
Ini Hari yang istimewa.
Begitu pikirku, Setelah lama ku pikirkan dan rencanakan. Mungkin sudah saatnya aku berhubungan lebih serius dengan Luna.
Masalah ayahku, Priscilla, semua telah berakhir dengan baik berkat usaha Luna. Dia pantas mendapatkan penghargaan lebih. Karena itu aku mempersiapkan makan malam romantis untuknya. Dari restoran, Desain, bunga, hingga menu, semua ku pilih sendiri.
Luna terlihat cantik malam ini. Dress off-shoulder warna biru tua yang dipakainya membungkus tubuhnya dengan baik. Luna Tidak pernah berlebihan saat merias diri, Dan karena itu aku dia terlihat menawan.
Selain cuaca yang buruk, aku bersyukur semuanya berjalan lancar. Bahkan wajah penuh senyum dan tersipu milik Luna sudah cukup membuktikan bahwa dia menyukainya. Gadis itu terlihat bahagia.
Di satu sisi, aku sibuk menghitung detik. Rasanya setiap detik yang berjalan membuat jantungku berdegup Makin kencang. Aku memegang kotak yang ku simpan di saku ku. Berkali-kali Memeriksanya. Antara ingin segera memberikannya atau ingin kembali menyimpannya. Rasanya gugup sekali.
"Ini adalah salad alpukat yang Paling lezat pernah ku coba. Ku pikir rasanya akan getir, ternyata tidak" ujar Luna memuji hidangan appetizer. Dia sangat menyukai salad hijau itu, sehingga aku sengaja memilihnya.
Namun aku hampir tidak bisa fokus pada pembicaraan saat ini. Aku sedang menimbang kapankah saat paling tepat untuk bicara dengannya. Sebentar lagi hidangan utama akan disajikan. Apa aku harus menundanya sampai kami selesai makan? Tapi hatiku sudah tidak kuat lagi menahan rasa gugup.
"Aku ke toilet sebentar," pamitku.
Hanya ini alasan yang terpikir olehku. Memang sedikit pengecut dan terkesan melarikan diri. Namun aku membutuhkan waktu agar bisa bernafas dan mempersiapkan diri.
Luna hanya menjawab dengan anggukan dan senyum.
Pikiranku sedikit kalut saat berjalan keluar. Dulu sepertinya mudah saja bagiku merayu atau menggoda wanita. Sekarang sepertinya aku mati kutu di depan Luna.
Aku tidak sabar untuk memberikan benda di sakuku ini padanya.
Saat itu, senyumku saat memikirkan rencanaku langsung pupus. Antara percaya atau tidak, aku melihat sebuah wajah yang familiar. Meskipun sudah menua dan mulai memiliki keriput, dia masih sama dengan saat delapan belas tahun yang lalu saat kami berpisah. Dia masih cantik.
Ibu,
Rasanya tubuhku langsung lemas. Seolah ada sesuatu yang runtuh di hatiku. Padahal Orang yang selama ini ku Cari akhirnya Ada di depanku sekarang.
Ada banyak alasan untuk itu. Mungkin karena lelah penantian yang tiba-tiba terangkat. Atau karena sekarang ini ibuku sedang duduk di Sana dengan ayahku. Namun hanya Ada alasan Paling kuat di antara semua itu, yang membuat perasaanku kacau balau saat ini.
Aku merasa ini tidak adil bagiku jika aku mundur dan pura-pura tidak tahu. Jadi akhirnya aku menguatkan kakiku melangkah menghampiri mereka. Ku rasakan sakit menusuk tiap langkah itu.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Bu?" Tanyaku.
Ibuku langsung menoleh. Jelas sekali Ada keterkejutan di wajahnya. Mungkin tidak menyangka aku akan menemukannya di sini. Begitupun di wajah ayahku.
"Drey..."
Ini adalah panggilan pertama ibuku setelah delapan belas tahun yang lalu. Ternyata dia bisa langsung mengenaliku.
"Sepertinya kau baik-baik saja" ujarku kemudian karena dia Tak menjawab pertanyaanku.
Melihat dia memandangku seolah ini Hal mengejutkan cukup menyakitiku. Memangnya apa yang dia harapkan saat tinggal di Kota yang sama denganku?
"Aku selalu membayangkan seperti apa rasanya bertemu denganmu lagi. Sekarang aku tahu, tidak seperti dalam imajinasiku. Ternyata melihatmu rasanya sangat hampa. Tidak Ada apapun di Sana"
Aku bahkan tidak tahu apakah diriku telah mengatakannya dengan benar atau tidak. Rasanya pandanganku terlalu kacau untuk menilainya.
"Karena aku sudah menyapamu, berarti aku sudah menunaikan kewajibanku sebagai seorang anak. Kalau begitu, sekarang aku Akan pergi. Aku harap Kita tidak bertemu lagi"
Aku hendak berbalik pergi saat tangan ibuku tiba-tiba meraih lenganku.
Namun hatiku sudah lebih dulu luruh. Suaranya yang selalu ku rindukan itu bahkan tidak mampu menggapainya.
Aku segera menurunkan tangan ibuku perlahan. Lalu tetap melangkah pergi.
Saat itu aku baru menyadari bahwa Luna sedang berdiri di belakangku memperhatikan semuanya. Dia tidak mengatakan apapun, tetapi matanya terlihat menatapku sedih.
Aku segera menghampirinya dan berbisik, "Maaf, aku tidak bisa melanjutkan makan malam ini"
Luna segera menggenggam tanganku. Memberi isyarat bahwa itu tidak jadi masalah buatnya. Sehingga aku segera menggandengnya keluar dari Sana.
Badai di hatiku teras masih kencang. Rasanya sangat menyakitkan. Aku berusaha keras untuk menjadi pemain sepak bola agar dia menemukanku. Namun nyatanya, bukan suka cita yang ku rasakan.
Ya, karena aku tahu ibuku sengaja tidak menemuiku. Dia tahu aku, mengenaliku, tetapi sengaja mengabaikanku. Dia bahkan bisa duduk makan malam dengan ayah namun tidak sekalipun menghubungiku. Aku jadi merasa tidak diinginkan, dan itulah yang membuatku marah. Kalau saja ibuku yang lebih dulu datang padaku.
Hari yang seharusnya istimewa ini berubah menjadi berantakan, seperti hatiku.
__ADS_1
*****
Pertemuanku dengan ibu semalam membuat seluruh kenangan buruk Dan kesedihan berkumpul di hatiku. Bahkan aku lupa bagaimana bisa pulang ke rumah dan apa yang ku lakukan selanjutnya. Yang jelas ketika bangun pagi ini, aku sudah Ada di ranjangku.
Terdengar suara ketukan pintu, lalu suara Luna memanggilku.
"Drey, ayo makan dulu. Aku sudah masak makanan kesukaanmu"
Aku rasa ini bukan pertama kalinya Luna memanggilku. Tadi pagi saat aku berpura-pura untuk tetap tidur, dia juga datang kemari.
Aku melirik jam dinding, sudah lewat tengah Hari. Badanku tidak bisa merasakan apapun hingga tidak menyadari waktu berlalu cepat. Mungkin karena itu Luna kembali mencoba membangunkanku.
Sejak semalam kami belum bicara lagi. Luna Tidak bertanya apapun dan membiarkanku langsung pergi ke kamar. Dia hanya memperhatikanku. Aku senang dia tidak menanyakannya, karena aku belum siap menjawabnya.
Hanya saja, Hari ini aku ingin tetap sendirian di sini. Melihat tatapan matanya yang sedih kemarin, aku merasa salah telah membawa masalah padanya.
Luna mengetuk pintu lagi karena aku tidak kunjung menjawab. Mungkin sebaiknya aku kembali berpura-pura tidur saja. Karena akhirnya Luna menyerah Dan tidak terdengar suaranya lagi.
Aku kembali menenggelamkan kepalaku dalam bantal. Hingga Tak sengaja kakiku menendang sesuatu di balik selimutku. Benda itu langsung menggelinding jatuh. Suaranya nyaring membentur lantai kamarku.
Benda yang berupa putih itu seolah mengembalikan Kesadaranku. Aku harusnya memberikan itu pada Luna semalam. Tetapi aku lupa setelah melihat wajah ibuku. Sejak semalam hanya tersimpan di kotakku.
Aku mengepalkan tanganku. Rasanya aku bisa mengingat hangat tangan Luna saat menggandengku semalam. Saat hatiku begitu hancur Dan langkahku terasa berat, Dia yang menuntunku. Memberi penghiburan tanpa sedikitpun menuntut penjelasan. Dan ku rasa, keterlaluan jika aku mengabaikannya sekarang.
Aku segera bangkit dari ranjang Dan mengambil kotak putih itu. Menyimpannya di dalam laci nakas sebelum bergegas keluar.
Betapa terkejutnya aku saat melihat ternyata Luna masih menungguku. Dia berjongkok di samping pintu, Dan langsung tersenyum saat melihatku.
"Ayo makan, kau pasti lapar" ujarnya.
Hatiku diketuk sangat keras. Aku langsung ambruk di depannya. Kemudian memeluk Luna. Aku sudah tidak tahu apakah sekarang sedang menangis atau tidak. Yang jelas aku hanya ingin memeluknya erat. Mencari penghiburan dari hangatnya dekapan Luna.
Ku rasakan Luna menepuk-nepuk bahuku menghibur.
"Semua Akan segera berlalu," bisiknya menguatkan.
__ADS_1