Suamiku Ternyata Seorang Presdir

Suamiku Ternyata Seorang Presdir
109


__ADS_3

💜💜💜💜💜💜💜


Mendengar suara itu mereka bertiga langsung menatap kearah datangnya suara. seorang perempuan dengan pakaian tidur dan sebuah mantel di pundaknya.


Rambutnya di ikat keatas, dengan wajah yang sangat pucat, akan tetapi bisa di lihat ketegasan dari matanya.


Carlson terkejut melihat Ariella, sudah berapa lama dia disana, dan sudah berapa banyak yang dia dengar.


"Ariella kamu pasti sudah salah paham terhadap ayah. Kita berdua bisa duduk bersama dan mengobrol dengan baik"


"Aku tidak mau bertemu dengan orang yang membuat istrinya mati, dan juga sudah tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, lebih baik kamu segera angkat kaki dari sini dan jangan coba untuk menemui ku".


Melihat Caessa, Ariella kembali teringat dengan wajah ibunya yang berada di peti mati.


"Ariella"


Caessa masih berusaha membujuk Ariella, dia ingin memperlihatkan kepada Carlson bahwa dia masih memiliki tempat di hati anaknya.


Asalkan masih ada namanya di hati Ariella, dia bisa menggunakan nama Ariella untuk meminta apapun kepada Carlson.


"Pergi dari sini"


Teriak Ariella, tubuhnya bergetar dan tangannya menunjuk kearah pintu.


"Ariella ,begini caramu berbicara kepada ayah, apa setelah kamu menemukan suami yang kaya, kamu memperlakukan ayah seperti ini, baru saja ibu meninggal dan kamu sudah berlaku seperti ini kepada ayah, apa kamu tidak takut dia sakit hati melihatnya".


Jelas jelas dia tau bahwa ibunya merupakan luka terbesar di hati Ariella, tapi Caessa masih terus menggunakan ibu untuk menekan luka Ariella.


Carlson berjalan kearah Ariella dan menggenggam tangan istrinya itu.


"Tolong selesaikan masalah ini dengan tuntas" ujarnya kepada Daiva.


"Ariella kamu selamanya tidak akan bisa mencabut statusmu sebagai anak, kamu tidak bisa lari dari kenyataan ini" Teriak Caessa.


"Tuan Caessa aku tidak pernah melihat orang yang tidak tau malu seperti anda, ini pertama kalinya aku melihat orang yang menjijikkan seperti anda" ucap Daiva tanpa sungkan lagi.


"Heh, kamu hanya seekor anjg bagi Carlson, dan kami sekarang menggunakan tuan mu untuk memakiku".


"Ya aku memang anjg tuan ku, setidaknya aku menghormati dan setia kepada tuan ku, lalu bagaimana dengan anda, kelakuan anda lebih menakutkan dari Monster".


Setelah mengatakan ini Daiva membungkuk dan mempersilahkan Caessa pergi.


Melihat sikap Ariella tadi, dia tau sekarang dia sudah tak bisa menggunakan Ariella lagi, dia harus menemukan cara lain.


Kemudian dia mengingat Elisa, dia tau Carlson dan Elisa merupakan teman kuliah. Dan mereka pernah memiliki hubungan.

__ADS_1


Ariella yang memiliki emosi meledak ledak saja bisa meluluhkan Carlson, apalagi Elisa yang lemah lembut itu.


Bagi Caessa asalkan Elisa mau turun tangan sedikit saja, Carlson bisa menjadi IVander kedua.


Carlson membawa Ariella ke kamar, dia terbatuk batu karena amarahnya memuncak.


Ariella membenci dirinya karena tidak berguna.


"Ariella".


Ariella tak bisa menahan emosinya, kemudian menginjak kaki Carlson dengan kuat, untuk menyalurkan amarahnya.


Dia tau harusnya dia tak melampiaskannya kepada Carlson, tapi rasa emosinya begitu besar.


"Ariella tenangkan dirimu, ibu mertua pasti tak mau melihatmu seperti ini, kamu harus bangkit"


Mendengar Carlson membahas ibunya , Ariella merasa tenang dan mulai menatap Carlson dengan tersenyum.


"Aku pusing, aku ingin tidur".


Carlson menarik Ariella yang akan pergi, menatap matanya dengan dalam, lalu memeluk Ariella dengan erat.


"Ariella katakan apapun yang membuat mu sedih".


"Aku sangat ngantuk".


Carlson tau Ariella tak mau mengeluarkan seluruh isi hatinya kepada Carlson. Akhirnya dia melepaskan Ariella.


"Tidurlah"


"Iya"


jawabnya dengan pelan dan kembali keatas tempat tidur, dan matanya melihat langit langit.


"Ariella".


Carlson duduk di sampingnya, memanggil namanya, namun Ariella tak merespon.


Carlson memegang kepala Ariella agar menoleh kearahnya.


"Ariella jangan takut, ada aku disini"


Ariella sedikit terkejut namun kemudian dia tersenyum.


"Aku tidak apa apa, kami jangan khawatir".

__ADS_1


setelah mengatakan itu dia kembali melihat langit langit kamar tanpa berkedip. pandangannya lurus.


Walaupun dia mengatakan bahwa dia tidak apa apa, tapi Carlson tau dia sedang berbohong.


Lagi lagi Carlson memegang kepalanya dan mengecup bibir Ariella.


Ariella memejamkan matanya dan berkata.


"Aku capek"


Carlson hanya bisa menghela nafas , dia menarik selimut untuk menyelimuti Ariella.


"Tidurlah".


-


Setelah kesulitan dengan Ariella, Caessa akan membujuk Elisa untuk menemui Carlson dan mendekatinya, dan yang paling penting jangan sampai melepaskan Ivander.


Dia juga harus menunggu persetujuan dari keluarga Ivander baru dia bisa menjalankan rencananya.


Caessa tak ingin langsung mengatakan jika Elisa harus menggoda Carlson, yang terpenting Elisa setuju dengan rencananya.


Saat pusing seperti ini Ivander datang, dia tertawa.


"Paman bagaimana? apakah kamu sudah pergi menemui Carlton, apakah Ariella masih mengakui mu sebagai ayahnya".


"Semua ini karena ulahmu, harusnya kamu paham bagaimana pembicaraanku dengannya" .


Ivander duduk , mengambil gelas dan menuangkan air lalu meminumnya.


"Aku dengar Elisa dan Carlson dulu teman saat kuliah, dan mereka memiliki hubungan, biarkan Elisa melakukan sesuatu, hanya dia satu satunya yang bisa kita andalkan".


"Berarti kamu setuju Elisa mendekati Carlson".


Awalnya Caessa bingung bagaimana cara dia mengatakan dengan Ivander, tapi karena mendengar Ivander berkata demikian, itu akan memudahkan Caessa menjalankan rencananya.


"Kenapa tidak"


Bagi Ivander, Elisa hanya untuk pemuas nafsunya saja. Jika Elisa bisa lebih berguna, tentu saja dia akan mempergunakan Elisa.


Saham Grup Primedia masih berada di bawah, jika mereka tak segera bertindak untuk bisa merubah keputusan Carlson, tentu hidup mereka akan semakin sulit.


Dia harus cepat menjalankan rencana ini.


💜💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2