
💜💜💜💜💜💜💜
Carlson menatap cincin di jarinya, warnanya sudah kusam, sepertinya cincin ini memang sudah sangat tua.
"Dapat dari mana cincin ini?"
Ariella tidak menjawab , dia malah mencondongkan tubuhnya dan mencium Carlson sekilas, lalu tertawa sambil mengedip ngedipkan matanya.
"Kamu tidak mau memberi tahu ku?"
"hmmm" jawab Ariella sambil mengangguk.
"Aku tidak bisa mengatakan".
jika dia memberikan cincin ini kepada laki laki yang ia cintai maka dia akan hidup bahagia selamanya, ini adalah doa dan restu dari ibunya jadi dia tidak bisa mengatakannya pada Carlson.
Jika dia mengatakannya dia berfikir kalau doa dan restu ibunya tidak akan manjur lagi.
Karena Ariella tidak mau mengatakannya, Carlson juga tidak mau memaksa.
Kini Carlson menatap tangan Ariella, kosong.
Mereka sudah lama menikah tapi Carlson tidak memberikan cincin pernikahan kepada istrinya itu.
Ariella menunjuk kearah kiri " Lihat tanah lapang dan salju yang tebal itu, ayo kita kesana dan buat manusia salju, kamu mau kan menemaniku".
Carlson mengangguk, asalkan semua itu membuat Ariella bahagia ,Carlson akan menemaninya.
Kini Ariella menggandeng lengan Carlson.
Carlson menunduk dan menciumnya bibirnya cukup lama, hingga Ariella memukul punggungnya baru Carlson melepaskannya.
Dia mengusap bibir Ariella yang baru diciumnya.
"Aku akan berusaha mengimbangi mu" ucapnya pelan.
"Hah apa maksudnya?".
cukup lama berfikir akhirnya Ariella tau maksudnya.
Apakah dia berfikir jika Ariella menciumnya maka dia akan membalasnya.
Ariella sangat kesal dibuatnya hingga menginjak kaki Carlson lalu berlari ke depan.
Carlson menatap Ariella dengan senyum, pancaran matanya yang biasanya dingin dan datar itu memancarkan kebahagiaan.Carlson merasa menggoda Ariella cukup seru dan menyenangkan.
-
__ADS_1
Setelah menemui Ariella, Elisa pergi ke mall untuk membeli make up. Dia cukup royal dalam merawat kulitnya.
Wajahnya merupakan aset yang berharga, apalagi untuk menarik perhatian pria terutama Ivander.
Keluarganya memang cukup royal, dia juga memakai mobil BMW yang juga tidak dikatakan murah.
Mereka selalu memakai barang mahal untuk bisa bertahan di lingkaran lingkungan yang elit.
"Nona anda sudah pulang"
Pembantu baru bertanya dan membantu membawa barang belanjaan Elisa.
"Makan malam sudah siap, tuan sudah menunggu anda cukup lama"
"oke"
Di rumahnya Elisa di kenal cukup ramah oleh pembantunya. kini dia mengganti sepatunya dengan sandal rumah.
Berjalan menuju ruang dimana Caessa sedang duduk disana.
"Ayah"
Caessa berdiri dan dengan cepat tangannya sudah mendarat di pipi Elisa. terdapat bekas merah di pipinya.
Elisa menyentuh pipinya, dengan bergetar dan mata yang berkaca kaca dia berkata " Ayah mengapa kau menamparku".
"Dasar bodoh, merayu satu lelaki saja ,tidak bisa kamu taklukan, sebenarnya kamu punya kemampuan apa?"
"Ayah aku ini anakmu"
"Anak ku??" lagi lagi tangan Caessa sudah mendarat lagi di pipi Elisa, tamparan kedua yang juga sama kuatnya.
" Aku membesarkan mu dengan banyak uang, aku menyekolahkan mu di Luar negeri, tapi merayu satu laki laki pun kau tak becus melakukannya".
"Ayah"
tubuh Elisa yang kecil dan rapuh itu ambruk, ketika dia bangun dia melihat Ivander di depannya duduk di samping tempat tidur.
"Ivander"
Dia tidak menyangka orang yang akan dia lihat pertama adalah Ivander.
Elisa segera bangun dan langsung memeluk Ivander dengan erat.
"Kamu ternyata lemah ya, baru mendapat tamparan kamu pingsan dalam cukup lama" ucapnya tanpa perasaan.
Elisa menggigit bibirnya dan dengan hati hati bertanya " kamu ada perlu apa mencariku?".
__ADS_1
"Aku tau Carlson melihatmu saja enggan, menurutmu aku mencari mu karna apa?".
"Aku...."
Elisa tidak tau harus mengatakan apa, perasaannya sangat sakit, dia tau bahwa dia hanya di jadikan alat oleh Ivander dan juga ayahnya untuk kembali mendapatkan Carlson.
Bagi mereka berdua dirinya hanya di jadikan pion, jika berhasil mereka akan memperlakukannya dengan sangat baik, namun jika gagal dia di perlakukan buruk seperti ini.
"Elisa"
Ivander mengangkat dagu Elisa dan mencengkeramnya kuat ,juga menatapnya dengan tajam.
" Melihat kemampuanmu yang pintar merayu orang dan tubuhmu yang selalu kau gunakan untuk menggoda lelaki, mengapa hanya Carlson yang tak tertarik padamu".
"Ivander saakiit" rintihnya. Air matanya juga sudah mengalir tapi tak membuat Ivander iba.
"Sakit?? kamu bilang sakit?? kau masih bisa mengeluh hah"
Kini Ivander beralih menjambak rambut Elisa.
"Kali ini bagaimanapun caranya, apapun yang akan kau lakukan kau harus bisa mendapatkan Carlson kembali, aku tak peduli menggunakan cara apa kau harus membuatnya mau bekerjasama dengan Grup Primedia".
"Ivander lepaskan aku".
"Dasar wanita bodoh dan tak berguna, kamu masih berani pulang saat kau gagal mendapatkannya"
"Ivander apa kau sudah gila"
Ivander kini menghempas Elisa dan menamparnya dengan keras. Dia sudah di penuhi dengan emosi.
Dulu walaupun Ivander tidak mencintainya tapi dia tak pernah berlaku kasar padanya, tapi kini dia bisa bertindak seperti ini kepadanya.
"Kau mengatai tuan Ivander gila, aku tunjukkan kegilaan yang kau sebutkan itu"
Ivander menendang dengan keras perut Elisa tanpa belas kasih sedikitpun.
Mendapat tendangan yang cukup kuat, Elisa hampir saja kehilangan kesadarannya, namun setelah lama akhirnya dia bisa melihat dengan jelas.
Dia melihat Caessa berdiri di pintu melihat kejadian ini semua.
"Ayaah"
Elisa mencoba bergerak merangkak ke ayahnya untuk meminta pertolongan, tetapi ayahnya hanya diam , seolah olah dia sedang menonton pertunjukan komedi di depannya.
💜💜💜💜💜💜💜
Guys perasaan othor lg ga enak banget,ga tenang...gatau kenapa...
__ADS_1
seharian ini tiba tiba pengen nangis tanpa sebab, aneh bangett...
kenapa ya...