Suamiku Ternyata Seorang Presdir

Suamiku Ternyata Seorang Presdir
Bab 111


__ADS_3

💜💜💜💜💜💜💜


"Jangan terlalu di bikin pusing,itu hanya sebuah kata kiasan, pilih saja sesukamu, mencabut, membuang,menghilangkan, menghancurkan, pilihlah kata yang kamu suka". Jawab Ferdian dengan santai dan tertawa.


Dia tidak mengerti maksud Ferdian, dia mendongak dan menatap psikolog itu.


"Jangan terlalu serius aku hanya bercanda denganmu, belum lama ini aku bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai anak di luar nikah Grup Primedia, dia terus berkata ingin menghancurkan Grup Primedia, aku rasa dia sedang berhalusinasi".


Ariella menatapnya dengan tajam


"Sebenernya siapa kamu? mengapa kamu mau membantuku?".


Ferdian tertawa " Aku hanya dokter psikolog mu, tugasku hanya membantu dan berbagi padamu ,apakah itu salah".


Ariella diam masih dengan memperhatikan Ferdian.


"Jika kau bisa sembuh dengan sempurna, jangan lupa minta Abraham untuk memberiku bonus ya".


Sebenarnya Ferdian masih mengatakan banyak hal, hanya saja Ariella tidak memperhatikannya karena di pikirannya hanya terus terngiang, anak di luar nikah Grup Primedia.


Dulu memang dia pernah mendengar hal ini, namun tidak begitu memperhatikannya. Dan sekarang orang ini kembali mengingatkannya.


Ternyata di dunia ini selain Ariella, masih ada orang lain yang lebih menginginkan kehancuran Grup Primedia.


Jika Grup Primedia hancur maka Caessa sudah tak ada tempat sandaran lagi.


Lebih baik Ariella memberikan bukti bukti kepada orang itu, agar ia bisa membantu Ariella untuk menghancurkan Grup Primedia.


Carlson dia sangat sibuk, dia juga punya keluarga, Ariella tidak ingin menyeret Carlson kedalam permasalahan keluarganya.


Ariella hanya berharap jika dia sudah berubah dan tidak seperti ia yang sekarang, Carlson akan tetap bersikap lembut padanya.


Ariella dan Ferdian mengobrol kurang lebih 1 jam.Ariella hati sudah merasa lega dan ringan ,juga dia sudah menetapkan hatinya.


Hal yang pertama ia temui ketika keluar dari ruangan adalah tatapan khawatir Carlson.


Ariella langsung menuju ke arah Carlson sambil tertawa.


"Biaya pengobatan di dokter Ferdian sangat mahal, kamu bisa bantu aku membayarnya?".


Mendengar ucapan Ariella yang seperti ini membuat Carlson mengerti jika permasalahan Ariella sudah sedikit terselesaikan.

__ADS_1


Carlson mengelus kepala Ariella.


"Berapapun biayanya aku tanggung, buka harga".


Ferdian dengan santai bersandar pada pintu.


"Aku suka istrimu, jadi biaya hari ini aku beri gratis".


Mendengar Ferdian mengatakan menyukai istrinya, Carlson langsung menarik Ariella ke dalam pelukannya, seolah olah mengatakan pada dunia bahwa Ariella adalah miliknya.


Melihat reaksi Carlson, ferdian tertawa.


"Carlson tidak ada yang bisa merebut istrimu dari sisimu, tak perlu memamerkan kemesraan kalian, disini tempat orang sakit bukan tempat orang memadu cinta".


"Bagus kalau kau tau"


jawab Carlson tersenyum, namun di dalam senyum itu mengandung sebuah ancaman.


Tidak boleh ada yang tertarik pada istrinya, walaupun hanya sekedar keinginan.


"Carlson ayo kita pulang, aku sangat lapar, bisakah kamu menyuruh bibi untuk mempersiapkan makanan untukku?".


Seperti yang Ariella lihat, Carlson adalah orang yang berdiri di bawah mentari, dia tidak ingin membuat Carlson berada di tempat yang membuat dirinya kotor.


Baru saja Carlson dan Ariella pergi, seorang perempuan keluar dari sebelah ruangan Ferdian.


Wanita itu sekilas mirip dengan wajah Ferdian, dia menatap Ariella yang sudah jauh, kemudian menghela nafas panjang.


"Kak apakah dia anak kedua Caessa?"


Ferdian mengangguk "Iya dia adalah anak kedua Caessa, tidak kusangka akan bertemu dengannya seperti ini".


Setelah pulang dari tempat praktek Ferdian, Ariella jauh lebih baik dari sebelumnya, hal ini membuat Carlson lega, dan sering membelai kepala istrinya itu.


"Aku ada sedikit urusan, kamu istirahat disini, nanti malam kita makan malam bersama ya".


"Oke" jawabnya sambil tersenyum dengan merekah.


Setelah Carlson pergi ,Ariella berfikir cukup lama untuk menelpon seseorang.


Sekali dia menelpon maka sudah tak bisa mundur lagi.

__ADS_1


Grup Acess terletak di pusat kota, Gedung ini sangat besar, bisa bekerja di sini merupakan impian banyak orang.


Elisa dan Caessa sudah berada di lobby kantor ini cukup lama sebelum akhirnya melihat Carlson datang.


Setelah menarik nafas,Elisa menghampiri Carlson


" Abraham tunggu"


Carlson menghentikan langkahnya Tatapan matanya dingin.


"Nona Elisa ada keperluan apa anda mencariku".


"Bisa kah bicara sebentar, aku ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan"


Tangan Elisa meremas ujung kemejanya menandakan jika ia sedang cemas.


"Langsung saja bicara".


"Beri aku waktu 5 menit hanya 5 menit saja" Ucap Elisa yang matanya sudah mulai tergenang.


Carlson menatap Daiva dan Daiva segera menyuruh orang orang di belakangnya untuk pergi terlebih dahulu.


"Katakan"


Carlson berdiri tegak dan menatap Elisa dengan dingin. Dia sama sekali tidak peduli dengan mulai akan menangis.


Benar saja, Elisa menggigit bibirnya dan air matanya langsung tumpah mengalir.


"Abraham, maafkan aku dulu meninggalkan mu karena berfikir bahwa kamu sudah tidak lagi mengingatku, dan sekarang aku melihat kamu menikahi Ariella , aku menyadari bahwa sebenarnya di hatimu masih ada aku, kalau tidak kamu tidak akan mungkin menikahi Ariella yang mirip denganku"


"Nona Elisa anda berfikir terlalu banyak, aku berdiri disini hanya untuk mengatakan bahwa Ariella adalah istriku"


Setelah itu Carlson langsung pergi meninggalkan Elisa.


Melihat Carlson pergi, perasaan Elisa tidak nyaman karena memang dia sudah membayangkan jika hasilnya akan seperti ini.


Jika Carlson memang mencintainya, Carlson tidak akan mungkin hanya akan menemuinya hanya 2x ketika mereka berpacaran.


Atau mungkin bahkan Carlson juga sudah tidak mengingat nama Elisa maupun wajahnya. Sebenarnya dia tidak mau menemui Carlson karna sudah tau akan seperti ini, tapi dia tidak bisa melawan ayahnya dan juga Ivander.


💜💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2