Suamiku Ternyata Seorang Presdir

Suamiku Ternyata Seorang Presdir
108


__ADS_3

💜💜💜💜💜💜💜


Salju turun tanpa tanpa henti , udara menjadi semakin dingin. kemarin setelah pulang dari Rumah duka, Ariella mengalami demam tinggi hingga 39,2 derajat, sampai dia kehilangan kesadarannya.


Ariella terus bergumam tidak jelas, dalam tidurnya juga beberapa kali menangis memanggil ibunya.


Melihat Ariella yang seperti ini, Carlson merasa sedih, dia berharap Ariella mau berbagi penderitaannya dan menanggung beban bersama.


Nyatanya Ariella menyimpan kesedihannya sendirian, tidak mau terbuka dan berbagi kesedihannya kepada Carlson.


Awalnya Carlson berfikir setelah mereka melakukan hubungan suami istri, Ariella akan lebih membuka dirinya dan mereka akan semakin lebih dekat, Tapi nyatanya tidak.


"Ariella"


Carlson mengelus kepala Ariella dengan lembut.


"Tak peduli apapun yang terjadi ,kamu memiliki aku, ada aku yang selalu ada di sisimu".


kepergian ibu membuat pukulan telak terhadap Ariella. Bagi Carlson yang sejak kecil tumbuh di keluarga yang harmonis, tentu tak akan merasakan apa yang di rasakan Ariella.


Menurut Carlson, setiap pasangan suami istri, hubungannya akan sama seperti ayah dan ibunya yang begitu harmonis saling membutuhkan satu sama lain.


Kondisi ibu Carlson tidak baik, namun ayahnya tak pernah mempermasalahkannya , ayah merawat ibunya dan terus menemaninya.


Bahkan sang ayah melepas semua pekerjaannya hanya untuk bisa menemani ibu untuk keliling dunia.


Carlson pernah mendengar ayahnya berkata, seorang laki laki baik kepada wanita itu gampang, tapi seorang laki laki yang memperlakukan wanita dengan baik seumur hidupnya itu tidak mudah.


"Carlson"


Ariella membuka matanya agak sayu dan melihat Carlson yang sedang melamun.


"Kamu sudah sadar"


Tangan Carlson terulur dan meletakkannya di dahi Ariella.Demamnya sudah turun, hanya saja wajah Ariella masih pucat dan masih terlihat lemah.


Ariella mengangguk.


"Apa yang kamu pikirkan ,sampai melamun seperti itu?"


"Tidak ada apa apa"


jawab Carlson sambil membantu Ariella untuk duduk. kemudian mengambil mantel untuk dipakai istrinya itu.


"Kamu harus makan sedikit"

__ADS_1


"Iya"


jawab Ariella dengan senyum merekah di wajahnya.


"Maaf membuatmu khawatir semalaman,aku merasa tidak enak denganmu".


Carlson tersentak mendengar ucapan Ariella.


"Apa yang kamu katakan".


Carlson tidak puas dengan perkataan Ariella.


Carlson berbalik untuk keluar, baru saja membuka pintu sudah ada Daiva yang menunggunya.


"Ada apa?"


"Direktur, Caessa datang ke sini, beliau datang untuk bertemu nyonya".


Karena ini masalah keluarga Ariella, Daiva tidak langsung mengusir Caessa, dia menunggu perintah dari Carlson.


"Oke biarkan dia masuk dan tunggu di ruang rapat".


Carlson tau tujuan Caessa menemui Ariella bukanlah dengan maksud baik, Carlson harus mencabut bibit racun ini dari hati Ariella.


-


Melihat ini Ariella kembali mengingat ibunya, ketika saat kecil dia sakit, ibunya akan merawatnya seperti ini.


Ibunya juga akan membuatkan makanan ringan untuk di makan. Ariella mengerjapkan matanya agar air matanya tidak jatuh.


Dia berkata di dalam hati "Ibu lihat sekarang ada orang yang berlaku baik kepada Ariella, aku pasti akan bahagia, jadi ibu harus baik baik di surga sana,dan jangan khawatir terhadap Ariella".


"Makanlah"


Melihat ekspresi Ariella, dia tau bahwa istrinya sedang merindukan ibunya.Hanya saja Carlson tidak tau harus berkata apa untuk menghibur Ariella.


Ariella mengangguk dan langsung mengambil sendok dan memakannya.


Setelah selesai menemani Ariella makan, Carlson segera menuju ruang rapat di hotel.


Bisa di lihat Caessa tidak sabar menunggu, dia mondar mandir di dalam ruangan itu.


Ketika melihat Carlson dia tertawa dan berkata.


"Carlson menantuku"

__ADS_1


"Tuan Caessa waktu Presdir kamu tidak banyak, segera katakan tujuan anda datang kesini". Ucap Daiva memotong perkataan Caessa.


Caessa merasa tidak senang dan marah.


"Aku berbicara dengan tuanmu, untuk apa kau memotong pembicaraanku".


"Tuan Caessa mungkin anda salah faham" ucap Carlson.


Tubuhnya tegap dengan tuxedo abu abu perak, membuatnya semakin berkharisma.


"Daiva, dia adalah keluargaku". lanjutnya.


Ucapan Carlson membuat Caessa terkejut, tapi dia masih dengan tidak tau malunya berani berbicara.


"menantuku"


"Tuan Caessa jika tidak ada yang di bicarakan, aku harus pergi" ucap Carlson karena sebenarnya dia jengah mendengar Caessa lagi lagi menyebutnya menantu.


"Itu ibu Ariella baru saja meninggal, pasti sekarang dia sedang sedih, sebagai ayahnya aku ingin menemaninya mengobrol, bagi Ariella aku adalah satu satunya orang yang paling dekat di keluarganya".


Dengan tatapan dingin Carlson berkata


"Aku bisa menjaga istriku dengan baik, aku tidak ingin orang yang tak ada hubungan dengan Ariella datang dan menemuinya lagi".


"Carlson bagaimanapun juga aku adalah ayahnya dan kamu adalah suaminya, bagaimana mungkin kamu berkata seperti ini di hadapan mertuamu, aku adalah ayahnya, ada hak apa kamu melarang ku untuk menemui anak ku".


Caessa mengira jika Carlson tidak mengetahui apa apa. Meskipun hubungannya tidak baik, tapi Carlson tidak ada hak untuk melarangnya, jadi dia menekan Carlson dengan status seorang ayah.


Sayang sekali Carlson tidak termakan ucapan Caessa. Carlson masih menatap dengan dingin.


"Tuan Caessa perbuatan yang anda lakukan seharusnya anda sendiri yang menyadarinya"


"Apa yang telah aku lakukan? Jangan bicara sembarangan kamu" jawab Caessa dengan marah.


Dalam hatinya dia bertanya tanya apakah Carlson sudah mengetahui hal itu.


"Daiva antar tamu keluar"


setelah mengatakannya Carlson keluar dari ruang rapat.


"Carlson kamu tidak mengizinkan Ariella bertemu dengan keluarganya, apakah kamu ingin memenjarakan Ariella"


Caessa berteriak, dia tidak akan membiarkan Carlson pergi.


"Caessa jangan sebut sebut nama Ariella lagi sebagai keluargamu, aku dan kamu sudah tak memiliki hubungan apapun lagi".

__ADS_1


Terdengar suara dari pintu ruang rapat.


💜💜💜💜💜💜💜


__ADS_2