
💜💜💜💜💜💜💜
Bagi Caessa dan Grup Primedia, Carlton adalah satu satunya orang yang bisa membantunya.
Asalkan Carlton mau berbicara, krisis Primedia pasti akan tertolong.
sekarang satu satunya cara yaitu menggunakan Elisa.
Elisa yang sejak tadi mendengar percakapan mereka berdua, hanya mengulum senyum.
Kedua pria itu adalah orang orang terdekatnya, yang satu ayahnya dan satunya lagi adalah orang yang dia cintai.
Tapi mereka kini malah ingin menggunakannya untuk menghadapi Carlson.Elisa mengepalkan tangannya, namun tetap mencoba tersenyum senatural mungkin, lalu masuk keruangan itu.
Dia tersenyum lembut kearah Ivander.
"Kamu sudah datang Ivander?"
"Hmmm"
Hari ini Elisa menggunakan coat berwarna pink, dan juga menggunakan rok.
Elisa tersenyum dengan malu malu.
Ivander bangkit mencubit pinggang Elisa dan berbisik
"Tubuhmu ini memang di ciptakan untuk laki laki"
"Ivander"
Tangan Elisa berada di dada Ivander dan dengan malu malu menyebut namanya.
"Lihat bagaimana tuan Ivander akan memperlakukanmu"
Ucap Ivander sambil menggendong Elisa menuju kamar tanpa mempedulikan Caessa disana.
-
Di hotel yang dijadikan kantor sementara, Daiva memegang sebuah file untuk menunjukkan kepada Carlson.
"Tuan Carlson ada masalah di bagian barat.."
Belum selesai berbicara, bibi Chen keluar membawa nampan makanan.
"Apa dia sudah makan?"
Bibi Chen menggelengkan kepalanya.
"Tuan muda, Nyonya muda hanya memakan bubur 2 sendok dan memuntahkannya kembali".
Carlson tidak mempedulikan Daiva yang ingin menyampaikan laporan. Dia segera bangkit dan berkata
"Pergilah, bawa makanan yang bisa menaikkan selera makan, dan antarkan ke kamar".
Melihat Carlson pergi, Daiva hanya bisa menghela nafas pasrah.
Selama dia berada di kedudukan yang sekarang, pekerjaan adalah prioritasnya.
__ADS_1
Dia selalu mementingkan pekerjaannya, gila kerja dan menyelesaikannya dengan baik, tapi setelah ada Ariella, dia malah mengabaikan pekerjaannya.
Apakah dia hanya menginginkan wanita itu dan sudah tidak lagi menginginkan kedudukannya.
Untung saja orang orang yang bekerja dengannya adalah orang orang yang kompeten.Jika dia melakukan kesalahan, bawahannya bisa mengatasinya dengan baik.
Carlson masuk kedalam kamar, pandangannya tertuju kearah Ariella yang duduk dengan tenang memandang kearah luar.
"Ariella".
Dia merangkul istrinya, namun Ariella tak merespon apapun dan masih menatap kejauhan.
Carlson memutar kepala Ariella dan menatapnya.
"Ariella apa yang sedang kau pikirkan, coba katakan padaku".
"haahh"
Ariella baru menyadari keberadaan Carlson, kemudian tersenyum.
"Kamu sudah kembali".
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada" jawabnya sambil tersenyum.
Sudah dua hari Ariella masih seperti ini, tidak mau mengatakan apapun. Membuat Carlson tidak berdaya.
"Temani aku makan ya?"
"Aku tidak lapar"
"Kalau begitu temani aku makan setelah itu aku akan mengajakmu untuk bertemu seseorang"
Carlson menggendong Ariella.
"Aku tidak ingin keluar"
jawab Ariella masih dengan senyum yang merekah.
Tapi kali ini Carlson tidak mau mendengarkannya, dia ingin mencarikan tempat untuk Ariella bisa terbuka dan mengeluarkan segala beban di hatinya.
Jika di biarkan terus seperti ini juga tidak bagus untuk kesehatan Ariella.
Teman yang di maksud Carlson ini adalah seorang Psikolog terkenal.
Dia bernama Ferdian, pria yang kira kira memiliki tinggi 180cm. Karena dia sangat kurus jadi terlihat lebih tinggi dari itu.
"Abraham lama tak jumpa"
Ketika Carlson menghubunginya dia tidak terkejut, tapi setelah tau dia membawa seorang wanita, ferdian sedikit terkejut.
"Hai"
Tatapan Ferdinan menuju ke arah Ariella yang terlihat tidak karuan.
"Dasar bocah tengik, akhirnya kau punya pacar juga".
__ADS_1
"Dia bukan pacar, dia istriku"
"Istrimu??"
Ferdian lebih terkejut lagi.
"Aku kira kau hanya akan mengurusi pekerjaanmu dan tidak tertarik memiliki istri, ternyata gerakanmu cepat juga ya".
Carlson tidak menanggapi Ferdian.
Kini Ferdian menatap Ariella.
"Nyonya Carlson, hallo apa kabar?"
"Hallo dokter" jawab Ariella dengan tersenyum.
"Jangan memanggilku dokter, aku hanya orang yang menjual Chicken soup".
Jawab Ferdian sambil tertawa.
"Jadi apakah kamu bersedia untuk berbincang bincang sendiri bersamaku?"
Carlson sudah menjelaskan semuanya kepada Ferdian di telpon.Dia tau waktu Carlson tidaklah banyak, jadi dia tidak perlu berbasa basi.
Ariella menoleh menatap Carlson. suaminya itu tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya Ariella mau masuk bersama Ferdian keruang periksa.
Ferdian menyeduh teh untuk Ariella.
"Nyonya Carlson anggap saja kita tidak saling mengenal, kamu bisa mengatakan apapun padaku".
"Kamu tadi memanggil Carlson ,Abraham?"
Ariella tadi mendengar Ferdinan memanggil suaminya dengan nama Abraham, itu membuatnya tidak nyaman karena Elisa juga memanggilnya seperti itu.
"Itu panggilannya ketika kami masa kuliah dulu, nyonya Carlson kalau tidak salah ayahmu bernama Caessa bukan?"
Mendengar nama itu mata Ariella langsung tajam, kedua tangannya juga mengepal.
Dia kembali mengingat ibunya.
Caessa dan Ivander serta Grup Primedia mereka masih hidup dengan tenang menikmati hidup.
Seolah apa yang mereka lakukan terhadap ibunya tak ada artinya apa apa.
Mereka masih hidup dengan leluasa tanpa beban.
Ariella bersumpah, dia akan membalaskan rasa sakit yang selama ini ia dan ibunya rasakan kepada Caessa dan Grup Primedia.
Melihat reaksi Ariella, Ferdinan langsung berkata.
"Nona Ariella, ada beberapa hal yang jika kamu tidak mencabutnya dari hatimu, maka selamanya mereka tidak akan pernah pergi".
"Mencabutnya?? Bagaimana caranya aku mencabutnya?"
💜💜💜💜💜💜💜
__ADS_1