Sugar

Sugar
Dean Charleville


__ADS_3

"Undangan?"


Tanya Luna memastikan kembali apa yang barusan Drey katakan padanya.


"Ya, teman-teman kuliahku akan berkumpul. Semacam reuni"


Luna sebenarnya merasa tidak enak dengan undangan itu. Dia teringat pada setiap masalah yang mengikutinya tiap kali bertemu dengan orang-orang baru. Kali ini teman Drey. Dia bisa membayangkan betapa berbedanya mereka nanti dengan "teman" yang selama ini dia tahu.


Tetapi Luna mengiyakan saja. Melihat ekspresi Drey yang sepertinya cukup menantikan pesta itu. Luna tidak ingin mengecewakannya.


"Jadi...apa yang kalian lakukan saat reuni?"


Luna tidak pernah pergi ke pesta alumni. Karena dia juga tidak pernah lulus dari sekolahnya. Setidaknya dia harus mempersiapkan diri agar tidak mempermalukan Drey.


"Tidak banyak. Seperti pesta biasa, kami mengobrol, minum, dan, ah... tahun ini temanya adalah pesta prom. Kami akan memilih raja dan ratu lantai dansa. Sudah pasti akan ada sesi dansa nanti"


Luna menelan ludahnya dengan penjelasan Drey. Dari semua susunan acara itu sepertinya tidak ada yang bisa dia lakukan.


Mengobrol? Dia bahkan tidak mengenal siapapun. Minum? Setelah kejadian di Santorini, itu adalah sebuah ide buruk. Dansa? Mungkin Luna bisa mempelajarinya.


"Aku akan belajar dansa"


Ujar Luna terdengar mengherankan bagi Drey. Mereka pernah berdansa saat pernikahan, dan menurutnya Luna tidak buruk juga.


"Kenapa? Kau ingin dipilih menjadi ratu dansa?"


Tanya Drey salah paham dengan tujuan Luna.


Gadis itu tidak memahami maksud pertanyaan Drey. Sehingga dia hanya mengangguk mengiyakannya.


*******


Sesi pelajaran dansa Luna pun dimulai. Drey yang menjadi instrukturnya. Mereka belajar gerakan-gerakan dasar semacam promenade, whisk, reverse menggunakan musik waltz. Dan dengan cepat Drey harus mencabut kata-katanya bahwa dansa Luna tidak buruk.


Pada waktu pernikahan, mereka hanya menggerakkan tubuh secara ringan, tidak bisa disebut dansa. Tentu saja Luna tidak kesulitan. Dari awal tubuh Luna memang sudah luwes. Namun jika melakukan dansa sebenarnya dengan gerakan teratur, kemampuan Luna nol. Drey bahkan harus mulai dari mengajarkan poise yang benar.


"Bukan seperti itu, tapi seperti ini"


Berkali-kali Drey mengatakan itu. Membuat ruangan yang harusnya sepi karena hanya ada mereka berdua menjadi tak ubahnya studio umum. Sifat Drey yang asli benar-benar muncul saat harus mengajarkan sesuatu.


"Kenapa kau tidak bisa melakukannya?"


Omel Drey saat Luna tidak melakukan sesuai keinginannya.


"Sudah..kita berhenti saja. Aku tidak akan melakukannya"

__ADS_1


Omelan Drey yang lain. Walau akhirnya dia tetap mengajari Luna.


Luna sendiri sudah kebal dengan segala omelan Drey. Dia tahu betul pria itu punya kesabaran yang tipis. Jadi dia memilih mendengarkan saja semua keluhan Drey. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.


"Aaawww...!!!"


Teriak Drey terdengar hingga seluruh penjuru rumah. Luna menginjak kakinya dalam latihan. Dan gadis itu sekarang sedang mengenakan heels. Berlatih sesuai kondisi asli.


Drey tidak sanggup menahan amarahnya lebih lama lagi. Buyar sudah imajinasinya mengenai latihan dansa yang harusnya romantis. Dia justru kesakitan sekarang.


Kata umpatan langsung keluar dari Drey. Makian yang sama seperti saat dia menyebut Luna "orang dari jaman batu" saat gadis itu tidak bisa menggunakan skype. Mungkin lebih kasar. Tetapi respon yang didapat Drey tidak sesuai bayangannya.


"Maaf"


Ujar Luna sambil meringis lebar. Terlihat tidak merasa bersalah. Sehingga Drey harus menelan kembali kemarahannya. Luna terlalu menggemaskan untuk diomelinya.


"Lepaskan heels-mu"


Kata Drey kemudian setelah kembali tenang. Luna menurut.


"Letakkan kakimu di atas milikku"


Perintah Drey kemudian. Luna awalnya merasa ragu karena bingung dengan maksud Drey, namun melakukannya juga. Dia meletakkan kakinya di atas kaki Drey.


Luna tahu itu tidak mudah bagi Drey. Pria itu harus menahan beban dari berat badan Luna. Lalu mengangkatnya, mengikuti gerakan dansa. Namun kali ini justru Drey tidak mengeluh.


"Ingatlah baik-baik setiap gerakan ini"


Bisik Drey lembut.


Ruangan itu kembali hening. Hanya ada alunan musik dan dua orang yang sedang menikmatinya. Suasana ini mengingatkan mereka pada dansa di pernikahan mereka. Saat mereka terhanyut dalam dunia mereka seolah tidak ada yang lain di sekitar mereka.


Mata mereka bertatapan. Biru yang arogan dan coklat yang hangat. Saling mengagumi lekuk wajah masing-masing. Seolah saling berbisik kata cinta lewat tatapan mata itu.


Drey mencium kening Luna. lalu hidungnya, baru pipinya. Drey mengakhirinya dengan bibir Luna. ********** perlahan dan menikmati setiap saat yang terjadi di antara mereka. Drey tidak pernah tahu kenapa dia tidak pernah bosan dengan rasanya. Dia juga tidak mengerti alasan terus dibuat jatuh cinta tiap kali menatap gadis itu. Seolah tak ada habisnya.


"Awas saja kalau kau tidak menang di pesta dansa nanti"


Ancam Drey setengah bercanda. Luna hanya menjawabnya dengan tawa. Kemudian memeluk erat suaminya. Mengakhiri sesi latihan dansa mereka.


*******


Luna tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya. Dia berkali-kali mematut dirinya di depan cermin. Memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan tampilannya hari ini.


Meski hanya sebuah pesta reuni, Luna tidak pernah melihat pesta sebesar ini. Kecuali pernikahannya pastinya. Dari luar saja Luna bisa menilai siapa peserta acara ini. Puluhan mobil mewah terparkir di luar gedung, layaknya sebuah pameran mobil mahal. Bahkan pelayan berseragam pun sudah ada yang ditugaskan menjemput tiap tamu.

__ADS_1


Di bagian dalam lebih mewah lagi. Dekorasi bernuansa klasik yang dipenuhi lampu terang. Karpet merah yang membentang dari pintu masuk sampai bagian dalam. Bunga segar yang dipasang di setiap sudut ruangan. Puluhan meja berjejer dengan bermacam kudapan dan minuman. Di salah satu bagian malah ada gelas yang disusun hingga tinggi, lalu mengalir champagne tanpa henti ke dalamnya. Sedangkan menu utama pesta malam ini bisa dilihat dari bagian terdalam gedung ini. Sebuah ballroom yang didekorasi menggunakan gaya abad pertengahan Eropa. Di sanalah raja dan ratu dansa malam ini akan dipilih.


Luna hanya bisa terbengong di sana. Tak hanya dekorasi ruangan saja yang kelihatan mahal, orangnya pun juga. penampilan mereka tidak ubahnya karpet merah untuk ajang penghargaan hollywood. Luna mendadak minder.


Namun Luna dengan cepat melupakannya. Matanya terpaku pada berbagai hidangan yang disediakan. Kue-kue dengan bentuk dan warna yang membuatnya menelan ludah. Belum lagi kudapan asin yang tak kalah menggoda. Lalu minuman-minuman sejenis cocktail yang tampak segar. Luna hanya pernah melihatnya di televisi. Sehingga ia seperti mendapat serangan haus dan lapar mendadak.


"Kau boleh makan itu nanti"


Bisik Drey yang bisa membaca tatapan lapar istrinya. Luna hanya mengangguk patuh.


Drey membawa Luna ke sebuah meja yang sepertinya disediakan untuk tamu VVIP. Di antara beberapa meja, Drey mendekat ke meja di bagian paling tengah. Di sana sudah ada 4 pria dan seorang wanita yang tak lain adalah Mila.


Dari kejauhan, mata Luna langsung fokus pada Mila. Menurutnya wanita itu sangat cantik dan menawan. Mengenakan gaun panjang strapless berwarna wine. Tampilan Mila makin anggun dengan rambut yang digelung ke atas memperlihatkan kalung berlian di leher jenjangnya. Gaya yang sangat berbeda dengan Luna.


Drey langsung menyapa teman-temannya. Lalu mengenalkan mereka pada Luna. Will, Mike, Niel, Ron dan Mila. Mereka semua adalah rekan satu jurusan Drey yang terdekat dengannya dulu. Di antara teman itu, hanya Mila yang tersenyum dan menyambut Luna.


Luna makin canggung saat mereka mulai membicarakan masa lalu. Mengenang kembali masa-masa kuliah mereka. Meskipun terdengar seru, dia tidak tahu bagaimana untuk masuk ke dalam pembicaraan itu. jadi Luna hanya memperhatikan mereka.


Mila sepertinya menyadari ketidaknyamanan Luna. Dia pun berinisiatif mengajak gadis itu bicara.


"Aku senang sekali kau datang. Tidak banyak wanita hang out dengan kami. Sehingga akupun tidak punya banyak teman wanita"


Ujar Mila. Keramahan Mila sungguh membuat Luna senang. Dia merasa kecanggungannya sedikit hilang di dekat Mila.


Namun, karena ajakan mengobrol Mila itu, kini perhatian para pria di meja itupun tertuju pada Luna. Menjadi awal dari sebuah bencana.


"Dimana kau kuliah dulu?"


Celetuk Niel. Sebuah pertanyaan singkat yang secara cepat membuat Luna membeku.


"Bagaimana dia bisa kuliah, SMA saja tidak lulus. Kau jangan asal bicara"


Will yang menyahut.


"Ini pertanyaan serius. Seperti apa kehidupan di panti asuhan?"


Tanya Ron dengan mimik serius yang dibuat-buat. Membuat pecah tawa di antara mereka. Mereka memang menggunakan nada bercanda, tetapi Luna tidak tahu bagaimana menanggapinya. Sedangkan Drey sudah merasakan rahangnya mengeras. Tidak suka istrinya dijadikan lelucon.


Sebenarnya semua ini memang disengaja. Will, Niel, Ron dan Mike memiliki pikiran yang sama dengan Mila. Bahwa Drey mungkin akan menikahi teman mereka ini. Jadi, mereka juga cukup terkejut dengan kabar pernikahan Drey. Mereka juga sulit menerima status Luna yang bisa masuk dalam kalangan mereka.


"Hentikan, kalian terlalu childish. Luna, tidak perlu diambil hati. Kami dulu biasa membuat lelucon semacam ini"


Mila yang akhirnya menengahi. Setelah itu Will dan Niel membuat gestur minta maaf yang juga kelihatan seperti sedang bercanda. Mila kemudian mengalihkan dengan topik yang lain untuk mengangkat mood yang hampir rusak.


Luna sungguh tidak ingin merusak pesta ini. Tidak ingin menambah masalah dengan kolega Drey dan membuat reputasi suaminya buruk. Begitupun dengan Drey. Dia juga tidak ingin merusak reuni ini dengan kemarahannya. Sebisa mungkin dia harus menahan diri. Dia tidak ingin Luna mendapat cap buruk karena dirinya lepas kendali.

__ADS_1


__ADS_2