Suamiku Ternyata Seorang Presdir

Suamiku Ternyata Seorang Presdir
Bab 93


__ADS_3

💜💜💜💜💜💜💜


"keadaan pasien tidak baik, dia juga mengalami luka parah"


Kata kata dokter sebelum masuk IGD terus terngiang di telinga Ariella.


Ibunya mengalami luka memar di sekujur tubuhnya.


Ariella kembali mengingat tatapan sedih sang ibu tadi Ariella juga ikut sedih.


walaupun dia wanita lemah tapi kasih sayangnya tak perlu di pertanyakan lagi.


Ariella masih ingat ketika masih kecil dia sangat nakal, dia sering terjatuh dan lututnya akan terluka.


Ibunya akan mengobatinya sambil menangis karena tidak tega. wanita itu selalu gampang sekali menangis.


Tapi pernah untuk pertama kalinya ibunya bertengkar dengan ayahnya karena Ariella bertunangan dengan Ivander.


pada saat itu Ariella fikir ibunya sangat tega kepadanya karena menyuruhnya untuk mengalah pada Elisa.


Sekarang Ibunya datang ke kota ini untuk menemuinya, sebenarnya apa yang terjadi.


Apakah benar apa yang di katakan Elisa.


Ibunya kesini hanya untuk menyuruhnya pulang dan menggantikan Elisa untuk memberikan anak kepada Ivander.


Jika memang benar, tidak mungkin ibunya menangis dengan begitu sedih dan sampai pingsan di jalan.


Apakah dia sudah salah faham dengan ibunya. Mungkin ibunya datang tidak untuk menyuruhnya pulang.


Tiba tiba ponselnya berdering, menyadarkan lamunan Ariella. Tertera nama Tuan Carlson.


Tapi Ariella tak segera menjawab.


Karena takut dia akan menangis jika mendengar suara Carlson.


Ariella menenangkan hatinya ,mengambil nafas dalam setelah itu baru mengangkatnya.


"Tuan Carlson apakah ada sesuatu?"


Memangnya kalau tidak ada sesuatu dia tidak boleh menelponnya. Carlson mengerutkan keningnya.


"Sudah siang, jangan lupa makan siang" .


"Ya"

__ADS_1


Meskipun Carlson tak dapat melihat tapi Ariella masih mengangkat ujung bibirnya.


Ariella tidak mencari topik pembicaraan, Carlson pun juga tak tau harus mengatakan apa, jadi keduanya terdiam.


(Jadi batu aja udah, kaku banget pada)


"Nona Ariella kondisi tubuh pasien sangat optimis, bisa koma kapan saja ,meskipun sekarang dalam keadaan sadar"


Lampu UDG sudah padam, seorang dokter datang memberitahukan keadaan pasien secara singkat.


Ketika mendengar kata kata dokter ,Ariella sangat cemas hingga lupa masih terhubung dengan Carlson.


"Dokter apanya yang optimis dan bisa koma kapan saja, sebenarnya bagaimana kondisi ibuku?" .


Dokter menghela nafas


" Nona Ariella kondisi fisik ibumu sangat buruk, harusnya kamu tau itu. kondisi yang sudah tidak baik di tambah mendapatkan kekerasan fisik"


Jadi apakah karena ibunya menolak menyuruh Ariella pulang, jadi orang itu menyakiti ibu.


"Ariella kamu di rumah sakit mana?".


Carlson telah mendengar percakapan dokter dan Ariella.


"Aku..."


Terlebih Ariella tak ingin Carlson tau betapa buruknya keluarga Ariella.


"Ariella katakan kamu di rumah sakit mana?".


"Aku ada di rumah sakit rakyat" .


"Ariella ada dokter, tidak akan terjadi apa apa dengan ibu mertua, kamu jangan takut"


Carlson berkata dengan lembut untuk menenangkan hati Ariella.


"Hmmm"


"Kalau begitu aku akan menutup telponnya"


Setelah menutup telpon Carlson berjalan dengan cepat.


"Daiva atur penerbangan tercepat untuk kembali ke kota X".


"Kembali ke kota X?" Daiva sedikit tercengang.

__ADS_1


"Presdir tapi rapat akan segera di mulai, ini mengenai bisnis di daerah Barat, Jika kita pergi sekarang..."


Carlson benar benar tidak mendengarkan Daiva.


"Ada lagi, hubungi rumah sakit Rakyat kota X untuk menangani dengan baik ibu Ariella, kirim catatan medis ibu Ariella sebelum aku naik pesawat".


"Presdir rapat akan segera di mulai, para petinggi di daerah barat sudah datang"


" Apa kamu tidak mengerti perkataanku?"


Carlson menatap Daiva dengan dingin.


perkataannya tidak bisa terbantahkan.


Daiva diam tak berani membuka mulutnya, kemudian melirik Henry yang berada di sisi Carlson.


Seperti mengerti maksud Daiva, Henry mengikuti langkah Carlson.


"Presdir demi bisa mengembangkan bisnis di daerah barat, kita membutuhkan waktu selama 3 tahun untuk persiapannya, dan ini adalah rapat yang paling penting".


"Jika anda pergi, waktu ,sumber daya ,uang dan segala hal yang di persiapkan oleh Grup Acess sangat mungkin akan hancur".


Carlson tidak peduli, dia melihat arloji untuk melihat waktu.


"Berapa lama waktu yang di butuhkan untuk ke bandara dari sini" .


"Waktu tercepat 30 menit" jawab Daiva.


"Atur penerbangan ke kota X 40 menit lagi".


Setelah memerintahkan Daiva, Carlson lalu memandang Henry.


"Pertemuan rapat sore nanti biarkan momo yang memimpin dan kamu tinggal, bantu dia menyelesaikannya" .


"Presdir.."


Henry masih ingin membujuk, tapi ketika melihat mata Carlson, Henry tidak berani berucap apa apa lagi.


Presdir mereka telah mengambil alih Grup Acess secara resmi selama 6 tahun. Tidak pernah ada keputusan yang gagal dan juga tidak pernah egois seperti ini.


Hari ini dia bisa mengatakan ingin pergi sebelum rapat pertemuan yang begitu penting.


Sebenarnya ada hal apa yang membuatnya membuat keputusan ceroboh seperti ini.


💜💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


dah ah ntr mleduk pala aku.


__ADS_2