
💜💜💜💜💜💜💜
Melihat Ivander yang ingin menghajarnya, Carlson malah terlihat tenang.
Apalagi sekarang Ivander sudah di tangani oleh Henry.
Henry membekuknya sampai terdengar seperti suara tulang Ivander yang akan patah.
"Lepaskan sialan, apa yang kamu lakukan"
Ivander semakin mengamuk, tulangnya seakan akan remuk. dia meraung dan berteriak.
"Carlson apa kamu ingin cari mati, kamu pikir kamu hebat karna bisa menjadi tamu Carlton, percaya atau tidak aku bisa membuatmu menghilang dari dunia ini"
Melihat ini Carlson hanya diam saja seakan dia sedang menonton sebuah drama konyol.
Dia menatap Ivander dengan dingin, kemudian berbalik dan pergi.
Melihat Carlson pergi ia menjadi panik, bagaimana mungkin dia akan membiarkan Carlson pergi begitu saja.
Ivander ingin memukul Henry, tapi Henry dapat menghindar dan balik menendang perut Ivander.
"Brengsekk!!!! Carlson berhenti, jika kamu punya kemampuan maka hadapi aku satu lawan satu"
Mendengar ini Henry tertawa.
"Tuan Ivander ku sarankan kamu berhenti sampai disini, jika presdir turun tangan mungkin nyawamu akan melayang"
Ivander tidak senang , dia mengira Henry hanya meledeknya. Dia ingin menyerang Henry lagi, tapi dia kalah cepat karna dia sendiri yang malah dapat beberapa pukulan.
Petugas keamanan datang setelah di panggil saat insiden sudah selesai.
" Bagaimana tugas kalian, kenapa orang yang tidak memiliki undangan bisa masuk"
"Tuan..."
"Sudahlah"
Henry melambaikan tangannya
" Bawa dia keluar"
"Siapa yang berani menyentuhku, aku di undang oleh Carlton"
Dia masih memberontak dengan membawa nama Carlton, dia masih tidak menyadari bahwa orang yang telah di singgungnya adalah Carlton itu sendiri, sang raja bisnis"
__ADS_1
"kalian jelaskan padanya siapa yang memintanya keluar" ucap Henry
"Tuan Ivander, tuan Carlton tidak menyambut mu, silahkan anda pergi atau kami yang akan menarik anda dengan paksa"
Kejadian ini sudah menarik perhatian banyak orang ,bahkan beberapa sudah ada yang membicarakannya.
Ivander masih tidak menyerah .
"Apa kalian tidak tau siapa aku, aku Ivander dari grup GU, kalian berani mengusirku maka kalian akan tau akibatnya."
"Aku tidak tau Ivander dari grup Gu, aku hanya tau Carlton dari grup Acess. Tuan Ivander mohon untuk bekerja sama jika tidak maka kami tidak akan segan lagi"
Kata kata petugas itu seolah menjadi tamparan yang sangat memalukan bagi Ivander.
Saat ini ia baru menyadari bahwa ia baru saja membuat masalah besar, tidak hanya mendapat hinaan tapi juga kehilangan muka.
Dan yang paling parahnya dia meninggalkan kesan buruk di hati Carlton.
Demi agar bisa bekerja sama dengan grup Acess, dia akan pergi . Dan akan mencari Carlson di kemudian hari untuk membuat perhitungan.
Ivander melangkah keluar di ikuti dengan petugas di belakangnya. Pandangan mata mereka mengarah kepadanya, semuanya mencibir.
Ivander mengepalkan tangannya dengan erat.
"Ariella,,Carlson,kalian yang tidak tau diri, jangan salahkan aku jika aku tidak berperasaan pada kalian"
Diruang istirahat Carlson berdiri di depan pintu selama beberapa saat, mungkin satu dua menitan, kemudian baru mendorong pintu untuk masuk.
Daiva melihat Carlson datang, dia dengan sadar langsung undur diri.
Carlson mengunci pintu, dan menatap Ariella dengan tatapan dalam.
"Carlson aku...."
Dia ingin menjelaskan kepada Carlson tapi bertatapan dengan mata Carlson yang suram, dia jadi susah untuk berbicara, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Kamu jelaskan, aku akan mendengarkan"
Tapi dia sudah menunggu sekian lama,Ariella belum juga menjelaskan apapun.
Ariella bingung apakah dia harus menjelaskan tentang kondisi keluarganya dan membiarkan dia mengasihaninya.
Atau bagaimana jika Carlson akan berurusan dengan Ivander, sedangkan dia tau bagaimana kekuasaan Ivander.
Tapi dia sadar ini adalah salahnya sendiri.
__ADS_1
Jelas jelas dia sudah berjanji untuk tidak bertemu dengan Ivander, tapi dia malah melanggarnya dan tertangkap basah oleh Carlson.
Dan tadi Ivander sedang memeluknya, Ariella harus memberi Carlson penjelasan.
Untuk sekian lama Ariella diam, dia tidak tau harus memulainya dari mana, dia menatap Carlson, tidak ada cahaya di mata gelapnya itu.
"Aku..."
Ariella tidak lagi melanjutkan.
Carlson yang telah lama diam, dia merentangkan tangannya dan menarik Ariella masuk kedalam pelukannya.
Tangan kanannya menekan tengkuk Ariella, dan mencium Ariella dengan panas dan ganas juga penuh amarah.
Meraup dan juga menggigit bibir Ariella.
Ariella mencoba menolak, tetapi Carlson juga malah semakin mempertegas ciumannya.
Kemudian bibir Carlson berpindah kebawah, sampai di leher Ariella, menyapu dengan lidahnya, memberikan kecupan , menggigit dan bahkan meninggalkan bekas kemerahan.
"Carlson jangan...!!"
Ariella berteriak , tetapi teriakannya tidak bisa menghentikan Carlson.
Tangan Carlson yang berada di pinggang Ariella, naik keatas dan dengan kasar menarik tali gaun di punggung Ariella sampai terdengar suara robekan.
"Jangan..!!"
Tangan Ariella ingin menutupi dadanya. Tapi tangan Carlson sudah lebih cepat darinya.
Tangan besar itu turun dari tulang selangkanya menuju dada.
Ciuman ganas Carlson yang tadi berada di lehernya sekarang semakin turun ,bermain di dadanya dan banyak meninggalkan bekas kemerahan disana.
Suara Ariella semakin tercekat, ingin menolak.
Belakangan ini dia memang memikirkan bagaimana ia bisa menyatu dengan Carlson.
Tapi tidak berfikir bahwa akan dengan cara seperti ini. Dia ingin mereka menyatu dengan penuh cinta, bukan saling menyakiti dan dingin seperti ini.
"Carlson berhentilah"
Air mata Ariella sudah menetes, memohon untuk terakhir kalinya, suara itu terdengar serak dan lelah.
Cumbuan Carlson itu akhirnya berhenti , kekuatan dan kemarahan yang ada dihatinya tiba tiba terlepas.
__ADS_1
Carlson mendongak dan menatap Ariella .
💜💜💜💜💜💜💜