
"Sumpit di masukan dari sini, kemudian tarik dengan sedikit tenaga, kemudian dagingnya akan keluar"
Ariella mengatakannya dengan serius, kemudian dengan bangga dia melihat Carlson.
Namun Ariella segera menyadari bahwa Carlson tidak mempelajarinya, tapi malah sedang menatapnya , jarak mereka yang sangat dekat.
Bahkan Ariella bisa melihat bayangannya di mata Carlson.
Tiba tiba pipinya memerah dan matanya berkedip kedip.
Dia merasa sangat malu, dan segera memalingkan wajahnya.
Untung menutupi kegugupannya Ariella segera berkata.
"Caranya seperti itu"
Carlson yang tidak bergerak dan hanya menatapnya.
Tiba tiba malah mencium wajahnya sekilas.
Bibir dingin itu menempel di pipinya, hanya sebentar.
Tapi itu bisa membuatnya sangat gugup seakan tubuhnya panas dan mati rasa.
"Bukannya kamu akan memakan udang?"
Ariella memegang wajahnya yang masih terasa panas, berkata dengan sedikit kesal.
Carlson menaikkan alisnya , mata seperti bintang itu memandangnya penuh arti.
Dan mengatakan dengan bangganya.
"Kamu lebih Lezat"
Carlson masih menahan tubuh Ariella dengan tangannya. Ariella segera melotot dan kembali ke tempat duduknya dengan kesal.
Ariella yang sedang kesal tak lagi peduli dengan citranya.
Meraih udang yang ada di piring dan memakannya.
Hanya saja Ariella belom bisa menenangkan perasaannya setelah di cium Carlson.
Orang di hadapannya yang terkadang terlihat serius juga tidak serius itu, menaruh udang yang sudah ia kupas ke piring Ariella.
"Kamu makanlah"
Carlson tersenyum seakan meminta maaf atas ciumannya tadi.
Ariella yang tak tau harus berbuat apa akibat rasa malu dan gugupnya hanya bisa menundukkan kepalanya dan terus makan.
Carlson yang melihat itu tak bisa menahan tawanya dan tangannya terus mengupas udang .
Setelah beberapa saat Carlson berkata
"Besok kita akan pergi membeli satu set gaun"
Ariella melahap udang terakhirnya, mengerjapkan matanya dengan ekspresi bingung.
"Aku akan membawamu ke acara jamuan pesta makan malam"
"pergi untuk apa??"
Carlson mengambil tisu basah untuk menyeka tangannya.
__ADS_1
kemudian menatap mata Ariella dan tersenyum.
"Pergi untuk memberi tahu mereka bahwa kamu adalah istriku"
Ada bintang di mata Carlson dan Ariella sudah terperangkap di dalamnya.
_
Keesokan harinya setelah pulang kerja, Ariella pergi mengikuti Carlson untuk memilih gaun itu.
Karena jamuan akan di mulai pukul 9 malam, maka Carlson membawa Ariella ke restauran Lily untuk mengisi perut.
Tapi Ariella tidak memberikan muka kepada Carlson, dia tidak mau makan apapun.
Hanya meminum air hangat.
Carlson yang sedang makan dengan anggun, menatap Ariella yang tidak menyentuh makanannya.
"Tidak makan?"
Ariella memicingkan matanya ke meja yang penuh dengan makanan lezat itu.
meminum air hangat seteguk. Dengan keras kepala berkata
"Tidak lapar"
"hmmmm??"
Carlson mengangkat alisnya, tampaknya ia tidak percaya dengan kata kata Ariella.
Ariella tidak bisa berbohong, kemudian ia berkata dengan jujur.
"Tidak makan, gaun itu mengikuti bentuk badan, jika aku makan terlalu banyak maka perutku akan buncit dan membuatmu malu, apa yang harus ku lakukan?"
Mendengar perkataan ini Carlson tersenyum ringan dan berkata dengan tegas.
Ariella tersenyum lalu ia berkata
"Lalu bagaimana jika ketika aku menjadi jelek dan tua, apa kamu tidak akan mempermasalahkannya?"
Mendengar perkataan itu Carlson sedikit terpana. Kemudian mengerutkan kening, benar benar seperti serius memikirkannya.
Menjadi jelek dan menjadi tua. Melihat Ariella yang tersenyum cerah, Carlson benar benar kesulitan membayangkan Ariella yang menjadi tua dan jelek.
"Tapi bagaimana jika benar benar menjadi tua dan jelek, kamu tidak menjawab begitu lama , kamu benar benar mempermasalahkannya bukan?"
Melihat Carlson yang tidak segera menjawab ,Ariella bertanya dengan pura pura kecewa.
"Tidak"
Kali ini Carlson dengan cepat memberikan jawaban.
"Aku lebih tua darimu, ketika kamu tua maka aku akan lebih tua"
Carlson diam menatap ke mata Ariella dan lanjut berkata
" Sangat bagus"
Sangat bagus, Carlson hanya mengatakan ini ,tapi Ariella mengerti dengan kata katanya.
Ketika kamu tua berarti aku juga sudah tua, ketika kita bisa saling tergantung itu sangat bagus.
Ariella tersenyum, hatinya menghangat , dia hanya menjawab
__ADS_1
"hmmm"
Karena Ariella tidak makan ,maka Carlson segera menyelesaikan makannya.
Membawa Ariella ke sebuah butik.
Setelah setengah jam perjalanan, mobil terparkir di depan villa yang tidak ada tanpa apapun.
Ini adalah villa kecil tanpa tetangga di sekitarnya.
Di kota yang ramai seperti kota X , jarang sekali ada bangunan seperti ini.
Villa dengan bentuk desain italian gotix, dengan banyak kaca.
Tidak ada nama ataupun logo butik, jika di lihat siapapun tak akan menyangka jika ini adalah studio pakaian.
Ariella dulu pernah belajar tentang desain, walaupun sekarang dia sudah tidak lagi di bidang itu karena masa lalunya, tapi desain adalah hobinya, maka ia masih tatap memperhatikan tentang mode.
Studio pakaian di kota X ini selalu ia perhatikan dan di ingatnya.
Namun butik ini dia belum pernah melihatnya.
Sekarang dia berdiri di depan villa ini , Carlson menggandeng tangannya dan mendorong pintu villa.
Ketika memasukinya, Ariella terkejut dengan dekorasi yang mewah di dalamnya.
Dia memandang Carlson dengan gelisah
, dengan dekorasi yang sangat mewah, harga gaun disini pasti sangat mahal bukan.
Carlson mengetahui apa yang di pikirkan Ariella, ia menggenggam tangan Ariella dan dengan lembut berkata
" Tidak apa apa ,tempat ini di buka oleh temanku "
Ariella sedikit lebih tenang dan ingin mengatakan sesuatu , tapi seorang gadis bule dengan gaya gotix menyapanya.
Dia mungkin baru berusia 17-18 tahun.
Terlihat seperti boneka yang sangat cantik.
pertama kali membungkuk kepada Carlson.
Posturnya seperti seorang putri, bukan seperti pelayan, tersenyum lali berkata.
"Tuan Carlson, bonjour"
Carlson tersenyum tanpa kata.
Ariella tak tau apa yang harus ia lakukan .
Gadis itu berbalik dengan sangat sopan .
Berbicara dengan aksen asingnya.
"Nyonya Carlson,hallo"
Ariella tersenyum "Hallo"
Gadis itu tampak menyukai Ariella yang tersenyum hangat.
"Namaku julie , hari ini aku akan membawamu untuk melihat pakaian"
Nada bicaranya asing, berbicara dengan terbata namun di tersenyum dengan ramah.
__ADS_1
Setelah memperkenalkan dirinya ,ia memimpin Carlson dan Ariella menuju ruangan.
Ruangan ini sangat luas dengan dinding yang di hiasi berbagai lukisan terkenal . tidak seperti sebuah butik, tapi lebih seperti museum.