
Pandanganku terasa kabur. Rasanya seperti aku tidak berpijak di lantai, karena saking gugupnya. Sementara otakku terlalu sibuk mencerna banyak hal.
*Kenapa aku di sini?
Kenapa pintunya dikunci?
Apa yang akan dilakukan Drey*?
Hingga aku tidak segera menggapai tangan yang diulurkan Drey. Rupanya itu membuatnya lelah menunggu. Drey segera menarik tanganku, membuatku terhuyung jatuh tepat dalam pelukannya.
Sontak aku sedikit histeris dan langsung berontak. Otakku memerintahkan begitu. Ada matras, dan pintu sedang dalam keadaan dikunci. Hanya ada satu hal yang mungkin dilakukan Drey.
Karena takut ayahku bangun, aku tidak bisa mengeluarkan suara. Hanya berontak dari Drey dengan tubuhku. Berusaha mendorongnya menjauh, atau melepaskan diri. Awalnya Drey seperti terkejut, dan aku hampir terbebas. Namun hanya untuk beberapa detik saja. Drey mulai menahanku.
Kami seperti pemain pantomim yang bergulat. Saling tarik menarik dalam hening.
Aku yang lebih dulu kelelahan. Drey tiba-tiba menjatuhkan tubuhku ke matras. Lalu segera mengungkungku dengan dua lengannya yang berotot. Aku ngeri sekali saat ini. Drey terlihat seperti karnivora yang hendak menerkam mangsanya.
"Kau ini kenapa?"
Namun justru itu yang ditanyakannya padaku.
Bukankah seharusnya aku yang menanyakan itu padanya?
"K..k..kau sendiri kenapa membawaku kemari?"
Tanyaku terbata. Aku sudah ketakutan sendiri. Mendadak ekspresi di wajah Drey berubah.
"Menurutmu kenapa?"
Tanya Drey dengan senyum yang hanya mengangkat satu sisi bibirnya. Ekspresinya persis orang jahat. Berhasil membuatku merinding.
"Lepaskan Drey, ada orang tuaku dan Lara"
Aku tidak bisa berpikir jernih, dan mengucapkan apapun yang terlintas di benakku.
"So what?"
Jawab Drey santai. Sama sekali tidak peduli dengan ancamanku.
*Pukul dia? Aku tidak kuat.
Berteriak? Orang tuaku akan kecewa nanti.
Menangis? Belum tentu Drey akan luluh.
Menurut saja? Ini perbuatan tidak benar*!
Berbagai ide dan kemungkinan berkelebat di otakku dengan cepat. Namun akhirnya otakku blank juga.
Tanpa sadar aku merasa sesak dan nafasku mulai tak beraturan, saat itu aku merasakan telunjuk Drey menekan-nekan pipiku.
"Sebenarnya apa sih yang kau pikirkan? Kau bisa begitu ketakutan"
Tanya Drey. Aku baru sadar dia sedang melihatku dengan senyum geli. Itu membuatku bingung.
Jari Drey kemudian berpindah ke keningku. Mencoba memudarkan kerutan di sana. Lalu dengan lembut mencubit pipiku sebelum membantuku bangun.
Aku masih bingung.
"Jadi, apa yang sebenarnya kau pikirkan, huh?"
Drey mengulangi pertanyaannya dengan senyum menggoda.
"Yah..k..kau tiba-tiba menarikku kemari. Lalu m..mengunci pintu, jadi.. anu... itu..."
Aku benar-benar tidak bisa berkata dengan benar. Masih kurasakan kegugupan mencekik tenggorokanku. Begitupun dengan rasa malu.
"Itu apa?"
Drey makin menggodaku. Kupalingkan wajahku menghindari tatapannya yang mengulik itu.
"Lagipula kau menarikku, lalu mendorongku seperti itu. Aku jadi berpikir- "
Kutahan sisa kata-kata yang awalnya ingin kuucapkan. Rasanya memalukan sekali mengungkapkan prasangkaku.
Drey tertawa kecil setelah mendengarku. Ia pasti tidak ingin suaranya terdengar sampai luar.
"Aku hanya ingin mengajakmu bicara. Kau saja mendadak berontak dan ketakutan. Aku jadi tidak tahan untuk menjahilimu"
Ah... Aku salah paham.
"Hm... Kupikir kau gadis yang polos, ternyata ada banyak hal yang kau pikirkan juga"
Goda Drey dengan senyum meledek. Aku tidak bisa menutupi rasa maluku. Sedikit kuakui bahwa Drey benar. Mungkin aku terlalu paranoid. Seakan aku mengharapkan hal itu.
"Mukamu merah sekali, lho"
Drey kembali menertawakanku. Dasar mahluk tak berperasaan. Salah siapa aku jadi begini.
Aku berdiri tegak lalu melipat kedua tangan di dadaku. Mencoba membalas Drey.
"Ini bukan salahku. Tingkahmu saja yang mencurigakan"
"Tingkah yang mana?"
Drey tidak mau kalah, membunyikan genderang perdebatan antara kami.
"Kenapa kau menggelar matras?"
"Sebagai alas agar kita tidak kedinginan duduk di lantai"
"Kenapa pintunya dikunci?"
"Orang lain akan salah paham jika melihat kita di sini. Aku harus mengunci pintunya untuk menghindari itu"
__ADS_1
Drey benar-benar menyebalkan. Dia dengan mudahnya mendebatku. Aku sampai kehabisan amunisi.
"Mm..memangnya apa yang ingin kau bicarakan malam-malam begini? Harusnya kau menunggu besok"
"Aku hanya sedang merasa sangat bahagia sampai tidak bisa tidur. Aku tidak tahu harus membagi perasaan ini dengan siapa. Kurasa tidak ada selain dirimu yang bisa"
Damn him!
Mengatakan hal manis seperti itu dengan begitu mudahnya. Dengan senyuman yang sangat manis. Kalau begini bagaimana bisa aku membalasnya?
Drey lalu menarik tubuhku mendekat. Dia memegang kepalaku dengan kedua tangannya, lalu menyatukan kening kami.
"Tenang saja, aku bukan pria brengsek yang memaksakan kehendak pada perempuan. Kecuali kau menginginkannya, tak akan kuminta lebih dari seharusnya"
Ujar Drey memberikan janjinya. Sebuah kesungguhan yang meragukan. Dia bilang tidak memaksakan kehendak, padahal dia memaksaku menjadi pacarnya. Bagaimana aku bisa mempercayainya?
Namun jantungku kembali berdegup cepat. Berdesir oleh rasa bahagia. Setidaknya untuk saat ini aku bisa mempercayainya. Karena aku mencintai pria ini.
******
Suara telur yang digoreng terdengar nyaring. Berlomba dengan suara teko yang air di dalamnya tengah mendidih. Menjauhkan kesunyian pagi dari rumah ini.
Namun mata dan tubuhku masih terasa berat. Mungkin karena kurang tidur. Energi yang kuhabiskan kemarin belum sepenuhnya terisi kembali. Atau karena mengingat kata-kata manis Drey. Wanita mana yang tidak bahagia jika diperlakukan begitu berharga. Seakan barang antik mahal yang mudah pecah.
Memang aneh reaksiku. Rasanya sudah berulang kali Drey mengatakan hal manis padaku. Lebih menyentuh dari yang tadi. Anehnya aku bisa bereaksi cukup hebat kali ini. Kalaupun ada alasannya, tentu karena aku melihat caranya menghargaiku.
Seorang pria yang berpetualang dari satu wanita ke lainnya. Menyentuh mereka dengan mudahnya. Mengatakan bahwa ia tidak akan menyentuhku sembarangan. Memilih untuk mendahulukan keinginan dan perasaanku. Salahkah jika aku merasa bahagia mendengarnya hingga terhempas jauh ke langit ketujuh?
"Kenapa mukamu merah sekali? Kau sakit?"
Tanya ibuku khawatir. Dia sudah meletakkan tangan di keningku untuk memeriksa suhunya.
"Suhu badanmu normal"
Ujar ibuku heran. Tentu saja. Aku memang tidak sedang sakit. Hatiku sedang berdebar memikirkan hal lain.
"Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"
Tanya ibuku yang masih merasa tidak puas. Aku hanya menatap ibuku sambil tersenyum.
Rasa bahagiaku hari ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Obrolan kami terputus saat Drey, ayahku, Lara dan Andrew bergabung di meja makan. Awalnya aku ingin bersikap seperti biasanya, tetapi begitu melihat wajah Drey tanpa bisa kukendalikan, aku jadi salah tingkah. Ada rasa malu dan mendebarkan saat melihatnya. Sulit bagiku hanya menatapnya hingga aku harus memalingkan muka.
Drey sepertinya menyadari sikapku.
"Selamat pagi, Luna"
Dia menyapaku.
"Selamat pagi"
Jawabku sambil melihat ke arah lain. Pura-pura sibuk memperhatikan hal lain. Sialnya, aku menghadap langsung pada ayahku.
"Kenapa wajahmu merah? Kau sakit?"
Tentu saja pertanyaan ayahku mengundang perhatian yang lainnya. Termasuk Drey.
"Kau sakit? Coba kulihat"
Drey yang biasanya menahan diri di depan orang tuaku langsung bereaksi. Ia sampai bangkit dari duduknya untuk melihatku. Mendahului ayahku, Drey sudah memeriksa keningku menggunakan keningnya.
Wajahnya dekat sekali. Tanpa batas di antara kami, mataku terkunci pada mata birunya. Seperti saat dia mengatakan hal itu padaku.
"...Kecuali kau menginginkannya, tak akan kuminta lebih dari seharusnya"
Rasanya ada sesuatu meletup dari dalam diriku.
"Hei..."
Kudengar suara ayahku dari belakang Drey. Aku dan Drey langsung tersadar. Kupikir ayahku mungkin marah melihat tindakan Drey yang terlalu intim.
"Ma...maaf"
Jawab Drey spontan.
"Bagaimana? Apa dia demam?"
Di luar dugaan, ayahku malah menanyakan kondisiku.
"Suhu badannya normal. Hanya sedikit lebih hangat"
Jawab Drey. Sekilas aku melihat dia menghembuskan nafas lega.
"Tapi wajahnya merah sekali..."
Komentar ayahku ragu. Aku hanya tersenyum malu. Untung tidak ada yang tahu apa yang sedang kupikirkan.
Obrolan kami berhenti saat menu sarapan telah dihidangkan oleh ibu. Aku bisa sedikit lega bahwa perhatian tidak lagi tertuju padaku. Namun kelegaan itu bertahan untuk sesaat. Saat ada hal lain menarik perhatian kami.
Wallpaper itu, terkelupas dan jatuh perlahan akibat proses pengeleman yang kurang rapi. Terkulai perlahan dan terbuka hingga setengahnya. Memperlihatkan pintu yang tersimpan di dalamnya.
Rasanya waktu berhenti saat ini. Tak ada yang bisa kulakukan selain membeku akibat kegugupan luar biasa yang menghentikan kerja otakku. Aku bahkan tidak tahu apa aku masih bisa bernafas.
Kami semua hening sejenak. Mengikuti bagaimana wallpaper itu terbuka secara perlahan. Hingga kudengar suara Lara terbatuk-batuk akibat tersedak. Pasti dia sadar apa yang akan terjadi setelah melihat hal yang terjadi di depannya.
Pintu itu, terpampang jelas di depan mata ayahku. Aku tahu, alasan apapun pasti tidak akan bisa menutupinya lagi. Ayahku menatap intens pintu itu. Sebelum akhirnya melihat ke arahku dan Drey.
Matilah kami berdua.
Hanya itu yang terpikir di kepalaku. Jika ayahku sudah bertanya pintu apa itu, kemudian menyuruhku membukanya. Lalu melihat sendiri kemana jalan mengarah. Aku dan Drey harus segera melupakan tentang kata maaf dan ampunan. Cukup bersiap dengan hukumannya.
Padahal baru saja ayahku menyukai Drey.
Aku menatap mata ayahku. Seperti ada pisau menghunus dari sana dan menembus ke jantungku. Sangat menakutkan sampai-sampai tidak ada kata bisa keluar dari mulutku.
__ADS_1
"Sepertinya tukang yang kau sewa kurang bagus. Lemnya tidak merekat dengan bagus. Kau harus segera menyewa tukang lain untuk memperbaikinya"
Sebuah nasehat yang diucapkan dengan santai. Sangat santai, hingga aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.
Ayahku tidak mempedulikan pintu yang dilihatnya. Lebih kepada wallpaper yang dipasang tidak benar. Setelah mengatakan itu, ayahku melanjutkan sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa. Rasanya ada tali kekang yang terlepas dari dadaku.
"Fyuuuhh..."
Aku bisa melepaskan nafas panjang berisi kelegaan.
"Kau benar-benar sakit ya? Sekarang wajahmu pucat sekali"
Ujar ayahku saat melihat wajahku lagi. Aku tidak bisa melihatnya, tetapi mungkin wajahku berubah drastis dari merah ke pucat dengan cepat.
"Kau juga sakit Drey?"
Aku baru sadar, Drey ternyata juga membuat ekspresi yang sama denganku.
******
Kami berdua terdiam cukup lama di dalam mobil. Drey sibuk dengan kemudinya sementara aku sibuk menatap gerimis yang jatuh membasahi kaca. Terlalu banyak hal yang terjadi hingga kami masih tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Lucy ingin bertemu orang tuaku, sehingga dia mengundang kami dalam acara makan malam. Bukan dengan maksud apapun. Hanya ingin berkenalan sebelum orang tuaku pulang. Ayah dan ibuku berangkat dengan Daniel yang membawa mobil van. Sedangkan Drey memilih menyetir sendiri denganku.
Sebenarnya aku tidak bisa berbicara dengan Drey karena khawatir hatiku meletup lagi. Ada ketidaksiapan dalam diriku menghadapi Drey. Lalu mengakui bahwa kini aku sangat, sangat, sangat mencintainya lebih dari sebelumnya.
Namun lama-lama aku tidak tahan dengan keheningan di antara kami.
"Tadi pagi benar-benar mengejutkan"
Aku memulai percakapan dengan memilih kejadian terkelupasnya wallpaper yang mengejutkan.
"Aku juga sangat terkejut. Kupikir ayahmu akan bertanya, 'pintu apa itu?'. Untungnya saja tidak"
"Akan jadi masalah jika kita menjawab Hal yang berbeda"
Kami berdua tertawa membayangkannya. Lalu kembali terdiam.
"Hei, apa kau memang sedang sakit? Atau ada masalah? Hari ini kau sedikit pendiam dari biasanya"
Tanya Drey membuatku terheran. Aku tidak menyangka jika dia sedari tadi memikirkanku.
Ah... Aku jadi terbayang waktu itu.
Ingin rasanya aku mengucapkan sesuatu pada Drey. Menunjukkan betapa aku senang dan berterima kasih pada janjinya. Meski sepele, tindakan itu perlu agar Drey merasa mendapat penghargaan. Namun seperti tidak ada kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya.
Mobil kami berhenti di lampu merah. Dengan cepat aku melepaskan sabuk pengaman dan menghantarkan sebuah kecupan singkat di pipi Drey. Sebelum kembali mengenakan sabuk pengaman lagi.
Aku bisa melihat tatapan bingung dari Drey. Dia sampai memegang pipi yang kucium.
"Itu untuk janjimu semalam"
Ujarku, dan Drey tersenyum mendengarnya. Dia pasti paham Dan tidak bertanya lebih jauh.
******
Orang tuaku sudah sampai lebih dulu di rumah Lucy. Ibuku bahkan sudah membantu menata makan malamnya. Dari ekspresi mereka, aku bisa tahu jika perkenalan orang tuaku dan Lucy berjalan lancar.
"Apa yang mereka bicarakan?"
Bisikku pada Lara penuh rasa penasaran. Lara terus bersama mereka sejak tadi, pasti tahu apa saja yang terjadi.
"Hanya bertanya hal-hal umum seperti pekerjaan dan masakan"
"Ibuku tidak bertanya tentang ayah Drey kan?"
Tanyaku khawatir. Sejujurnya aku tidak tahu seperti apa hubungan Lucy dan ayah Drey. Jadi aku berharap ibuku tidak banyak bertanya mengenai Richard Charleville. Mungkin saja itu topik yang buruk untuk dibawa pada Lucy.
Lara menggelengkan kepalanya.
"Mereka lebih sibuk membicarakan tentang kalian"
Jawab Lara sambil tertawa.
Usai basa basi panjang, makan malam pun dimulai. Tidak ada yang istimewa. Ibuku dan Lucy masih ngobrol sepanjang waktu. Seolah teman lama yang baru kembali bersua. Telingaku terpasang memantau isi pembicaraan mereka. Khawatir ibuku akan menanyakan isu sensitif. Aku memang cerita bahwa Lucy adalah ibu tiri Drey, tetapi tidak pernah kusebutkan bahwa mereka tidak tinggal bersama. Namun yang mereka bicarakan isinya hanya mengenai belanja.
Sedangkan ayahku yang memang kaku saat berhadapan dengan wanita memilih ngobrol dengan Daniel dan Drey. Aku dan Lara sibuk mengurus Ella dan Rilla.
Kupikir orang tuaku tidak terlalu tertarik pada ayah Drey. Ternyata usai makan malam, ibuku mendekat dan berbisik padaku.
"Di Mana ayah Drey?"
"Ayah Drey tidak tinggal di sini. Ibu tidak menanyakannya pada Lucy kan?"
Tanyaku balik ketar ketir.
"Tentu saja tidak!"
Bantah ibuku cepat.
"Sudah kuduga ada yang tidak beres. Di rumah ini tidak ada foto ayah Drey sama sekali"
"Ibu..."
Tiba-tiba saja ada rasa cemas di hatiku.
"Sebenarnya Drey dan a-"
Ibuku segera menutup mulutku.
"Biarlah yang terjadi dalam keluarga mereka menjadi urusan mereka. Kita tidak perlu ikut campur. Kau juga harus hati-hati saat bicara"
Nasehat ibuku. Aku menganggukkan kepala dan langsung memeluknya.
"Terima kasih karena sudah menghargai perasaanku Drey"
__ADS_1
Bisikku pada ibuku.