Suamiku Ternyata Seorang Presdir

Suamiku Ternyata Seorang Presdir
Bab 105


__ADS_3

💜💜💜💜💜💜💜


Hahaha


Ariella tiba tiba tertawa, matanya yang tajam menatap Caessa dengan dingin.


Tidak menyangka bahwa orang di depannya ini suka memutarbalikkan fakta.


"Ariella lebih baik kamu pergi, aku tak akan membiarkanmu menemui ibumu"


"Apalagi??"


Ariella tidak marah, dia ingin tau apalagi yang akan di katakan oleh Caessa.


Caessa tidak berani menatap mata Ariella. Dia mencoba untuk kembali berkata


"Ariella ,jika kamu memang menyayangi ibumu, biarkan dia pergi dengan tenang, kau tak perlu menemuinya, jangan biarkan ibumu meninggal dalam penyesalan"


Mendengar kata meninggal dalam penyesalan , amarah Ariella seketika muncul, jika bukan karena Caessa ibunya masih hidup.


"Caessa"


Ketika Ariella akan marah Carlson mengulurkan tangan dan menariknya kembali.


Carlson mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Ariella kita datang kesini untuk menemui ibu mertua"


Carlson sudah memperkirakan akan ada kejadian ini. Jadi dia menyuruh Daiva untuk menelpon seseorang.


Ariella yang di tarik Carlson dan mendengar suara lembut Carlson, membuat amarahnya mereda, Dia hanya menatap tajam pada Caessa.


Sebuah mobil hitam melaju dengan cepat dan berhenti di dekat mereka.


Seorang pria paruh baya gemuk turun dari mobil.


Melihat Carlson pria itu mengangguk dan berkata


"Presdir maaf membuatmu menunggu lama"


Carlson mengangguk


"Merepotkan direktur Xang untuk mengatur jalan".


Pria gemuk yang di panggil Direktur Xang itu bergegas mengatur jalan, berjalan sambil berkata


"Presdir mari,,Maaf anak buahku tidak mengerti dan malah memperlambat kunjungan Presdir, mohon pengertiannya"

__ADS_1


"Direktur Xang hal yang kamu janjikan...."


Caessa juga mengikuti , tapi kalimatnya belum selesai di ucapkan, Direktur Xang sudah melotot kearahnya.


Pekerjaan harian Caessa adalah bagaimana dia bisa dapat kekuasaan.


Caessa mendengar dari Elisa bahwa Ariella sudah menikah.


Tapi siapa pria itu ,dia tidak menyelidikinya.


Ariella yang mempunya reputasi buruk malah lebih mudah menemukan pria dan menikah.


Tapi akan sulit menemukan pria yang lebih kaya daripada Ivander.


Tapi melihat pria itu, pria yang begitu tertutup dan juga memiliki aura yang kuat juga elegan disaat bersamaan.


Melihat Direktur Xang yang hormat kepadanya sepertinya pria itu bukan orang biasa.


Tapi siapa dia, apakah kekuatannya bisa dibandingkan dengan Ivander.


Caessa menilai orang memang dari aspek itu.


Jadi dia bisa menentukan sikap apakah dia harus menyenangkannya atau tidak.


"Ayah apa yang kamu lihat, apa Ariella sudah datang?"


Caessa menatap Ariella dan dua orang pria di depan sana.


"Elisa apa kamu pernah bertemu dengan suami Ariella?"


"Aku pernah melihatnya saat di kota X, tapi jaraknya terlalu jauh jadi aku tak bisa melihatnya dengan jelas"


"Aku lihat paras dan tempramen pria itu lumayan, kamu nanti coba menemuinya dan temukan cara untuk mengetahui detailnya"


"Mereka sudah datang"


Elisa juga menatap kearah Ariella dan Carlson yang sudah jauh.


"Ayah kamu tidak menghentikan mereka?"


"Orang yang secara pribadi diantar oleh Direktur Xang bagaimana mungkin aku bisa menghentikannya".


"Orang yang secara pribadi diantar oleh direktur Xang?"


Elisa masih menatap mereka di kejauhan.


Tanpa sadar dia mengingat seorang pria yang hanya di temuinya 2x beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Sosok pria yang dinikahi Ariella itu sangat mirip dengan Abraham. Seharusnya bukan suatu kebetulan jika itu adalah orang yang sama.


Direktur Xang mengantarkan mereka ke ruang beku,ruangan ini sangat besar, masing masing jenazah di kemas dalam sebuah kotak.


Biasanya jika ada keluarga yang datang akan diantar oleh petugas, memegang nomor dan kotak akan di buka.


Ariella melihat jasad ibunya, wajahnya begitu pucat dan masih ada jejak darah beku di dahinya.


"Ibu"


Ariella ingin menyentuh ibunya, ingin memandang ibunya dari jarak dekat. Tapi kakinya lemas, seluruh tenaganya seperti terkuras.


Jika saja Carlson tidak segera menangkap tubuhnya , Ariella sudah pasti jatuh ke lantai.


"Bu.."


Selain kata ini, Ariella tidak bisa mengucapkan kata kata lain.


"Ariella ku saat tumbuh dewasa pasti sangat cantik, Ariella ku saat dewasa harus menikah dengan pahlawan, Ariella ku..."


Ucapan ibunya bagai putaran film, adegan demi adegan muncul di pikirannya.


Mengapa tuhan begitu kejam, kesalahpahaman antara dia dan ibunya baru saja selesai.


Kemarin Ariella berfikir bahwa masa depannya akan lebih cerah dan bahagia. dia bisa merawat ibunya dan menjalani kehidupan dengan baik.


Mungkin apa yang dikatakan Caessa benar, dia yang membunuh ibunya.


Mengapa dia pergi sendiri tanpa membawa ibunya.


Meninggalkan ibunya sendirian di rumah yang kejam itu, mengapa tuhan juga begitu kejam, tidak memberikan kesempatan untuk merawat ibunya.


Segala emosi Ariella sepanjang hari ini akhirnya runtuh , Air matanya turun dengan deras.Dia meraung dengan penuh keputusasaan.Hatinya hampa.


Carlson memeluknya dengan erat, dia tak mengatakan apapun, hanya membiarkan Ariella menangis dan membasahi pakaiannya.


Carlson membiarkan Ariella menangis, agar hatinya lebih nyaman, daripada diam dan di pendam sendirian.


Melihat air mata Ariella hati Carlson juga sakit, perasaannya tak bisa dikendalikannya. Perasaan seperti ini belum pernah dirasakan oleh Carlson sebelumnya.


💜💜💜💜💜💜💜


Guys follow instagram aku @Yunith_nitha ,dan lihat story aku.


Ada link buat donasi untuk korban gempa Cianjur.


Atau langsung ke kitabisa.com yah.

__ADS_1


yuuk kita bantu mereka, bisa mulai dari 1000 aja loh. yang penting ikhlas ya ..


__ADS_2