
Hari telah malam saat kami kembali dari sungai. Lampu jalanan telah dinyalakan dan beberapa kendaraan dari penghuni rumah-rumah besar ini telah lewat. Jadi kami memutuskan segera pulang.
"Makan malam apa?"
Tanyaku usai melihat jam.
"Hm.. enaknya apa ya?"
Gumam Luna sama bingungnya.
Sambil menunggu Luna yang sedang mencari tempat untuk mengeringkan payung, aku lebih dulu pergi ke dapur memeriksa isi kulkas. Hampir tidak ada apapun di sana kecuali bahan jus pagi kami.
"Aku tidak mau makan sayuran"
Tolak Luna yang sepertinya melihat sedikit ke dalam kulkas dari kejauhan sana.
"Bukannya kau sedang diet?"
Godaku.
"Aku sudah diet dari pagi sampai siang"
Kilahnya. Luna pasti bosan dengan menu hambar di lidah jadi memilih menurutinya. Aku segera memeriksa ponsel untuk jasa pesan antar. Namun kalau begini, fast food yang paling banyak.
Luna langsung mengangguk setuju dengan mata berbinar saat aku menunjukkan makanan pilihanku. Meskipun sepertinya akan menghancurkan dietnya, masa bodohlah, kupesan juga dua kotak pizza berukuran besar, bersama beberapa tambahan menu kecil lainnya.
Tak sampai satu jam, pesanan kami datang juga.
"Kau mau kemana?"
Tanya Luna saat melihatku bersiap keluar mengambil pesanan. Dia langsung menarik kaos ku. Dia langsung menunjukkan wajah penolakannya. Kemudian keluar.
Sebegitu khawatirnya dilihat orang. Padahal kami hanya perlu mengambil lewat pagar, tanpa perlu memperlihatkan wajah. Akhirnya, aku hanya memperhatikan Luna dari pintu depan.
******
Meja langsung penuh dengan makanan. Hari ini istimewa, kami makan sambil menonton film di ruang tengah. Bukan lagi untuk menikmati romansa membosankan, kali ini aku yang memilih filmnya.
Luna langsung panik saat aku mengeluarkan kaset "Breakthrough", film pertama Luna. Dia menolak dengan sangat untuk memutar film itu. Namun tetap saja Luna kalah kuat dariku dan terpaksa mengalah.
Aku bisa melihat wajah Luna merah sekali sejak pertama film diputar. Padahal sebelumnya dia tidak begitu saat kami membicarakannya.
"Ah.. kenapa dia cupu sekali?"
Keluh Luna saat menyaksikan karakter June yang diperankannya. Karena sudah film empat tahun yang lalu, penampilan Luna memang jauh berbeda. June yang gadis nakal, rambutnya lurus sebahu, belah dua. Belum lagi tatapannya yang tajam. Kombinasi yang jadul untuk masa sekarang.
"Padahal dulu gayamu hits sekali. Ditiru oleh banyak orang, termasuk dalam pemotretan dengan konsep bad girl"
Celetukku setengah tertawa. Aku tidak bercanda. Gaya June sempat menjadi tren dulu.
Luna langsung menutup wajahnya yang makin merah.
"Aku tidak kuat melihatnya"
Aku bisa mendengar tawa gelinya. Mungkin baginya gaya itu juga lucu sekali.
Meskipun terlihat jadul, Luna mungkin tidak tahu, bahwa June adalah karakter perempuan paling keren menurutku. June masih 15 tahun saat dia berani menentang dunia dan ayahnya yang notabene menteri pertahanan. Aku selalu merasa, karakter June itu adalah bagian dari Luna. Dia terlihat begitu tenang di luar, padahal gadis yang keras. Tidak berhenti melakukan hal mengejutkan orang lain, dan begitu kuat memegang prinsipnya.
"Oh... Aku masih ingat adegan ini! Set nya dibuat mirip dengan tempat latihan pesawat tempur asli. Keren sekali!"
__ADS_1
Seru Luna begitu melihat adegan dirinya sedang berlari dari kejaran para polisi. Mungkin periode malunya sudah selesai. Bagiku memang dia tidak perlu malu. June sempat dijuluki "The Little Sarah Walker" oleh para penggemar film. Dia disamakan dengan seorang femme fatale dari serial "Chuck". Cantik, pintar, berbahaya.
"Apa kau melakukan semua adegan itu sendirian?"
Tanyaku mencoba membangun pembicaraan dengannya.
"Tentu saja tidak. Stuntwoman yang melakukannya. Melompat dari sana sangat berbahaya dan James melarangku melakukannya"
Sebenarnya aku tahu hal itu. Lebih dari Luna, aku tahu semuanya tentang dia. Selama setahun lebih proses produksi film itu, aku tak lepas memantaunya. Kadang dari James, kadang datang diam-diam ke lokasi syuting. Aku ingin melihat bagaimana Sugar-ku tumbuh.
Nyatanya Luna berkembang melebihi ekspektasiku. Dia bekerja keras meskipun akting bukan bidang aslinya. Dengan tubuhnya yang kecil, dia membuat kagum semua orang saat memperagakan adegan berkelahi melawan pria yang besarnya tiga kali lipat lebih besar darinya. Berapa kali dia jatuh akibat medan syuting yang berat. Aku melihat semua itu.
Karena itu aku harus mengalah.
Aku hanya bisa meminta dia tinggal di London dengan nada bercanda, padahal aku sungguh-sungguh. Aku ingin sekali dia meninggalkan pekerjaannya dan menetap denganku di sini. Gajiku bisa mengompensasi semua bayarannya yang hilang saat bekerja sebagai artis. Namun aku tidak bisa melakukannya.
Itu hanya keegoisan.
Luna telah bekerja keras untuk karirnya. Dia telah menerima penghargaan sebagai pemeran pendukung terbaik. Bakatnya telah diakui oleh professional di industrinya. Popularitas besar. Semua butuh perjuangan yang tidak mudah. Lima tahun lebih, Luna baru bisa mencapai posisi ini. Masih belum mempertimbangkan masa depannya yang cerah. Jika film terbarunya ini sukses, aku yakin namanya akan menembus "Oscar".
Meskipun menggunakan cinta sebagai alasan, bagiku tidak akan sebanding.
Aku bisa memahami itu, karena telah bertahun-tahun menentang ayahku. Aku tidak bersedia meninggalkan sepak bola demi apapun yang ia tawarkan, sekalipun itu perdamaian atas hubungan kami. Tentu egois namanya jika aku memaksa Luna meninggalkan dunia yang dicintainya.
Aku menatap Luna yang masih serius menonton film. Ada seulas senyum di wajahnya. Bagaimana bisa seseorang tidak berubah meskipun bertahun-tahun telah berlalu? Tetap sama seperti saat aku melihatnya pertama kali di atap gedung hotel itu. Dia tetap menarik, tetap indah, dan tetap kuinginkan.
"Yah... Sudah selesai"
Lamunanku pun buyar bersamaan dengan tayangan adegan ending dari "Breakthrough".
******
June di film kedua sudah lebih dewasa. Rambutnya yang kadang dikuncir kuda, kadang juga digerai bergelombang cukup menambah daya tariknya. Belum lagi pakaiannya yang terbilang keren. Celana militer dengan boot. Di beberapa adegan dia juga memakai berbagai seragam yang menunjukkan sisi feminimnya. Di film ini, June telah menjadi femme fatale sesungguhnya.
Luna langsung memasang mimik serius sejak adegan pertama. Membuatku gemas. Akhirnya kuraih tubuhnya. Kuangkat agar bersandar dalam pelukanku. Tepatnya dadaku. Tidak peduli jika dia mungkin mendengar detak jantungku yang keras.
"Kau... Jangan sampai bertemu pria lain di LA. Bahkan jika itu dengan Daniel atau sutradara sekalipun, kau harus memberitahuku. Begitu sudah mendapat pekerjaan baru juga harus memberitahuku. Secara detail, dari alur cerita sampai lawan mainmu. Jangan sering-sering berdandan cantik juga saat keluar, kalau ada pria merayumu langsung tendang saja. Kau hanya boleh memikirkanku 24 jam selama seminggu penuh. Aku akan langsung mendatangimu kesana jika sehari saja kau tidak mengabariku, jadi pastikan kau menghubungiku setiap hari"
Luna langsung mendongakkan kepalanya begitu aku selesai memberikan perintahku.
"Terlalu panjang, aku tidak bisa mengingatnya"
Protes Luna tapi sambil senyum-senyum. Sudah pasti dia sedang menggodaku.
"Aku serius"
Jawabku, dan Luna tertawa.
"Kalau tidak menghubungimu bisa membuatmu datang kesana, mungkin aku akan sering-sering melakukannya. Daripada aku memendam rindu"
Aku langsung mencubit bibirnya. Dasar Luna! Tidak bisakah dia berhenti menggombaliku seperti ini? Aku jadi Makin tidak ingin melepaskannya.
"Tenang saja. Tidak ada pria lain selain Drey di mata Luna. Aku bisa menjanjikan itu"
Kali ini aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku menariknya untuk menghadap tubuhku. Tanpa basa basi langsung meraih bibir manis itu. Mendorong tengkuknya, Dan menciumnya begitu dalam seakan tidak ada Hari esok. Lenganku mendekap tubuh mungilnya dengan erat seolah hendak meremukkannya.
Kuciumi dia dengan sedikit kasar, melupakan kelembutan yang biasanya kulakukan. Tidak peduli bahwa nafas Luna seakan sesak olehku. Yang kutahu,
Aku hanya ingin Sugar saat ini.
__ADS_1
******
Setelah sekali kencan normal kami, kesibukan seolah datang tanpa henti. Sehingga aku dan Luna tidak bisa lagi melakukan kencan lainnya seperti itu. Kami hanya bertemu sesekali saat aku pulang dari luar kota atau saat Luna pulang syuting. Mengobrol untuk satu atau dua jam membahas hari kami. Jika sempat akan sarapan atau makan malam bersama. Namun untuk waktu yang sangat singkat.
Lalu hari ini, 28 April, di pertengahan musim semi, Luna akan pergi. Tepat sepuluh hari sejak dia menunjukkan tiket penerbangannya. Hari itu benar-benar datang pada akhirnya. Padahal bunga di taman-taman London sedang mekar dengan Indah, tetapi aku sudah lebih dulu mengalami musim gugur.
Dengan berat hati, aku menurunkan kopernya, dan mengantarnya menyusuri terminal keberangkatan. Tinggal 15 menit lagi sebelum pesawatnya lepas landas, dan tak banyak waktu bisa kami habiskan untuk perpisahan.
"Aku pergi dulu. Jaga kesehatan dan dirimu baik-baik"
Pesan Luna sambil memelukku. Kalau bisa aku ingin bicara dengannya lebih lama. Namun, Daniel yang berada di belakang Luna sudah mengeluarkan ceramah panjangnya.
"Kau juga. Jangan melakukan hal berbahaya di sana. Berhenti melakukan diet kecuali setelah meminta saranku. Kau sudah tidak perlu tampil kurus lagi kan?"
Balasku sambil menghirup dalam-dalam aroma Luna. Dia menjawab dengan anggukan dan tawa renyah.
Syukurlah tidak ada tangis di sini. Kami sama-sama sadar, berpisah bukan berarti tidak bisa bertemu lagi. Aku bisa berkunjung kapan saja ada waktu luang, begitupun dia. Dia bisa melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Aku sempat menunggu di bandara sampai melihat pesawat Luna lepas landas. Anehnya, baru sekarang aku merasa ada yang hilang. Padahal aku baik-baik saja selama mengantar Luna, tetapi rasanya justru berbeda sekarang.
Hampa.
Mungkin aku baru sadar bahwa kami sekarang terpisah oleh jarak yang jauh saat dia sudah benar-benar pergi. Rasanya ada bagian yang hilang. Meskipun aku bisa menghubunginya, atau membaca berita tentangnya dari artikel, tentu tidak lagi sama seperti bertemu dengannya di dunia nyata.
Rasanya seperti kehilangan tempat untuk pulang, karena selama ini Luna adalah yang kusebut sebagai rumah.
******
Suara TV terdengar bergema hampir ke seluruh penjuru rumah karena aku telah menghidupkannya dalam volume hampir maksimal. Kupikir itu akan cukup mengisi kekosongan rumah ini. Sementara aku harus mencari sisa air minum kemasan yang ada di kulkas. Namun, nyatanya rumah ini masih terlihat sepi.
Seminggu telah berlalu sejak Luna tidak lagi tinggal di sini, dan aku seperti orang hampir mati. Isi kulkas kosong karena tidak pernah belanja. Aku lebih banyak makan di luar dengan teman-teman satu tim. Rumah berdebu karena tidak dibersihkan. Cucian kotor menumpuk baik di bak cuci piring maupun bak pakaian kotor. Rumah juga sering gelap karena lampu hanya kunyalakan di sebagian rumah. Jangan tanya tentang rumahku sendiri, pasti jauh lebih mengerikan dari sini kondisinya. Aku lebih memilih menempati rumah yang pernah ditinggali Luna, untuk mengingatnya.
Setelah sampai di LA, Luna sering mengabariku. Mungkin khawatir dengan ancamanku. Namun kelihatannya dia baik-baik saja di sana. Luna belum mendapat pekerjaan baru, dan Daniel menyuruhnya istirahat. Memang dasar Mahluk Tuhan paling antagonis. Kalau tidak ada pekerjaan, harusnya Daniel membiarkan Luna tinggal di sini lebih lama. Ini pasti karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu wanita yang baru-baru ini diunggah di medsosnya.
Luna juga sama saja. Dia bilang akan merindukanku, nyatanya malah terlihat bahagia setiap kami melakukan video call. Dia menikmati waktu istirahatnya dengan baik. Luna sering menghabiskan waktunya untuk rebahan di kamar atau mencoba makanan baru. Sama sekali tidak mengatakan merindukanku.
Aku menghembuskan nafas besar. Sepertinya hanya aku yang merasa gila dengan hubungan jarak jauh ini. Kecuali sedang bekerja, Luna sama sekali tidak hilang dari pikiranku. Bahkan aku sampai mengacuhkan panggilan Gracey yang mengundang pesta setelah tahu Luna pulang ke Amerika. Aku sama sekali tidak berminat bergabung dengan mereka. Aku hanya ingin memiliki waktu sebanyak mungkin untuk memikirkan Luna
Terutama kalau sudah pulang ke rumah ini. Aku bisa melihat bayangannya di manapun. Dia yang turun sambil mengucek mata dari kamarnya, dia yang sedang bernyanyi kecil sambil menunggu baju di mesin cuci, dia yang berceloteh saat kami makan bersama. Atau dia yang selalu memelukku tiba-tiba. Tidak ada detail yang terlewat. Suaranya, tawanya, senyumnya. Semua.
Harusnya aku tidak semudah ini melepas Luna kembali ke LA. Apakah aku akan segila saat ibuku pergi dari rumah?
Suara bel membuyarkan lamunanku. Namun aku malas beranjak dari kursiku. Mungkin itu Joaquim. Dia dimintai tolong Gracey membujukku bergabung dengan mereka. Dia bahkan mengancam menjemputku langsung ke rumah. Atau jangan-jangan itu malah Gracey.
Namun tunggu dulu. Ini adalah bekas rumah Luna. Tidak ada sahabatku yang tahu jika rumah kami terhubung. Mustahil mereka datang kemari. Jadi kemungkinan itu Lara atau Lucy yang datang kemari. Menyadari itu, aku segera berlari ke depan. Membuka gerbang dengan tergesa.
"Surprise!"
Rasanya aku sedang bermimpi bisa mendengar suara itu lagi. Wajah itu lagi. Serta senyuman itu lagi. Meskipun hanya tiga hari, aku yakin belum begitu gila hanya untuk membayangkannya senyata ini.
Aku maju perlahan untuk mendekat pada gadis itu. Gadis yang sudah membuatku gelisah tiga hari ini. Untuk memastikan bahwa ini bukan sebuah bentuk halusinasi, aku menyentuh wajahnya. Nyata. Terasa sangat nyata di kulitku.
Tanpa menunggu, aku langsung memeluknya. Erat sekali. Menghirup aroma familiar itu dalam-dalam. Ini benar dia.
"Sugar..."
Rasanya suaraku bergetar saking bahagianya.
"Aku pulang"
__ADS_1
Jawabnya.