
"Tidak ada?"
Carlson membalik koran yang ada di tangannya, bertanya tanpa mengangkat kepalanya.
"Ya tuan muda" bu vita sedikit mengangguk.
"Suruh Rury sedikit lebih pintar , kalau ada sesuatu segera hubungi aku, jika masih membuat masalah seperti kemarin, aku harus mengirimnya pulang meskipun harus mengikatnya"
"Baik tuan muda" bu Vita mengangguk.
Carlson bangkit dan berjalan ke arah ruang makan, ia menikmati sarapan sendiri dengan santai , kemudian memerintahkan supirnya gunawan untuk mengantarkannya ke kantor.
Ketika Carlson baru saja pergi, Eva turun ke bawah memeluk dan bermanja pada bu Vita
"Bu Vita terima kasih karena telah membantuku, aku benar-benar sangat menyayangimu"
Bu Vita berkata dengan menghela nafas lega, "tadi benar-benar menakutkan, ku fikir tuan muda akan tau aku telah membohonginya"
"Dia bukan Dewa bagaimana mungkin dia tau bahwa aku masih diatas"
kata Eva sambil menggunakan topi matahari dan kacamata hitam.
"Bu Vita aku pergi dulu, setelah menyelesaikan drama ku, aku akan mengajakmu pergi bermain"
"Nona sarapan lah dahulu"
kata-katanya belom selesai di ucapkan Eva sudah pergi jauh.
Tidak mudah untuk lari dari cengkraman Carlson , Eva tidak ingin tinggal di sini barang sedetik pun.
Di seberang jalan yang akan di lewati berhenti mobil putih yang tidak mencolok, jika tidak memperhatikan sama sekali tidak terlihat .
Eva bergegas keluar , gunawan melihat ekspresi Carlson dari kaca spion.
"Tuan muda apakah akan memerintahkan beberapa orang untuk mengikuti nona?"
Carlson mengangkat tangannya memijit pelipisnya, pandangan matanya jatuh pada sosok kecil yang semakin jauh.
"Biarkan Rury membawa orang untuk menanganinya, hal-hal seperti tadi malam tidak boleh terjadi lagi"
Setelah mengatakan itu Carlson kemudian membuat panggilan
"Atur manager terbaik untuk polaris, kemudian kirim asisten yang sigap untuknya, yang paling penting adalah skenario dramanya harus dikontrol dengan tepat, tidak boleh ada adegan ciuman"
Gadis itu sangat polos, ia tau yang ia mainkan hanya dalam satu pandangan saja, tetapi seperti yang ia katakan,ia sudah dewasa dan ingin melakukan apapun yang ingin ia lakukan.
Sebagi kakaknya Carlson membiarkannya untuk mencoba , tidak boleh lagi mengekangnya seperti dulu.
*
Karena tidak bisa menelpon Carlson Ariella khawatir padanya sehingga tidak tidur nyenyak semalaman.
Pagi ini dia datang ke kantor pagi-pagi dengan sepasang mata panda, ketika dia sampai di lobby dia tidak langsung naik ke atas.
Dia malah mencari tempat untuk duduk, ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Carlson baik-baik saja.
Setelah menunggu setengah jam karyawan berdatangan , ia mendongak akhirnya Ariella melihat Carlson bersama Henry dan Daiva.
__ADS_1
Melihat Carlson baik-baik saja Ariella akhirnya bisa tenang, ia meliriknya sekilas kemudian menyelinap di kerumunan pura-pura tidak melihatnya.
"Presdir selamat pagi"
Semua orang sibuk menyapa Carlson , Carlson melirik sekilas dan langsung melihat Ariella di kerumunan.
Menatap wajahnya yang tidak baik, kemudian dia menatap Daiva sekilas , Daiva segera mengerti apa maksud atasannya, tersenyum dan berkata
"Ariella ada proyek yang ingin presdir tau tentang perkembangannya , kamu ikut bersama kami saja"
Ketika di sebut Ariella tercengang, jelas-jelas Carlson tidak ada urusan untuk mencarinya.
Tetapi ia tidak bisa mengatakannya di depan banyak orang.
Jadi ia hanya patuh berjalan satu lift dengan Carlson.
Di dalam lift yang bisa membawa selusin orang, di dalam sangat luas hanya di tempati 4 orang.
Namun Ariella malah merasa tidak nyaman, jika hanya ada dia Carlson makanya dia bisa mengambil inisiatif untuk berbicara dengan Carlson.
Disini masih ada Henry dan Daiva, Ariella benar-benar tidak tau harus berkata apa.
Daiva orang yang cerdas, dengan cepat memencet tombol terdekat
"Presdir hari ini aku akan mencari Manager humas untuk membahas beberapa hal jadi kami tidak mengikuti mu untuk naik ke atas"
Ketika pintu Lift terbuka ,Daiva dan Henry segera pergi ,memberikan ruang untuk pasangan itu.
Di dalam lift Carlson menatap Ariella dengan waktu yang lama dan akhirnya berkata
"Tidak tidur nyenyak semalam?"
"Merindukanku?"
Ariella menggeleng
"Siapa yang merindukanmu?"
Carlson mengangkat alisnya , mengulurkan tangan menyentuh kepalanya
"Benar-benar tidak merindukan ku?"
Ariella menyingkirkan tangannya,
" kamu jangan macam-macam ada cctv "
Carlson mengangkat alisnya
"Memangnya kenapa?"
Ariella melotot sekilas padanya , mengangkat tangannya dan menekan tombol 19 , jika ada yang melihat dia satu lift dengan Carlson ,dia akan di tuduh yang tidak-tidak.
Carlson meraih Ariella lagi
"Lalu kenapa kau tidak tidur nyenyak semalam?"
"Menurutmu mengapa?"
__ADS_1
Ariella merasa sedih, ia terus menelponnya tadi malam tapi selalu dalam panggilan telpon lain.
Membuatnya berfikir Ivander berbuat sesuatu padanya.
Membuatku khawatir hingga tak bisa tidur nyenyak dan dia masih bertanya kenapa.
"Marah karena aku tidak menemanimu tadi malam?"
Melihat Ariella yang marah, satu-satunya alasan yang terfikir oleh Carlson hanyalah ini.
Ting! Lantai berhenti di lantai 19, pintu lift terbuka ,Ariella mengantupkan bibirnya menatap Carlson dengan ekspresi sedih , berbalik badan dan berjalan pergi.
Carlson yang sendirian di Lift bibirnya sedikit terangkat, dia tidak menyangka dalam waktu sesingkat itu Ariella tidak bisa lepas dengannya.
Setelah Grup Primedia mengumumkan bahwa dia tidak akan bekerjasama dengan Teknologi Inovatif ,banyak perusahaan yang mengakhiri kerjasama mereka.
Dan tidak akan ada peluang kerjasama berikutnya.
perusahaan yang tadinya bekerjasama dengan baik sekarang juga tak ada proyek baru.
Di Divisi Ariella juga dalam mode gelap, ketika mitra lama tidak ada pesanan baru lagi, secara langsung menunjukkan bahwa mereka tidak ingin bekerja sama lagi.
Seluruh Divisi Bisnis sangat santai, Ariella sangat santai tidak ada pekerjaan, jadi dia melihat-lihat proyek lama yang di lakukan teknologi inovatif sebelumnya , belajar dari pengalaman dan meningkatkan skill dirinya sendiri
"Astaga"
ada yang tiba-tiba berteriak di kantor , mata semua orang tertuju padanya .
Ariella juga mendongak dan melihatnya ,,hanya melihat anak magang baru, helen menutup mulutnya sambil berteriak.
Ekspresinya tidak terlihat apakah sedih atau bahagia.
Lindsey adalah orang yang menyukai keramaian, ia segera bergegas kesana.
"Kenapa?"
Helen menunjuk layar komputer dan berkata
"Berita terpanas, polaris sudah berpacaran bagaimana dia bisa jatuh cinta dengan begitu cepat, aku baru saja menyukainya bagaimana dia bisa sudah berpacaran"
"Polaris? apakah polaris yang baru-baru memainkan drama itu?"
Lindsey menggeser mouse dan melihat beberapa foto
"Hey punggung pria ini sangat familiar sepertinya pernah melihatnya dimana ya?"
____________
Hallo guys apa kabar kalian..
jaga kesehatan yaa ..
Alhamdulillah Author udah baekan nih,, cuma masih sedikit sakit kepala aja..
ini udah hari kamis aja, cepet banget yaah..bentar lagi udah weekend..
have a nice day guys.
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
🥰