
Dalam pikiranku, tidak pernah terbayangkan bahwa Aku akan menjadi Artis. Kehidupan keluargaku jauh dari itu. Namun di tengah kesulitan keuangan, pekerjaan inilah yang menyelamatkan keluargaku.
Namun Bukan berarti keluargaku menyukai ini. Ayahku sangat menentang keputusanku terjun ke dunia modelling yang menjadi langkah awal karirku. Apalagi ketika bilang Akan menjadi Artis di Hollywood. Ide itu langsung ditolak.
Katakanlah ayahku konservatif, atau bahkan kolot. Tetapi ayahku hanya ingin melindungiku. Aku berhasil membujuk ayahku, tetapi Setelah memastikan bahwa meski telah menjadi Artis, aku tetap harus menjalani hidup "no alcohol, no drugs, no crime, no free sex". Dia membuatku berjanji Akan semua Hal itu.
Tetapi aku sepertinya telah melanggar janji itu Setelah ayahku melihat gambar aku sedang berciuman dengan Drey di pesta. Padahal selama bersama Casey, tidak pernah ada berita semacam ini. Ayahku juga tidak pernah berkomentar tentangnya.
Selama 30 menit aku mendengarkan kemarahan ayahku Tanpa melakukan pembelaan. Aku memang salah. Terlepas apapun alasan dari kejadian itu. Aku mengecewakan ayahku.
"Apa kau Akan bersama pria seperti itu?"
Hanya itu pertanyaan penutup yang dikatakan ayahku. Secara tidak langsung menyuruhku untuk menyudahi hubungan dengan Drey. Mungkin ayahku berpikir Drey Akan memberi pengaruh buruk untukku.
Sepertinya ayahku benar-benar kesal. Langsung menutup telfon tanpa pamit. Bahkan tidak memberi kesempatan untukku membuat pembelaan.
Hari santaiku hancur berantakan. Aku batal pergi kemanapun Dan meminta Daniel langsung membawaku pulang. Rasanya masalah memang belum berhenti menghampiriku.
Bukan hanya ayahku, orang di luar Sana juga sedang menghujatku. Semua percaya bahwa aku berselingkuh dari Casey. Itu yang menyebabkan kami putus Dan aku memilih bersama Drey. Tulisan fiksi itu berhasil mempengaruhi orang-orang.
Saat ini kepopuleran Casey sedang tinggi berkat film barunya. Apalagi dia punya image sebagai pria baik Dan lembut. Otomatis semua berpihak padanya. Para fans nya ramai-ramai menghujatku. Tagar cheater kini sedang trending untuk menyindirku.
Rasanya sempurna sudah hidupku. Imej yang sudah susah payah kubangun selama empat tahun hancur sudah. Hanya karena Drey hadir dalam hidupku.
*******************************
Aku menatap langit-langit kamar. Dengan lampu yang dibiarkan gelap, hanya terlihat samar-samar disana. Namun Karena sudah didekorasi sedemikian Rupa, terlihat seolah aku sedang menatap langit malam di luar sana. Ada hiasan berbentuk bintang bersinar di Sana.
Entah sudah berapa lama aku diam di kamarku seperti ini. Sejak berita perselingkuhan dan kemarahan ayahku. Aku langsung mengunci diri di sini. Tidak makan, tidak tidur. Hanya menatap langit itu. Aku bahkan tidak mempedulikan Daniel yang mencoba membujukku keluar. Dia bisa keluar masuk apartemenku sehingga aku bersembunyi di kamarku. Satu-satunya tempat yang tidak Akan bisa dimasuki Daniel.
Rasanya aku ingin lari dari semua ini. Dari kehidupan, dari pekerjaan. Butuh satu Hari yang tenang bagiku. Tanpa perlu persetujuan Daniel, aku meminta dia membatalkan permintaan untuk hadir di talkshow. Yang jelas, aku tidak siap hadir di depan publik saat ini.
Aku mencoba memikirkan solusi terbaik dari semua masalah ini. Aku tidak punya teman dekat yang cukup bisa dipercaya untuk curhat. Garis bawah, teman perempuan. Jika pria, mungkin Akan berakhir seperti Daniel.
Casey tidak mencoba membantu dengan membuat klarifikasi bahwa rumor itu tidak benar. Dengan sifatnya dia pasti tidak akan pernah melakukannya. Meski dia tahu kenyataannya, dia yang memutuskanku. Dan itu karena dia tidak bisa menerima sikapku.
Drey juga sama. Dia tidak melakukan apapun. Menghubungiku untuk memeriksa kabarku saja tidak. Dia menghilang seperti ditelan bumi. Aku tidak berharap dia minta maaf karena merasa bersalah, tetapi mengabaikanku Setelah menempatkanku dalam masalah itu sungguh keterlaluan.
Sepertinya ayahku benar. Keputusan Paling benar adalah mengatakan bahwa kami tidak punya hubungan apapun. Seperti rencana awal. Aku bisa memperbaiki hubungan dengan ayah. Menjauhkan Drey dari hidupku Dan aku tidak Akan dicap sebagai tukang selingkuh lagi.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Pasti Daniel lagi. Dia belum menyerah membujukku keluar. Mungkin ingin memastikan aku makan. Mungkin juga ingin merayu agar aku Mau datang ke show yang mengundangku. Aku juga tidak Akan menyerah. Kuabaikan saja.
Tetapi hingga sepuluh menit berlalu, dia tidak menyerah. Masih terus mencoba mengusik ketenanganku. Akhirnya dengan malas aku membuka pintu. Bersiap mengeluarkan amarahku. Hingga sebuah adegan yang familiar kembali tersaji di hadapanku.
Aku membuka pintu lagi, Dan Drey Ada disana lagi. Jika ini adegan di drama, penonton mungkin sudah bosan. Tetapi ini masalah serius bagiku. Seberapapun seringnya aku mengalami ini, tidak Akan terbiasa.
"Bagaimana kau bisa masuk kemari?!"
Tanyaku sedikit histeris. Tidak seperti biasanya. Ini bukan pintu depan apartemenku. Ini pintu kamarku. Itu artinya dia bisa masuk ke apartemenku Tanpa perlu dibukakan olehku.
"Kenapa aku tidak bisa masuk ke rumah pacarku?"
Bukannya menjawab dia malah melemparkan pertanyaan balik. Sambil nyengir Tanpa dosa. Setelah menghancurkan imej ku. Setelah mengabaikanku. Berani sekali dia bersikap begitu padaku?
Dengan cepat aku segera menutup pintu. Tetapi Drey cukup gesit menahannya. Kami harus saling dorong beberapa menit. Kali ini aku tidak mau kalah lagi darinya. Hingga dia mengatakan sesuatu
"Keluarlah Dan bicara padaku. Atau aku yang masuk Dan bicara denganmu di dalam kamar"
Sontak aku menyerah. Apapun ide gila di otaknya, aku lebih memilih tidak membiarkan masuk ke dalam kamarku. Jadi aku yang keluar.
Aku sudah tidak tahan dengan sikap Drey yang seenaknya. Dan rasanya segala rasa frustasiku meletup melihatnya. Kuambil barang apapun di dekatku Dan kulemparkan padanya.
Sambil berteriak aku mengumpat padanya. Kukeluarkan semua rasa kecewaku. Saking kerasnya, mungkin terdengar ke seluruh apartemenku. Bahkan air Mata yang sudah kutahan ikut tumpah.
Bisa kubayangkan betapa berantakannya diriku saat ini. Belum Mandi, rambut acak acakan, pakaian seadanya atau ekspresi yang jelek karena menangis. Aku sudah tidak peduli. Drey sudah melihatku dengan tampilan mengerikan beberapa Kali. Jadi tidak masalah untuk menambahkan satu lagi untuknya.
Tetapi Drey hanya berdiri di Sana. Melihatku dengan senyumnya Tanpa mengatakan apapun. Seolah aku adalah tontonan.
Lama-lama aku lelah juga. Dan akhirnya berhenti. Merasa bodoh terus marah sedangkan Drey tidak sedikitpun menanggapinya.
"Kalau sudah selesai, ayo Kita keluar"
__ADS_1
Ugh! Dia ini manusia berhati apa sebenarnya. Kejam. Di saat seperti ini aku berharap adalah June, karakterku dalam film. Jika June yang berada di situasi seperti ini, dengan kemampuannya dia mungkin sudah mematahkan seluruh tulang Drey.
"Kau mau bersiap atau aku Akan membawamu pergi dalam keadaan seperti ini"
Ancam Drey menyadarkanku. Aku segera berlari ke kamar. Meskipun aku benci dengan sikap Drey. Tetapi dalam hati, aku masih takut padanya. Dia sepertinya bukan orang yang bermain-main dengan Hal yang diucapkannya.
Lima belas menit selaanjutnya aku sudah berjalan di belakangnya. Meski baru saja aku sedang marah padanya. Dia benar-benar mengajakku keluar. Kami bahkan menggunakan mobilku. Aku sudah terlalu lelah mengeluh pada Drey. Aku memilih mengikutinya.
Saat Mobil kami keluar dari area apartemen, bisa kulihat beberapa paparazzi sudah menunggu. Lalu menjepret kami begitu Mobilku terlihat. Refleks aku langsung menyembunyikan wajahku.
"Apa kau seorang kriminal?"
Tanya Drey menyindir tingkahku.
"Tentu saja bukan"
Sanggahku tidak terima.
"Lalu kenapa bersembunyi seperti itu?"
Tanya Drey lagi. Aku paham betul maksudnya. Tetapi dia tidak paham dengan situasiku. Tidakkah dia dengar bahwa aku menjadi musuh banyak orang saat ini?
Aku tidak ingin berdebat lagi dengan Drey. Karena pada akhirnya dialah yang Akan memenangkannya. Jadi aku memilih diam. Lalu memperhatikan dunia luar yang terasa Makin asing untukku.
********************************
Mobil kami berhenti di depan sebuah tempat yang asing bagiku. Seperti deretan pertokoan biasa. Ada banyak orang berlalu lalang disana, kebanyakan pria dengan tubuh tambun besar. Kelihatannya seperti preman.
"Kita Akan turun disini?"
Tanyaku bingung. Sementara Drey sudah melepas sabuk pengamannya.
Drey memberikan jawabannya tidak dalam kata-kata. Dia langsung membuka pintuku. Aku bisa melihat ekspresi terkejut semua orang disana melihat Drey. Karena itu aku menolak untuk turun. Saat ini aku sedang mengalami phobia dadakan pada publik. Dan pria ini malah mengajakku ke tempat terbuka.
Melihatku Tak kunjung turun, Drey mengulurkan tangannya.
"Apa dia sudah Gila? Mau mengumumkan hubungan kami?"
"Mau bergandengan denganku atau kucium disini?"
Drey menggunakan ancamannya lagi. Sebelum dia memilih ide yang lebih Gila, aku meraih tangannya.
Benar saja. Semua Mata langsung terarah pada kami. Aku hanya bisa menunduk Dan menyembunyikan diri di balik Drey. Sedangkan Drey dengan santai justru membalas sapaan orang-orang di Sana sambil tersenyum.
Tempat yang dimasuki oleh Drey adalah "batting cages", sebuah area tertutup bagi pemain baseball untuk mengasah kemampuan mereka memukul bola. Bahkan meski aku baru masuk, suara keras bola yang dipukul secara bergantian langsung terdengar.
Drey membawaku ke salah satu tempat memukul yang berada di sudut. Tanpa mengatakan apapun, dia memberiku tongkat. Aku mau protes, Dan sebuah bola sudah melayang ke arahku. Hampir saja mengenai jidatku.
Bola terus berdatangan padaku. Aku tidak punya pilihan selain memukul bola-bola itu. Kebanyakan meleset. Dan jahatnya lagi, semakin lama Drey Makin menambah kecepatan bola. Dari yang 110 km/jam sampai 130 km/jam. Membuatku sama sekali tidak sempat bicara dengan Drey.
Aku hanya belajar softball, versi wanita dari baseball untuk perempuan saat di SMA. Jadi aku tidak bisa memukul dengan baik. Alhasil, di tempat itu hanya terdengar 2 jenis suara. Teriakan histerisku yang mencoba menghindari bola Dan tawa Drey yang menganggapku lucu.
"Hentikan...! Hentikan..!!"
Teriakku merasakan tubuhku sudah kewalahan.
"Bukankah kau ingin memukul orang saat ini? Anggap saja kau sedang memukul mereka"
Sindir Drey, mengingatkanku pada kejadian aku membawa tongkat baseball saat Drey datang ke apartemenku.
Karena Drey sepertinya tidak Akan berhenti, aku akhirnya pura-pura jatuh. Seolah Akan pingsan. Benar saja, Drey akhirnya berhenti. Dia bergegas menghampiriku. Saat itulah aku menggigitnya sebagai pembalasan. Dan gantian dia yang teriak kesakitan.
Tidak peduli dia Akan marah atau memukulku. Baguslah jika dia memukulku, aku bisa menuntutnya.
Di luar dugaan, Drey sudah justru tertawa Setelah aku melepaskan gigitanku. Tidak terlihat sedikitpun kemarahan di wajahnya.
"Apa kau segitu laparnya sampai menggigitku?"
Candanya. Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Sepertinya Ada yang tidak beres dengan Drey. Namun seperti biasa, aku memang tidak tahu apa yang sebenarnya Drey pikirkan.
*********************************
__ADS_1
Drey membelikanku hamburger Setelah kugigit. Tetap berpikir bahwa aku melakukannya karena lapar. Meskipun aku memang lapar. Sejak kemarin aku belum makan sedikitpun. Jadi langsung kulahap saja semua yang dibelikannya.
Padahal karena alasan diet Dan kesehatan, aku tidak makan fast food. Casey selalu bilang padaku, terutama bagi seorang gadis penting untuk selalu menjaga tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun melanggar Hal itu.
"Pelan-pelan saja makannya, aku tidak Akan merebutnya"
Goda Drey saat melihatku yang makan terburu-buru. Sulit kupahami bagaimana Drey masih bisa terus bercanda dalam situasi seperti ini. Membuatku merasa sebal.
"Apa kau sudah puas mempermainkanku? Kau sudah menghancurkan imej ku Dan membuatku menjadi tukang selingkuh. Sekarang menjadikanku bahan candaan"
Aku memutuskan bicara serius dengan Drey.
"Kenapa kau peduli dengan itu?"
Tanya Drey yang justru membuatku Makin marah.
"Playboy sepertimu tidak Akan pernah memahamiku!"
Semburku. Aku tidak peduli jika kata-kataku terdengar kasar.
"Darimana Kau tahu bahwa aku Playboy? Kau baru saja kenal denganku, tapi bagaimana kau bisa menilaiku seperti itu? "
Tanya Drey masih santai. Namun sukses membuatku tidak bisa bicara lagi. Drey benar. Kami memang belum lama saling mengenal.
Drey berubah serius. Mengeluarkan tatapan yang sama yang selalu membuatku takut.
"Kau tidak suka orang menganggap bahwa kau adalah tukang selingkuh. Tetapi bukankah kau sedang melakukan Hal yang sama? Kau menilai aku Playboy hanya dengan membaca berita tentangku. Bisakah kau buktikan bahwa aku memang berkencan dengan semua wanita itu?"
Tanya Drey lagi. Kata-katanya sungguh menghujam jantungku. Karena itu benar. Dan membuatku menyesali kata-kataku sebelumnya.
"Percayalah, orang hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Tidak peduli itu benar atau tidak"
Harusnya aku yang mengomel pada Drey, tetapi malah dia yang menceramahiku.
"Tapi aku tidak mau dicap tukang selingkuh atau pengkhianat. Itu tidak benar. Apa Kau tahu ada berapa banyak Komentar kejam di sosial mediaku?"
Keluhku.
"Kau tahu kenapa June menjadi gadis bandel Dan terlibat tindak kejahatan?"
Bukannya menjawabku, Drey malah balik bertanya tentang karakterku di film "Breakthrough". June adalah putri menteri pertahanan yang terlibat dalam berbagai tindak kejahatan. Aku mengira Drey sedang mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun aku masih menjawabnya.
"Untuk mendapat perhatian sekaligus balas dendam pada ayahnya"
"Kenapa dia harus melakukan itu pada ayahnya?"
"Karena ayahnya membiarkan ibunya terbunuh Dan tidak berusaha untuk.."
"Salah!"
Drey langsung memotong kata-kata ku.
"Karena ayahnya ingin June melihatnya seperti itu. Dia tidak ingin June tahu bahwa ibunya terlibat kejahatan besar dan bunuh diri karena tidak ingin menjadikan June ataupun ayahnya sebagai keluarga kriminal. Karena itu ayah June memilih untuk mengambil peran sebagai orang jahat agar June tidak pernah mencari tahu alasan kematian ibunya"
Sebelum aku semakin bingung dengan tujuan Drey mengatakan semua itu, dia menjelaskan maksudnya menyinggung cerita June Dan ayahnya.
"Saat ini kau adalah ayah June dan semua orang di luar Sana adalah June. Kau yang menentukan apakah Akan diam saja seperti ayah June. Orang menganggapmu sebagai pengkhianat padahal bukan. Menunggu mereka menemukan sendiri bahwa itu tidak benar. Atau tunjukkan pada mereka bahwa semua berita itu salah"
Kini aku mulai menangkap poin Drey.
"Aku bahkan memberimu pilihan untuk membantah kata-kataku di pesta itu. Tetapi Kau tidak bisa merubah pandangan orang dengan hanya mengeluh di sini, menangis dan mengunci diri di dalam kamar. Kau harus bicara di depan mereka"
Lanjut Drey. Semakin mendengarnya bicara, Aku makin setuju dengannya. Mungkin Drey sedang menyindir sikap pengecutku. Aku tidak ingin orang menggangguku, tetapi tidak berani bertindak Sama sekali. Justru melarikan diri dengan bersembunyi di balik kamarku.
"Kita memang selebriti. Tapi jangan biarkan orang lain menentukan seperti apa dirimu Dan seperti apa hidupmu"
Drey masih sempat memberikan nasehat terakhirnya. Saat itu aku seolah melihat sisi lain darinya. Alasan kenapa aku tidak bisa menjauh darinya. Dan mulai meragukan keyakinanku sendiri bahwa dia adalah pria yang buruk.
********************************
__ADS_1