Sugar

Sugar
The Place Where I Saw You


__ADS_3

Luna merasakan kepalanya berdenyut kencang saat terbangun pagi ini. Sambil setengah merangkak, dia pergi ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya langsung lemas. Luna merasakan pengalaman tidak menyenangkannya atas alkohol yang dikonsumsinya kemarin. Usai mencuci muka dan membenahi dirinya, Luna keluar. Dia tidak ingin terlihat berantakan di depan Drey.


Namun Luna baru sadar jika kamar telah kosong. Dia juga baru sadar bahwa kini telah berada di kamar hotel yang berbeda dari sebelumnya. Ada banyak hal terlupakan dari saat ia mabuk semalam. Semalam? Tiba-tiba rasa merinding menjalari tubuh Luna. Dia tidak ingat apa yang sudah dilakukannya saat mabuk. Tetapi rasanya ada firasat tidak enak di hatinya. Dia juga akhirnya melihat pakaiannya telah berganti. Dress yang dipakai kemarin berubah menjadi kemeja putih kebesaran yang dari aromanya, bisa ditebak kalau kemeja ini milik Drey.


"Apa yang terjadi? Siapa yang mengganti pakaianku?"


pertanyaan-pertanyaan semacam itu langsung memenuhi kepala Luna.


Rasa pening di kepala Luna makin bertambah. Dia akhirnya memilih kembali naik ke tempat tidur. Setidaknya Drey tidak sedang di kamar ini. Dia bisa menanyakannya nanti setelah kesadarannya kembali.


Baru saja Luna berpikir begitu, suara familiar itu menyapanya.


"Apa tidurmu nyenyak?"


Secara otomatis Luna langsung terduduk. Kesadarannya seketika kembali secara penuh. Dia melihat Drey yang berdiri sambil berkacak pinggang di samping tempat tidur. Sepertinya dia baru saja jogging. Yang membuat Luna merasa tidak nyaman adalah senyum sinis di bibir Drey.


"Ya..begitulah"


Jawab Luna canggung. Dia makin yakin bahwa telah terjadi sesuatu semalam. Tetapi sepertinya Drey tidak berniat memberitahunya. Pria itu masih menatapnya dengan pandangan menelanjangi.


"Apa terjadi sesuatu semalam?"


Luna memberanikan diri untuk bertanya.


"Wah...jadi kau tidak ingat?"


Tanya Drey balik dengan ekspresi tidak percaya. Luna hanya mengangguk.


Dengan ekspresi sangat kesal, akhirnya Drey menarik kerah kaos nya untuk memperlihatkan bahunya. Luna hanya bisa melongo. Ada bekas gigitan di sana, yang walaupun tidak terlalu terlihat, menyisakan bekas lebam kebiruan. Drey juga memperlihatkan satu lagi tanda lain yang sama di lengannya. Seketika ingatan tentang kejadian semalam seperti terputar otomatis di kepala Luna. Tentang kegilaannya.


* Flashback On *


Luna mengalungkan tangannya ke leher Drey sambil menghirup dalam-dalam aromanya. Dia bisa merasakan aroma parfum Drey yang bercampur dengan aroma wine. Terasa manis. Berbeda dengan rasa pahit yang memenuhi mulutnya. Luna jadi menginginkan rasa manis itu. Dia memberikan kecupan-kecupan ringan di sana. Tetapi dia tetap tidak mendapatkan rasa manis itu. Sementara Drey melingkarkan lengannya di pinggang Luna dan menariknya ke dalam pelukan Drey. Lalu Drey berbisik padanya.


"Apa kau ingin menggodaku, huh?"


Setelah menerima bisikan itu, Luna merasa makin gemas. Drey sedang merasa tergoda olehnya. Dan bayangan betapa manis serta lezatnya aroma Drey benar-benar membuatnya kecanduan. Dia ingin mencicipinya. Mengambil rasa manis pria arogan itu untuk menghapus rasa pahit di lidahnya. Karena itu dia menggigit leher Drey. Cukup keras hingga membuat Drey berteriak. Luna cukup kecewa saat Drey berusaha melepaskan pelukan dan gigitannya. Lalu mendorongnya menjauh. Sehingga dia pun ganti menggigit lengan Drey, membuat pria itu kewalahan.


Luna ingat Drey mencubit pipinya dengan cukup keras untuk menghentikan tindakannya. Setelah merasakan sakit, Luna kemudian kehilangan kesadaran.


* Flashback On *


Wajah Luna langsung merah padam karena malu setelah mengingat semua itu. Karena belum pernah mabuk sebelumnya, dia juga tidak tahu akan punya kebiasaan buruk seperti itu.


"Maafkan aku... aku..aku benar-benar tidak sengaja. Apa perlu kuambilkan obat?"


"Tidak perlu. Kau.. setelah ini jangan pernah mabuk lagi"


Jawab Drey masih kesal. Luna mengangguk paham. Tanpa perlu diingatkan begitu, Luna juga tidak berniat untuk mabuk lagi.


******


Sepanjang pagi itu, Drey mendiamkan Luna. Membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Bahkan ketika Luna bertanya, dia hanya menjawabnya dengan tatapan sebal. Dan Drey memang sedang kesal. Sebagai pria normal, dia telah berharap banyak semalam. Dia berpikir Luna sedang menggodanya. Memeluknya, mengecupnya, bergelayut manja. Ketika gairahnya telah sampai di puncak, gadis itu malah menggigitnya.


Rasanya hati Drey lebih sakit ketimbang bekas gigitan di tubuhnya. Harga dirinya cukup terluka. Dia sampai ingin membalas Luna dengan memperkosanya setelah sampai di hotel. Namun, saat melihat wajah pulas gadis itu, Drey bahkan tidak bisa menyentuhnya. Dia akhirnya meminta staff wanita hotel untuk membantu Luna ganti pakaian. Hasilnya, dia harus mandi air dingin dan jogging pagi ini untuk menyalurkan hasratnya yang tak terpenuhi.


Luna menyadari jika mood Drey sedang begitu buruk. Drey yang baik dan bersahabat kemarin telah hilang ditelan bumi. Sementara Drey yang dingin dan pemarah kembali. Itu semua karena salahnya. Luna tidak tahu harus melakukan apa. Permintaan maafnya ditanggapi dingin, setiap pertanyaannya ditolak. Hanya tatapan kesal yang diterimanya setiap kali mengajak Drey bicara.

__ADS_1


Keadaan makin buruk saat Drey menerima kabar bahwa ada masalah dengan mobil yang disewanya. Sedangkan mobil pengganti harus didatangkan dari Fira juga terjebak macet karena ada kecelakaan di jalan. Mobil mungkin baru tersedia lewat tengah hari. Padahal Drey sudah merencanakan perjalanan, apalagi dengan suasana hatinya sedang buruk. Luna bisa mendengar teriakan Drey penuh amarah di seluruh kamar. Untung tempat ini kedap suara.


Luna tidak ingin menghabiskan hari ini dengan Drey yang pemarah. Sehingga dia mulai mencari apa yang harus dilakukannya.


"Kita bisa menyewa scooter, sepertinya di sini cukup banyak yang menggunakannya"


Luna mencoba mengajukan idenya.


"Are you out of your mind?! Setelah menggigitku, kau ingin aku berkeliaran di jalanan sana dengan debu dan sengatan matahari?"


Sebuah tanggapan yang sudah diduga oleh Luna sebelumnya. Mahluk semacam Drey pasti akan langsung menolak ide semacam itu. Tetapi kali ini Luna tidak mau menyerah. Dia harus bisa menang setidaknya sekali.


"Aku janji kau akan menikmatinya nanti. Menikmati alam secara langsung tidaklah seburuk itu. Angin yang berhembus langsung di kulit kita, pemandangan yang bisa dinikmati perlahan. Dan, bukankah itu tujuan dari berlibur? Untuk menikmati sengatan matahari"


"Kalau kubilang tidak, ya tidak!"


Drey kembali ke mode "tidak bisa dibantahnya". Tidak pernah ada yang berani menolak keputusannya. Dia sudah siap mengeluarkan amarahnya lagi menghadapi sikap keras kepala Luna.


"Ayolah, setidaknya biarkan aku menunjukkan rasa maafku. Aku janji ini akan menyenangkan. Ayo kita buat kenangan di sini"


Drey benar-benar dibuat terheran. Ini pertama kalinya Luna merajuk padanya. Terlihat menggemaskan buatnya. Namun tetap saja dia enggan memenuhi permintaan itu.


"Aku tidak pernah mengendarai scooter sebelumnya"


"Aku yang akan menyetir. Aku punya SIM"


"Jalanan di sini banyak yang terjal dan berbahaya"


"Kita hanya perlu berkendara di sekitar pemukiman atau di jalan yang aman. Tenang saja, aku bisa membaca peta"


"Ini bukan gurun yang tidak ada tempat berteduh. Ada banyak hotel dan cafe, kita bisa berteduh di salah satunya"


"Kau..."


Drey benar-benar kalah dalam adu argumen itu. Dia kehabisan alasan untuk membantah. Di saat seperti ini kenapa Luna bisa begitu pintar menjawab semua perkataannya. Gadis ini sungguh berbakat dalam membuatnya marah.


*******


Drey benar-benar tidak memahami perilakunya sekarang ini. Dia tidak pernah membiarkan seorangpun mempengaruhinya. Semua harus berjalan sesuai dengan keinginannya. Tetapi kali ini dia sedang duduk di atas scooter, berpegangan pada gadis mungil yang tak henti tertawa kecil. Membiarkan tubuhnya tersengat matahari dan debu. Drey telah kehilangan akal sehatnya dan menuruti ide gila Luna.


"Ini panas sekali"


"Aku sudah lelah, tidak ada sandaran untuk punggungku"


"Jalannya terlalu tidak nyaman. Apa kau tidak bisa menyetir dengan benar?"


"Harusnya tadi kita menyewa ATV"


Hanya keluhan dan omelan itu yang terus dikeluarkan oleh Drey selama 10 menit duduk di belakang Luna. Perjalanan ini sama sekali tidak menyenangkan seperti yang dikatakan Luna tadi. Tetapi Luna seperti sudah menebalkan telinganya. Dia menerima semua keluhan Drey tanpa menjawabnya. Ini baru sebentar dan Drey sudah banyak komplain.


"Untuk apa kau membeli itu? kita bisa memesan dari hotel"


Protes Drey saat Luna berhenti di toko roti. Drey tidak suka membeli makanan di toko pinggir jalan. Lagipula dia sudah memastikan bahwa hotel dapat menyediakan roti terbaik di Santorini.


"Kita akan kelaparan di jalan nanti"


Jawab Luna. Drey hanya bisa mendengus kesal.

__ADS_1


******


Luna dan Drey kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Luna benar-benar membungkam Drey. Setelah dari toko roti tadi, mereka masuk ke jalan utama Oia. Luna langsung memacu scooter nya kencang. Hingga Drey yang tidak terbiasa berkendara dengan roda dua sontak memeluk pinggang kecil Luna.


Berbeda dengan jalur dari hotel, di jalan utama pemandangan indah langsung terhampar. Bangunan-bangunan yang didominasi warna putih, bukit-bukit, dan juga laut yang terbentang di sepanjang mata memandang. Drey cukup takjub. Dia pernah menikmati semua pemandangan itu dari balik kaca mobil sebelumnya. Dan tidak terlihat sama dengan sekarang. Drey bisa merasakan bahwa dia benar-benar ada di sana. Merasakan angin dan udara Oia secara nyata. Tanpa sadar, dia mulai menikmatinya seperti yang dikatakan Luna.


"Wooo..hooo.."


Teriak Drey senang. Dia sudah mendapatkan jargon barunya menggantikan semua keluhannya tadi.


Luna membawa Drey ke Ammoudi Bay, pantai terdekat dari Oia. Karena Drey tidak suka pergi ke pantai, mereka hanya melihat sebentar dari atas. Ada banyak ferry terlihat dari sana. Warna air lautnya juga biru kehijauan. Sangat menggoda untuk turun ke sana dan berenang ke dalamnya. Mungkin itu yang akan Luna lakukan kalau tidak bersama Drey. Apalagi ada tempat makan seafood yang terkenal di sana.


Tur Luna berlanjut. Dia berputar dan membawa scooter-nya menuju pantai lainnya. Jalan berikutnya jauh lebih sulit. Jalanan berkelok dengan beberapa belokan tajam dan menurun. Membuat Drey mulai merasa tidak nyaman. Karena Luna masih berkendara dengan santai dan tidak terlalu banyak menurunkan kecepatan.


"Apa kau yakin bisa melewati jalanan ini? Pelan-pelan lah sedikit"


Protes Drey. Dia mungkin tidak masalah kalau mereka sedang naik mobil. Dengan naik scooter, perubahan gerakan tubuh saat berbelok sangat terasa sekali buatnya. Dia selalu berpikir bahwa mereka mungkin akan jatuh.


"Tentu saja, jangan khawatir. Aku pernah menjadi pengantar pizza, kecepatan semacam ini tidak ada apa-apanya buatku"


Jawab Luna penuh percaya diri.


"Awas saja kalau terjadi apa-apa. Aku pasti akan menuntutmu"


Ancam Drey yang hanya dijawab tawa oleh Luna. Drey merasa benar-benar ada yang salah padanya. Dalam situasi normal, dia pasti sudah berteriak, memaki, bahkan memukul orang yang mencoba mempengaruhinya. Namun dia tidak bisa melakukan itu pada Luna. Lagipula Drey memang menikmati perjalanan ini. Untuk sesaat dia lupa mengenai siapa dirinya, siapa Luna, atau semua masalahnya di New York. Drey merasa bebas.


Setelah satu jam lebih perjalanan, mereka akhirnya sampai di Red Beach. Seperti sebelumnya, mereka hanya bisa menikmati pemandangan dari kejauhan. Pantai, batuan, hingga lereng pantai itu yang semua terlihat merah hanya bisa diamati oleh Luna. Meskipun begitu dia lega, senyuman Drey sudah kembali.


Luna membuat acara piknik dadakan dengan roti yang tadi dibelinya. Dia benar tentang ini. bahwa mereka akan merasa lapar. Meski tadi menolak, Drey memakan roti-roti itu dengan lahap. Dia juga tidak protes meski harus duduk di pinggir jalan.


"Menyenangkan bukan?"


Tanya Luna menangkap basah ekspresi gembira di wajah Drey. Hingga pria itu hampir saja tersedak rotinya. Dia teringat pada penolakan kerasnya tadi, dan merasa malu akan hal itu.


"Yah..tidak buruk juga"


Luna terkikik mendengar jawaban penuh gengsi Drey. Hari ini gadis itu banyak tertawa.


"Ini adalah ucapan terima kasihku sudah mengajariku mengenai wine. Sekaligus permintaan maaf atas tindakan gilaku setelahnya. Seperti kau yang mengajakku melihat duniamu, aku juga ingin memperlihatkan padamu seperti apa duniaku"


Kali ini gantian Drey yang tertawa mendengar pengakuan Luna. Bayangan Luna yang menjadi ganas saat mabuk berputar ulang di otaknya. Bukan lagi membuatnya marah, malah berubah menjadi komedi baginya.


"Jadi, apa yang dimiliki duniamu dibandingkan dengan milikku?"


Tanya Drey penasaran.


"Humm...hanya hal-hal kecil dan sederhana. Aku tidak punya uang untuk membawamu pergi ke restoran mahal, atau untuk membelikanmu barang mewah, tapi aku masih bisa membuatmu tertawa. Padahal hanya membawamu berkendara dan makan roti di pinggir jalan. Jadi, mungkin duniaku tidak sebanding dengan milikmu. Tetapi tidak terlalu buruk juga kan?"


Jawaban jujur Luna membuat Drey tercekat. Selama ini, dia sering sekali berpikir betapa menyedihkan dan lusuh kehidupan gadis itu. Dan sekarang dia justru menikmatinya.


"Lagipula di sini juga tidak ada yang mengenalimu. Bukankah itu berlebihan untuk selalu pergi dengan mobil mewah dan dikelilingi banyak penjaga?"


Komentar Luna sedikit mengejek. Membuat Drey langsung mencubit pipinya hingga Luna kesakitan. Ini sama buruknya dengan saat dia menggigit Drey semalam.


"Kau benar-benar banyak bicara"


Tawa akhirnya pecah di antara mereka. Meski sedikit kesal, Drey sebenarnya cukup menantikan kejutan lain yang mungkin dilakukan oleh istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2