
Aku menatap deretan Mobil yang sedang berbaris menunggu giliran untuk berjalan. Tidak biasanya jalanan ini macet. Sementara pikiranku justru bergerak mundur ke beberapa menit yang lalu. Saat aku masih berbicara dengan Priscilla.
Sejujurnya, kisah cinta yang Paling ku benci adalah tentang cinta segitiga. Jadi ku harap dia paham dengan peringatanku lalu mundur. Aku tidak ingin bersaing dengannya. Rasanya jadi seperti aku orang jahatnya ketika melihat tubuhnya yang lemah.
"Sepertinya lain kali Kita tidak perlu ikut kegiatan amal seperti ini lagi"
Celetuk Daniel membuyarkan lamunanku.
"Kenapa?"
"Bukankah kegiatannya melelahkan? Kau juga nampaknya tidak terlalu senang"
Jawab Daniel sambil melemparkan pandangan penuh selidik padaku. Sepertinya dia salah paham.
"Tidak, aku tidak merasa lelah. Aku juga menyukai kegiatan semacam ini" jawabku cepat.
Daniel hanya menjawab dengan senyum mengejek, seolah tidak percaya padaku. Namun dia cepat-cepat mengganti topik.
"Aku punya kabar bagus untukmu"
"Kabar apa?"
"Season selanjutnya untuk film Breakthrough sudah ditentukan. Kabar baiknya, pengambilan gambar akan dilakukan di wilayah Inggris. Jadi kau bisa tinggal lebih lama di sini"
Rasanya tidak ada kabar lebih baik dari ini. Doaku agar bisa tetap tinggal berdekatan dengan Drey terkabulkan. Hampir saja aku melonjak saking gembiranya.
"Keberuntungan kalian itu sampai membuatku heran. Sepertinya Tuhan selalu memberi kalian kemudahan untuk bersama"
Ujar Daniel. Dia memang tidak salah.
"Tapi untuk itu ada Hal yang harus kau lakukan"
Daniel menatapku serius.
*****
"Apa semua sudah siap?"
Tanya Drey. Aku mengangguk sambil merapikan mantelku.
Drey segera meraih koperku dan membawanya ke bagasi Mobil, begitupun dengan koper miliknya. Lalu kami sendiri juga segera naik dan berangkat.
Drey akan menjalani pertandingan away di semifinal liga Eropa. Sedangkan aku diminta hadir dalam pesta dengan para investor untuk film Breakthrough. Ini adalah syarat yang disampaikan lewat Daniel. Memang tidak biasa, tetapi ada salah satu investor yang memintaku bergabung.
Seperti kata Daniel, kami berdua cukup beruntung. Meskipun untuk tujuan berbeda, kami sama-sama akan pergi ke Amsterdam. Jadi, masih bisa menghabiskan waktu bersama.
Sesampainya di bandara, Drey dan aku berpisah. Meskipun kami akan terbang ke tempat yang sama, Drey harus pergi dengan rombongannya. Kami akan naik pesawat yang berbeda. Pesawatku yang lebih dulu berangkat akan take off Dua puluh menit lagi.
Drey menatapku khawatir. Tanpa Daniel, aku akan pergi sendirian. Padahal penerbangan hanya akan memakan waktu sejam lebih. Kami pun akan berjumpa lagi sesampainya di Sana. Sehingga aku cepat memeluknya untuk menenangkannya. Mengucap perpisahan agar dia tidak mencemaskanku.
"Sampai jumpa di Sana" ucapku sebelum melangkah pergi.
****
Pertengahan musim semi adalah salah satu waktu terbaik untuk berkunjung ke Amsterdam. Itu kesimpulanku saat akhirnya menapakkan kaki di kota kanal ini.
Langit cerah, suhu yang hangat, dan sepanjang kota bunga bermekaran memanjakan mata. Meskipun Kota ini juga sedikit padat oleh turis di waktu ini. Namun tidak menyurutkan kekagumanku melihat warna hijau dedaunan yang tampak silau oleh matahari.
Aku akhirnya sampai di hotel tepat saat jam makan siang. Ini pertama kalinya aku menginap di hotel ini meskipun sudah beberapa kali mengunjungi Amsterdam.
Hotel yang ku pesan cukup mewah dan terkenal. Berada di lokasi strategis dekat pusat kota. Dari sini pemandangan kanal yang indah juga terlihat. Namun bukan itu alasanku kemari. Aku sengaja memilih tempat ini karena Drey dan timnya juga menginap di sini. Dengan begini, kami masih bisa bertemu di waktu senggang.
Usai memasukkan koper, aku langsung keluar hotel. Tim Drey mungkin akan sampai agak sore nanti. Jadi aku punya waktu sebentar untuk jalan-jalan di sekitar sini. Bermodalkan kamera milik Drey aku pergi berjalan-jalan.
Kamera di tanganku sama sekali tidak menganggur. Sudah lama aku tidak bersantai mendapati pemandangan indah seperti ini. Jadi seperti orang kalap, aku memotret apapun yang terlihat olehku. Bahkan sampai melupakan makan siang.
Kanal di dekat hotel sangat cantik. Aku betah berlama-lama duduk di sekitarnya. Sambil menatap airnya yang tenang. Sungguh waktu yang tenang. Aku bisa menjernihkan pikiran. Kalau saja ada Drey di sini.
"Apa aku boleh duduk di sana?" Tanya seseorang mengejutkanku. Aku terlalu banyak melamun hingga tak sadar sedang berada di Mana. Kalau Ada yang mengenaliku, bisa panjang urusannya.
"Silahkan" jawabku sambil buru-buru berdiri untuk pergi. Namun orang itu menghentikanku.
"Apa kau keberatan berbagi tempat denganku?"
Akhirnya aku menoleh pada orang itu juga. Cukup mengejutkan, mendapati bahwa orang itu adalah Lucas.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak tahu jika itu kau" ujarku malu. Aku langsung kembali duduk.
Lucas hanya tertawa kecil.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini"
Aku tidak tahu harus bicara apa lagi padanya selain ucapan hambar seperti itu.
"Ada urusan bisnis di sini. Apa kau menginap di sekitar sini?"
"Di Sana"
Aku langsung menunjuk hotel di sampingku.
"Itu hotel yang bagus. Oh ya, betul juga. Ku dengar Tim Drey juga menginap di sana"
Entah apa maksud Lucas mengatakannya. Mungkin menyindirku, yang seolah terus mengikuti kekasihku kemanapun. Aku hanya bisa menjawab dengan tawa canggung.
Untungnya Setelah itu Lucas mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya Lucas adalah teman bicara yang cukup menyenangkan. Kami nyambung dalam beberapa hal.
Setelah hampir satu jam kami bicara, aku pamit untuk kembali ke hotel. Aku sudah lapar dan ingin makan sesuatu. Lucas yang juga hendak kembali menawarkan diri mengantarku pulang.
Mungkin karena hari sedang cerah, di Sana juga ramai. Orang-orang yang sepertinya turis mulai berdatangan memadati tempat itu. Namun penyebab sebenarnya adalah karena kedatangan dua bus dengan logo tim sepak bola di depan hotel. Tim Drey sudah tiba.
Suara sorakan dari fans mulai terdengar. Mereka menyambut satu persatu pemain yang turun dari bus. Aku sendiri akhirnya jadi ikut melihat peristiwa itu.
Pertandingan besok malam itu memang cukup besar. Sehingga banyak penggemar sepak bola rela datang jauh-jauh kemari. Aku sempat melihat Drey turun. Dia mendapat sambutan paling besar dari pemain lainnya. Dia juga merupakan salah satu alasan orang datang kemari.
Aku mulai kembali mendekat ke arah hotel setelah bus yang menurunkan penumpangnya beranjak pergi. Ku pikir sudah bisa lewat dengan mudah. Namun karena banyaknya orang berkumpul di Sana, aku bahkan tidak bisa mendekat ke arah lobi. Mereka sendiri juga harus antri untuk bubar dari Sana.
Untungnya karena aku mengenakan topi dan kaca Mata, mereka tidak dapat mengenaliku. Tapi karena Banyaknya orang berlarian menubrukku, hampir saja aku jatuh. Saat itu Lucas menarikku.
Lucas memelukku erat dalam dekapannya. Dengan tubuhnya, dia melindungiku agar tidak terkena arus orang-orang yang sedang bubar.
Aku harusnya berterima kasih padanya. Namun ini terasa aneh, berada dalam dekapan orang asing. Tubuhnya yang tinggi menjulang terasa Aman. Apalagi ketika Lucas menatapku. Sepertinya aku baru menyadarinya, bahwa Lucas punya tatapan lembut, memberi rasa nyaman.
Aku selalu mengira tatapannya setajam Drey. Mungkin karena mereka selalu berkelahi setiap aku melihat. Kali ini aku bisa mengetahui sisi lain dari Lucas. Bahkan aroma tubuhnya pun berbeda. Dia berbau seperti hutan yang sejuk.
"Kau cantik sekali"
Tiba-tiba saja Lucas memujiku. Untuk sesaat, karena aku terkejut, dadaku langsung berdebar. Aku bisa merasakan wajahku langsung memerah.
"Terima kasih, aku masuk dulu"
Pamitku canggung. Aku segera berlari meninggalkannya. Tak peduli dengan masih banyaknya orang berkumpul di Sana.
*****
Pantas saja jika hotel ini disebut yang terbaik. Interiornya elegan, menyesuaikan dengan pemandangan kanal yang terasa seperti abad ke 17 dan 18. Ada tiga jenis restoran yang disediakan di sini. Salah satunya yang diberi nama Goldfinch Brasserie.
Aku memilih tempat ini karena suasananya yang informal. Meski memiliki chef dengan bintang Michelin. Selain itu, terletak di lantai bawah, menghadap langsung taman hotel yang dipenuhi dengan bunga bermekaran. Tempat yang tepat untuk menikmati makan siang.
Hanya saja makanan enak dan pemandangan bagus itu ternyata tidak cukup mengobati kekecewaanku. Tadinya aku berharap bisa makan dengan Drey, nyatanya tidak. Entah apa yang dilakukannya hingga tak memiliki waktu untuk turun melihatku.
Kesempatan liburan bersama di tempat baru adalah hal langka bagi kami. Walaupun sebenarnya kami kemari karena urusan pekerjaan. Hanya saja aku berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.
Tanpa Drey rasanya sepi sekali. Aku jadi tidak terlalu lapar juga. Akhirnya, tanpa menghabiskan menu dessert, aku kembali ke kamar.
"Sudah selesai makan siangnya?"
Aku hampir menabrak pintu karena kaget ada yang menyapa saat aku baru saja masuk kamar.
Drey sedang berdiri dengan senyumnya yang sok cool. Dia memang punya bakat membuat orang terkena serangan jantung.
"Kenapa kau ada di sini?" Tanyaku heran. Padahal tadi aku membawa kunci kamarku.
"Tentu saja minta bantuan staff hotel. Mereka Kan sudah tahu hubungan kita. Jadi dengan baik hati langsung membukakan pintu" jawab Drey masih cengengesan.
"Apa kau boleh di sini? Bagaimana dengan timmu?"
"Tentu saja tidak boleh, timku sedang melakukan pengarahan. Tapi, aku tidak bisa menahan diri untuk melihatmu. Aku juga tidak perlu ijin siapapun untuk itu"
Drey memang ahli membuat orang terkena serangan jantung. Bukan hanya dengan mengejutkan, tetapi juga membuatnya berdebar kencang tak karuan.
Aku tidak bisa menahan diri lagi, langsung berlari memeluk Drey. Ku dekap erat dia. Menghirup dalam-dalam aroma kebebasan dalam dirinya. Mengambil semua kehangatan yang dimilikinya. Mengisi seluruh kerinduanku.
__ADS_1
Kami hanya terpisah selama beberapa jam, dan rasanya aku seperti kehabisan oksigen. Seolah aku akan kesulitan bernafas tanpanya.
"Kau mungkin akan mematahkan tulangku jika memeluk seerat itu" canda Drey. Padahal dia sendiri juga memegangku dengan kuat. .
Kami melepaskan pelukan dan saling mengunci tatapan satu sama lain. Ada rasa hangat menjalari hatiku. Tatapan tajamnya itu memang kelemahan bagi wanita.
Drey mendekatkan wajahnya. Cukup bagiku merasakan nafas hangatnya menyapu wajahku. Aku memejamkan mataku. Bersiap menerima ciumannya. Tapi ternyata aku salah.
"Aku kembali dulu. Tadi aku hanya ijin ke kamar Mandi"
bisik Drey sambil tertawa. Kelihatan sekali dia sedang mengerjaiku.
Setelah mengatakan itu dia bergegas pergi meninggalkanku yang sudah terlanjur merah padam. Masih sambil tertawa meledek.
Satu keahlian lainnya dari Drey Charleville. Dia ahli membuat orang kesal.
*****
Aku menguap beberapa kali. Padahal Dear John adalah salah satu film favoritku. Namun tidak mampu membuat kantuk hilang dari mataku.
Aku mengintip keluar jendela. Berbeda dengan siang yang cerah, malam ini gerimis turun. Suasana yang cocok sekali untuk tinggal di dalam ruangan Dan tidur. Aku hanya berharap Drey dan timnya baik-baik saja.
Tadi sore tim Drey berangkat untuk melihat stadion tempat pertandingan besok. Aku bahkan tidak yakin mereka sudah kembali atau belum.
Entahlah, aku tidak peduli!
Aku menggerutu dalam hati. Drey juga tadi mengerjaiku. Dia bisa saja memberi kecupan hangat alih-alih meledek.
Namun aku tidak bisa membohongi diri untuk tidak merasa gelisah dan beberapa Kali melihat keluar. Drey memang ahli membuat orang cemas begini.
Aku sudah tidak tahan lagi. Akhirnya ku matikan televisi dan segera masuk ke balik selimut. Sebaiknya aku tidur saja. Aku bisa memeriksa Drey besok pagi.
*****
Suara air yang mengalir membangunkanku. Suaranya seperti keran yang lupa dimatikan. Makin keras dan mengganggu. Mau tak mau aku bangun. Ku lirik jam, sudah hampir pukul sepuluh malam. Sepertinya aku tertidur tanpa memeriksa kamar Mandi.
Dengan malas aku melangkah ke kamar Mandi. Baru saja ku buka pintunya, aku langsung berteriak histeris dan menutupnya kembali dengan keras.
Mataku yang tadinya lengket karena kantuk langsung terbuka lebar, selebar-lebarnya.
Apa yang baru saja ku lihat?
Aku bersumpah ini bukan sebuah kesengajaan. Bahkan meski terkadang mungkin aku ingin melihatnya.
Pintu dibuka membuyarkan lamunanku. Hampir saja aku berteriak lagi saat melihat Drey sudah berdiri di depanku hanya dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Kenapa kau tidak menguncinya?!" Tanyaku dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.
"Kau harusnya mengetuk pintu dulu"
"Aku tidak tahu kau akan masuk tanpa ijin lagi kemari. Jadi bagaimana aku tahu kau kalau kau mandi di sini?" Kelitku. Aku tidak bisa berbohong jika aku sedang berusaha keras menutupi rasa maluku.
"Aku punya kunci cadangan kamar pacarku, tentu saja aku akan masuk kemari kapanpun ku mau" balas Drey tak mau kalah. Dia benar-benar mengatakannya tanpa rasa malu sedikitpun.
Drey tersenyum mengejek.
"Jadi, apa yang kau lihat?"
Sudah ku duga dia akan menggodaku. Sialnya lagi, bayangan lekuk sempurna yang baru saja ku lihat langsung terbayang di otakku. Meskipun untungnya hanya bagian belakang saja. Aku mungkin akan pingsan jika melihat bagian depan.
"Sudah kembali ke kamarmu Sana!" usirku. Meskipun percuma, aku berusaha mendorong tubuh kokoh Drey.
Aku bisa mendengar suaranya cekikikan, membuatku tambah malu saja.
"Cepat pergi..."
Saat itu dengan cepat Drey menangkup kedua lenganku, lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibirku. Dia sukses membungkamku. Tahu persis titik kelemahanku.
"Aku sangat merindukanmu"
Drey mengucapkannya dengan mata berkabut. Tatapan yang ku akui paling memesona yang pernah ku lihat. Dengan cepat membuat jantungku berdebar kencang.
Dia masih sempat memberikan ciuman kedua. Terasa hangat dan penuh rasa sayang. Membuatku Makin Tak berkutik.
Namun untungnya akal sehatku masih berjalan. Meskipun dibuat lemah di hadapannya, Setidaknya aku harus membalas perbuatannya tadi.
__ADS_1
"Haruskah kau menciumku dengan tampilan seperti ini?" Protesku menunjuk handuk di pinggangnya.
Drey hanya bisa tertawa keras.