Sugar

Sugar
Bittersweet (Asli)


__ADS_3

"cut!"



Suara yang kutunggu-tunggu itu akhirnya keluar juga. Setelah mendapat tanda "ok" dari sutradara, Aku langsung menghembuskan nafas lega. Sudah belasan Kali aku mengulang adegan ini.



Aku menatap Casey yang nampaknya tidak sesenang aku. Karena dia yang menyebabkan Syuting berjalan cukup lama. Seperti bukan Casey yang biasanya. Kelupaan dialog atau kesalahan kecil seperti tidak bisa mengeluarkan emosi dengan baik.



"Tidak perlu dipikirkan. Kita semua pernah melakukan kesalahan"



Ujarku mencoba memberinya semangat. Casey hanya tersenyum kecut. Mungkin merasa bersalah karena membua telah membuat semua orang termasuk aku bekerja lebih lama.



Casey sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku keburu dipanggil untuk pindah scene berikutnya.



Syuting selanjutnya tidak memakan waktu lama. Aku sudah pulang sebelum waktu makan malam. Dan Drey yang menjemputku. Hari ini kami akhirnya pulang ke rumah. Sebelum tagihanku Akan semakin membengkak Dan Daniel Makin marah.



Rasanya aku sudah rindu sekali dengan rumah. Padahal baru beberapa Hari ini meninggalkannya. Lagipula ini juga bukan rumahku. Aku hanya sekedar menumpang. Namun rasanya sudah seperti tempat nyamanku.



"Apa kau begitu senang bisa pulang kemari?"



Tanya Drey yang memperhatikan senyumanku tidak sedikitpun hilang dari wajahku.



Tentu saja aku senang. Aku bisa melihat Drey menyiapkan makan malam kami lagi.



"Tapi Kita tidak bisa sekamar lagi. Apa sebaiknya aku pindah ke kamarmu saja?"



Tanya Drey dengan senyumnya yang menyimpan banyak arti. Aku hanya memonyongkan bibirku. Bicara sembarangan. Aku tidak Akan please mengizinkannya.



Lagipula sebenarnya tidak Akan Ada yang terjadi meskipun kami tidur seranjang. Drey selalu bersikap seperti pria mesum, namun dia tidak pernah melakukan lebih dari sekedar menciumku. Itu juga bagian yang kusuka darinya. Semua ancaman nakalnya hanya candaan baginya.



Usai makan malam, aku berencana untuk Mandi lalu tidur. Tetapi saat aku membuka lemariku, semua piyamaku tidak Ada. Hanya tinggal pakaian pendek, seperti tank top Dan hot pants. Karena tinggal dengan Drey, aku selalu menjaga diri agar tidak berpenampilan terbuka. Tidak mungkin juga aku memakai semua pakaian pendek itu.



"Drey... Apa kau membuang semua piyamaku?"



Tuduhku. Aku berpikir jika Drey mungkin marah saat aku tinggal di hotel Dan membuang semua pakaianku.



"Memangnya aku pria jahat apa? Semua pakaianmu Ada di ruang laundry"



Jawab Drey tidak terima.



Aku segera ke ruang laundry, benar saja. Semua piyamaku bertumpuk di sana belum dicuci. Pakaian Kotor Drey juga masih menumpuk di Sana. Biasanya setiap akhir minggu aku Dan Drey Akan mencuci baju bersama, karena kami menggunakan ruang yang sama. Tetapi akhir minggu ini aku kabur ke hotel.



"Drey, ayo Kita ke swalayan. Aku tidak punya baju"



Rajukku. Pakaianku yang tersisa hanya yang berpotongan pendek atau pakaian untuk pergi ke luar. Tidak mungkin aku Akan memakainya untuk tidur.



Drey hanya menjawab dengan menyuruhku melihat jam dinding. Sudah hampir pukul sepuluh, pasti banyak toko telah tutup. Ribet juga bagi Drey untuk mengeluarkan Mobilnya Dan menyetir malam begini.



"Ayo...drey..."



Aku masih tidak menyerah membujuknya.



"Pakaianmu Kan banyak, tidak mungkin Kotor semua Kan?"



Drey juga masih kukuh menolak.



"Aku tidak mau memakainya"



Rajukku Tak sabar. Aku terus menarik-narik lengannya. Tidak peduli dia sedang berada dalam posisi nyaman menonton televisi.



Karena aku terus membujuknya, Drey akhirnya bangun juga. Dia langsung menarikku ke rumahnya. Tepatnya ke kamarnya.



Drey lalu mengeluarkan beberapa kaus miliknya. Serta celana panjang.



"Sementara pakai ini saja"



Ujar Drey memberikan solusi. Aku menatap ragu pada Drey. Sejujurnya aku tidak suka dengan ide itu. Pasti tidak nyaman mengenakan pakaian orang lain, apalagi milik pria yang tinggal serumah denganku.



Tetapi ekspresi Drey terlihat memaksa, sepertinya dia sangat- sangat benci harus mengantarku keluar. Jadi kuambil semua pakaian yang ditawarkan Drey.



Di luar dugaanku, ternyata nyaman sekali memakai pakaian Drey. Kausnya yang gombrong kebesaran adalah style-ku. Serta Ada aroma yang familiar mengingatkanku pada Drey. Aku hanya tidak bisa mengenakan celana Drey. Langsung melorot di kakiku saking besarnya. Terpaksa aku mengenakan celana pendek milikku. Tapi tidak masalah. Kaus Drey cukup besar untuk menutupi bagian atas pahaku.



"Bagaimana? Kebesaran atau tidak?"



Tanya Drey lewat pesan yang dikirimnya. Aku tahu Cara terbaik untuk menjawab pertanyaan Drey.



"Lihat di balkon"



Aku sudah berdiri di depan kaca balkon. Tak lama, Drey juga sudah membuka tirai balkon kamarnya. Aku bisa melihat ekspresi Drey menertawakanku.



"Besar sekali, aku tidak bisa melihat tubuhmu"



Jawab Drey lewat pesannya.



"Kau tidak pakai celana?"



Tanya Drey. Mungkin menyadari bahwa kakiku bisa dilihat dengan jelas.



"Dasar mesum! Celanamu terlalu longgar. sepertinya kau harus diet"



Ledekku lalu menambahkan emot menjulurkan lidah. Sambil mengangkat kausku sedikit, untuk memperlihatkan celana pendekku.



"Tapi kau suka badan kekarku"



Jawab Drey yang hanya membuatku tertawa. Dia tidak salah sih. Itu nilai plusnya di mataku.



"Ini nyaman sekali. Sepertinya aku Akan meminjam pakaianmu saja"



Candaku kemudian. Dan Drey memberikan tanda "ok" padaku dengan senyum lebar. Kami akhirnya mengakhiri obrolan itu.



*********************************


Sepertinya Drey suka sekali aku memakai kausnya. Sejak tadi dia memperhatikanku terus. Sambil tersenyum puas.



"Kau cocok sekali memakainya"


__ADS_1


Berkali-kali juga melontarkan pujian yang sama.



"Berhenti melihatku terus"



Protesku. Dia tidak sadar kalau tatapannya itu sudah mewarnai tubuhku dengan Rona merah.



"Jam berapa kau berangkat?"



Tanya Drey yang akhirnya mengalihkan pembicaraan juga.



"Nanti sore. Hari ini aku Syuting malam"



Drey langsung menunjukkan ekspresi Tak suka. Ini memang resiko memiliki pacar seorang aktris, jam kerjaku tidak tentu. Sudah biasa bermalam di lokasi Syuting. Namun seperti keterkejutan Drey saat melihat sendiri isi naskahku, banyak hal yang belum bisa diterimanya.



"Hm..apa kau takut aku kabur ke hotel lagi?"



Godaku. Mencoba memasang wajah seimut mungkin. Dan akhirnya Drey bisa tertawa.



"Kalau begitu aku yang menjemputmu"



Pinta Drey.



"Enak sekali Daniel. Dia Akan makan gaji buta"



Candaku, Dan Drey kembali tertawa. Setelah itu dia tidak lagi mempermasalahkannya. Pelan-pelan sepertinya aku mulai tahu cara menenangkan Drey. Sepertinya kami hanya perlu saling memahami kekhawatiran masing-masing.



"Selagi di rumah, jangan lupa mencuci semua pakaian ya.."



Candaku lagi, Kali ini Drey hanya memonyongkan bibirnya.



*********************************


"Kenapa kau kelihatan bahagia sekali?"



Tanya Daniel Tak simpatik. Dia ini selalu saja Ada yang dikomentari dari hidupku. Baik aku bahagia atau sedang marah, apalagi sedih. Aku yakin, kalau saja tidak menjadi manajerku, Daniel mungkin Akan menjadi host acara gosip.



Cara terbaik untuk membungkamnya adalah mengabaikannya. Semakin ditanggapi, Akan semakin banyak yang dia tanyakan.



"Apa aku mengganggumu?"



Tanya seseorang menyela Daniel.



"Tidak, silahkan bergabung saja"



Aku mempersilahkan Casey untuk bergabung dengan kami. Hari ini hatiku sedang senang, jadi tidak masalah aku bicara dengannya.



Daniel dengan kebiasaannya langsung ngacir saat Casey bergabung. Padahal tidak masalah untukku kami berbicara bersama. Aku Dan Casey hanya berteman sekarang.



Cukup lama Casey terdiam. Karena sepertinya dia tidak berinisiatif memulai percakapan, aku yang memulai.



"Apa Ada yang ingin kau bicarakan?"



Rasanya aneh sekali bagi kami berbicara seperti ini. Walaupun pernah bersama untuk waktu yang cukup lama, masih canggung juga bagi kami.




Akhirnya Casey mulai mengatakan maksudnya. Mungkin ini berkaitan dengan aktingnya yang sedang mengalami penurunan. Dulu Casey selalu membantuku dengan aktingku, jadi Kali ini aku ingin membalas kebaikannya. Aku bisa mendengarkan masalahnya.



"Apa Ada yang mengganggu pikiranmu?"



Casey bukannya menjawab malah menatapku untuk waktu yang lama. Membuatku heran.



"Kau"



Lalu tiba-tiba mengatakan itu. Aku tidak paham apa maksud Casey.



"Apa Ada yang salah denganku?"



"Bukan. maksudku, memikirkanmu telah membuatku tidak bisa fokus"



Aku Makin bingung dengan jawaban Casey. Maksudnya aku ini mengganggunya?"



Aku harusnya menghentikan pembicaraan ini sampai di sini. Karena yang kudengarkan selanjutnya bukanlah hal yang kuinginkan.



"Aku menyesal sudah memutuskanmu. Seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa cinta pertama adalah Hal yang tidak tergantikan. Aku masih mencintaimu sekarang"



Aku hanya bisa membeku mendengar pernyataan mendadak dari Casey. Ini seperti sudah terlambat sekali bagi kami membicarakan ini. Saat aku sudah bersama orang lain.



"Aku tahu kau sudah memiliki Drey sekarang. Tapi sungguh, aku menyadarinya terlambat. Aku baru tahu betapa penting dirimu bagiku"



Casey seperti tidak memberiku kesempatan untuk berpikir. Terus mencekokiku dengan perasaannya.



"Tidak bisakah kau memberiku kesempatan? Aku berjanji tidak Akan melukaimu lagi. Aku pasti Akan menjagamu kali ini"



Casey sudah menggenggam tanganku. Dan aku tahu dia tidak berbohong.



*********************************


Aku berusaha untuk mengabaikan kata-kata Casey. Tetapi aku tidak bisa menyingkirkannya dengan mudah dari pikiranku. Dan saat ini aku harus menghadapi Drey Yang sudah melambaikan tangannya dengan bahagia padaku.



Drey menepati janjinya menjemputku. Karena aku baru selesai saat waktu sudah hampir lewat dari pukul Dua dini hari. Melihat senyum Drey, aku justru merasa bersalah menerima pernyataan cinta Casey tadi. Dan tidak memberitahunya. Namun aku tidak mau membuat situasi Makin buruk. Jadi lebih baik aku bungkam.



"Luna...Luna..."



Panggil Drey mengembalikan kesadaranku.



"Huh? Ada apa?"



Tanyaku terkejut.



"Aku sudah memanggilmu sejak tadi. Ingin bertanya mengenai syutingmu. Apa kau lelah?"



Aku terlalu banyak memikirkan Casey. Sehingga tidak mendengar suara Drey.



"Mm...ya, mungkin aku sedang lelah"


__ADS_1


Jawabku berbohong.



"Maaf malah mengajakmu bicara. Kalau begitu tidurlah, aku Akan membangunkanku jika sudah sampai"



Ujar Drey sambil mengusap puncak kepalaku. Aku jadi makin merasa bersalah. Padahal aku sangat tidak suka pembohong. Ini justru aku membohonginya. Meskipun remeh, kebohonganku hanya akan menutupi kebohonganku lainnya.



Sekitar satu jam kemudian, aku akhirnya bisa menginjak lantai rumah. Rasanya tidak sabar untuk segera merebahkan tubuhku di kasur.  Saat Akan menaruh pakaian Kotor, aku baru menyadari jika Drey juga telah selesai mencuci semua pakaian kotor kami sebelumnya. Padahal aku hanya bercanda.



"Kau mencuci semua pakaian?"



Tanyaku takjub. Drey hanya menganggukkan kepalanya.



"Oh...kau memang yang terbaik"



Pujiku sambil memberikan Dua jempolku. Dan Drey bisa tersenyum bangga menerimanya.



"Mana hadiahku?"



Tagih Drey. Akhirnya aku memberikan kecupan di udara untuk menggodanya. Lalu tertawa besar. Bukan cuma Drey, aku juga bisa meledeknya.



"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku sudah mendapatkan hadiahku. Yang berenda, yang berwarna, atau yang polos. Sudah kupegang semuanya"



Tawaku otomatis berhenti mendengar kata-kata Drey. Jelas sekali yang dia maksud adalah celana dalamku. Aku lupa kalau itu Ada di antara pakaian kotorku.



"Lupakan...! Lupakan...!!"



Teriakku histeris sambil memukul Drey. Kali ini gantian dia yang tertawa keras.



"Ternyata seperti itu seleramu"



Godanya Makin menjadi. Wajahku semakin merah. Dasar pria mesum.



"Oh ya, aku juga menemukan ini di antara pakaian kotormu".



Drey sudah menyodorkan sebuah recorder tua yang langsung membuatku gugup. Langsung saja kuambil dari tangan Drey.



"Dimana kau membelinya? Kelihatannya sudah tua sekali. Sudah waktunya kau ganti"



"Aku sudah lupa. Sudah lama sekali"



Sekali lagi aku berbohong pada Drey. Recorder Ini adalah hadiah dari Casey.



*********************************


Aku cemas menunggu Syuting Hari ini. Yang Akan kuperagakan bukan adegan biasa. Aku harus berciuman dengan Luke, yang diperankan Casey.  Setelah apa yang terjadi kemarin, aku merasa suasana di sekitarku dan Casey jadi aneh.



Aku belum memberi jawaban pada Casey, yang lebih penting lagi aku belum menentukan perasaanku. Siapa yang sebenarnya kucintai. Drey atau Casey.



Syuting akhirnya dimulai. Adegan awal adalah dansa di pesta. Tentu saja Casey memegangku. Tanpa ada jarak di antara kami. Aku bisa menatap bebas Mata coklatnya yang dulu kukagumi.



Di dalam adegan ini, aku harus berakting gugup, serta Kaku. Karena ini adalah pertama kalinya wanita yang kuperankan bisa bersentuhan dengan karakter yang diperankan Casey. Tetapi Sepertinya, aku gugup betulan. Jantungku berdetak begitu  cepat dalam rengkuhan Casey.



Menjadi cinta pertama seseorang. Dicintai hingga Tak bisa dilupakan, wanita yang Mana yang tidak tersentuh. Apalagi itu adalah pria yang pernah kucintai. Harapanku saat kami baru berpisah dulu rasanya menjadi kenyataan. Bahwa aku berharap Casey masih memiliki perasaan padaku.



Tibalah kami pada adegan utama. Di Mana kami harus berciuman. Jantungku berdetak Makin kencang. Apakah pada akhirnya Casey yang Akan memenangkan hatiku kembali?



Nyatanya tidak.



Kupikir aku Akan merasakan semacam perasaan bahagia atau gugup saat Casey menciumku. Biasanya selalu begitu. Namun dengan sangat kejam, hatiku malah merasakan ini sebagai sesuatu yang biasa. Bahkan otakku justru memikirkan Drey. Bayangan pria itu yang muncul dalam benakku.



Saat itulah aku tahu bahwa perasaanku pada Casey telah berakhir.



*********************************


"Cepat gendong aku! Kau Kan kalah"



Pintaku tidak sabar.



"Tidak mau. Kau curang. Harusnya aku yang menang. Kau yang harus menggendongku"



Tolak Drey tidak terima. Kami baru Saja melakukan balapan saat jogging pagi ini. Yang kalah harus menggendong yang menang. Aku sengaja mencuri start agar menang, Dan Drey, seorang atlet yang menjunjung sportifitas tidak terima.



"Aku tidak curang. Kau saja yang lambat. Mungkin ototmu itu terlalu berat"



Ejekku. Drey hanya melengos, pura-pura tidak dengar.



"Ayoo... Drey..."



Aku terus merajuk. Akhirnya Drey mengalah dan menggendongku. Aku sudah lelah harus melanjutkan sisa jalur jogging ini.



Drey hanya diam saat menggendongku. Mungkin masih kesal. Memperhatikannya dari belakang, membuatku merasakan sebuah rasa yang aneh. Mendesak dari hatiku. Wangi parfumnya yang biasa menggelitik hidungku, terasa semakin kuat menggoda. Bahunya yang lebar merayuku untuk bergelayut manja, dan rambut pendeknya yang mempertegas keseksian tengkuknya. Semua seolah mengatakan padaku bahwa aku harus memilikinya.



"Aku bohong soal recorder, aku tidak membelinya sendiri. Itu hadiah dari Casey. Maafkan aku..."



Aku membuat pengakuan pada Drey.



"Aku hendak membuangnya, tenang saja"



Sebelum Drey salah paham, aku lebih dulu memberi penjelasan.



"Kau benar-benar tidak tahu malu. Tapi karena kau berani jujur, aku memaafkanmu. Awas saja kalau kau mengulanginya"



Aku terkikik geli mendengar jawaban Drey. Aku tahu dia tidak marah Dan dengan cool menerima pengakuanku.



Aku mempererat dekapan lenganku yang mengitari lehernya. Lalu mencium lembut lehernya. Aku bisa merasakan keterkejutan Drey. Otot lehernya menegang. Aku jadi semakin ingin menggodanya. Kembali, aku mencium lehernya.



“Sugar...”



Panggil Drey setelah menyadari bahwa aku tidak segera berhenti. Aku menahannya untuk menoleh ke arahku. Mungkin saja wajahku saat ini sedang memerah.



“terima kasih, untuk semuanya”



Bisikku. Drey mengalah dan batal mengintipku. Dia melanjutkan langkah kakinya dengan tawa kecil. Hanya sedikit memberi tanggapan dengan memperkencang dekapan tangannya yang sedang mengangkat kakiku.



Aku memutuskan tinggal dengan Drey. Meski harus menerima segala keburukan Dan ketidakcocokan kami. Mungkin Akan Ada pertengkaran baru nantinya. Aku lebih siap menghadapinya daripada kehilangan Drey. Bagiku, dia telah mengajarkan Rasa dalam hubungan yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2