Sugar

Sugar
Back to Spirit


__ADS_3

Drey membuka bungkusan itu dengan tidak sabar. Seolah sedang menantikan untuk segera melihat isinya. Sama sepertiku juga. Aku berharap barang yang kupesan itu tidak mengecewakan.


Gerakan Drey terhenti begitu melihat sepasang sepatu di dalamnya. Aku tidak bisa menebak alasan dia begitu.


Apa dia kecewa?


Aku menelan ludah dengan sulit. Sebenarnya aku bingung akan memberi hadiah ulang tahun apa untuk Drey. Aku ingin memberi sesuatu yang memiliki makna padanya. Jadi ku pikir sepatu sepak bola adalah pilihan yang terbaik. Aku berharap sepatu itu bisa menemani Drey melakukan hal yang ia sukai.


Sepatu itu kupesan langsung dari sebuah produsen terkenal lewat bantuan Archie. Sejak sebulan yang lalu. Aku meminta desain khusus. Warnanya kupilih sendiri dan ada inisial nama Drey di dalamnya. Namun aku tidak paham dengan sepatu sepak bola. Mungkin saja aku terlalu percaya diri pada pilihanku.


*Apa dia tidak suka desainnya?


Apa warnanya norak*?


Aku Berharap Drey segera mengatakan sesuatu tentang kado ulang tahunnya itu. Namun dia malah membeli cukup lama.


"Apa kau tidak suka?"


Tanyaku canggung. Belum sedetik aku bertanya, Drey tiba-tiba sudah memelukku. Sangat erat sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Drey--"


"Terima kasih"


Bisik Drey. Suaranya bergetar, seolah ada perasaan yang meletup-letup di dalamnya.


"Aku menyukainya. Aku akan terus memakainya, seterusnya sampai aku tidak bisa memakainya lagi"


Jawab Drey.


Entah kenapa malah jantungku yang berdetak kencang mendengarnya. Padahal bukan aku yang menerima hadiah, tetapi rasanya aku yang bahagia.


"Itu sih berlebihan"


Candaku.


Syukurlah kalau Drey menyukainya. Rasanya sekarang aku yang menantikannya. Saat Drey berlari di lapangan dengan sepatu itu. Seolah aku juga sedang berlari dengannya.


*****


Aku menunggu dengan gelisah. Sesekali mencoba mengintip dari balik pintu walaupun tidak kelihatan. Lalu mondar mandir sendiri di lorong tidak jelas.


Sesuai janji Drey sebelumnya, dia melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa tidak ada cedera serius setelah jatuh di air terjun. Meskipun dia sudah meyakinkan bahwa ini hanya pemeriksaan rutin, aku tetap saja khawatir.


"Tidak perlu khawatir"


Ujar Armand, agen Drey menenangkanku. Karena ini adalah pemeriksaan rutin, dia ikut menemani kami.


Aku hanya menjawab dengan senyum kikuk. Aku tidak tahu apakah Drey sudah bercerita pada Armand jika dia sempat jatuh saat ke Indonesia. Nyaliku juga tidak cukup besar untuk menanyakannya. Secara profesi, Armand punya peran yang sama seperti Daniel padaku. Jadi, kondisi Drey adalah masalah krusial baginya. Armand mungkin akan mengutukku jika tahu Drey jatuh saat mencoba menyelamatkanku.


Aku merasa tidak enak, dan akhirnya memilih duduk di samping Armand. Lagipula pemeriksaan tidak akan berakhir cepat hanya dengan kegelisahanku. Aku harus sabar.


"Bagaimana perjalanan kalian ke Indonesia?"


Tanya Armand. Mungkin melihatku gelisah membuatnya berinisiatif membuka percakapan.


"Menyenangkan, tetapi banyak rencana yang tidak berjalan dengan baik di sana"


"Aku berharap suatu saat bisa berkunjung kesana juga"


"Kalau kesana, silahkan mampir ke rumahku"


Armand mengangguk sambil tersenyum atas tawaranku. Di luar dugaan dia cukup ramah juga. Aku masih ingat saat pertama Kali bicara dengannya, ia meneriakiku di telfon. Walaupun sebenarnya itu karena dia menyangka jika aku adalah Drey. Jadi Ku pikir dia orang yang keras seperti Richard. Ternyata aku keliru.

__ADS_1


"Terima kasih juga oleh-olehnya"


Pungkas Armand. Gantian aku yang mengangguk.


Sesuai pesan ibuku, kami membagikan oleh-oleh dari Indonesia ke semua orang dalam daftar. Armand juga kebagian.


Aku melirik jam, sepertinya waktu berjalan lambat sekali. Aku sudah tidak sabar ingin tahu hasil pemeriksaannya Drey.


"Sejujurnya aku senang Drey bertemu denganmu"


Ucapan Armand mengejutkanku.


"Huh? Kk--kenapa?"


Tanyaku bingung.


"Kau sudah membantunya mengejar karir yang lebih baik"


Armand kemudian menceritakan sebuah rahasia yang tak pernah kuketahui.


Drey sebelumnya adalah pemain klub di Spanyol. Karirnya memang sudah bagus saat itu. Hanya saja menurut Armand, klub nya pada waktu itu kurang sepadan dengan kemampuan Drey. Jika terus berada di sana, Drey akan sulit berkembang sebagai pemain sepak bola.


Hingga dia punya kesempatan lebih untuk terjun ke kompetisi yang lebih kompetitif di Inggris. Hanya saja Drey menolak tawaran untuk pindah kemari. Meskipun secara lingkungan dan finansial klub ini lebih baik. Armand sudah membujuk dengan berbagai cara, sampai putus asa dan Drey tetap menolak pindah.


Namun begitu mendengar aku akan syuting di Inggris, Drey langsung menerima tawaran pindah itu. Padahal dia hanya punya waktu dua minggu. Dia rela pindah kemari hanya agar bisa tinggal lebih dekat denganku.


Armand menilai kepindahan Drey kemari benar-benar membawa dampak baik pada karirnya. Kemampuannya juga berkembang. Namun cerita Armand tidak berhenti sampai di situ saja. Dia mengatakan terima kasihnya untuk hal yang lain.


"Aku juga tidak pernah melihat dia sebahagia ini sebelumnya. Akhir-akhir ini gaya hidupnya juga membaik. Dulu selain pergi ke lapangan dia selalu membuang waktunya dengan pergi ke club malam atau bar. Dia hanya hidup untuk berpesta. Kelihatannya hidup yang menyenangkan, tetapi di mataku terlihat seperti dia sedang melarikan diri dari sesuatu. Namun sekarang aku bisa melihatnya menikmati hidup dengan cara yang lebih baik. Karenanya, aku sungguh berterima kasih dengan kehadiranmu"


Aku tertegun mendengar cerita Armand. Rasanya aku seperti mendengar sisi lain tentang Drey. Aku tidak tahu jika keberadaanku punya arti sebesar itu dalam hidup Drey.


Memang sesungguhnya tidak semuanya mengejutkan buatku. Drey memang punya gaya hidup glamor yang tak sehat dulu. Namun mendengar orang terdekatnya memuji hidupnya yang sekarang, membuat hatiku menghangat.


Aku menghembuskan nafas lega. Syukurlah.


*****


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Tanya Drey heran. Dia sempat melirikku sebentar sebelum kembali fokus pada jalan di depan sana.


Kalau bisa, aku ingin menjawab dengan jujur tentang betapa senangnya aku saat mendengar cerita Armand. Semua yang ku dengar tadi cukup mengobati kegelisahanku. Rasanya tidak disukai oleh Richard tidak lagi terlalu menggangguku.


"Aku hanya merasa senang akhir-akhir ini banyak hal baik terjadi pada Kita"


Drey mengernyitkan keningnya. Antara bingung atau tidak setuju dengan pernyataanku.


"Kau sedikit aneh akhir-akhir ini"


Drey kembali fokus pada jalanan di depan. Namun satu tangannya sempat menggenggam tanganku. Terasa hangat dan nyata. Mungkin terdengar aneh, tetapi aku merasa jatuh cinta pada Drey lagi.


Siang ini kami ada interview dengan sebuah majalah. Janji sudah dibuat sebelum kami terbang ke Indonesia. Awalnya aku menolak, karena masih tidak nyaman dengan besarnya antusiasme publik pada hubungan kami.


Aku masih ingat betapa tertekannya aku saat orang-orang terus mengejar berita tentang kami. Aku bahkan tidak ingin keluar rumah.


Hanya saja hari ini jadi berbeda. Aku sama sekali tidak keberatan harus tampil bersama Drey lagi. aku bisa kembali tersenyum di depan kamera. Sepertinya pulang ke Indonesia dan mendengar cerita Armand adalah alasannya.


Tidak. Mungkin sekarang ini aku memang ingin memamerkan hubunganku dan Drey pada dunia. Aku ingin semua orang tahu betapa indahnya hubungan kami. Betapa bahagianya aku.


*****


"Oh ya, apa kau sudah melihat unggahan trailer filmmu?" Tanya Drey.

__ADS_1


"Belum," jawabku bingung. Terlalu banyak hal terjadi hingga aku sampai lupa kalau sebentar lagu filmku akan dirilis.


Drey segera menyerahkan ponselnya. Dia menunjukkan video yang diputar di sebuah platform. Durasinya dua menit, menampilkan cuplikan penting dari isi film.


Aku hanya bisa takjub dengan proses editing yang baik hingga membuat film itu menjadi menarik. Sejak aku membaca naskahnya, aku tahu ini adalah sebuah film yang bagus. Tapi aku tidak tahu jika hasilnya sebaik ini. Maklum saja, proses syuting tidak selalu urut sesuai adegan dalam naskah, sehingga aku bahkan tidak bisa menebak hasil akhir film.


Film ini cukup berarti juga bagiku. Aku sedang membuat pertaruhan besar. Selama ini aku lebih dikenal dengan karakter gadis kuat dalam film action. Namun dengan latar cerita tragis di film ini, aku Akan menunjukkan karakter lemah dan rapuh di film bergenre melodrama. Jika berhasil, karirku mungkin akan lebih baik, sebaliknya jika gagal maka aku akan terperangkap di posisiku ini.


"Aku yakin film ini akan sukses" celetuk Drey sambil mengusap pelan rambutku.


"Kau memerankan Sophia dengan sangat baik. Aku bahkan merasa iba hanya dengan melihatnya," lanjut Drey.


Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ada Rasa bangga saat melihat video ini. Namun juga kekhawatiran. Aku takut gagal dengan film sebaik ini.


Seolah tahu kegelisahanku, Drey menggenggam tanganku.


"Meskipun aku tidak dengan pemeran pria-nya, aku berharap akan banyak orang yang menonton film ini"


Entah Drey sedang bercanda atau tidak, tapi dia bisa membuatku kembali tersenyum. Kegelisahanku sedikit hilang saat merasakan hangatnya tangan itu mendukungku.


*****


Aku mematut tampilanku di depan cermin. Memastikan pakaianku sudah rapi dan sopan.


Sebentar lagi filmku akan dirilis, dan aku harus mulai melakukan promosi. Salah satunya dengan kegiatan amal yang sudah direncanakan oleh agensi. Menunjukkan imej positif juga bisa menjadi wadah promosi yang baik. Kebetulan ini adalah acara amal yang cukup besar.


"Kau sudah mau berangkat?"


Tanya Drey yang sudah melongokkan kepalanya di balik pintu. 


"Ya, acaranya sejam lagi"


"Mau ku antar?"


Aku menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Aku akan pergi dengan Daniel"


Ada sedikit raut kecewa di wajah Drey. Hari ini dia sedang libur, jadi mungkin ingin melakukan sesuatu untukku. Namun jarak ke tempat acara amal lumayan jauh. Lagipula akan lebih baik bagi Drey beristirahat. Beberapa hari lagi dia akan menjalani pertandingan penting.


"Oh ya, oleh-oleh untuk Lucy belum diantarkan kan?"


Tanyaku mengalihkan perhatian. Drey mengangguk.


"Kalau begitu aku akan mampir kesana" jawabnya kemudian.


Tak lama, Daniel sudah datang. Kami pun langsung berangkat.


Aku langsung disambut oleh panitia kegiatan amal begitu sampai di lokasi. Di Sana seluruh persiapan kegiatan telah hampir rampung. Acara ini juga mendapat sponsor dari keluarga kerajaan, sehingga cukup banyak orang terlibat. Aku dengar akan ada perwakilan juga yang hadir. Sejujurnya aku cukup menantikan ini, bisa bertemu dengan anggota keluarga kerajaan Inggris.


Ratu Elizabeth, Pangeran Charles, Akan menjadi sebuah kehormatan bisa melihat mereka. Aku juga mengagumi Kate Middleton dan Pangeran William. Mungkin seperti mimpi jika bisa menyapa mereka. Atau Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markle. Aku sungguh tidak sabar ingin tahu siapa yang kira-kira akan datang.


Aku akan membantu di bagian pemeriksaan kesehatan gratis sebagai asissten. Ku lihat ada beberapa dokter yang ikut membantu di sini. Aku membantu salah satu dari mereka.


Ini pertama kalinya aku ikut kegiatan amal, jadi aku cukup bersemangat. Bukan karena alasan promosi film lagi.


"Selamat pagi"


Seseorang menyapaku. Seketika langsung membuatku membeku.


Dia adalah perwakilan dari keluarga kerajaan, namun bukan orang yang ku nantikan. Aku bahkan lupa jika dia adalah keluarga bangsawan. Wajahnya akrab dengan berbagai kegiatan amal di negeri ini.


Wanita cantik dengan rambut brunette-nya. Wanita yang sama sudah membuat kisah cintaku jungkir balik. Namun masih bisa menunjukkan senyuman polos, seolah tak mengetahui apapun. Priscilla.

__ADS_1


Baru saja aku merasa bahagia dan sudah bertemu dengannya lagi.


__ADS_2