
Aku menatap Luna yang sedang melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian. Sambil menikmati udara pagi yang segar di pondok.
"Nanti bawalah baju itu kembali ke London"
Pintaku saat melihat kaos oblong dan celana gombrong yang sedang dijemur Luna. Pakaian yang dipakainya saat kami pertama bertemu.
"Baju ini?"
Tanya Luna tak yakin. Aku menganggukkan kepala.
"Baju ini sudah lama sekali. warnanya juga sudah hampir pudar"
"Tapi aku menyukainya"
Luna menatapku heran.
"Seleramu aneh"
Komentarnya. Luna benar-benar tidak tahu seberapa "memorable" nya pakaiannya itu. Pakaian pertama yang membuatku berpikir bahwa pakaian sederhana sepeeti itu ternyata tidak akan menutupi kecantikannya.
"Bawa ya?"
Pintaku memastikan.
"Baiklah"
Aku bersorak senang dengan jawabannya. Sementara Luna kembali pada pekerjaannya.
Rumah ini mengherankan. Meski milik keluarga seorang selebriti yang terkenal, tetapi tidak menyewa jasa pelayan. Semua hal di rumah ini dikerjakan sendiri oleh Mutia, terkadang dibantu Mona. Luna juga saat dia di rumah. Dari memasak, mencuci, membersihkan rumah. Namun aku bisa melihat semuanya dirawat dengan baik.
Luna juga tidak kelihatan keberatan. Karena itu dia ahli sekali dengan pekerjaan rumah di London. Jadi seperti ini dia dibesarkan.
"Kemana keluargamu? Aku tidak melihat orang tuamu atau Mona sama sekali"
Tanyaku saat menyadari jika sejak tadi kami hanya berdua.
"Mereka sedang keluar kota. Ada acara pernikahan di rumah Adam. Mereka sudah pergi sejak kemarin. Nanti malam pasti sudah pulang"
"Banyak sekali acara pernikahannya?"
Tanyaku heran. Bukankah mereka sudah menikah secara agama dan juga mengadakan pesta dengan teman-temannya. Ternyata masih ada pesta lagi.
Luna tertawa mendengar pertanyaanku.
"Ini sudah termasuk singkat untuk ukuran di sini"
Aku tidak membayangkan jika ternyata masih ada proses lainnya. Pasti melelahkan dengan pernikahan sepanjang itu. Tidak cukupkah dengan satu kali pesta?
"Apa kita seharusnya ikut juga?"
Tanyaku tidak enak.
"Ya, Harusnya Kita ikut. Tapi kemarin kau sakit begitu. Ibuku hampir memilih tinggal juga. Katanya, khawatir aku melakukan sesuatu padamu"
Kelakar Luna. Aku tertawa saat mengingat beberapa kali Mutia marah dengan interaksiku dengan Luna.
"Ayo ke dalam. Kau bisa bisa masuk angin di sini"
Ajak Luna.
*****
Meskipun aku sudah mengatakan baik-baik saja, Luna tetap memeriksaku untuk memastikannya sendiri. Dia baru percaya saat melihat angka normal di termometer.
"Benar kan? Aku baik-baik saja kan?"
"Ya, syukurlah"
Ujar Luna sambil tersenyum. Sejujurnya aku seolah melihat seorang ibu dalam dirinya.
"Kau mau makan apa?"
Tanyanya lagi.
"Apapun, asal tidak berat"
Dia menganggukkan kepala dan segera bergerak menuju dapur.
Sambil menunggu Luna, aku menonton TV. Untungnya rumah ini memiliki beberapa saluran berbahasa inggris. Acara yang menarik perhatianku adalah berita. Ada berita sepak bola dari berbagai liga di belahan dunia. Sudah beberapa Hari sejak di sini aku absen memantaunya. Padahal saat kembali nanti aku Akan menjalani laga internasional.
"Aku yakin. Ibumu pasti melihatmu dari suatu tempat. Dia pasti berkata pada dirinya sendiri, 'putraku telah tumbuh dengan baik. Aku menyesal baru melihatnya'. Dia pasti juga ingat tentang hadiah yang diberikan untukmu. Ibuku saja masih ingat berapa kali mengganti popokku dalan sehari. Dan ibumu pasti, juga merindukanmu, lebih banyak dari kerinduanmu sekarang"
Ah.. aku jadi memikirkan kata-kata Luna sekarang. Aku jadi penasaran dengan apa yang dipikirkan ibuku saat melihatku di layar kaca. Meskipun begitu aku tidak punya nyali membayangkannya. Sudah lama aku tidak melihat wajahnya. Hingga sulit bagiku membaca orang seperti apa dia.
"Sudah, aku sudah memeriksanya"
Suara Luna membuyarkan lamunanku. Dia menuju kemari dengan ponsel di telinganya.
__ADS_1
"Dari ibuku"
Luna menyadarkan ponselnya padaku.
"Ya, halo"
"Drey, kau baik-baik saja? Jika masih merasa tidak sehat, minta Luna menelfon dokter saja. Kami punya dokter pribadi"
Sepertinya aku sudah membuat khawatir banyak orang.
"Tidak perlu cemas, aku sudah merasa sehat. Terkadang aku memang sakit ketika datang ke tempat baru"
Kilahku, membuat alasan.
"Benarkah? Jangan sampai kau menahannya. Minta Luna memasak sesuatu yang lembut untukmu"
"Baiklah"
"Kalau begitu, baik-baik di sana ya. Telfonlah jika terjadi sesuatu. Maaf aku tidak bisa merawatmu di sana. Begitu acara ini selesai, aku janji akan langsung pulang"
"Aku benar-benar tidak apa-apa. Jadi jangan terlalu mencemaskanku. Terima kasih atas perhatiannya"
Aku menyerahkan ponsel itu kembali kepada Luna.
"Ya... Hm.. oke. Dia tidak keracunan. Iya... Iya, aku mengerti. Hati-hati saat pulang. Bye"
Luna menutup panggilan.
"Aku pasti sudah membuat cemas banyak orang"
Ujarku merasa tidak enak.
"Seorang Ibu memang begitu. Kau tidak tahu berapa kali dia menelfonku kemarin. Jadi tidak perlu sungkan"
Jawabnya sambil menepuk pundakku. Lalu kembali pada pekerjaannya di dapur.
Begitulah seorang ibu ya?
Aku berharap ibuku pun bisa melakukan hal normal seperti itu.
******
Liburanku di sini akan segera berakhir. Namun sepertinya aku belum melakukan banyak hal. Bahkan aku sudah memotongnya dengan sakit seharian kemarin. Jadi sebelum pulang aku ingin pergi ke suatu tempat. Misal tempat wisata.
Indonesia adalah negara yang luas. Aku baru tahu banyak tempat wisata di sekitar sini. Saat aku membuka review di internet, banyak tempat yang direkomendasikan di sini oleh wisatawan asing sepertiku. Pasti menyenangkan bisa mencoba salah satunya.
Tanya Luna.
"Bagaimana kalau kita pergi berwisata sebelum pulang?"
Luna tidak menjawab jadi aku segera menunjukkan isi ponselku.
"Katanya banyak tempat yang bagus di sini. Aku ingin melihatnya"
"Kau ingin pergi kemana?"
"Bali. Banyak yang merekomendasikannya. Sepertinya tempatnya cukup eksotis"
"Bali? Itu cukup jauh dari sini. Kita tidak akan sempat. Tidak mungkin juga kesana hanya untuk menginap di hotel semalam"
"Lalu kemana? Aku tidak tahu banyak tentang negara ini"
Tanyaku kecewa. Pergi ke pantai akan sangat menyenangkan sekarang ini.
"Kita pergi ke dekat sini saja. Lain Kali Kita bisa berlibur lagi kemari, ya?"
Bujuk Luna. Aku hanya bisa mengiyakan. Luna benar. Tiket pulang kami sudah dibeli. Dan aku sudah memiliki jadwal saat pulang nanti. Tidak mungkin kami merubah rencana lagi.
"Ada air terjun di dekat sini. Kita kesana besok pagi saja"
Tidak bisa sekarang? Hari ini aku ingin sekali bergerak. Hanya duduk diam di rumah terasa sangat membosankan dan waktu seolah terbuang sia-sia. Namun aku tidak bisa mengatakan pikiran di kepalaku itu.
"Mau keluar?"
Tawar Luna tiba-tiba. Seakan bisa membaca keinginanku. Tentu saja aku langsung mengiyakan. Luna kemudian menyuruhku bersiap-siap. Walaupun dia hanya akan mengajakku berjalan di sekitar rumahnya saja. Dia tidak ingin aku kelelahan karena baru sembuh.
Hari sudah sore saat kami keluar. Luna membawaku menyusuri jalanan di depan rumahnya. Saat pertama datang kemari, aku sudah melihat hampir seluruh area ini, tetapi karena melihatnya dari dalam mobil, aku tidak sepenuhnya ingat.
Rumah Luna ada di atas. Jadi jalanan terasa sedikit menurun. Namun daerah ini sepi. Hanya ada satu atau dua sepeda motor yang lewat saat kami berjalan. Seolah tidak ada penghuninya. Seperti daerah lainnya, rumah berderet di sepanjang jalan.
Masing-masing rumah itu berpagar dengan halaman luas di depannya.
"Di sini cukup banyak yang menggunakan sepeda motor, ya?"
Tanyaku heran.
"Karena jalanan di sini tidak terlalu luas dan memakai kendaraan roda dua terasa lebih praktis"
__ADS_1
Jawab Luna. Benar juga. Jalan di depan kompleks rumah kami bahkan jauh lebih lebar dari tempat ini. Padahal sepertinya ini jalan utama di sini.
Hanya saja harus ku akui, udara di tempat ini sangat segar. Rasanya membuat lega hidung saat aku menghirupnya. Aroma pinus yang sejak kemarin juga terasa kuat. Entah berasal dari mana. Padahal sepertinya aku tidak melihat pohon pinus di manapun.
"Tempat ini sudah banyak berubah"
Ujar Luna saat memperhatikan rumah-rumah itu.
"Lima tahun lalu, di sini adalah lapangan besar. Biasanya dipakai untuk bermain sepak bola"
Ia menunjuk tiga rumah yang memang nampak masih baru. Setelah itu Luna bercerita tentang banyak hal yang diingatnya dari daerah ini. Dia bahkan masih bisa menceritakan dengan baik orang-orang yang tinggal di dalamnya. Orang yang sering meminta bantuannya, yang sering memberinya permen, atau yang sering datang ke rumahnya. Mungkin seperti inilah rasanya memiliki tetangga.
Aku tidak pernah tinggal di lingkungan yang mengharuskanku berinteraksi dengan tetangga seperti ini. Bahkan aku juga tidak tahu siapa yang tinggal di samping rumahku. Jadi cerita seperti ini terasa baru.
Luna mengajakku berhenti di depan sebuah toko. Toko? Sepertinya tidak bisa disebut begitu. Meski menjual barang, tempat itu sangat kecil. Aku bahkan cukup merentangkan kedua tanganku untuk mengukur lebarnya. Kemasan warna warni digantung berjajar di bagian depannya. Entah jendela atau apa. Karena lebar sekali.
"Dulu aku sering beli snack di sini"
Kata Luna. Dia lalu memanggil seseorang dari dalam Sana. Secara mengejutkan, Ada nenek tua yang keluar dari jendela besar itu. Luna berbicara padanya dan mulai memilih barang.
Ia memborong banyak sekali snack kemasan yang digantung tadi. Lalu mengajakku duduk di depan kursi panjang di depan toko kecil itu.
"Banyak sekali yang kau beli?"
Tanyaku.
"Ini akan habis dengan cepat. Kau tahu, satu bungkus ini hanya seharga satu sen"
"Satu sen?!"
Aku tidak bisa menutupi keterkejutanku. Di dunia ini ternyata masih ada snack seharga satu sen. Pantas dia memborong banyak sekali.
Luna membuka satu persatu kemasan snack itu. Satu kemasan palingan hanya untuk sekali telan. Aku hanya mengikutinya. Rasanya ada yang asin sekali, manis sekali. Kami makan sambil mendengarkan cerita Luna tentang Masa kecilnya lagi.
Luna selalu mampir ke toko kecil ini setiap pulang sekolah. Kadang bisa duduk sampai berjam-jam. Pernah suatu Kali Mutia mencarinya karena dia tidak langsung ke rumah. Mutia sangat marah saat menemukan Luna sedang makan jajan di sini. Dia sampai mengejar Luna sambil membawa sapu.
Aku tertawa mendengar cerita Luna. Bisa membayangkan betapa lincah dan bandelnya gadis ini dulu. Walaupun sekarang masih seperti itu.
Sembari kami bercerita, aku mendengar suara sesuatu yang jatuh menimpa atap toko ini. Lama kelamaan makin keras dan hujan ternyata turun dengan derasnya. Aku sempat panik karena air sepertinya akan mengenai kami. Apalagi di tempat sesempit ini. Namun Luna menenangkanku. Menyuruhku kembali duduk.
"Bagian atapnya memanjang di depan, tidak perlu khawatir"
Ujar Luna. Akhirnya aku kembali bergabung dengannya yang masih asyik mengunyah makanannya.
"Hujan sekarang tidak seburuk dulu. Jalanan dulu belum di aspal seperti sekarang. Jadi tanahnya becek semua setiap hujan turun"
Tunjuk Luna pada jalanan di depan. Memang masih ada beberapa bagian tanah yang basah. Tetapi hanya sedikit saja.
Luna kemudian kembali bercerita. Dia suka bermain hujan-hujanan. Terutama saat hujan turun sederas ini. Mengikuti aliran air yang turun dari atas. Karena struktur jalan yang menurun, menurutnya seperti melihat aliran air sungai.
Aku memperhatikan Luna. Dia seperti menyimpan banyak peti harta karun berisi kenangan. Banyak sekali cerita bahagianya. Jika dibandingkan denganku yang datar saja. Sejak kecil aku telah mendedikasikan hidupku pada sepak bola. Selain tentang permainan di atas lapangan hijau, tidak ada kenangan yang bisa ku ceritakan seperti milik Luna itu.
Karena itu aku bahagia. Luna memberiku kesempatan merasakan kenangannya. Membayangkan bagaimana ia melalui hari-harinya yang indah dan penuh kejutan.
"Kau kelihatan lebih bahagia di sini"
Ujarku tanpa sadar.
"Tentu saja"
Jawabnya cepat.
"Di sini ada yang namanya kebebasan. Coba perhatikan sekitarmu"
Perintah Luna. Aku segera melihat ke sekeliling. Namun tidak paham apa yang diminta Luna untuk dilihat.
"Kita telah duduk untuk waktu yang lama di sini. Tapi tidak ada satupun yang datang pada Kita untuk bertanya. Tidak Ada juga yang mengarahkan kamera pada kita"
Luna benar juga. Beberapa Kali kami berpapasan dengan orang. Meskipun mereka menyapa kami dengan ramah, tidak satupun mengejar kami. Termasuk nenek yang menjaga toko ini.
"Dulu ayahku memilih tinggal di sini karena tidak punya uang. Kami harus membeli tempat tinggal yang murah. Namun setelah punya cukup uang, tetap memutuskan tinggal di sini karena tidak Ada yang mengusikku. Tidak ada wartawan yang menunggu di depan pagar rumahku. Dan aku bisa bebas pergi kemanapun. Luna Eloise yang seorang artis tinggal di Amerika. Yang ada di sini hanya Laluna"
Jelas Luna. Karena ini Luna terlihat santai sekali di sini. Saat ia enggan bahkan hanya untuk pergi ke supermarket selama di London, sekarang malah menikmati jajanan murah di sini.
Aku menatap hujan yang turun. Menyadari bahwa dibandingkan tempat-tempat lain yang pernah ku singgahi, di sini cukup sederhana. Musimnya hanya ada dua. Melihat hujan atau matahari terik di sini bukan hal mengejutkan. Jalanannya juga tidak begitu lebar. Namun menurutku Bukan tempat yang buruk. Di tempat sederhana ini Luna bisa terlihat bahagia. Ada banyak kenangannya juga di sini.
"Kau tidak berpikir untuk berhenti jadi Artis dan pulang kemari kan?"
Tanyaku khawatir. Selama ini dia baik-baik saja menjadi Artis karena tinggal di luar Sana. Ini pertama kalinya dia bisa pulang kemari dan kelihatan bahagia sekali.
Luna tertawa.
"Kau sendiri Kan yang bilang, bahwa aku perlu mengganti suasana hati. Bukan berarti aku ingin kembali di sini. Jika aku harus menjadi seorang Artis untuk bisa tinggal denganmu, maka itulah yang akan ku lakukan. Lagipula aku sama bahagianya, baik di sini ataupun denganmu"
Aku merasakan genggaman erat tangannya yang hangat. Luna membuat jantungku berdetak tak karuan. Dia sepertinya tak akan pernah lelah mengejutkanku dengan hal manis.
Hujan berhenti setelah itu. Dan kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
__ADS_1