Suamiku Ternyata Seorang Presdir

Suamiku Ternyata Seorang Presdir
Episode 46


__ADS_3

Karena khawatir Ariella panik dan tidak mengontrol kekuatannya, dia menepuk dengan sedikit kencang, Ariella sendiri bahkan tangannya merasa sakit.


"Ariella"


Carlson perlahan membuka matanya, suaranya rendah dan serak, matanya terdapat garis-garis merah.


"Carlson kamu demam tinggi, cepat bangun ayo kita ke dokter"


Ariella memegang lengannya dan menariknya, tapi Carlson terlalu berat,dia tidak bisa menggerakkannya.


Carlson mengerutkan kening meliriknya sekilas kemudian perlahan-lahan menutup matanya tertidur dengan sangat lelap.


"Carlson kamu jangan tidur,, tidak boleh tidur lagi"


Ariella tidak bisa menyeretnya sendirian, Carlson kembali tidak sadar .


Ariella mengambil telpon untuk memanggil ambulans.


Ariella belum menelpon,sudah ada panggilan telepon yang masuk ,Daiva yang menghubunginya dan buru-buru ia menjawab.


"Daiva...."


Daiva tidak menunggu Ariella selesai berbicara, dengan buru-buru dia berkata


"Nyonya apa presdir Carlson ada di sampingmu"


Biasanya pagi-pagi Carlson sudah bangun dan melakukan rapat video Call dengan perusahaan yang ada di Amerika.


Tapi pagi ini dia tidak ada kabar, ada banyak hal yang menunggu keputusannya.


Daiva sudah menghubungi ponsel pribadi Carlson tetapi tidak bisa,akhirnya dia menghubungi ponsel Ariella.


"Daiva kamu menelpon di saat yang tepat, Carlson demam tinggi dan kondisinya sangat serius aku berencana menghubungi ambulans"


Dalam masalah mendesak, Ariella sangat tenang menjelaskan kepada Daiva.


"Nyonya tidak perlu menelpon ambulans, aku akan segera datang bersama orang"


Setelah selesai berbicara Daiva langsung menutup telpon.


Ariella melemparkan telpon, turun dari ranjang dan segera pergi ke dapur mengambil beberapa es batu dari lemari es, kemudian di bungkus handuk dan mengompresnya kepada Carlson berharap dapat menurunkan demamnya.


Kembali ke kamar ponselnya berdering, Ariella melihat sekilas dan ternyata Daiva yang menelponnya. Dia mengangkatnya dan mendengar Daiva berkata.


"Nyonya Presdir alergi terhadap penicilin jangan sampai memberinya obat itu"


Ariella mengangguk


"Baik"

__ADS_1


Daiva kembali memutuskan panggilan telpon , tidak seperti Daiva yang seperti biasanya, tapi Ariella tidak terlalu peduli.


Ariella meletakkan handuk es di dahi Carlson dengan satu tangan dan tangan satunya menggenggam telapak tangan Carlson yang besar.


"Carlson apakah sudah jauh lebih baik?"


Jelas-jelas tau bahwa dia tidak bisa mendengar perkataannya, Ariella masih berharap dia masih bisa menjawabnya.


Setelah beberapa saat Ariella menyingkirkan handuk es itu, membungkuk secara alami meletakkan dahinya sendiri di dahi Carlson.


Ariella untuk pertama kalinya begitu dekat memandang Carlson.


Carlson benar-benar sangat tampan, panca inderanya seperti karya seni yang di poles dengan cermat , setiap inchi penuh dengan garis keanggunan dan ketenangan sangat amat elegan.


Bagaimana bisa ada orang yang sebegitu tampannya bahkan ketika menutup mata membuat orang tergerak .


Mungkin Ariella terlalu fokus hingga Ariella tidak sadar Carlson membuka matanya.


Tidak tau kapan Carlson membuka mata dan seketika melihat Ariella yang sedang menatapnya dengan serius.


Dia tidak bisa menahan tawanya dan berkata


"Apa sudah cukup melihatnya?"


Suara ini terdengar menggelegar di telinganya , membuat wajah dan telinganya memerah.


Hidung mereka saling bersentuhan, suhu tubuh berbaur ,saling berbagi nafas dan mata Carlson saat ini sangat lembut


Ariella langsung bangkit tapi Carlson malah tidak membiarkannya pergi , dia dengan cepat memegang kepala Ariella dan mendekatkan pada dirinya sendiri.


Kemudian dia menciumnya dengan rakus , gerakannya sangat cepat hingga Ariella terlambat untuk bereaksi , bibir saling bergesekan, ******* dan terasa manis.


Jantungnya berdetak kencang tidak tau berapa lama hingga Carlson melepaskan Ariella yang kehabisan nafas , dia dengan hati-hati memegang wajahnya Ariella.


Ujung jarinya membelai bibir Ariella yang merah dan membengkak , tersenyum dengan samar.


Ariella mengambil nafas dalam,semua terjadi begitu cepat dia belum merasakan secara sadar tapi semua sudah berakhir.


Ariella menatap Carlson dengan tidak berdaya,bibir merahnya terbuka dan ketika dia akan mengatakan sesuatu tapi Carlson malah menekankan jarinya ke bibir Ariella membuatnya tidak jadi berbicara.


"Aku perlu istirahat"


Kata Carlson sambil tersenyum kemudian dengan pelan melepaskan Ariella ,berbaring dengan baik dan melanjutkan tidurnya.


Ariella kembali menatap Carlson yang tertidur, dia merasa canggung dan lucu untuk sesaat berdiri disana dengan tidak berdaya.


Bel pintu berbunyi kencang , bel itu tampak menjadi penyelamat yang membuat Ariella kembali lega , dia dengan cepat berlari tapi malah mendengar suara seksi Carlson do belakang.


"Pakai jaket"

__ADS_1


Ariella menghentikan langkahnya dan berbalik, Carlson masih menutup matanya tidur dengan tenang seolah-olah tidak berbicara dengannya.


Ariella sedikit hilang fokus, menolehkan kepalanya, kemudian menggunakan suara yang hanya di dengarnya sendiri


"iya aku tau"


Kemudian melihat piyama yang dipakainya sendiri benar-benar tidak bisa jika di lihat orang lain. Dia dengan cepat mengambil jaket dan memakainya kemudian baru membuka pintu .


Ariella melihat Daiva dan Henry sudah datang , ketika pintu terbuka Daiva dan lainnya bergegas masuk bahkan tidak menyapa Ariella dan langsung masuk ke dalam kamar.


Ariella tercengang tergesa-gesa mengikuti.


Melihat dokter mengambil jarum suntik untuk menyuntikan kepada Carlson .


"Apa yang kalian lakukan?"


Ariella tidak mengenal orang-orang yang memakai jas putih ini , ketika mereka menerjang masuk ke rumah, mereka langsung menyuntik Carlson yang tidak sadar.


Dia tidak punya waktu memikirkannya dan langsung menghadangnya.


Daiva memblokirnya


"Ariella mereka adalah dokter pribadi presdir, mereka telah mengikuti presdir selama bertahun-tahun, sangat memahami kondisi presdir dengan baik ,tolong jangan ganggu mereka"


Ariella tidak menyadari bahwa Daiva mengubah panggilannya padanya , ada nada khawatir di nada suaranya.


Mengamati orang-orang ini yang sibuk dan dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa bahkan diperlakukan seperti orang luar oleh orang-orang ini.


Mereka bahkan tidak membiarkannya untuk mendekat, Ariella mengatupkab bibirnya.


Hatinya sedikit sedih tampaknya orang-orang telah lama bersama Carlson.


Semua mengenal Carlson dengan sangat baik dan dia sebagai istri Carlson malah tidak tau apa-apa mengenai Carlson.


Setelah menyuntik beberapa dokter meletakkan Carlson di brankar yang mereka bawa kemudian membawa Carlson pergi.


Kecepatan gerakan mereka sangat cepat , Ariella belum kembali fokus Carlson telah dibawa pergi oleh mereka.


_______


Guys jaga kesehatan kalian yaa,,, Covid semakin merajalela..


semoga kita sehat-sehat terus yaah...


Guys kalo kalian ada yang lagi promil atau sudah berhasil promil bagi tips ke gw yaah....


makasii readers🥰


Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian.

__ADS_1


__ADS_2