
"Kau baru pulang?"
Begitu mendengar suara pintu dibuka, aku langsung menyambut Luna ke depan.
"Ya"
Jawab Luna singkat. Lalu segera mendahuluiku pergi ke dapur. Suara Luna nampak lelah.
"Ingin kubuatkan sesuatu yang hangat?"
Tawarku saat memperhatikan Luna yang mengambil minuman dingin di kulkas. Luna hanya menggeleng, sebelum kemudian duduk di meja makan. Menandakan bahwa dia ingin ngobrol denganku.
Aku menunggu Luna bicara. Biasanya ia tak suka membicarakan pekerjaan, tetapi hanya topik itu yang terpikir olehku sekarang. Membicarakan pekerjaanku mungkin akan membuatnya makin bosan. Namun Luna masih diam.
"Bagaimana berat badanmu?"
Akhirnya aku melemparkan pertanyaan lain. Setelah pulang dari liburan, dia begitu panik akan hal itu. Belum lagi Daniel sempat mengomelinya.
"Sudah turun sedikit. Untungnya tidak ada yang tahu tentang hal itu"
Kali ini akhirnya aku bisa melihat Luna tersenyum. Ekspresinya sudah berubah lebih santai.
"Drey..."
Sepertinya Luna sudah siap menyampaikan sesuatu. Aku segera menajamkan telingaku.
"Syutingku akan segera selesai. Artinya, sebentar lagi aku akan kembali ke LA"
Bukan hal yang seharusnya menjadi kejutan untuk kami. Aku pun sudah tahu. Luna tinggal di sini karena pekerjaan. Begitu pekerjaannya berakhir, sudah pasti dia akan pulang.
Pulang?
Rasanya aku tidak suka memikirkan Luna memiliki tempat untuk pulang selain di sini. Aku berharap tempat ini adalah rumahnya juga.
"Berapa lama lagi?"
"Mungkin kurang dari dua minggu"
Rasanya hatiku seperti dicubit. Secepat itu? Hari akan berganti dengan sangat cepat. Dua minggu akan berlalu tanpa terasa.
Jika bisa, aku akan meminta Luna tetap tinggal di sini. Tidak masalah dia menetap di London meskipun bukan karena pekerjaan. Namun tidak ada alasan tepat untuk menahannya yang terpikir olehku. Sementara karir dan pekerjaan Luna ada di Amerika sana.
"Kita bicarakan lagi nanti. Sebaiknya kau istirahat dulu"
Aku mengakhiri pembicaraan. Sepertinya ini bukan saat yang tepat membicarakan hal ini. Ekspresi Luna nampak murung dan lelah. Aku pun belum bisa memikirkan apapun mengenai hal ini.
******
Akhirnya aku mengikat tali sepatu dengan sebal. Rasanya sial sekali. Di saat waktu yang bisa kuhabiskan dengan Luna tidak banyak, justru jadwal pertandingan semakin padat.
"Kau tampak seperti orang yang sedang memiliki masalah"
Tanya Joaquim, rekan setimku. Tumben sekali dia mengajakku bicara. Biasanya sebelum latihan, dia lebih sibuk mendengarkan musik di pojok ruang ganti.
"Sepertinya sebentar lagi aku harus menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarku"
Tanpa sadar aku sudah bercerita. Joaquim setidaknya adalah teman yang bisa dipercaya.
"Oh ya, pacarmu aktris Hollywood ya"
Aku mengangguk setuju dengan pernyataan Joaquim.
"Menurutmu apa yang harus kulakukan?"
Tanyaku tanpa basa basi.
"Hm.. tidak ada yang bisa kau lakukan jika menyangkut pekerjaan. Kecuali ia setuju meninggalkan semua kegiatannya di sana dan pindah secara permanen kemari. Setidaknya buatlah kenangan indah sebelum dia pulang"
"Seperti apa?"
"Liburan, makan malam, atau.. oh ya! Aku tahu hotel bagus yang menjaga privasi tamu dari kalangan selebriti dengan tepat. Kalian bisa menghabiskan malam ber--"
"Baiklah, terima kasih sarannya"
Aku sudah tahu kemana arah Saran Joaquim jadi aku memotongnya sebelum selesai. Sudah jelas aku dan Luna tidak akan melakukannya.
"Baiklah hubungi aku jika kau ingin membuat reservasi di sana"
Ujar Joaquim masih kukuh dengan sarannya.
"Di luar sedang hujan, jadi hari ini kalian bisa melakukan pemanasan di dalam"
Suara asisten pelatih menghentikan obrolan kami.
******
"Membuat kenangan ya?"
Gumamku saat mengingat saran Joaquim. Memang benar, setidaknya kami harus memanfaatkan waktu tersisa untuk dihabiskan bersama. Setelah Luna kembali ke Amerika, mungkin 2 bulan lagi aku baru bisa mengunjunginya, setelah kompetisi sepak bola berakhir. Hanya untuk bertemu satu atau dua hari saja.
Namun tidak terpikirkan olehku harus melakukan apa di sisa 2 minggu ini. Luna tidak seperti kebanyakan wanita yang pernah kutemui. Dia tidak tertarik dengan barang mahal, ataupun kegiatan intim. Bepergian jauh untuk berlibur juga mustahil. Lusa aku akan pergi ke Portugal untuk menjalani pertandingan di sana. Karena terlalu lama berpikir, tanpa sadar ternyata mobilku sudah sampai di depan rumah.
Hujan masih turun membuat pakaianku sedikit basah saat masuk dalam rumah. Ini mungkin akan cepat kering jadi aku memutuskan tidak ganti. Rencanaku adalah rebahan sambil browsing di smartphone setelah ini. Namun aku lebih dulu memeriksa ke rumah Luna. Dia mungkin pulang terlambat jadi aku harus menyalakan lampu rumahnya.
__ADS_1
Perkiraanku salah. Luna sudah di rumah, karena kompor sedang menyala dengan teko di atasnya.
"Kau kehujanan?"
Suara familiar itu menyapaku, saat aku menoleh, Luna masih mengenakan handuk yang mengalung di lehernya. Tanda bahwa dia baru saja mandi.
Tanpa menunggu jawabanku, Luna menggunakan handuknya untuk mengusap rambutku. Walaupun tangannya tidak sampai dan dia harus berjinjit melakukannya.
Bisakah aku berjauhan dengannya?
Wajahnya, suaranya, sikap penuh perhatiannya, aromanya. Rasanya sulit bagiku membayangkan untuk kehilangan semua itu.
"Duduklah, akan kubuatkan minuman hangat"
Ujar Luna menyela lamunanku.
Sejurus kemudian, tubuh kurusnya sudah sibuk mengangkat teko dan menyeduh minuman. Aku ingin lebih lama memperhatikan pemandangan itu, tetapi mataku teralihkan oleh tas dan beberapa barang Luna yang masih ditumpuk di meja. Tanganku usil mengambil sebuah amplop yang menjadi salah satu barang di sana.
Jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu. Setelah melihat isi amplop. Tiket penerbangan London- Los Angeles yang dijadwalkan sekitar sepuluh hari lagi. Jadi, Luna benar-benar akan pergi?
Suara cangkir yang diletakkan di meja mengejutkanku. Luna sudah selesai.
"Kau sudah melihatnya?"
Tanya Luna terkejut saat melihat tanganku menggenggam tiketnya.
"Kau sudah membelinya"
Ujarku canggung. Buru-buru aku memasukkan tiket itu kembali ke amplopnya. Rasanya tidak nyaman saat mengetahui Luna sudah siap untuk pergi.
"Daniel yang membelikannya! Padahal sudah kukatakan bahwa aku akan memesannya sendiri setelah syuting benar-benar selesai. Aku juga masih ingin beristirahat sejenak di sini. Tapi dia bilang mumpung harga tiketnya lebih murah. Dia memang pintar sekali mencari alasan"
Di luar dugaanku, Luna ternyata menggerutu sebal. Ah... Memang sudah kepribadian Daniel melakukan hal semacam ini.
"Apa rencanamu setelah kembali ke sana?"
"Aku juga belum tahu. Karena menikmati pekerjaan di sini, tidak terpikir olehku mengenai pekerjaan apa yang akan ku ambil di sana. Apakah bermain film lagi atau datang ke acara talk show. Pasti Daniel juga sudah menyiapkannya"
Mendadak kami berdua diam setelah Luna menjawab pertanyaanku. Mungkin sama-sama tidak tahu apa yang harus dikatakan. Juga karena sama-sama murung dengan situasi ini.
Aku jadi teringat saran Joaquim tadi.
"Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu?"
"Sesuatu apa?"
"Seperti pergi makan malam, jalan-jalan atau pergi kemana..."
Merasa bahwa ucapanku terasa abstrak, aku segera mengambil ponsel dan membuka laman pencari. Mencari beberapa nama tempat terkenal di London ini.
Aku segera menunjukkan gambar-gambar itu pada Luna.
"Misalnya kesini, atau mencoba makanan di sini"
Luna memperhatikan seksama foto-foto itu. Dari sekian banyak, pasti ada tempat yang ingin didatanginya. Setelah beberapa lama, Luna tersenyum. Sepertinya bukan sebuah senyuman yang muncul setelah menemukan sesuatu.
"Kita bisa merencanakan untuk datang ke semua tempat itu, tetapi karena pekerjaan yang padat mungkin kita akan pergi dengan tergesa-gesa. Atau mungkin sampai di sana kita sudah lelah"
Secara tersirat, Luna menyatakan penolakannya.
"Lalu bagaimana? Setidaknya kita harus memanfaatkan waktu dengan baik sebelum terpisah selama berbulan-bulan"
Lagi-lagi Luna hanya tersenyum menanggapi suaraku yang mulai meninggi.
"Justru karena waktunya sedikit, kita lakukan saja hal mudah"
"Contohnya?"
Luna tidak langsung menjawab. Dia beranjak dari kursinya lalu duduk di pangkuanku. Luna melingkarkan lengannya di leherku untuk memeluk.
"Contohnya seperti ini. Menikmati waktu ngobrol berdua di rumah. Tanpa ada siapapun yang mengganggu. Bagiku sudah cukup menyenangkan"
Luna menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku, membuatku merasa ada kelegaan di sana.
"Hal paling berkesan adalah saat kau mengajakku keluar waktu itu. Membawaku mencicipi menu di cafe terkenal, berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri jalan London, lalu berhenti sebentar melihat pertunjukan musik. Kau membuatku merasakan rasanya menjadi pasangan normal seperti lainnya. Jika ada yang kuinginkan, mungkin melakukan hal seperti itu lagi"
Hatiku berdesir saat Luna mengatakan semua itu. Betul juga. Makan malam di restoran mahal justru membuat kami terpisah dengan jarak sebesar meja. Pergi ke tempat populer justru akan membuat kami sibuk dengan kamera yang diarahkan pada kami. Tempat terbaik adalah rumah ini. Di mana kami bisa bersantai, hanya berdua.
"Mungkin kita bisa memulainya sekarang!"
Tahu-tahu Luna sudah menarik tanganku.
******
Rasanya angin dingin langsung menyambutku begitu aku membuka pintu. Apa Luna serius dengan rencananya? Aku memeriksa langit penuh keraguan. Masih gelap seperti sebelumnya, dengan gerimis yang entah kapan berencana untuk reda.
"Sudah siap?"
Tentu saja Luna serius. Dia menyusulku keluar dengan payung di tangan. Setelah membukanya, dia langsung menggandeng lenganku.
Di bawah rintikan hujan, kami berjalan menyusuri jalanan yang biasa kami lewati saat jogging. Luna merapatkan tubuhnya dengan masih bergelayut manja di lenganku. Terasa aneh, karena hanya dengan hal sederhana ini aku bisa merasa senang.
Tidak ada pertokoan berjajar yang indah, atau taman dengan bunganya yang berwarna warni bisa kami jumpai di jalan ini. Hanya rumah besar yang pagarnya tertutup rapat. Juga hanya pepohonan besar yang berderet di sepanjang jalan. Sepatu bot kami juga dengan cepat basah terkena genangan air. Namun rasanya, kami menemukan kedamaian di sini. Untuk sejenak menikmati pemandangan tanpa khawatir ada kamera terarah pada kami.
__ADS_1
"Kelihatannya semua rumah di sini besar dan mahal. Kita mungkin bisa jadi orang kaya jika berinvestasi di sini"
Celetuk Luna saat memperhatikan seluruh rumah di sepanjang jalan. Aku sangat suka ketika dia mulai bicara ngaco seperti ini. Aku bisa sejenak lupa dengan siapa kami sebenarnya.
"Kalau begitu berhenti saja jadi artis. Belilah rumah atau tanah di sini untuk disewakan. Kau pasti bisa kaya"
Luna tertawa mendengar saranku. Ada untungnya jika dia setuju dan batal kembali ke Amerika.
"Tidak perlu. Aku sudah berinvestasi dengan memacarimu. Kau kan punya dua rumah di sini"
Gurau Luna sambil terkekeh.
"Jadi kau akan meninggalkanku jika aku menjual semua asetku di sini?"
Luna segera melepas tangannya dari lenganku. Lalu ganti melingkarkannya di pinggangku.
"Tentu saja tidak. Kalau kau tidak punya rumah kau bisa numpang di apartemenku"
Jawab Luna dengan senyumnya yang lebar.
"Orang-orang pasti akan mengatakan jika kita tinggal serumah"
Godaku.
"Aku akan bilang bahwa aku menyewakan separuh apartemen untukmu"
Jawab Luna tak mau kalah.
Kali ini gantian aku meraih bahunya. Lalu merapatkan tubuh ramping itu dalam pelukanku. Terasa makin hangat walau udara dingin menghempas kami.
"Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk pensiun dini"
Candaku.
******
"Ternyata ada sungai di sini"
Mata Luna terbelalak memperhatikan aliran sungai dari balik terali pembatas. Kami belum pernah berjalan sejauh ini, jadi Luna tidak tahu kalau sungai Thames yang terkenal itu melewati belakang tempat kami bermukim. Hanya terpisah beberapa blok.
Tepat di seberang sungai adalah taman kota. Sehingga pemandangan di sana benar-benar bagus. Pantas jika Luna terlihat bersemangat. Apalagi hujan telah reda selama perjalanan kami. Dan bau tanah yang basah membuat suasana menjadi sejuk.
"Aku bisa tinggal berjam-jam di sini"
Ujar Luna, sekali lagi menunjukkan kekagumannya.
"Bukan berjam-jam, kau bisa datang kemari setiap hari jika menetap di sini"
Aku masih tak menyerah membujuknya. Kali ini Luna menatapku dengan sedikit melotot.
"Kenapa sepertinya kau tidak suka sekali jika aku kembali? Kau takut aku selingkuh di sana?"
Aku segera mendekap tubuh Luna hingga ia meringis karena sesak.
"Kau tidak khawatir kalau aku yang mencari wanita cantik di sini?"
Candaku balik. Namun sepertinya Luna menanggapinya serius karena hanya diam. Yah... Berdasarkan reputasiku di masa lalu, itu memang mungkin.
"Hanya bercanda! Tidak ada wanita lain selain Luna untukku"
Aku buru-buru meralat ucapanku. Luna masih diam sejenak.
"Aku takut harus berjauhan denganmu"
Tak kusangka, Luna akhirnya mengungkapkan isi hatinya. Karena terkesan santai membicarakan kepulangannya, ku pikir Luna tidak keberatan. Ternyata dia juga mencemaskan hal yang sama denganku.
Aku mendekap Luna makin erat. Di sini hening sekali hingga suara aliran air dari sungai terdengar jelas, sejelas suara obrolan kami.
"Aku janji tidak akan mengkhianatimu. Sudah ku bilang bahwa aku tidak tertarik dengan wanita lain. Aku juga tidak akan melakukan apapun tanpa memberitahumu"
Janjiku.
Luna membalikkan tubuhnya menghadap padaku.
"Bukan itu yang membuatku takut"
Keluhnya.
"Lalu?"
Luna memelukku, menyembunyikan wajahnya di dadaku.
"Aku takut tidak kuat menahan rindunya"
Damn her!
Bisakah dia tidak mengatakan hal manis seperti itu di saat serius begini? Aku jadi mati kutu sebagai seorang pria.
"Aku akan mengunjungimu sesering mungkin. Walau harus menghabiskan seluruh gajiku untuk tiket pesawat, aku pasti akan datang setiap kali kau ingin bertemu denganku"
Luna tertawa mendengar ucapanku. Lalu mengecup singkat leherku.
"Aku mungkin akan melakukan hal yang sama"
__ADS_1
Ujarnya.
Rasanya ada desiran mengalir kencang dalam darahku. Lebih keras dari aliran sungai di bawah sana.