
"Yang Mana orangnya?" Bisik Gracey. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Memeriksa satu persatu wajah orang yang datang.
"Dia belum datang," jawabku tanpa perlu memeriksa. Saat ini keadaan di sini sangat tenang. Aku yakin jika Priscilla datang, tidak mungkin sehening ini.
"Sayang sekali, padahal aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya," sahut Melina.
Aku hanya menanggapi dengan tawa kecil. Melihat mereka yang diselimuti rasa penasaran.
Tadinya, ku pikir cukup mengajak Gracey, tetapi ternyata wanita itu malah membawa semua anggotanya, lengkap. Dan mereka semua menunjukkan ketertarikan yang sama untuk melihat Priscilla. Mungkin di dunia ini, hanya Drey, pria yang memiliki tradisi seperti ini. Di Mana para mantan wanitanya melakukan perploncoan terhadap pasangan barunya. Kali ini targetnya adalah Priscilla. Aku merasa tidak bersalah, tetapi aku tidak memiliki pilihan lain.
Aku melihat beberapa orang berlarian. Mereka kelihatan seperti hendak melakukan penyambutan.
"Sepertinya dia sudah datang" ujarku pada Gracey dkk.
Mereka langsung menarikku untuk bergabung dengan orang-orang itu. Melihat dari dekat apa yang terjadi. Benar saja, rombongan Priscilla datang. Bisa ku lihat wajah antusias Gracey dkk, untuk bisa melihatnya langsung.
"Tidak ku sangka, wanita yang kau maksud adalah putri seorang Earl" bisik Gracey setelah melihat Priscilla. Aku memang sengaja tidak memberi tahu mereka identitasnya.
"Perbedaan macam apa ini?" Sahut Melina. Dia sedang mengukur kelas kami dengan Priscilla.
"Tapi, bukankah ini menjadi lebih menarik?" Timpal Gracey lagi.
Aku tidak paham dengan maksud mereka, tetapi yang ku lihat Setelah itu adalah senyum licik mereka.
Sebaliknya, aku tahu jika Priscilla akhirnya menangkap keberadaanku di sini. Dia menatapku lama sekali. Jarak di antara kami tidak memungkinkan untuk bertegur Sapa. Dan Priscilla terlihat menyembunyikan keterkejutan di balik wajahnya yang tenang.
*****
Aku hampir lupa dengan tujuan awalku kemari. Aku sama sekali tidak memperhatikan Priscilla dan malah sibuk dengan peranku sebagai sukarelawan. Ku rasa, Gracey dan yang lainnya juga begitu. Berbeda dengan penampilan glamor Dan sifat usilnya, mereka sebenarnya orang yang baik. Sepenuh hati mengerjakan tugas sebagai sukarelawan.
Pekerjaan kami berakhir sebelum senja. Saat itulah aku mulai menjalankan rencanaku.
Aku sengaja memilih Acara ini karena diselenggarakan di luar Kota. Jadi, kami semua harus menginap. Inilah yang ku manfaatkan sebagai bagian rencanaku. Dengan begini, aku bisa beralasan mengajak Priscilla makan malam bersama.
"Bukankah sudah ku katakan sebelumnya, kau hanya membuang tenaga jika ingin membujukku. Aku tidak akan berubah pikiran tentang perjodohan"
Priscilla langsung mencecarku begitu kami bertemu. Sejujurnya, aku bahkan tidak menduga dia akan benar-benar menemuiku. Tadi aku hanya menitipkan pesan pada pelayannya. Ternyata dia sungguhan datang ke lobi hotel seperti yang ku minta.
"Tenang saja, aku juga tidak kemari untuk membahas itu. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam karena kebetulan Kita bertemu di acara yang sama"
Priscilla tidak mengatakan apapun. Masih Ada keraguan terlihat di wajahnya.
"Benarkah?" Gumamnya kemudian dengan suara lirih. Mungkin malu sudah menuduhku begitu saja.
"Jadi, di Mana Kita akan makan? Restoran di hotel ini cukup terkenal" Priscilla kemudian menawarkan pilihan.
"Kita akan makan di luar"
"Kenapa?"
"Kebetulan beberapa temanku datang membantu juga Hari ini. Kami berencana untuk bersantai bersama malam ini. Mereka juga sangat ingin bertemu denganmu, jadi aku mengundangmu untuk bergabung jika tidak keberatan"
Priscilla nampak berpikir atas tawaranku. Aku berharap dia tidak menolak. Kata-kataku tidak sepenuhnya bohong. Gracey Dan teman-temannya itu memang sangat ingin menemuinya.
"Baiklah, aku juga sedang tidak ada
Aku lega sekali mendengar jawaban Priscilla. Namun, segera meminta Hal lain padanya.
"Tapi... Bisakah kau pergi sendirian? Sepertinya kurang nyaman jika terus diawasi" tanyaku sambil melihat ke arah pelayan Priscilla. Entah dia pelayan, asissten atau bodyguardnya. Yang jelas dia selalu menempel dengan Priscilla. Bisa-bisa dia menghancurkan rencanaku nanti.
"Tidak masalah, Kita tidak Akan pergi dengan jauh juga"
Jawab Priscilla setuju. Dia segera memberitahu orang di belakangnya itu untuk meninggalkannya.
*****
"Apa kau yakin tempatnya di sini?" Tanya Priscilla Tak yakin.
Aku tidak bisa menjawab karena aku sendiri juga meragukannya. Tadi, aku menyerahkan urusan mencari restoran pada Gracey. Menurut alamat yang diberikannya, tempatnya memang di sini. Nama tempatnya pun sama, 'Night Paradise'. Aku sampai bertanya pada supir taksi yang mengantar kami dan dia pun membenarkannya.
Sekarang, aku baru sadar jika nama tempat ini saja terdengar aneh. Bahkan plang namanya terlalu bling bling. Harusnya aku mengeceknya dulu tadi. Bukan! Harusnya aku tidak menyerahkan urusan ini pada Gracey, jika aku mengenali sifatnya.
"Mereka sudah menunggu di dalam, Kita masuk saja" ujarku gugup.
Aku segera menggandeng tangan Priscilla untuk membawanya masuk.
Persis dengan bagian depan yang Mencurigakan, di dalam gedung ini juga terlihat tidak biasa. Ruangannya gelap, dengan hanya diterangi lampu warna merah. Set seperti ini biasa ditemukan di film horor atau di film dewasa. Dan aku yakin, tempat ini lebih condong ke pilihan kedua.
Aku bisa merasakan Priscilla menggenggam tanganku erat sekali seolah sedang takut. Padahal aku sendiri sama gugupnya dengan dia.
"Miss Eloise...?" Seseorang tiba-tiba muncul mengagetkan kami. Hampir saja aku berteriak. Kondisi yang sedikit gelap juga membuatnya terlihat tidak memiliki wajah.
Orang itu ternyata bertugas mengantarkan kami ke ruangan yang sudah dipesan oleh Gracey. Dia memandu kami memasuki tempat itu, yang aku yakin bukan restoran. Bahkan aku melihat Ada meja bar di salah satu sudutnya.
__ADS_1
Beberapa Kali Priscilla berbisik padaku. Dia terus bertanya tempat ini, kalau tidak dia bilang ingin mencari tempat lain saja. Tanganku sendiri sampai berkeringat saking kuatnya dia menggenggamnya.
Tempat yang dipesan Gracey Ada di lantai paling atas, seperti tempat VIP. Dindingnya terbuat dari kaca, sehingga dari sana kami bisa melihat seluruh lantai bawah di satu sisi dan pemandangan malam kota Everton di sisi lainnya.
"Selamat datang" sambut Gracey dengan senyum tanpa rasa bersalah.
"Bukankah kau bilang ini restoran?" Protesku.
"Tenang saja, di sini juga menyediakan makanan berat" jawabnya masih santai. Seperti biasa Gracey tahu betul Cara mengusiliku.
"Oh, bukankah ini Lady Priscilla?", Secara cepat Gracey sudah sok akrab pada Priscilla.
Aku tidak peduli dan membiarkan mereka berkenalan. Bukan hanya Gracey, Melina Dan yang lainnya juga langsung menyerbu Priscilla.
Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat ekspresi terganggu Dan tidak nyaman di wajah Priscilla. Selama ini dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Namun diapit dengan Gracey dan Melina yang Tak henti nyerocos di telinganya. Dia mungkin kehilangan kesabarannya.
Aku ingat pernah mengalami waktu yang sulit seperti itu sebelumnya. Jadi, kini aku terkekeh penuh kemenangan.
Seorang pelayan masuk lalu meletakkan botol minuman beralkohol di meja.
"Karena hatiku sedang bahagia, malam ini aku yang akan membayar semuanya. Kalian pesan saja sesuka hati. Dan untuk wanita cantik di sampingku ini, aku ingin mengajakmu bersulang" ujar Gracey, dia sudah mengambilkan gelas untuk Priscilla.
"Tidak..tidak perlu, aku tidak minum," tolak Priscilla dengan halus.
"Kau tidak minum? Membosankan sekali," ejek Melina. Aku ingat pernah menerima komentar serupa dulu, sehingga ketika Priscilla menjawab dengan sedikit sebal ku rasa adalah Hal yang wajar.
"Akan jadi masalah jika aku mabuk di sembarang tempat"
Priscilla mengatakan itu sambil tersenyum, tetapi suaranya terdengar penuh bantahan.
Ini jelas bukan tempat yang nyaman bagi Priscilla. Dia biasa pergi ke acara amal, selalu menampakkan imej baik layaknya malaikat. Namun harus berakhir di tempat seperti ini, dengan orang seperti kami saat ini.
"Tidak perlu memaksanya, aku juga Kan tidak minum" selaku.
"Ah, Ada saint lainnya di sini," ledek Sansha.
Aku hanya tertawa, dan berkat itu suasana sedikit mencair. Setelah itu, Gracey dan teman-temannya mulai masuk dalam mode pesta. Membuat suasana meriah adalah keahlian mereka. Bahkan aku sampai lupa tujuanku kemari.
Priscilla juga nampaknya menikmati ini. Dia banyak tertawa, dan sedikit demi sedikit dapat melebur dengan yang lain.
Sementara Gracey Dan lainnya menikmati alkohol, aku dan Priscilla mencicipi berbagai hidangan yang mungkin tidak bisa disamakan dengan menu makan malam.
"Ah, jangan makan itu" ujarku saat Priscilla hendak menggigit kukis yang tadi ku pesan.
"Kenapa?"
"Bagaimana kau bisa tahu aku alergi almond?" Tanya Priscilla heran.
"Aku mencari tahu saat mengundangmu makan siang kemarin. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Jadi aku memastikan apa saja yang tidak bisa kau makan"
Priscilla meletakkan kukis di tangannya.
"Aku sudah pesan kukis yang lain" tawarku sambil menyodorkan keranjang yang lain. Priscilla segera mengambilnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanyaku heran. Tiba-tiba Priscilla menatapku begitu intens.
"Tidak apa-apa" jawabnya sambil mengalihkan perhatian ke arah yang lain.
*****
"Bukankah pria-pria itu seksi sekali?" Tanya Sansha. Dia sudah menepuk bahuku berkali-kali menyuruhku melihat ke lantai bawah.
Memang tidak salah ucapannya. Di lantai bawah, mulai berdatangan pria-pria macho. Tapi aku tidak mengerti Kenapa mereka mengenakan kemeja tanpa mengancingkannya, sehingga memperlihatkan otot-otot di dada Dan perutnya. Tapi menurutku tidak seseksi milik Drey, jadi aku tidak tertarik.
"Apa Ada yang membuatmu tertarik? Aku bisa memanggilkan mereka untuk kalian. Aku kenal beberapa yang memberi servis bagus," lanjutnya.
"Kenapa harus memanggil mereka kemari?" Tanyaku Dan Priscilla bersamaan.
"Tentu saja karena itu yang dijual di sini" gantian Gracey Dan teman-temannya yang menjawab dengan enteng.
Seketika otakku langsung mencerna maksud mereka.
"Hey!!!!" Bentakku pada mereka. Berani sekali mereka memilih tempat seperti apa ini. Jika Drey tahu, dia pasti akan mengobrak abrik tempat ini. Tapi mereka hanya meringis tanpa dosa. Sementara Priscilla hanya menatap kami bingung.
Aku tidak melanjutkan obrolan itu lagi. Hanya mengancam mereka agar tidak sekali-sekali memanggil siapapun kemari. Ah, aku sedikit menyesal mempercayai wanita-wanita rubah ini. Targetnya adalah Priscilla, tetap saja aku ikut kena getahnya.
"Jadi, apa kau sudah tidur dengannya?" Tanya Gracey mengganti topik.
Ini sudah dimulai. Batinku.
"**..tttii..tidur dengan siapa?" Tanya Priscilla tergagap saking kagetnya.
"Tentu saja dengan Drey. Ku dengar kau akan menikah dengannya," sahut Sansha.
__ADS_1
Priscilla membulatkan mulutnya, tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Kalian vulgar sekali," kritiknya.
Suara tawa langsung pecah di ruangan itu. Kami membuat Priscilla seolah orang Paling aneh di ruangan ini.
"Tidak perlu bersikap polos begitu. Usiamu sudah Dua puluh tahun lebih, pasti sudah wajar jika punya satu atau Dua pengalaman," ujar Melina.
"Itu bukanlah sesuatu yang harus dilakukan secara bebas apalagi sebelum menikah. Lagipula, itu juga bukan hal yang bisa sembarangan diumbar di depan umum," Priscilla mulai berceramah.
Aku setuju sekali dengan pendapatnya, tetapi Kali ini aku hanya sebagai pengamat. Jadi aku diam saja. Sementara Gracey dan yang lainnya hanya meringis, menahan tawa. Priscilla hanya buang-buang tenaga saja bicara begitu di depan mereka. Wanita-wanita ini seperti Batu yang prinsipnya Tak akan pernah goyah. Aku sudah pernah mencobanya dulu.
"Sepertinya Drey akan menikahi seorang Saint," celetuk Melina yang kembali membuat tawa pecah di ruangan itu.
Aku bisa melihat wajah Priscilla memerah. Namun, Gracey Dan teman-temannya belum selesai menjatuhkan bom padanya.
"Kalau begitu, kau juga belum tahu kenapa kami bisa saling mengenal?"
Priscilla menggelengkan kepalanya pelan. Dia sempat menatapku, mungkin karena teringat ucapanku yang menyebut mereka sebagai temanku. Yah... Aku tidak sepenuhnya bohong. Bagaimanapun awal kisahnya, saat ini aku memang berteman dengan mereka.
"Kami semua... Adalah mantan wanitanya Drey. Kami punya hubungan spesial dengannya. Yah.. tidak bisa dibilang mantan juga. Saat ini kami masih bertemu dan berhubungan dengannya"
Melihat ekspresi Priscilla, aku yakin bahwa ini adalah Hal Paling mengejutkan yang ia dengar selama ini. Padahal ku pikir julukan Cassanova untuk Drey cukup terkenal. Apa dia berpikir bahwa Drey adalah pria baik-baik?
Priscilla langsung melihat ke arahku saat itu, menuntut penjelasan karena sedari tadi aku hanya diam. Dan karena saat ini, akulah kekasih resmi Drey.
"Ya, itu memang benar. Mereka pernah memiliki hubungan dengan Drey" tukasku.
Aku tidak percaya akan datang Hari di Mana aku bisa mengatakan Hal seperti ini. Padahal aku selalu menolak eksistensi mereka.
"Kau hendak menikahi Drey, jadi ku pikir kau harus kenal dengan mereka juga," tambahku.
Priscilla Makin terbengong tidak percaya. Dia lalu meraih gelasnya untuk minum. Seolah sedang kepanasan, tangannya juga mengipasi wajahnya yang merah. Lucu sekali.
"Apa kau ingin dengar cerita tentang malam yang pernah kami habiskan dengan Drey?" Goda Melina.
Sontak Priscilla tersedak minumannya. Dia sampai terbatuk-batuk saking kagetnya dengan pertanyaan itu. Aku yakin ini pertama kalinya priscilla tidak bisa mengendalikan tingkahnya di depan orang lain.
"Kau harus tahu agar bisa menggodanya" sambung Sansha.
"Sudah, berhenti menggodanya. Tubuhnya sampai gemetaran begitu," mereka bicara begitu, tapi sambil menahan tawa.
Mungkin lama-lama Priscilla kesal dijadikan bulan-bulanan oleh mereka. Jadi dia mulai bicara membela diri.
"Siapa yang bilang aku sedang gemetaran? Aku... Aku sudah pernah membaca berita tentangnya. Jadi aku sudah menduga Hal seperti ini"
Priscilla berusaha tetap menunjukkan kepercayaan diri dan harga dirinya.
"Kalau begitu ini menjadi mudah. Kau Kan sudah kenal kami, dan menduga ini yang terjadi. Jadi aku ingin kepastian juga. Apa kau menerima kehadiran selir di rumahmu? Setidaknya Kita harus sepakat daripada kami harus bertemu dengan Drey diam-diam," Sela Gracey.
Aku hanya tersenyum dalam hati. Memang tidak akan Ada yang bisa mengalahkan Gracey dalam urusan begini. Bahkan Priscilla sudah terlihat runtuh seluruhnya. Kepercayaan dirinya barusan hilang dalam sekejap. Dia memandang satu persatu wanita di Sana, seolah sedang menghitung berapa banyak simpanan calon suaminya. Jika aku termasuk, semuanya ada tujuh orang.
"Ka..kalian tetap akan menemuinya meski dia sudah menikah?" Tanyanya gugup.
"Tentu saja," jawab mereka serempak. Dan wajah Priscilla langsung pucat. Sementara Gracey memberi isyarat padaku lewat kedipan matanya.
Kami berhasil.
*****
Gracey dan teman-temannya masih ingin berpesta, jadi aku dan Priscilla pulang lebih dulu.
"Apa kau tahu tentang mereka?" Priscilla sepertinya sudah gatal ingin menanyakan Hal itu sejak tadi. Dia langsung bertanya begitu kami masuk ke dalam taksi.
"Tentu saja," jawabku singkat. Di dalam hati aku berkata, walaupun tidak separah dirimu.
Ekspresi wajah Priscilla terlihat tidak nyaman. Membuatku jadi ingin menggodanya.
"Jangan khawatir, mereka tidak seburuk itu. Jika kau setidaknya mereka tidak akan tiba-tiba muncul di rumahmu jika ingin bertemu Drey," candaku. Priscilla mengernyitkan keningnya saat menatapku.
"Apa kau tidak keberatan mereka masih menemui Drey saat dia sudah menikah?" Tanya Priscilla kemudian secara tiba-tiba.
"Kenapa kau bertanya padaku? Kan yang ingin menikahinya adalah kau" tanyaku balik. Sekarang ini aku ada di pihak mereka.
"Apa kau juga berpikir bahwa itu tindakan yang benar? Apa masuk akal jika sudah menikah, tetapi masih bertemu dengan wanita-wanita lain?" Cecar Priscilla persis seperti orang merajuk. Aku heran dia tidak menyuarakan protesnya itu pada mereka tadi.
"Tentu saja salah. Tapi kau juga salah mengatakannya padaku. Katakan saja pada Drey"
Priscilla memegang bahuku, lalu kembali bertanya, "Apa kau juga akan seperti itu? Seandainya saja aku menikah dengan Drey, apa kau juga akan tetap berhubungan dengannya?"
Ada sengatan sakit di hatiku saat Priscilla menyebutkan pernikahan dengan Drey, meskipun itu hanya pengandaian. Namun untuk pertanyaan seperti ini, aku selalu punya jawabannya. Bahkan jika pria itu bukan Drey.
"Aku, tidak suka mengambil milik orang lain"
__ADS_1
Saat itu taksi yang kami tumpangi telah sampai di depan lobi hotel. Kami segera turun. Sebelum berpisah, Priscilla sempat berbisik padaku, "Kau adalah musuh yang manis"
Apa lagi maksud wanita itu?