Sugar

Sugar
Decision


__ADS_3

Usai menghabiskan burger sambil berbicara, Drey kembali mengajakku turun memukul bola.



Perasaanku sudah lebih baik sekarang. Jadi aku bisa bicara santai padanya.



"Untuk apa kau membawaku kemari?"



Tanyaku masih penasaran. Aku tidak percaya pada jawaban sebelumnya dari Drey.



"Ada Dua alasan. Pertama, Paparazzi tidak Akan menemukan Kita disini"



Jawab Drey. Itu memang benar. Kawasan ini terlalu mustahil didatangi Artis. Bukan kawasan mewah dan terlalu murah. Kulihat biaya sewanya tidak sampai 20 dollar per jamnya.



"Alasan kedua?"



Tanyaku karena Drey tidak menjawab secara lengkap. Untuk alasan kedua, Drey menjawab sambil berbisik.



"Agar perutmu yang mulai chubby itu bisa kembali Langsing"



Spontan aku langsung memukul Drey Dan dia hanya tertawa.



"Itu adalah body shaming!"



Protesku untuk menutupi rasa malu. Sejak putus dari Casey aku memang tidak pernah lagi pergi ke gym. Saat aku tidak Ada pekerjaan, aku hanya makan Dan tidur di apartemen. Jadi perutku sedang tidak dalam kondisi terbaikku. Barusan Drey juga malah memberiku makanan fast food.



"Tidak perlu khawatir, aku lebih suka perutmu seperti itu. Sepertinya Akan lebih nyaman saat aku tidur di pangkuanmu"



Ujar Drey lagi sambil tertawa. Entah serius atau tidak. Meski Drey bicara begitu, sama sekali tidak membuatku senang. Sekarang jadi terdengar seperti pelecehan.



Akhirnya di sisa jam sewa, aku bekerja keras mencoba memukul bola-bola itu. Aku harus menghilangkan lemak di perutku secepatnya.



*********************************


Hari telah gelap saat kami keluar dari "batting cages". Aku tidak sadar sudah berapa lama kami menghabiskan waktu disana. Tanganku sampai lecet Dan linu semua. Tetapi sejujurnya aku menikmati waktu kami disana. Untuk sesaat aku lupa siapa diriku. Siapa kami. Aku bisa tertawa, bisa teriak Dan bisa menuntaskan rasa kesalku di Sana.



Sekarang tinggal rasa lelah. Aku hampir tertidur saat mendengar suara ponsel Drey terus berdering. Meski sepertinya panggilan urgent, Drey mengabaikannya. Mungkin karena dia sedang mengemudikan Mobil.



"Apa aku boleh mengangkatnya?"



Tanyaku. Telingaku sudah sakit mendengar deringnya yang terlalu keras. Drey hanya menjawab dengan anggukan. Sehingga aku segera meraih ponselnya.



Belum juga aku mengucapkan "halo", seorang pria di seberang Sana berteriak padaku.



"Dimana kau sekarang?!"



Suara orang itu terdengar sangat marah hingga hampir saja aku menjatuhkan ponsel saking terkejutnya. Kulirik Drey yang sedang tersenyum geli. Sepertinya dia sudah tahu ini Akan terjadi.



"Maaf, saat ini Drey tidak bisa bicara. Dia sedang menyetir. Kami Ada di dekat Beverly Center"



"Ah...apa ini Luna Eloise? Maaf sudah berteriak padamu"



Begitu mendengar suara Dan jawabanku, orang di seberang sana pasti merasa bersalah. Dia bahkan langsung mengenaliku. Entah apa yang sudah dikatakan Drey padanya.



"Bisakah kau menyuruh Drey kembali ke rumah sakit? Dia harusnya menjalani pemeriksaan Hari ini. Tetapi dia kabur saat aku tidak memperhatikannya"



Jantungku seolah berhenti berdetak mendengar kata-kata pria itu.



"Apa dia sakit?"



Tanyaku panik. Sebelum aku mendapat jawaban, Drey sudah merebut ponselnya.



"Aku Akan kembali secepatnya"



Ujar Drey pass pria yang menghubunginya sebelum menutup telfonnya.



Begitu mendengar kata "pemeriksaan" Dan kata "rumah sakit" aku langsung khawatir dan merasa bersalah. Karena seharian ini Drey bersamaku Dan tidak menyadari jika terjadi sesuatu padanya. Drey sendiri sepertinya tidak berniat menjelaskan padaku.



"Kau sakit? Sakit apa? Kenapa pergi dari rumah sakit jika Kau sakit?"



Aku langsung mencecarnya. Aku Akan merasa lebih bersalah jika tetap diam. Drey malah tertawa mendengar pertanyaanku. Dia kemudian mengusap kepalaku.

__ADS_1



"Tidak perlu cemas. Hanya pemeriksaan untuk memastikan bahwa aku tidak cedera. Di pertandingan kemarin aku terkena benturan cukup keras"



"Benarkah?"



Tanyaku masih tidak percaya. Dalam banyak film, biasanya orang yang sakit akan berbohong mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Apalagi tadi Drey tidak membiarkanku bicara dengan siapapun yang menelfonnya.



Drey mungkin merasa ini Akan jadi sebuah perdebatan panjang, jadi dia menepikan Mobil sebelum bicara.



"Apa kau sedang mengkhawatirkanku?"



Tanya Drey.



"Aku sedang serius Mr. Drey"



Jawabku menunjukkan bahwa aku sedang tidak bermain-main"



"Aku tidak bohong. Aku sudah melakukan pemeriksaan di Madrid Dan hasilnya baik. Mereka hanya ingin memastikan lagi sebelum bertanding dengan Tim nasional Dua Hari lagi"



Jelas Drey. Aku menatap Mata Drey, mencoba memastikan bahwa dia tidak membohongiku.



"Kalau begitu Kita pergi ke rumah sakit sekarang. Akan kubuktikan sendiri kau bohong atau tidak"



Sebenarnya aku sedikit membuat alasan. Drey tidak membawa kendaraan. Jika harus mengantarku pulang lebih dulu, dia mungkin kesulitan untuk pergi ke rumah sakit



Drey kemudian tersenyum. Lalu kembali mengusap kepalaku.



"Sepertinya kau sudah lulus menjadi pacar. Beginilah kehidupan pacar seorang atlet. Kau Akan dibuat khawatir terus menerus"



Ujar Drey. Sungguh, aku khawatir dia mendengar jantungku yang sedang berdegup kencang. Damn him! Begitu mudahnya mengambil hatiku. Aku cepat-cepat memalingkan muka, khawatir Rona merah keburu muncul di pipiku.



Drey mengalah dan mulai mengemudikan Mobil lagi. Kali ini ke arah rumah sakit.



"Lalu kenapa kau harus kabur untuk menemuiku?"



Kali ini pertanyaan pribadi. Aku sangat ingin tahu alasan Drey yang sebenarnya.




Ini seperti serangan kedua yang mematikan. Jantungku benar-benar berdetak tidak karuan. Siapa yang tidak tersentuh saat Ada orang yang rela melakukan apapun untuk bisa bertemu. Meskipun itu hanya kebohongan.



Drey tahu dengan baik cara mengambil hati seorang wanita. Karena itu banyak nama pernah bersanding dengannya. Bagian itulah yang membuatku takut. Bahwa aku hanya salah satu dari sekian banyak wanita yang pernah diistimewakannya. Sebelum akhirnya ia buang saat bosan.



*********************************


Kami sampai di rumah sakit tidak lama kemudian. Sambil menunggu orang yang menelfon Drey tadi datang, kami tetap di dalam Mobil.



"Apa kau Akan datang di pertandinganku nanti?"



Tanya Drey tiba-tiba. Tadi di jalan Drey sempat bercerita bahwa Akan Ada pertandingan uji coba antara tim negaranya, Swiss dengan Tim Amerika Serikat.



"Aku tidak tahu"



Jawabku bingung. Aku tidak menyiapkan jawaban untuk ini. Lagipula aku tidak tahu seperti apa jadwal pekerjaanku Dua Hari lagi.



Drey tidak bertanya lagi. Entah kenapa membuatku merasa bersalah.



"Aku..."



Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tubuh Drey tiba-tiba sudah di depanku. sepertinya Drey tidak menyia-nyiakan kesempatan mencari kelengahanku. Aku bisa merasakan sedikit terdorong olehnya.



Secara refleks aku langsung menutup bibirku dengan kedua tanganku. Tidak ingin membiarkan Drey Makin bebas melakukan apa yang dia inginkan. Tanpa kusangka, dia justru mengecup lembut keningku.



"Setelah ini jangan mampir kemana-mana, langsung pulang. See you again Sugar.."



Ujar Drey lalu keluar dari mobil.



Aku hanya terhenyak di Sana. Berusaha mengembalikan akal sehatku. Jantungku tidak seharusnya berdetak kencang dengan sikap Drey. Aku tidak boleh terpesona padanya. Namun Drey benar-benar telah mengenai kelemahanku. Bagaimana mendapati ciuman di keningku adalag Hal favoritku.



Rasanya aku ingin segera kabur dari Sana. Jadi aku segera keluar. Hendak langsung berpindah ke kursi pengemudi lalu cabut. Aku ingin menghindari melihat Drey saat ini. Atau aku akan Makin Gila.

__ADS_1



Sapaan seseorang menghentikanku. Pria tambun berkumis. Pakaiannya seperti fashion tahun '70-an. Dari suaranya, aku tahu bahwa pria itu adalah orang yang membentakku di telfon tadi. Dia sepertinya sangat berterima kasih aku membawa Drey kembali.



Akibat harus membalas sapaan si bapak tua itu, aku jadi harus melihat Drey sekali lagi. Senyuman yang Akan sulit untuk bisa aku lupakan.



*********************************



"Darimana saja? Aku mengkhawatirkanmu"



Tanya Daniel yang ternyata sudah duduk manis di dalam apartemen. Kata-katanya seolah mengkhawatirkanku, tetapi dia sedang menonton televisi sambil makan sepiring cracker. Tidak ada kecemasan sama sekali tergambar di wajahnya. Lagipula dia juga yang memberi tahu password apartemenku pada Drey Tanpa seijinku.



Aku tidak menjawab Dan langsung duduk di sampingnya. Lalu merebut remot yang sedang dipegangnya. Tanpa bertanya kuganti channel yang sedang ditonton Daniel ke channel yang menyiarkan siaran ulang pertandingan Drey kemarin. Pertandingan hanya tersisa Lima belas menit lagi.



Tidak kudengarkan protes Daniel.  Mataku hanya terpaku pada layar televisi. Tepatnya pada Drey. Sambil mencoba mencari jawaban dari hatiku.



Aku tidak bisa mengingkari betapa kejamnya Drey padaku. Dia melukaiku perlahan dengan keegoisannya. Namun di saat yang bersamaan aku mengaguminya. Butuh waktu tiga tahun bagi aku Dan Casey membuat kisah kami. Dan hanya butuh waktu kurang dari Dua bulan bagi Drey menyingkirkan semua itu.



Aku lupa aku baru patah hati. Aku lupa sedang bersedih ditinggal Casey. Drey memang memberiku banyak masalah. Tetapi dia mengganti semua lukaku dengan perasaan yang baru.



Bertemu dengan Drey juga membuatku melihat lebih jauh tentang diriku. Dia memaksaku menghadapi diriku sendiri. Hingga akhirnya aku bisa membuat jawaban atas kegelisahanku sendiri.



"Apa tawaran untuk datang ke acara show itu masih berlaku?"



Tanyaku pada Daniel. Dia yang sebenarnya sedang ngambek karena aku mengabaikannya langsung kembali bersemangat begitu mendengar aku membicarakan tentang acara show yang ingin kubatalkan.



"Tentu saja. Jadi kau mau datang Kan?"



Wajah Daniel semakin sumringah saat aku menjawab dengan anggukan.



Di saat yang bersamaan, acara siaran ulang pertandingan itu berakhir. Kemenangan bagi tim Drey. Aku bisa melihat wajah Drey yang tersorot kamera. Sedang tersenyum menyalami pemain dari Tim lawan. Tentu. Pria inilah yang mulai mengacaukan gravitasi hatiku akhir-akhir ini.



Aku segera mengambil ponselku. Men-dial nomor yang sebenarnya cukup membuat aku gentar. Aku menunggu beberapa lama untuk tersambung. Butuh waktu untuk mendengar suara orang di seberang sana. Selain karena disana sekarang masih pagi, orang itu juga sedang marah padaku.



Tetapi aku sudah yakin pada keputusanku.



"Ayah.. Drey bukan orang seburuk itu. Kejadian malam itu hanya sebuah kesalahan. Tapi dia selalu menjagaku dengan baik. Dan aku harap Ayah bisa mengenalnya lebih dulu sepertiku"



Setelah berjalan Dan berbicara dengan Drey Hari ini, segala keputusanku akhirnya berubah. Dia membuatku ingin mengenalnya lebih jauh. Tiba-tiba aku ingin mengambil tantangan itu. Seperti Drey yang bisa memaksa masuk dalam hidupku, maka aku juga ingin memaksa masuk dalam hidupnya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh, mungkin juga ingin menjadi wanita yang berbeda dari yang pernah Drey temui. Apapun itu, aku mulai menginginkan hubunganku dengan Drey.



Kali ini ayahku sudah tidak semarah kemarin. Beliau berbicara lebih tenang Dan memberiku banyak nasehat. Ayah memilih mempercayai keputusanku. Dan itu sudah lebih dari cukup.



Drey memang sangat luar biasa. Dari semua pria yang pernah dekat denganku, Drey adalah yang pertama mendapat perhatian ayahku. Bahkan Casey yang berpacaran selama 3 tahun saja tidak pernah muncul dalam pembicaraan kami. Karena itu aku penasaran berapa banyak Hal Mengejutkan lagi yang Akan kudapat.



*********************************



Aku sibuk membaca satu persatu komentar di sosmed-ku. Setelah sekian lama tidak berani membukanya. Memang masih Ada beberapa komentar kasar di Sana, tetapi sudah tidak sebanyak sebelumnya. Bahkan kalimat dukungan juga banyak ditujukan padaku.



Ini berkat acara talk show yang kuhadiri. Aku membuka semua di Sana. Memberi klarifikasi bahwa hubunganku Dan Casey telah berakhir jauh sebelum aku dekat dengan Drey. Termasuk alasan perpisahan kami.



Seperti nasehat Drey, aku tidak mau menjadi ayah June. Yang menerima peran sebagai orang jahat dan membuat putrinya menyesal untuk waktu yang lama Setelah tahu kebenarannya. Aku memutuskan bicara.



Drey benar, perlahan orang tidak lagi berbicara buruk padaku. Bahkan sekarang banyak sekali fans dadakan untuk hubungan baruku. Mereka menganggap kami seperti versi baru Beckham - Victoria. Yang juga pasangan Artis Dan pesepak bola. Well, untung mereka tidak tahu seluruh kisahku Dan Drey yang sebenarnya.



Perasaanku mulai membaik Dan Hari ini aku mulai bekerja. Ada casting untuk film baru. Jadi aku harus pergi ke rumah produksi Hari ini.



Aku sangat menginginkan peran ini. Film bergenre romantis pertamaku. Setidaknya tidak perlu lagi melakukan adegan action. Dan peran baru cukup baik untuk menambah pengalaman.



Namun Hidup memang penuh kejutan. Contohnya saja yang kualami siang ini. aku yang baru selesai casting, berjalan di koridor untuk mencari toilet, hampir bertabrakan dengan Casey.



Sudah beberapa waktu kami tidak bertemu, sehingga tidak ada yang bisa menyangkal bahwa situasi ini sangat canggung. aku dan dia sama-sama membeku sampai juga secara bersamaan memberi sapaan yang terdengar gemetar. namun kami sadar, selama menjalani profesi yang sama, tidak mungkin bagi kami untuk bisa terus menerus saling menghindar. Sehingga kami memutuskan untuk mengobrol sebentar.



Tidak banyak yang bisa kami bicarakan. Basa basi tentang kabar masing-masing, lalu ucapan selamat darinya untuk hubunganku dengan Drey sebelum akhirnya berpisah. Casey pasti sudah mendengar apa yang kukatakan di talk show. Sehingga kami sama-sama memutuskan untuk tidak membahas lebih banyak.



Aku menjadi gelisah setelah bertemu Casey tadi. Bukan karena masalah cinta yang belum tuntas, atau kenyataan bahwa aku sudah menjalin hubungan dengan pria lain sekarang. Hanya saja saat bicara dengan Casey, aku melihat dia membawa buku naskah yang sangat familiar bagiku. Karena aku juga memegangnya untuk casting hari ini.



Rasa penasaran yang sudah tidak tahan membuatku menanyakan hal itu pada Daniel. Dan persis seperti firasat burukku, Casey juga ditawari casting untuk film itu. jika lolos, dia akan berperan sebagai Luke Anderson, lawan dari pemeran utama wanita yang kuperjuangkan.



Aku lupa jika film genre ini adalah spesialisasi dari Casey. Tipe pria kalem namun bisa diandalkan. Dan melihat karakter Luke, memang bisa dibayangkan jika Casey yang memerankannya. Itu yang dikatakan Daniel, bahwa peluang Casey menjadi tokoh utama pria sangat besar. Artinya, mungkin akan ada saat dimana aku harus berkonfrontasi langsung dengannya lagi.

__ADS_1




__ADS_2