
"Ck! Bagaimana bisa meleset?!" Keluh Saki kesal karena tembakan nya justru meleset.
Sementara itu, kedua rekan nya justru menatap horor.
"Kau gila? Ini kenapa malah Revan yang kena? Kau tau kan Revan itu barang berharga tuan Avren?" Ujar Farel.
Ia tau Revan itu barang berharga tuan nya. Jika manusia percobaan itu yang justru jadi korban, bagaimana jika ketua mereka tau kalau bukan Raile, tapi Revan yang justru jadi korban?
Sudah jelas nyawa mereka akan terancam kali ini.
"Tapi seperti nya tak masalah. Kalian ingat kan apa yang anak itu katakan?" Ingatan keduanya kembali berputar saat Avren memberikan perintah pada mereka.
Flashback
Tok tok tok!
Pintu ketuk oleh tiga pria yang baru saja terbebas dari penjara itu. Tak lama, terdengar sahutan dadi dalam mempersilahkan mereka untuk masuk. Tanpa buang waktu, ketiga nya langsung memutar kenop pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu.
Di dalam, seorang pria duduk sambil memijat kening nya. Lalu di hadapan nya ada seorang pemuda bermanik zamrud yang sedang tenang memakan apel sambil memainkan setangkai bunga mawar hitam di tangan nya.
"Tuan, ada apa tuan memanggil kami?" Tanya Naru, membuat pria bermanik jingga itu menoleh.
"Aku ingin kalian membunuh Raile. Dia selalu menggagalkan rencana ku!" Perintah Avren sambil mengepalkan tangan nya kesal.
Farel sedikit bertanya. "Bukannya Raile itu anggota Shadow Agen? Ditambah lagi, dia kakak Revan. Apa tidak masalah?"
"Aku tak peduli mah saudara atau bukan! Bunuh anak itu secepatnya. Karena dia... Percobaan ku sekali berhasil kabur dari sini!"
Ketiga nya sedikit membungkuk memberi hormat. "Siap tuan." Ujar mereka bersamaan.
"Oh, tapi kalo bunuh Revan sekalian gak masalah sih..."
Avren langsung melemparkan tatapan tajam pada pemuda yang tersenyum manis di hadapan nya.
Apa maksudnya tidak apa apa? Jika Revan mati, lalu apa gunanya ia melakukan percobaan selama ini?
"Kau sudah gila bocah? Jika Revan mati, apa gunanya semua ini?! "
__ADS_1
Pemuda itu hanya membalas dengan senyuman, lalu melanjutkan memakan apel nya. Ia mengalihkan pandangan nya pada bunga mawar hitam yang di pegang nya.
"Aku yakin, sosok itu tak akan membiarkan Revan mati begitu saja. Jadi kalau saja Revan terbunuh, itu bukanlah masalah. " Ucapnya santai.
Keempat pria di ruangan itu justru menatapnya dengan ekspresi yang sulit untuk di artikan.
Avren, "...." Apa sebenarnya yang ada dalam otak mu itu, bocah?
Sedangkan Farel, Saki dan Naru hanya berpandangan dengan ekspresi bertanya tanya gantang apa maksud pemuda bermata zamrud itu.
Mereka heran, sekesal apapun Avren pada pemuda itu, tapi dia tidak pernah sekalipun bersikap kasar padanya. Bahkan sebaliknya. Seolah anak kesayangan atau tuan nya, Avren yang justru menurut.
Sebenarnya apa hubungan di antara mereka?
Flashback off
Saki dan Naru menghela nafas. Dalam pikiran mereka terdapat pertanyaan yang sama, 'siapa sosok yang anak itu maksud sebenarnya?'
"Sudahlah biarkan saja. Lebih baik kita cepat pergi dari sini sebelum ketahuan. Untuk Raile, kita coba pikirkan cara lain untuk membunuh nya" Ujar Saki yang akhirnya di setujui oleh kedua rekan nya. Ya, sepertinya memang itu lebih baik.
******
Ia benar-benar tidak menyadari serangan mendadak itu. Jika saja dirinya lebih berhati hati, kejadian seperti ini pasti tak akan terjadi.
Di saat akhirnya ia mengetahui fakta jika Revan adalah saudara kandung nya, tapi justru menjadi petaka untuk saudara nya itu.
"Ini semua salah ku... Jika saja.. Hiks.. Aku lebih waspada.. Revan pasti tak akan seperti ini." Gumam Raile sambil mencoba menahan isakan nya.
Di Koridor rumah sakit yang cukup sepi kalau itu, seorang pemuda bermanik gold duduk di kursi yang berada di samping ruang IGD. Terlihat jelas raut khawatir di wajah nya, mencoba menghilangkan berbagai pikiran buruk yang muncul di otak nya.
Setelah Revan tertembak, beruntung Sein yang sempat mengikuti Raile karena curiga dan kebetulan melihat kejadian itu langsung membawa nya ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit saja mungkin akan lebih berbahaya untuk keselamatan Revan.
Tak lama, dua pemuda seumuran nya berjalan menghampiri Raile dengan ekspresi khawatir.
"Bagaimana kondisi Revan sekarang?" Tanya Riz khawatir.
Raile masih terdiam. Ia sendiri tidak tau harus menjawab apa sekarang. Dokter bahkan masih belum keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Hey jawab! Bagaimana kondisi Revan? Apa yang terjadi sampai sampai Revan tertembak seperti itu?" Tanya Rei. Ia yang baru mulai membaik langsung memaksa untuk ikut datang ke rumah sakit begitu mengetahui sahabat nya itu tertembak.
Awalnya ia cukup terkejut mengetahui Raile sudah tau semuanya tentang Revan. Namun entah mengapa perasaan nya mendadak tidak enak setelah itu.
Ia tau hubungan mereka sebelumnya cukup buruk. Ia khawatir jika akan terjadi apa apa pada sahabatnya itu. Dan ternyata apa yang ia pikirkan benar. Kini Revan justru terluka seperti ini.
"Ini semua salah ku..." Lirih Raile sambil menundukkan kepala nya.
Mendengar ucapan itu, tangan Rei mengepal kuat. "Kau masih belum puas ya, membiarkan nya menderita? Dan setelah tau kebenaran nya, kau langsung mau membunuh nya? Segitu bencinya kah kau pada adik kandung mu sendiri?!"
Raile sedikit tersentak mendengar apa yang di ucapkan Rei. "Bukan begitu.. Aku juga gak tau kalau ada orang yang menargetkan ku-"
"Kau sungguh tidak tau, atau ini hanya alasan mu?" Potong Rei cepat. Entah mengapa emosi nya mulai meluap.
Riz mencoba melarai."Rei, kontrol emosi mu. Ini rumah sakit..." Ucapnya sambil menepuk pundak teman nya itu agar tidak semakin terpancing emosi.
Rei hanya membuang muka. Ia sudah terlanjur kesal dengan Raile.
Rei tau jika alasan Revan masih bertahan selama ini adalah pemuda bermanik emas itu. Tapi, setelah apa yang terjadi saat ini, ia jadi meragukan keselamatan sahabatnya itu jika terus bersama Raile.
Tak lama, pintu ruang IGD terbuka. Seorang pria berjas putih keluar dari ruangan itu. Dengan cepat, Raile langsung menghampiri nya.
"Bagaimana keadaan Revan sekarang, dok? Dia baik baik saja kan?" Tanya Raile.
Dokter dengan name tag Tadashi itu sedikit menghela nafas. "Peluru yang mengenai kepala nya sudah kami atasi, kondisi pasien juga sudah mulai membaik. Tapi, tembakan peluru pada bagian kepala tentu nya dapat menyebabkan kerusakan baik pada otak, tempurung kepala, tulang belakang, mata dan tentunya pembuluh darah utama yang terletak di kepala. Kami masih perlu melakukan CT scane untuk memastikan kondisi nya lebih lanjut." Jelas dokter Tadashi rinci.
"Tapi adik saya akan baik baik saja kan?" Tanya Raile.
"Kami akan berusaha yang terbaik. Mohon bersabar ya..." Ucap dokter Tadashi sambil tersenyum dan berlalu pergi.
"Adik? Bukannya selama ini kau menganggap nya musuh mu?" Cetus Rei.
"Aku tau aku salah selama ini, dan aku ingin memperbaiki nya. Sungguh, aku gak bermaksud membuat Revan seperti ini..."
"Tch." Hanya itu jawaban Rei sebelum pemuda itu berjalan menjauhi Raile dan Riz.
"Dih... Asal nyalahin orang. Dia kira dia siapa nya Revan?" Celetuk Riz sambil melipat tangan nya di depan dada. "Dah lah Raile... Gak perlu di pikirin... Jangan salahin dirimu sendiri."
__ADS_1
Raile mengangguk pelan. Yang Rei katakan tidak salah, bagaimana pun, kondisi Revan seperti ini juga karena nya. Setidaknya itu yang Raile pikirkan saat ini.
TBC