
"Kenapa Richard ada di sini?" Batinku heran.
Ini adalah Hari pertama syuting film. Tentu saja aneh melihatnya ada di sini. Meskipun dia investor film ini. Yang jelas, aku memiliki firasat buruk tentang ini.
Aku melangkah mendekat dengan ragu padanya. Aku harus pergi menyapa James sebagai sutradara. Saat ini pas sekali Richard sedang berbincang dengannya.
"Luna... Kemarilah!" James yang melihatku sudah melambaikan tangan padaku. Alhasil, aku harus bertatapan dengan mata dingin itu.
Aku segera memasang senyum termanis dan menyapa James, tentu saja Richard juga. Seperti biasa, tidak ada tanggapan darinya. Dia bahkan bersikap seolah aku tidak Ada. Mungkin karena ini sudah biasa terjadi, aku tidak lagi terkejut.
Lagipula kami juga tidak Akan sering bertemu. Pikirku.
"Richard ingin memastikan bahwa film ini memenuhi kualitas yang dia inginkan. Jadi dia akan ikut mengawasi jalannya syuting. Mulai Hari ini kalian akan sering bertemu"
Ucapan James terdengar seperti sambaran petir buatku. Itu artinya, mulai Hari ini aku harus bersiap bertemu dengannya setiap Hari?
*****
"Wajah pemeran utamanya Kaku sekali. Ulangi lagi!" Teriak Richard yang bisa ku dengar meskipun dari jarak beberapa meter.
Aku tidak tahu jika Richard akan bisa menjadi orang yang jauh lebih menyebalkan dari biasanya. Aku tahu mengawasi kualitas film hanyalah alasannya untuk bisa berada di sini. Alasan sebenarnya, dia hanya ingin merundungku. Dia menyuruhku mengulang adegan yang sama berkali-kali. Padahal James pun tidak mengomentarinya. Dia bahkan tidak menyembunyikan keinginannya untuk menghinaku di depan semua orang.
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Saat ini aku tidak boleh merasa emosi. Itu akan mengganggu aktingku. Tapi dalam hati aku sungguh ingin mengumpat Richard keras-keras. Membuatku berkutat dalam satu adegan selama berjam-jam itu sudah keterlaluan.
"Baiklah, ulangi sekali lagi" ujar James. Aku yakin dia sendiri juga tidak punya kuasa melawan kakaknya yang kekanakan itu.
Aku bersyukur saat akhirnya itu menjadi retake terakhir. Jika mengulang sekali lagi, aku mungkin akan kolaps di tengah lokasi. James juga memilih mengakhiri syuting untuk hari ini.
"Bagaimana Artis seperti ini bisa dipilih menjadi pemeran utama?"
Aku yakin sekali Richard sengaja mengucapkan itu keras-keras saat lewat agar aku bisa mendengarnya. Bukan hanya aku, tetapi semua orang yang sedang Ada di sini. Sampai mereka melihatku. Bahkan dengan berakhirnya syuting, mulutnya seperti belum selesai menyindirku. Namun aku sudah tidak punya tenaga untuk menanggapinya. Hari ini sudah cukup melelahkan. Hingga aku tidak sempat menghafal dialog untuk besok.
Dan begitulah, hari-hari terburuk pekerjaanku dimulai. Richard datang setiap hari ke lokasi syuting. Mencari kesalahanku, membuat komentar buruk tentangku, dan membuatku mengulang-ulang adegan yang sama.
Awalnya, ku pikir dia hanya akan membuatku lelah secara fisik. Beberapa adegan yang harus ku lakukan adalah perkelahian. Tentu saja lebih banyak menguras tenaga jika terus diulang. Jadi aku memilih mengabaikannya. Namun aku salah. Richard sedang menghancurkanku secara mental juga.
Komentar buruknya mempengaruhiku. Dia membuatku mempertanyakan kemampuan aktingku. Adalah sebuah kesalahan pemeran jika pengambilan gambar dilakukan berulang. Rasa percaya diriku terpengaruh. Aku menjadi lebih gugup saat di depan kamera. Akhirnya, bahkan tanpa Richard mencarinya, aku mulai melakukan banyak kesalahan. Tiba-tiba lupa dengan dialog, atau ekspresi yang kurang menjiwai.
Tidak hanya aku. Para kru juga mulai terpengaruh. Kapanpun saatnya pengambilan gambarku, ekspresi wajah mereka mulai terlihat tidak nyaman. Semua menjadi canggung, tidak bersemangat dan bahkan terkadang mereka mengeluh. Karena mereka tahu, harus melakukan banyak retake.
Semua itu hanya butuh waktu Dua minggu. Aktris berbakat bernama Luna itu kehilangan reputasinya.
*****
Aku bisa mendengar suara langkahku sendiri. Bunyi ketukan hak tinggi pada lantai memecah keheningan di lorong gelap itu. Namun dari tempatku, bisa melihat cahaya di ujungnya. Makin lama Makin terang, Dan aku bisa melihat Mobil yang dijadikan properti syuting hari ini di Sana.
__ADS_1
Aku mulai mendengar suara berisik kru yang sedang mempersiapkan syuting. Aku melangkah ke tengah set. Cahaya yang disorot ke tempat itu terasa lebih menyilaukan.
Kamera telah bersiap menyorot. James juga sudah duduk di tempatnya. Suara aba-aba dimulainya take adegan kemudian terdengar tak lama Setelah itu. Saat itu giliran aku bekerja.
Tapi tunggu dulu.
*Apa yang harusnya ku katakan?
Aku tidak ingat satupun dialog yang harusnya digunakan dalam adegan ini.
Lagipula, ini adegan apa*?
Tiba-tiba aku panas dingin memikirkannya. Aku pasti lupa membaca naskah. Sekarang apa yang akan ku lakukan? Padahal kamera sudah merekam.
"Kenapa kau hanya diam?" Terdengar seseorang bertanya padaku.
"Apa kau lupa lagi dengan dialogmu?" Sahut yang lainnya.
Aku hanya bisa menunduk. Menatap lantai yang tiba-tiba terlihat jauh. Lalu bergelombang seakan ingin menjatuhkanku. Ah... Perutku jadi mual.
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Tidak hanya satu atau Dua. Cukup banyak seakan sedang ada sekelompok orang yang mendekat. Memaksaku untuk mengangkat wajahku. Benar saja, di sekelilingku Ada banyak orang mendekat. Mereka para kru film. Sedangkan Richard sedang memimpin tepat di depanku.
Mereka berhenti serentak setelah hanya berjarak tiga langkah dari tempatku berdiri. Lalu tiba-tiba mengarahkan telunjuk padaku.
"Aktingmu jelek!"
"Kau menyusahkan kami"
"Kau harusnya mundur"
Mereka bersahutan bicara. Bahkan ada tawa mengejek di baliknya. Suaranya saling bertabrakan dan berdengung menyakitkan. Bahkan ketika aku menutup telinga, bukannya hilang, suaranya justru semakin keras.
Cahaya yang silau tadi berubah menjadi menyala dan mati secara terus menerus. Sehingga membuat kepalaku sakit.
Sungguh rasanya menyakitkan.
Aku ingin berteriak.
"Aaagggghhhh....!!!"
*****
Nafasku terengah-engah. Keringat bercucuran di dahi dan leherku. Dan rasanya tubuhku remuk redam seperti baru saja berlari berkilo-kilo meter.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rasanya sedikit lega saat mengetahui bahwa sekarang aku sedang di meja makan. Sepertinya aku terlalu kelelahan hingga ketiduran di sini. Bahkan gelas yang airnya telah ku minum setengahnya masih berada di depanku.
__ADS_1
Aku pasti sedang tertekan berat. Bahkan membawanya sampai ke dalam mimpi buruk. Rasanya sangat nyata, hingga tubuhku masih gemetar saat mengingatnya.
Ini berat sekali. Bahkan kesulitan yang ku hadapi saat pertama kali memulai karir tidak seburuk ini. Sakitnya menekan dadaku, membuatku kesulitan untuk bernafas. Menekan tubuhku, hingga aku tidak bisa berdiri.
Aku tidak mau datang ke tempat syuting lagi.
Tanpa ku sadari, air mataku mulai jatuh. Semua yang ku tahan serasa tumpah hingga tidak bisa ku rasakan lagi berapa banyak bulir air Mata yang jatuh. Kesunyian di ruangan itu akhirnya terisi oleh isakanku.
Aku sungguh ingin berhenti.
Saat itu ku rasakan sebuah pelukan hangat mendekapku.
*****
Sayup-sayup ku dengar alunan musik pop. Sepertinya itu lagu lawas karena aku tidak mengenali liriknya. Namun cukup enak didengarkan. Hingga bisa membuatku membuka Mata.
Aku merasakan rasa hangat sedang menyelimutiku. Tubuh Drey yang besar memang seperti biasa bisa mendekap dengan nyaman. Detak jantungnya juga terdengar sangat jelas di telinga karena sekarang kepalaku sedang bersandar tepat di Sana. Aku baru menyadari suaranya bahkan lebih indah daripada musik yang ku dengar tadi.
Aku mengerjapkan mataku Dan mengintip ke sekitar. Rasanya aku masih malas untuk bangkit. Ingin berlama-lama dalam pelukan Drey.
Sampai aku teringat dengan kejadian semalam. Aku menangis begitu keras Dan lama. Drey lalu mendekapku. Aku bersyukur dia tidak bertanya apapun padaku. Cukup memelukku. Dengan begitu aku bisa mengeluarkan seluruh perasaanku. Aku yang kesulitan tidur akhir-akhir ini bisa langsung tertidur saking nyamannya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Pertanyaan Drey itu mengejutkanku. Ternyata dia tidak tidur dan sedang mengamatiku. Aku hanya mengangguk lalu kembali menelusupkan kepalaku dalam-dalam ke pelukannya.
"Apa terjadi masalah di tempat syuting?" Tanya Drey lagi. Dia mungkin mempertimbangkan keadaanku yang sudah lebih baik dan menanyakannya.
Akhir-akhir ini kami jarang bertemu, sehingga aku tidak menceritakan situasiku padanya. Mungkin aku bisa mengatakannya pada Drey. Aku yakin Drey akan bisa mengembalikan semangatku lagi. Atau setidaknya dia bisa bicara pada Richard agar berhenti merundungku. Aku sangat tidak ingin masalah pribadi dibawa ke pekerjaan.
"Drey..."
Baru saja aku hendak bicara, suara dering ponselnya menyelaku. Aku membiarkan Drey mengangkatnya.
Sebenarnya aku ingin kembali tidur. Pelukan Drey sangat hangat Dan nyaman. Ini menyenangkan. Saat itu aku mendengar pembicaraan Drey di telfon. Secara garis besar, mereka membahas mengenai jadwal latihan Drey. Sebentar lagi kompetisinya akan kembali dimulai. Jadi Drey harus bersiap untuk kembali bekerja.
Aku melihat ke arah Drey. Mimiknya sedang serius. Mengingatkanku bahwa urusan Drey bukan hanya aku. Apalagi di saat seperti ini, dia harusnya lebih fokus pada latihannya. Mendadak aku merasa bersalah sudah memiliki keinginan berbagi bebanku padanya. Aku bahkan tidak memikirkan resiko dari mengatakan padanya bahwa ayahnya bersikap kejam padaku.
Aku yakin, Drey akan sangat marah. Dia tidak akan menggunakan cara bicara baik-baik dan langsung saja membuat keributan dengan ayahnya. Kalau sudah begitu, usahaku memperbaiki hubungan mereka akan berantakan. Yang Ada, malah aku memperburuknya. Padahal akhir-akhir ini kelihatannya sikap Richard mulai melunak padanya.
Lebih baik aku tidak mengatakan apa-apa.
"Jadi, ada apa?" Tanya Drey Setelah ia menutup telfonnya.
Aku segera memeluk Drey, menelusupkan wajahku dalam ceruk lehernya. Agar dia tidak melihat eskpresiku, atau tahu bahwa aku sedang berbohong padanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku hanya terlalu lelah dan mimpi buruk semalam"