
Aku memperhatikan dengan seksama Luna yang sedang menjalani pemeriksaan. Harap-harap cemas dengan hasilnya. Apalagi sepertinya Luna masih sangat lemah.
Setelah beberapa lama, pemeriksaan selesai. Dokter langsung bicara padaku tentang hasilnya. Sepertinya Luna harus dirawat Dua sampai tiga Hari lagi. Setidaknya sampai tenaganya pulih. Namun tidak ada cedera serius. Kemarin begitu dibawa kemari Luna langsung menjalani pemeriksaan menyeluruh. Jadi tidak Ada yang perlu dikhawatirkan. Dia hanya perlu beristirahat sambil menjaga pola makannya.
Aku lega mendengarnya. Sebagai atlet, aku tahu betul bahaya dari cedera. Terutama cedera di bagian dalam tubuh. Aku tidak mau Luna mengalaminya.
"Kapan aku bisa pulang?"
Tanya Luna begitu dokter pergi. Aku gemas sekali padanya. Sudah kesekian Kali dia menanyakan Hal yang sama. Dan dia sama sekali tidak memikirkan betapa lemahnya tubuhnya sekarang.
"Kau harus sembuh dulu jika ingin pulang"
Jawabku sambil mencubit pipinya. Luna hanya tertawa renyah.
Hari Daniel sedang sibuk karena penundaan proses syuting Luna. Dia tidak Akan bisa datang. Jadi hanya Ada aku Dan Luna berdua di sini. Aku bertanggung jawab penuh merawat Luna termasuk memaksanya untuk makan.
Luna boleh saja sakit, namun pikirannya cukup sehat untuk mengingat urusan pekerjaannya.
"Apa ini kalorinya rendah?"
"Apa ini tidak Akan menambah berat badanku?"
"Apa ini mengandung banyak garam?"
Luna bertanya sambil menunjuk satu persatu makanan yang disediakan rumah sakit. Sebegitu Takutnya dia jika dietnya kacau. Karena biasanya suntikan IV sudah cukup menambah berat badan.
Aku ingin sekali memarahi Luna untuk membuatnya sejenak melupakan acara diet yang sudah membuatnya sakit itu. Tapi wajahnya yang polos saat bertanya itu membuatku harus menelan kembali rasa frustasiku.
"Menu ini adalah permintaanku. Tidak Akan membuatmu gemuk"
Jawabku. Aku terpaksa berbohong untuk membuatnya makan. Dan mendengar jawabanku akhirnya Luna akhirnya mau melahap sarapannya. Tidak perlu bertanya Dua kali. Artinya dia sangat mempercayaiku.
Luna tidak seperti orang sakit lainnya. Dia tidak kehilangan nafsu makannya, atau mengeluhkan makanan rumah sakit. Dia menikmatinya seolah sedang makan di restoran. Membuatku Makin miris. Dia seperti sudah kelaparan untuk waktu yang lama.
Luna juga tidak rewel dengan obat. Dia meminum semua pil nya dengan baik. Kemudian mulai terkantuk-kantuk akibat obat itu.
Meskipun tidak Ada cedera serius, aku tahu tubuh Luna masih terasa sakit di Sana sini. Aku beberapa Kali menangkap basah saat dia meringis kesakitan. Namun Luna berusaha menyembunyikannya dariku. Karena itu, walaupun Dengan pengaruh obat, dia masih kesulitan tidur.
"Bagaimana dengan latihanmu?"
Tanya Luna. Di saat beginipun dia masih juga mencemaskanku.
"Tenang saja, bagi pemain bintang sepertiku bolos sehari tidak akan Ada pengaruhnya"
Kelakarku. Luna tertawa kecil mendengarnya. Aku suka sekali dengan reaksinya. Dia selalu tertawa untuk semua candaanku padanya.
"Lalu bagaimana pestamu?"
"Pastinya membosankan tanpaku"
Luna tertawa lagi.
Kemudian Dia terus bertanya Dan mengajakku bicara. Padahal beberapa kali dia menguap, dan matanya sudah hampir tertutup setengahnya. Namun Rasa sakit pasti memaksanya terjaga.
Akhirnya aku tidak tahan lagi melihatnya. Aku mendekat Dan mengusap lembut punggungnya. Awalnya membuat Luna terkejut.
"Tidurlah. Kau cerewet sekali kau kalau terjaga"
Candaku. Luna menatapku agak lama. Tetapi setelahnya Aku bisa merasakan tubuh Luna perlahan mulai bisa bernafas secara teratur. Dan perlahan, Luna mulai memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian Luna kembali membuka matanya Dan menatapku sangat lama hingga membuatku heran.
"Ada apa?"
"Saat aku tidur, jangan sekali-sekali Kau berani berbuat macam-macam padaku. Seperti Naik ke atas ranjangku atau mencari kesempatan memelukku"
Ancam Luna. Aku hanya bisa bengong mendengarnya. Segitu curiganya dia padaku. Namun karena Luna kelihatan serius sekali saat mengatakannya aku menjadi geli. Aku hanya mengangguk. Lagipula aku sudah melakukannya semalam. Luna pasti tidak menyadarinya.
"Tidak Akan"
Jawabku. Dan Luna pun akhirnya bisa tidur dengan pulas setelahnya.
********************************
Selama Luna tertidur, aku menghabiskan waktu dengan menonton TV. Sungguh membosankan sekali tempat ini. Kalau saja bukan Luna yang sakit, aku tidak Akan sudi kemari.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku. Sebelum Aku mempersilahkan masuk, pintu sudah lebih dulu dibuka. Lara yang datang. Aku hendak menyapanya, namun begitu Melihatku, Lara sudah lebih dulu melemparkan sekaleng soda yang belum dibuka padaku.
Untung aku bisa menangkap kaleng itu. Bayangkan saja jika itu mengenai kepalaku. Lara sepertinya serius ingin membunuhku. Atau kemungkinan lain, kaleng itu bisa mengenai barang di ruangan ini Dan menimbulkan kegaduhan. Itu akan mengusik tidur Luna.
"Apa-apaan kau?"
Semburku kesal. Meski kami dekat Dan sering bercanda. Ini sudah keterlaluan. Apalagi Lara tidak tampak menyesal sama sekali. Dia malah kecewa aku bisa menangkapnya.
"Apa kau puas sudah menyakitinya Dan melihatnya sakit seperti ini?"
Balas Lara. Aku baru menyadari jika Lara mungkin sangat marah. Dia yang mengantar Luna ke klub Dan mengirim pesan padaku. Namun malah kuabaikan. Sehingga aku tidak bisa menjawabnya. Tidak Ada alasan yang membenarkan tindakanku.
Lara juga tidak melanjutkannya. Dia meletakkan satu tas besar berisi pakaian ganti untuk Luna. Daniel pasti yang memintanya mengambil pakaian itu di rumah.
"Jadi, apa kalian sudah berbaikan?"
Tanya Lara lagi. Dia sudah bicara seperti biasa. Bahkan bergabung denganku menonton TV. Sambil mengeluarkan makanan yang dibawanya.
Aku sebenarnya tidak suka pada orang yang selalu ingin tahu urusanku. Tetapi Lara sepertinya akan mengamuk lagi jika aku tidak menjawabnya. Jadi dengan malas aku menceritakan apa yang terjadi.
Setelah mendengar ceritaku, Lara justru tertawa terbahak-bahak. Membuatku heran. Bagian Mana dari ceritaku yang lucu. Ini adalah tragedi bagi aku Dan Luna.
"Sepertinya kau kena batunya sekarang"
__ADS_1
Ejek Lara. Tapi aku masih tidak paham apa yang membuatnya tertawa.
Aku hanya mendengus kesal. Memilih untuk tidak memperdebatkannya.
"Kalau sudah selesai melihatnya pergilah"
Usirku. Dengan Lara di sini, aku malah tidak Akan nyaman. Tidak bisa berduaan dengan Luna.
"Aku Akan pergi setelah Luna bangun"
Jawab Lara cuek. Dia bahkan dengan nyaman sudah menonton TV sambil memakan camilannya Tanpa mempedulikanku.
Aku baru ingin mengomeli sikap Lara yang kurang sopan padaku saat Ada suara ketukan lagi. Aku mengira bahwa itu Daniel Dan membukanya. Namun begitu tahu siapa yang datang, aku hanya bisa membeku.
Orang itu juga sepertinya terkejut Melihatku yang membuka pintu untuknya. Dan untuk beberapa saat kami hanya saling pandang. Sama-sama kikuk.
"Hai"
Sapaku yang pertama Mengatasi situasi.
"Ah...hai, kudengar Luna dirawat di sini"
Jawabnya. Aku sebenarnya tidak ingin membiarkannya masuk. Karena dia adalah orang yang menjadi penyebab pertengkaranku dengan Luna. Si mantan kekasihnya, Casey. Tetapi aku tidak bisa bersikap begitu
"Ya, masuklah"
Ajakku tidak membiarkan Casey berdiri lebih lama di sana.
Casey masuk mengikutiku. Dia sempat terkejut Melihat Lara yang sedang duduk santai di dalam. Mungkin bertanya-tanya kenapa Ada wanita di sini sementara Luna tidak pernah punya teman. Selain Luna memang tidak Ada yang tahu kalau Lara adalah adik tiriku.
"Hai... Casey, lama tidak berjumpa"
Untungnya Lara dengan cepat menyapanya. Kudengar mereka pernah pergi berkemah bersama sebelumnya.
"Ah..kau Lara? Bagaimana kabarmu?"
Balas Casey. Di saat begini, aku bersyukur Ada Lara di sini. Mereka saling mengenal dan bisa mengobrol. Jika hanya Ada aku, kami berdua pasti Akan sangat canggung Dan kikuk.
Karena Luna belum bangun, Casey akhirnya hanya bicara pada kami. Meskipun begitu aku tahu Ada tatapan khawatir di Mata Casey saat melihat Luna. Beberapa Kali dia mencuri pandang ke arahnya. Dan itu membuatku kesal.
Apalagi Casey terus mengatakan bahwa dia Ada di Sana saat Luna jatuh. Merasa bersalah tidak bisa menolongnya. Meskipun itu dikatakannya sebagai Rasa simpati, aku tetap tidak menyukainya.
Casey tidak pernah melakukan apapun untuk Luna. Bukan hanya saat dia jatuh kemarin. Casey juga Ada di Sana saat Luna jatuh usai diputuskannya. Tetapi Casey tidak melakukan apapun untuk menolongnya. Dia hanya bersikap sok pahlawan sekarang. Padahal dia bukan pahlawan di hidup Luna.
Aku memang bukan pria yang lebih baik dari Casey, tetapi aku Akan selalu Ada di samping Luna saat dia terjatuh. Karena itu aku tidak suka kekhawatiran di Mata Casey itu.
"Wah...sepertinya kau punya saingan yang berat"
Komentar Lara saat Casey sudah pamit pulang. Dia memang selalu tahu Cara menyentil ego-ku.
Sindirku kesal.
"Bukan. Karena dia bisa membuatmu cemburu Dan marah padanya"
Jawab Lara sambil tertawa. Rasanya aku seperti ditampar. Aku baru menyadari itu. Entah sisi mana dari Casey yang bisa membuatku cemburu padanya. Ini pertama kalinya aku bisa cemburu pada mantan dari kekasihku. Dan itu semua karena Luna.
********************************
"Hahaha..."
Aku mendengar suara tawa keras di belakangku. Lebih keras dari suara TV yang sedang kutonton. Membuatku penasaran Dan mengintip apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Namun Lara berbicara cukup cepat membuatku tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya. Paling juga hal-hal nonsense. Tetapi Luna terlihat menikmatinya. Seakan Lara sedang melawak untuknya.
Sejak bangun, kondisi Luna sudah lebih baik. Wajahnya sudah sedikit berwarna, Dan dia bisa berbicara banyak dengan Lara. Sehingga aku membiarkan dia menikmati waktu untuk bicara dengan Lara.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu"
Pamit Lara kemudian. Hari memang sudah mulai gelap. Dan Lara harus menjemput ibunya juga.
"Datanglah kesini lagi"
Rajuk Luna manja. Meski baru bertemu, sepertinya Luna sangat menyukai Lara. Mungkin karena mereka seumuran, Dan Lara adalah gadis yang mudah bergaul.
"Aku Akan datang besok, Tenang saja. Kalau Drey macam-macam padamu telfon aku saja"
Jawab Lara sambil memeluk Luna. Dia lalu pergi Dan hanya pamit padaku dengan melambaikan tangannya.
"Lara sangat baik ya"
Ujar Luna padaku setelah Lara pergi. Ada senyum bahagia terkembang di wajahnya. Kelihatan polos Dan manis sekali. Dan itu membuatku berprasangka jika Luna Akan menganggap semua orang yang datang padanya sebagai orang baik.
"Kau menyukainya?"
"Ya, dia adalah sahabat pertamaku. Aku tidak pernah punya teman sebelumnya"
Lihat Kan? Luna bahkan sudah memberikan stempel teman pada Lara.
"Ya...asal kau jangan sampai seperti dia saja nanti"
Candaku, yang disambut tawa Luna. Akhir-akhir ini sepertinya Luna banyak tertawa.
"Kau tidak tidur?"
Tanyaku. Luna sudah minum obatnya tadi. Harusnya dia sudah mengantuk. Aku takut bicara dengan Lara telah membuatnya terjaga.
"Mm....ya"
Jawab Luna. Dia kelihatan seperti ragu, namun akhirnya merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Aku tidak ingin menganggu Luna. Sehingga aku melanjutkan untuk menonton TV. Kupikir dia akan bisa tidur lebih mudah. Namun baru beberapa menit"
"Krrtt...."
Suara ranjang Luna berbunyi. Tak ayal aku mengintipnya. Karena biasanya ranjang itu tidak akan berbunyi kecuali Ada gerakan yang terlalu besar. Tetapi Luna sedang tidur membelakangiku. Jadi aku mengabaikannya.
"Krrtt...."
Suara itu terdengar lagi. Kuintip lagi, Kali ini Luna sedang tidur menghadap ke arahku. Saat aku kembali mengalihkan pandangan,
"Krrrt..."
Kali ini Luna kembali membelakangiku. Akhirnya aku jadi penasaran apa yang dilakukannya. Kali ini aku memutuskan terus memandangi Luna.
Ternyata Luna terus bergerak gelisah. Berkali-kali mengganti posisinya dengan ekspresi tidak nyaman di wajahnya.
"Kenapa? Apa kau tidak bisa tidur? Mau kupijat?"
Tawarku. Luna membuka matanya dan menatapku sejenak, masih ragu.
"Tidak, tidak perlu. Tapi...."
Luna menggantung kata-katanya. Membuatku Makin penasaran.
"Tapi kenapa?"
Tanyaku Tak sabar. Bukannya menjawabku, Luna malah menggunakan tangannya menunjuk ke salah satu bagian kamar.
Aku mengerutkan kening tidak mengerti apa yang dimaksudnya. Dan Luna masih bersikeras memberi tahu hanya dengan tangannya.
"Tanganmu pegal?"
Tebakku tidak mengerti.
"Aku ingin ke toilet!"
Jawab Luna dengan keras. Mungkin kesal sekali karena aku tidak bisa memahami maksudnya.
Wajah Luna langsung merah ketika mengatakannya. Sepertinya dia malu sekali. Luna belum bisa berjalan ke kamar Mandi sendiri. Mungkin sebenarnya Luna tidak ingin minta bantuanku. Tadi pagi dia dibantu suster. Lalu saat Ada Lara, adikku itu yang membantunya. Padahal aku juga tidak terganggu jika dia mengatakannya padaku secara jelas.
Aku segera menghampirinya. Memapahnya Akan sedikit lama, jadi aku langsung saja menggendongnya. Dan aku Sempat melihat wajah merahnya. Membuatku tidak tahan untuk menggodanya.
"Apa kau ingin dibantu juga buang airnya?"
Aku langsung merasakan jeweran di telingaku.
"Dasar mesum!"
Umpat Luna. Aku hanya bisa tertawa saat menangkap ekspresi cemberutnya yang menggemaskan.
"Jangan dibuka pintunya! Berdiri Dua meter dari pintu. Pokoknya jangan mendekat!"
Cecar Luna saat aku hendak menutup pintu. Luna sudah melotot tajam. Dia sepertinya khawatir sekali dengan godaanku. Sampai harus memberi peringatan dengan ekspresi serius yang membuatku geli.
Bahkan selama di kamar Mandi. Dia berkali-kali berteriak padaku.
"Jangan mendekat ke pintu!"
Karena dia begitu hebohnya, aku jadi ingin menjahilinya.
"Drey, aku sudah selesai"
Panggil Luna. Tapi aku pura-pura tidak mendengarnya dan membiarkannya.
"Drey...aku sudah selesai"
Panggil Luna lagi, dengan suara lebih keras.
"Dreeeyyyy.....!!!!"
Teriak Luna sangat keras. Baru aku membuka pintu sambil tertawa. Bisa kulihat wajahnya yang kesal sekali. Aku memang kasihan pada Luna yang masih sakit. Tapi aku tidak tahan untuk tidak mengusilinya.
********************************
Malam sudah semakin larut. Seluruh lampu ruangan juga sudah kumatikan. Menyisakan lampu tidur di samping ranjang Luna. Aku juga sudah bersiap tidur. Rasanya lelah sekali terkurung di sini seharian. Apalagi besok aku sudah harus masuk latihan lagi.
"Krrtt...."
Suara itu terdengar lagi membangunkanku yang baru saja memejamkan Mata.
"Ada apa? Ingin ke kamar Mandi lagi?"
Tanyaku saat melihat Luna membuka lebar matanya menatapku.
Luna menggelengkan kepalanya.
"Apa kau Akan tidur di Sana?"
Tanya Luna. Menunjuk sofa yang sedang kutiduri. Memang sebenarnya ada kasur yang disediakan untuk penjaga sepertiku.
"Ya, lebih nyaman di sini. Kenapa?"
Lama Luna tidak menjawabnya.
"Di sini gelap Dan sepi sekali. Aku takut"
Ujarnya kemudian. Memberi tanda bahwa dia ingin aku menemaninya. Sofa terletak sedikit jauh dari ranjangnya. Mungkin itu membuat Luna merasa sendirian.
__ADS_1
Aku akhirnya mengalah dan mengambil kursi untuk tidur di samping ranjang Luna. Menunggui Luna sampai dia tertidur. Entah dia sadar atau tidak, sepanjang malam Luna terus menggenggam tanganku dengan erat.