemuda itu dengan cepat menghindar.
Thory terkekeh. "Karena sejak awal, aku tidak memihak kalian sama sekali!!! Tujuan ku untuk menghancurkan organisasi kalian!!" Teriak nya.
Raile berdecak kesal. Ia benar benar tak menyangka hal ini akan terjadi. Tidak seharusnya ia langsung percaya begitu saja. Tapi, dengan senyuman dan sikap ceria Thory, siapa juga yang tidak akan tertipu?
"Jika kau tidak ada... Itu akan semakin memudahkan kami untuk mengendalikan Revan. Kau hanya menghambat!!"
Raile terus menghindar. Gerakan Thory cukup lincah juga. Ditambah dirinya yang sudah cukup kelelahan membuat nya semakin sulit untuk mengalahkan Thory. Tapi bagaimanapun ia harus bertahan.
Sring!
"Akh!"
Darah mengalir dari luka sayatan di tangan nya. Thory yang berhasil melukai Raile tersenyum lebar. Melihat lawan nya kesakitan seperti itu, membuatnya semakin bersemangat.
"Apa itu sakit? Mau ku tunjukkan rasa sakit yang lebih parah? " Tanya nya sambil tersenyum.
Pemuda itu mulai menggila!
"Waktunya mengakhiri ini!!" Dengan cepat Thory berlari ke arah Raile. Pemuda bermanik gold itu langsung menghindar. Namun sayangnya, keberuntungan sedang tidak berpihak pada nya.
Brug!
Ia tersandung dan terjatuh. Sementara Thory semakin dekat ke arah nya.
"Sayonara Raile-kun"
__ADS_1
DAR!!!
Raile menutup mata nya erat erat. Namun tidak ada rasa sakit yang ia rasakan.
Raile membuka mata nya. Ia terkejut. Lagi lagi orang yang awalnya ia benci justru menolong nya. Tapi... Bagaimana bisa pemuda itu ada di sini??
Revan menggenggam tangan Thory erat sambil menatap tajam ke arah nya.
"Jangan berani kau melukai nya." Ujar Revan dingin.
Thory langsung menepis tangan Revan dan melompat menghindar. Sungguh menyebalkan. Kenapa orang itu selalu datang di waktu yang tidak tepat sih? Padahal tadi dirinya hampir saja berhasil membunuh Raile.
"Untuk apa kau ke mari hah?" Tanya Thory.
Revan hanya menatap datar. "Entahlah. Ada yg meminta bantuan jadi aku datang menolong nya." Jawab Revan, lalu menoleh ke samping. "Pagipula aku tidak bisa membiarkan kakak ku dalam bahaya."
Raile membulatkan mata. Apa ingatan Revan sudah kembali sekarang? Ia tak salah dengar bukan? Revan memanggil nya kakak kali ini.
"Ck! Karena mu semua rencana ku gagal!! Hah... Tapi baiklah tak masalah. Setidaknya kau di sini. Aku bisa melanjutkan rencana ku!" Ujar Thory sambil menodongkan pistol nya. Namun...
Bzztt!
"Itu jika kau masih hidup." Thory tercekat. Secara tiba tiba Revan sudah ada di belakang nya sambil menodongkan pistol yang tadinya ia pegang ke kepala nya.
Jika sudah begini tidak ada lagi cara untuk nya kabur atau melawan. Ditambah aliran listrik di sekitar nya membuat nya merinding. Salah pergerakan sedikit saja, nyawanya akan berakhir saat itu juga.
Memang tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Rencana yang sudah ia rancang untuk membunuh Raile di gagalkan secepat itu. Dan sekarang dirinya sendiri yang terjebak. Sungguh menyebalkan.
"Baiklah aku menyerah. Tapi... Selama Avren masih bebas, kalian pasti akan hancur!!!!"
"Sepertinya kau bicara terlalu cepat, bocah."
Mata Thory membulat. Di depan pintu, Avren berdiri dengan tangan di borgol ke belakang. Tapi bagaimana bisa?
"Woy kenapa malah kau ikut tertangkap??" Tanya Thory kesal.
"Lihat juga dirimu, bocah!"
"Sudah! Revan, bawa dia kemari. Selesaikan semuanya di kantor polisi."
Revan hanya mengangguk dan mengikuti arahan Sein.
Malam itu, semuanya sudah berakhir. Dark Devil berhasil di hancurkan. Semua data tentang penelitian itu di amankan oleh Shadow Agen dan kepolisian.
Namun masih ada yang mengganjal bagi Raile. Walau Revan sudah memanggilnya dengan sebutan kakak, tapi bukan berarti dia benar benar menerima nya.
Hatinya merasa tidak tenang. Tapi ia tidak tahu harus bertanya bagaimana pada pemuda itu. Ditambah mengenai kepribadian ganda Revan... Entah ia bisa menghadapi nya atau tidak.
"Aku memang masih belum bisa mengingat nya. Tapi tak masalah kan jika membuat lembaran baru?" Tanya Revan tiba tiba. Raile bahkan tidak tahu sejak kapan pemuda itu di sana. Apa karena dia terlalu tenggelam dalam pikiran nya, hingga tidak memperhatikan apa yang ada di sekitar nya?
"A- aku..." Sial. Kenapa dia merasa se gugup ini sih??
"Kau... Tak mau kah?" Tanya Revan lagi memastikan.
Bukan itu yang Raile maksud!! "Aku mau! Tentu saja. Dan... Maaf meninggalkan mu sendiri..."
"Tak perlu di ingat. Aku sudah memaafkan mu."
__ADS_1
"Terimakasih."
Hanya kata itu yang mampu Raile katakan. Setidaknya ia berharap kedepan nya gak akan ada lagi masalah di antara mereka.