
Calvin tersenyum puas saat melihat laporan dari Diana. Wartawan itu sudah melakukan pekerjaan baik untuk mendapatkan informasi. Kecurigaannya pada Luna terbukti, memang ada yang disembunyikan gadis itu. Dan hal ini bisa menjadi senjatanya untuk mengganggu Drey.
Calvin masih sakit hati dengan perkataan Drey sebelumnya.
“Kau tahu kenapa kau tidak pernah bisa mengungguli Ares maupun aku? Itu karena kau selalu sibuk menggangguku. Lakukanlah terus, dan kau akan terus tertinggal”
Benar-benar menginjak harga dirinya. Apalagi sebenarnya Calvin sudah cukup lama merasakan sakit hati pada Drey.
Sejak kecil, Calvin tidak suka dengan perlakuan tidak adil ayahnya. Selalu mementingkan Ares. Karena mereka hanya terpaut satu tahun, perbedaan itu menjadi lebih terasa. Setiap ada acara penting, ayahnya hanya menggandeng Ares dan mengenalkannya. Sementara Calvin harus berada di belakang dengan ibu atau sekretaris ayahnya.
Ares memang terlahir pintar. Dia selalu mendapat peringkat pertama di sekolah. Semua pujian dicurahkan padanya. Sementara Calvin yang berusaha mati-matian mengejar kakaknya tidak pernah pernah mendapat pujian yang sama. Semua usaha kerasnya tidak mendapat penghargaan sama sekali.
Karena itu Calvin menumpahkan segala rasa frustasinya pada Drey, si bungsu. Sebagai kakak, dia merasa superior jika bersama dengan Drey. Namun, yang didapatnya hanya kekecewaan. Drey juga selalu melihat ke arah Ares, bukan padanya. Drey selalu membandingkan dirinya dengan Ares, seolah Calvin bukan halangan untuknya.
Lebih menjengkelkan lagi saat Drey ternyata cukup berani menjadi penantang bagi Ares. Tidak mau terus menjadi bayangan Ares. Dia lebih memilih mengalahkan kekuasaan ayahnya ketimbang mendapat pengakuan Oswald. Memilih berhenti bergantung pada nama Everdeen yang selalu dibanggakan Calvin.
Sehingga tanpa Calvin sadari, Drey berubah menakutkan bagi Calvin. Lebih mengancam daripada Ares. Tanpa bantuan ayahnya, Drey sudah membangun kerajaannya sendiri. Hampir berdiri sejajar dengan Ares. Calvin merasa jika Drey makin tidak melihat keberadaannya.
Seperti yang pernah dikatakan ibunya dulu, Drey memang gambaran Oswald yang paling mirip. Mungkin itu membuat Oswald memiliki ketertarikan khusus padanya. Calvin pernah beberapa kali mendapati ayahnya menatap Drey dengan cara yang sama pada Ares. Meski dia sendiri tidak pernah menerimanya. Dan itu membuat Calvin makin kesal.
Tekad Calvin hanya satu. Jika dia tidak bisa mengalahkan Ares, setidaknya Drey juga tidak boleh.
*******
Luna terbangun dari mimpi buruknya. Kali ini sudah berganti menjadi yang baru, Drey meninggalkannya. Kesadarannya langsung menyuruhnya mencari Drey. Luna panik saat mengetahui bagian ranjang di sampingnya telah kosong. Drey tidak ada.
Luna terburu-buru keluar dari kamar. Di meja makan Drey juga tidak ada. Hanya ada pelayan yang sedang bersih-bersih di bawah sana. Luna makin kalut. Ini masih terlalu pagi untuk Drey pergi ke kantor. Lebih dari itu Drey tidak membangunkan atau pamit padanya.
Luna segera mengambil ponsel dan menelpon Drey. Meskipun panggilan itu tersambung, Drey tidak menjawabnya. Luna men-dial kembali nomor Drey. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga yang keenam, Drey masih tidak menjawabnya. Tubuh Luna sudah gemetar. Segala yang terjadi dalam mimpinya membayangi pikirannya. Semua seolah menjadi nyata.
Luna tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia menangis. Saat itulah ponselnya berbunyi. Mengetahui nama Drey yang muncul di layar, Luna segera mengangkatnya.
“Kau ada dimana?”
Tanya Luna tanpa menunggu Drey bicara. Suaranya terdengar panik sekali.
“Aku ada di kantor sekarang, maaf aku sedang rapat tadi. Ada apa? apa terjadi sesuatu?”
“Kenapa kau harus pergi sepagi ini? Kenapa tidak membangunkanku?”
Luna sudah tidak sabar, memberondong Drey dengan pertanyaan.
“Aku tidak tega membangunkanmu, kau kan sedang tidak enak badan. Lagipula aku pergi ke kantor seperti biasa, dan ini juga bukan pagi lagi”
Luna melirik jam, dan ternyata ini sudah hampir jam 12 siang. Luna terlalu panik tadi sehingga tidak sadar kalau dia yang sudah bangun kesiangan.
“Apa kau begitu kehilangan aku?”
Tanya Drey menggoda. Luna malu sekali sampai tidak bisa berkata-kata sedangkan Drey tertawa geli di sana.
“Beristirahatlah, aku akan ada di sampingmu tanpa kau sadari”
*******
Kegelisahan Luna belum hilang. Sebelum dia bisa melihat Drey di depannya, Luna mungkin masih akan merasakan ketakutan itu. Mengesampingkan bahwa saat ini dia harus beristirahat, Luna terjaga mengawasi kedatangan Drey.
Begitu terlihat ada mobil memasuki halaman rumah, Luna bergegas turun untuk menyambut. Dia harus sedikit kecewa karena pria bermata biru yang datang bukanlah Drey, melainkan Ares.
“Kata Ayah kau sedang sakit. Dia memintaku untuk menjengukmu”
Ares lebih dulu menjelaskan alasan kedatangannya kemari. Setengah dari alasan itu adalah kebohongan. Oswald memang meminta Ares pergi menjenguk. Namun Ares juga memang memiliki keinginan untuk melihat Luna. Sudah lama sejak pertemuan mereka di mansion Everdeen. Dan Ares sudah memendam rindu.
Ares bersyukur dia datang sekarang. Luna hanya mengenakan piyama dengan tampilan seadanya. Yang menurut Ares justru terlihat sangat menarik. Dia iri pada Drey yang bisa melihat Luna seperti ini kapan saja.
“Apa kau baik-baik saja?”
__ADS_1
Tanya Ares melihat wajah pucat Luna.
“Ya, maaf merepotkanmu”
Jawab Luna canggung. Berbeda dengan Ares, Luna cukup malu dengan tampilannya sekarang. Terlalu awut-awutan untuk menyambut kakak iparnya.
Meskipun dengan sifat periangnya Luna tidak bisa menghidupkan suasana. Ares menyadari kecanggungan itu, sehingga dia berinisiatif membuka obrolan. Ares membicarakan mengenai New Jersey yang baru dikunjunginya. Mengenai kotanya, jalannya, atau landmark disana, bahkan mengenai oleh-oleh yang dibawanya untuk Luna. Ares membawakan sepasang mug berwarna coklat susu. Mug itu dipesan khusus sehingga di bagian dalam ada tulisan nama Luna dan Drey.
Luna yang belum banyak memiliki pengalaman berkunjung ke luar New York dibuat tertarik dengan topik itu. Sebentar saja, rasa canggung di antara mereka hilang. Apalagi Ares juga orang yang penuh humor. Pandai membawakan suasana.
Di antara tiga bersaudara Everdeen, Ares memang dikenal paling ramah dan bersahabat. Kemarahan adalah sebutan yang asing untuknya. Mungkin karena dia mendapat curahan kasih sayang paling banyak. Luna bisa melihat seluruh kebaikan Ares itu. Tidak seperti Drey yang dingin dan pemarah.
Meskipun begitu, setiap melihat mata biru Ares, yang muncul di pikiran justru Drey. Pria itu memang terkadang bisa menjadi brengsek dan menyakitinya. Namun Drey sering bersikap manis dan hangat padanya. Kalau sudah berbicara, juga tak kalah ramahnya dengan Ares.
“Kau ada disini?”
Saat Luna sedang memikirkan Drey, pria itu akhirnya muncul. Dia heran melihat Ares ada di rumahnya.
“Aku diminta ayah untuk menjenguk Luna”
Drey hanya mengangguk mengerti lalu duduk di samping Luna.
Ketika pria yang sedang dirindukannya itu akhirnya ada di dekatnya, Luna ingin sekali langsung memeluknya. Bermanja padanya. Tetapi dia menahan diri karena masih ada Ares di sana.
******
Setelah kata-kata Calvin, Drey mengira bahwa dia mungkin akan merasa marah, atau benci saat harus melihat Ares lagi. Seperti yang selama ini terjadi padanya. Ternyata dia tidak merasakan apapun.
Untuk pertama kalinya Drey bersyukur ada Ares. Berkat kakaknya itu, pernikahannya dengan putri Emmet Helbram batal. Dia bisa bertemu dengan Luna dan menikahinya. Drey senang dengan fakta itu.
Tetapi ada perasaan mengganjal baru yang muncul di hati Drey. Cara Ares menatap Luna. Dia tidak terlalu mempedulikan hal itu saat di rumah orang tuanya. Ares selalu bersikap ramah pada siapapun. Bahkan pada dirinya dan Calvin yang biasanya menunjukan rasa tidak suka secara terang-terangan. Dan Luna sudah menjadi keluarga mereka kini, sehingga wajar jika Ares juga bersikap begitu padanya. Begitu yang dipikirkan Drey.
Kini tatapan Ares malah terasa mengganggu bagi Drey. Binar sayang itu mulai terasa mengandung arti lain. Drey sudah lama mengenal Ares, dan mereka sama-sama pria. Perasaannya kuat mengatakan bahwa Ares tidak melihat Luna sebagai seorang keluarga. Dan itu membuat Drey tidak nyaman.
Luna langsung memeluk Drey begitu Ares pergi. Membuat pikiran itu menghilang dengan sendirinya dari kepala Drey.
Tanya Drey cemas. Drey memang suka melihat saat Luna rapuh. Karena gadis itu akan bergelayut manja padanya. Namun bukan seperti ini. Dia tidak ingin Luna sakit dan kehilangan sinar keceriannya.
Luna hanya menggeleng lemah. Dia lebih memilih menyembunyikan wajahnya di dada Drey, merasakan keberadaan nyata pria itu di sana.
“Kalau begitu sebaiknya kau makan dulu. Aku sudah membawakan mashed potato untukmu”
Luna segera mengangkat wajahnya begitu mendengar kata mashed potato. Itu adalah makanan favoritnya. Dia memang sedang lapar namun tidak berselera untuk makan. Tetapi bayangan lembut dan gurihnya rasa kentang yang dihaluskan dengan mentega itu mampu membuatnya menelan ludah.
“Aku sangat suka makanan itu”
Ujar Luna. Dia ingin menunjukkan betapa berterima kasihnya dirinya.
“Aku tahu”
Jawab Drey dengan senyuman bangga, seolah tahu segalanya.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Kau selalu bertanya mengenai apa yang kusuka dan tidak. Tetapi tidak sekalipun aku pernah bertanya padamu. Jadi aku bertanya pada Sella, lalu aku harus meminta khusus pada restoran itu untuk memasakkannya untukmu”
Luna tersenyum mendengar jawaban Drey. Sikap Drey yang manis seperti inilah yang membuat dia jatuh cinta tanpa dia sadari.
Ini adalah pertama kalinya Drey kembali melihat senyuman Luna setelah acara ayahnya. Meskipun yang dilakukannya hanya sebuah hal kecil. Drey jadi merasa bersalah tidak banyak memberi perhatian pada gadis itu.
“Maafkan aku.. kupastikan aku akan lebih banyak bertanya padamu setelah ini”
Janji Drey sambil mengecup kening Luna.
******
__ADS_1
Panti asuhan tempat Luna tumbuh bisa dibilang miskin. Namun di tempat itu ada 14 anak yang tinggal. Untuk makan sehari-hari, hasil panen dari lahan yang mereka kelola sangatlah penting. Sehingga setiap kali musim dingin datang, mereka bergantung pada makanan di penyimpanan. Setelah persediaan beras dan lauk menipis, membuat mashed potato adalah solusi terbaik mengenyangkan perut. Tetapi karena mentega cukup mahal untuk mereka, mashed potato buatan panti asuhan lebih terasa seperti kentang rebus ditumbuk. Tidak terasa rasa lainnya.
Di penghujung musim dingin, biasanya tiap anak mendapat jatah seiris daging kering untuk satu hari. Dagingnya tipis dan tidak terlalu berasa. Masih harus dibagi dua untuk makan pagi dan malam. Sehingga biasanya Luna dan teman-temannya akan membuat kembang kol bakar sebagai lauk tambahan. Mashed potato ala kadarnya itupun akan berubah menjadi sedikit lebih lezat.
“.... karena itu aku cukup terkejut saat mencicipi mashed potato disini. Aku baru tahu bahwa mashed potato asli ternyata selezat ini. Dia punya rasa asing yang familiar untukku”
Cerita Luna. Dia menjawab pertanyaan Drey mengenai alasannya menyukai mashed potato.
Meskipun setelah ceritanya berakhir, Luna tetap makan lahap seolah tidak terjadi apa-apa, Drey hanya bisa tercengang. Dia sampai tidak bisa berkata-kata untuk menanggapi cerita itu. Perasaannya campur aduk antara iba dan kagum. Karena meski kelihatannya sangat sederhana, Drey mungkin tidak akan mampu melalui hal yang sama.
Drey mungkin selalu merasa orang tuanya tidak memperlakukannya baik. Membuatnya mengalami masa tidak bahagia. Tetapi selama 28 tahun hidupnya, dia tidak pernah kelaparan atau kedinginan. Dia tinggal di rumah mewah, bisa makan apapun yang diinginkannya. Drey tak pernah kekurangan.
Pemikiran itu yang semakin membuatnya bertanya-tanya. Terbuat dari apa sebenarnya istrinya. Kenapa gadis itu bisa tetap tersenyum? Kenapa dia bisa tumbuh menjadi gadis periang? Namun di sisi lain, dia juga mulai mempertanyakan apa yang tersembunyi di balik senyuman itu.
Saat berkunjung ke Sella’s Kitchen tadi, Drey sempat mengobrol dengan Sella. Awalnya Drey hanya ingin menyapa. Dia bisa melihat bahwa Sella adalah orang terdekat bagi Luna. Tanpa disangka, malah keterusan cerita mengenai masa-masa Luna masih bekerja di sana. Bahkan sebuah kata-kata Sella akhirnya sedikit mengganggu Drey.
“Dia mungkin gadis yang selalu terlihat ceria dan kuat. Tetapi apakah Anda tahu, jika orang yang paling sering tersenyum adalah orang yang paling pandai menyembunyikan perasaannya. Entah kesedihannya, kemarahannya, ataupun lukanya. Dia lupa cara menunjukkan emosinya karena lebih terbiasa untuk tersenyum”
Itulah yang dikatakan Sella padanya tadi.
“Ceryl..apa kau..”
Drey sebenarnya ingin menanyakan jika Luna memang menyembunyikan perasaannya. Namun saat melihat manik coklat gadis itu yang menatapnya polos, kata-kata langsung tertahan di tenggorokan Drey. Rasanya tidak mungkin gadis seperti Luna hanya berpura-pura. Senyumnya selalu terlihat tulus di mata Drey.
“Apa yang ingin kau lakukan setelah ini?”
Drey mengalihkan pertanyaannya.
“Bisakah kau bercerita tentang buku yang menarik lagi?”
“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan”
Raut wajah Luna langsung berubah kecewa. Gadis itu sebenarnya ingin menghabiskan waktu dengan Drey. Dia masih belum bisa menghilangkan kecemasannya. Hanya dengan berada di samping Drey-lah, Luna bisa merasa damai.
“Apa kau mau menemaniku?”
Tanya Drey kemudian, memberikan opsi lain. Luna langsung menjawabnya cepat dengan senyum terkembang.
“Tentu saja”
******
Drey akhirnya harus membaca semua dokumennya di kamar. Dia masih merasa Luna membutuhkan istirahat. Sementara gadis itu, tidak kunjung memejamkan mata. Tangannya setia melingkar di pinggang Drey. Seolah takut ditinggalkan lagi.
Khawatir mengganggu, Luna hanya diam dan memandangi wajah Drey. Mengagumi setiap lekuk arogan suaminya. Atau manik biru yang selalu terlihat berbeda dari mata biru lain yang pernah dilihatnya. Mampu membuat Luna merasa gembira sekaligus gugup hanya dengan satu tatapan.
Banyak hal disadari Luna hari ini. Seperti dia merasa tergantung dengan keberadaan Drey. Luna sudah terlalu lama hidup sendiri, dan perasaan semacam itu menjadi asing untuknya. Dia tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang disayanginya. Sejak saat itu Luna mencoba membunuh hatinya. Berhenti mengharapkan kasih sayang atau mencoba memberikannya. Mengubur dalam emosi dalam dirinya. Cukup rasakan dan tampakkan seperlunya.
Hingga satu kesalahannya membuatnya kembali menghidupkan emosi dalam dirinya. Merasa berdebar tiap kali Drey memperlakukannya manis. Merasa kecewa saat Drey berubah dingin padanya. Dan yang terbaru, Luna kembali merasakan sesuatu yang dinamakan takut.
Luna takut tiap kali Drey hilang dari pandangannya. Dia juga takut Drey akan berubah jika tahu masa lalunya. Kemudian meninggalkannya.
Walaupun Luna tahu, mereka akan berpisah. Seperti yang pernah Drey katakan sebelumnya, Luna harus pergi ketika situasi telah memungkinkan. Karena yang Luna pahami adalah Drey tidak mencintainya. Pernikahan mereka hanya sebuah kesalahan bagi pria itu.
Luna hanya tidak ingin berpisah dengan cara yang sama seperti saat dia harus pergi dari panti asuhan. Saat perasaan yang tersisa hanyalah kebencian. Serta tangis yang jadi hadiah perpisahannya. Luna sudah dibuang dua kali, dia tidak ingin yang ketiga kalinya.
Kalaupun mereka harus berpisah, dia ingin Drey melihatnya seperti pertama kali menerimanya di atas altar. Dengan tersenyum hangat dan penuh kasih. Itu sudah cukup bagi Luna.
“Kenapa kau tidak tidur?”
Tanya Drey, membuyarkan lamunan Luna. Pria itu mencium keningnya.
“Sebentar lagi”
Mendengar jawaban Luna, Drey meletakkan dokumennya. Ikut merebahkan tubuhnya dan ganti memeluk Luna.
__ADS_1
“Apa kau memerlukanku untuk menidurkanmu, atau.... kau ingin bermain dulu denganku?”
Drey membisikkan kalimat terakhirnya dengan nada menggoda. Luna hanya tertawa. Geli oleh hembusan nafas Drey di telinganya, dan juga kalimat itu sendiri. Sangat nakal.