
Aku mematikan ponselku dengan dongkol. Sudah ku duga bahwa pada akhirnya akan menutup telfon dengan kecewa, memangnya apa yang bisa ku harapkan dari ayahku. Pria tua itu akan tetap bersikap buruk.
Aku menghela nafas kasar. Rasanya seperti melukai harga diriku saat lebih dulu menyapa ayahku. Aku sudah berusaha bicara dengan baik Dan sopan, tetapi ayahku justru menjawab dengan nada dingin, Tak bersahabat.
Yang ku dengarkan selama sepuluh menit durasi pembicaraan kami hanyalah bentakan frustasi dan caciannya. Ia masih membahas tentang sikapku yang pergi di tengah makan malam dan merobek undangan di depannya. Bahkan ia terdengar angkuh menuntut permintaan maaf dariku. Seolah aku masih sangat membutuhkannya.
Mungkin inilah Alasanku malas berinisiatif mengajaknya bicara. Aku tahu hanya Akan kecewa pada akhirnya.
Ini ide buruk! Aku tidak mau lagi menghubungi ayahku. Itu yang ku pikirkan.
"Bagaimana kabar ayahmu?" Tanya Luna membuyarkan lamunanku.
Dia sudah menyodorkannya secangkir kopi untukku. Aromanya lumayan sedikit menenangkanku.
"Hm... sepertinya sehat, karena dia bisa mengomel tanpa henti"
Aku sungguh ingin mengutarakan perasaan kesalku pada Luna atas telfon barusan. Aku ingin bilang bahwa sebaiknya aku berhenti berusaha bersikap baik pada ayahku. Tidak Ada gunanya.
Namun kemudian mataku menangkap ekspresi Luna yang sedang menatap lantai. Ada kegelisahan di Sana. Meski mencoba menutupinya, aku tahu dia tertekan dengan sikap ayahku. Dan dia masih mencoba mempedulikan Pak tua itu.
"...Jika kebetulan aku adalah bagian dari pilihan hidup yang kau inginkan itu, ayahmu juga pasti bisa menerimaku"
Itu yang diucapkannya semalam padaku. Dari semua orang, dia yang Paling peduli padaku Dan juga ayahku. Aku segera merasa bersalah telah berpikir untuk menyerah begitu cepat.
Ini memang tidak mudah, tapi ini demi Luna. Aku ingin ayahku menerimanya.
"Ini adalah rekor baru untukku. Aku tidak pernah berbicara dengannya selama sepuluh menit di telfon tanpa marah sedikitpun"
Aku mencoba mengubah arah pembicaraan kami agar tidak terus terasa suram. Luna akhirnya bisa sedikit tersenyum mendengarnya. Dia juga bergumam pelan,
"Syukurlah"
****
__ADS_1
Aku merapikan tatanan rambutku sekali lagi sambil menatap back mirror. Penata rambutku sudah melakukan yang terbaik membuatnya rapi, tetapi entah kenapa aku belum puas. Mungkin karena hatiku gugup sekali. Aku jadi begitu gelisah.
Daniel mengetuk kaca mobil, menghentikan aktivitasku.
"Dia sudah selesai," ujar Daniel.
Aku bergegas turun dari mobilku, sambil sekali lagi merapikan jas dan rambutku. Lalu menghela nafas dalam-dalam. Hari ini adalah pemutaran perdana dari film Luna. Dia memintaku mendampinginya. Meskipun kami telah tampil bersama di berbagai kesempatan, ini akan jadi pertama kalinya aku hadir di acara istimewa ini. Mungkin karena itulah aku menjadi gugup.
Saat aku membalikkan badan, Luna ternyata sudah keluar. Dia membuat mataku tak bisa lepas memandangnya. Aku merasa telah menyaksikan sesuatu yang berbeda. Karena ini acara besar baginya, Luna telah berdandan.
Pernahkah aku mengagumi kecantikannya sebanyak ini?
Matanya yang ditimpa dengan glitter nampak lebih berkilauan dari biasanya. Tulang pipinya yang dibuat seperti tersipu makin menonjol dengan senyumannya. Bibirnya yang dipulas dengan lipstick terang terasa menggiurkan. Sepasang bahunya yang terbuka pun nampak seindah porselen. Aku hanya bisa membeku saking kagumnya.
Luna melangkah anggun menuruni tangga salon. Tangannya mengangkat gaun putihnya yang panjang menyapu lantai. Dia sama sekali tidak terlihat canggung berjalan di atas heels tinggi yang dibencinya. Ia berhati-hati namun tetap terlihat penuh percaya diri.
Rasanya akan sayang sekali jika ia harus menghabiskan tenaga berjalan kemari. Memikirkan itu akhirnya tanpa sadar kakiku sudah bergerak. Aku menghampirinya dan segera menggenggam tangannya membantu turun.
Aku harus menanyakan berkali-kali pada diriku sendiri. Apakah aku sudah pantas untuk mendampingi bidadari sepertinya.
****
Rasanya baru beberapa jam yang lalu aku seolah terbang ke langit ketujuh. Namun sekarang, rasanya aku sedang jatuh ke neraka di dasar ketujuh. Hatiku menggelegak panas. Seolah ada sesuatu mendidih di dalamnya.
Bagaimana tidak? Luna begitu cantik Hari ini, tetapi aku harus merelakan pria lain yang menggandeng tangannya. Apalagi orang itu adalah mantan kekasih Luna, Casey. Karena dialah pasangan Luna di dalam film. Sudah menjadi keharusan bagi mereka berjalan bersama di atas karpet merah.
Meskipun aku mengetahui alasannya, tetap saja rasa cemburu membakarku. Apalagi mereka yang menjadi pusat perhatian menjadi sasaran empuk para reporter. Pertanyaan seputar Masa lalu mereka muncul tanpa bisa dicegah. Aku tahu Luna telah melakukan pekerjaan baik mengatasi semua itu. Dia pun tidak ingin kerja kerasnya hanya dihargai dengan gosip. Namun karena aku hanya bisa menyaksikan dari pinggir, rasanya cukup geram juga.
Alasan kedua mengapa aku begitu marah adalah film itu sendiri. Filmnya memang bagus. Aku bukan penggemar film melodrama, tetapi bisa begitu terlarut saat menyaksikannya. Bahkan meskipun pernah membaca naskahnya, filmnya masih bisa menampilkan kejutan bagiku.
Dan di film sebagus itu, Casey menjadi seorang pahlawan bagi Luna. Banyak adegan romantis mengiris hati di dalamnya. Saking bagusnya akting mereka, tiap adegan terlihat nyata. Layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka punya chemistry yang sangat baik. Entah karena mereka aktor yang baik atau karena pernah memiliki sejarah yang panjang bersama. Aku hanya bisa jujur, bahwa itu benar-benar membuatku cemburu.
Dua jam yang ku habiskan untuk menonton film itu, terasa sangat menyiksa. Namun aku tidak bisa menunjukkannya pada Luna. Ini pekerjaannya. Saat ini, justru aku menyesal tidak memilih berkarir sebagai aktor. Kalau saja aku memilih pekerjaan yang sama mungkin aku akan bisa bermain film yang sama dengannya.
__ADS_1
Impianku, ibuku, semua seakan menjadi tidak sebanding nilainya jika dibandingkan dengan rasa cemburuku saat ini. Aku benar-benar rela menukar semua yang ku miliki agar bisa sepenuhnya memiliki Luna untukku sendiri.
Harusnya aku menunjukkan semua perasaanku itu. Karena tanpa ku sadari, sebuah retakan kecil rupanya bisa menjadi besar suatu saat.
****
"Apa kau lelah?" Tanya Luna di perjalanan pulang. Dia mungkin menyadari bahwa Ada yang salah dengan ekspresiku hari ini.
Aku sudah berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamanku, tetapi pada berbagai kesempatan mungkin tetap terlihat jelas. Apalagi acara hari ini cukup panjang Dan melelahkan. Mustahil bagiku bisa terus memasang poker face.
"Aku hanya lelah" jawabku sambil tersenyum.
"Ya, hari ini cukup melelahkan. Aku tidak tahu apakah masih sanggup menjalani sisa acara promosi..."
Aku tidak terlalu mendengarkan perkataan Luna selanjutnya. Rasanya suara Luna terdengar menjauh dan samar-samar. Seolah teredam oleh suara mesin mobil. Mataku juga terfokus pada jalanan di depan sana.
Lagipula aku tahu apa yang mungkin Luna ceritakan. Aku sudah mendengarnya dari Daniel tadi. Perilisan film ini bukanlah akhir di mana Luna akan bertemu dam menghabiskan waktu dengan Casey. Saat terlibat dalam sebuah proyek film, Luna memiliki kewajiban mengikuti seluruh kegiatan dari mulai pra-syuting hingga promosi. Mulai besok, dia akan terus bertemu Casey lagi. Mereka harus mempromosikan film dalam berbagai bentuk acara.
Aku mengeratkan pegangan pada kemudi, mencoba menjaga agar tidak lepas kendali. Aku tahu ini hanyalah pekerjaan. Ini resiko yang ku terima saat memiliki seorang kekasih aktris. Tapi rasa cemburu juga bukanlah sesuatu yang bisa ku kendalikan. Itu muncul begitu saja dari bawah alam sadarku. Semakin dalam aku mencintai Luna, semakin mudah juga rasa cemburu itu muncul.
Aku harap bisa menunjukkan perasaanku ini pada Luna.
"Terima kasih sudah menemaniku Hari ini," ujar Luna di akhir ceritanya.
Inilah yang menjadi alasan bagiku untuk menahan rasa tidak nyamanku hari ini. Dia berkata begitu tulus dan aku tidak ingin merusak kebahagiaannya. Luna sudah menantikan hari seperti ini cukup lama. Rasa cemburuku tidak ada apa-apanya.
"Sepertinya aku akan semakin jarang melihatmu di rumah"
Hanya sebatas itu keluhan yang bisa ku ucapkan. Namun, Luna pun menjawabnya dengan baik.
"Aku pasti akan merindukanmu."
Aku sempat melihat sebentar ke arah Luna, dan tanpa sadar itu membuat hatiku sedikit tenang. Tidak ada yang perlu ku takutkan, ekspresi yang barusan dibuat oleh Luna bukanlah sesuatu yang pura-pura. Sama sepertiku, dia juga pasti merasa sedih harus melewatkan beberapa Hari tanpaku.
__ADS_1