
"Apaan nih Bu?"
Tanyaku saat melihat beberapa tas besar yang dibawa oleh ibuku.
"Tentu saja oleh-oleh"
Jawab ibuku sambil memeriksa kembali isi kantong-kantong itu. Aku hanya bisa membuka mulut lebar. Ibuku selalu berlebihan ketika membeli oleh-oleh.
"Buat apa sebanyak ini? Siapa nanti yang bawa?"
Tanyaku.
"Ya cargo pesawat lah, nggak mungkin kamu bawa ke kabin"
Jawab ibuku santai. Aku yakin oleh-oleh itu pasti beratnya lebih dari sepuluh kilo. Artinya aku harus menambah bagasi ekstra yang cukup besar. Memikirkannya saja sudah pusing.
Aku akhirnya memeriksa isi belanjaan itu. Kebanyakan adalah makanan dan minuman. Camilan yang diproduksi asli dari Indonesia. Juga bumbu masakan khas sini. Seperti bumbu rendang, rawon dan lainnya. Meski memang sulit didapatkan di luar negeri, bukan berarti kami harus membawa pulang sebanyak ini. Jumlahnya bisa dipakai membuka toko darurat di sana.
Itu belum ditambah kain berbagai jenis. Dari batik, ulos, songket, poleng dan lurik. Semacam hendak promosi budaya lokal saja. Ditambah souvenir pernikahan Mona kemarin. Memikirkannya saja ini sudah berlebihan.
"Ini sih kebanyakan, siapa yang bakal makan?"
Tanyaku masih bernada protes. Ibu segera memukul bahuku.
"Duh, bukan buat kamu. Buat orang-orang kenalanmu di sana. Siapa tahu mereka jadi tertarik datang kemari nanti. Ibu sudah buatkan daftarnya. Nanti kamu cek saja"
Ibuku benar-benar menulis nama-nama daftar penerima oleh-oleh ini. Ada keluarga Drey, Daniel bahkan dia menuliskan teman satu, teman 2, untuk temanku dan Drey yang tidak diketahui namanya. Ya, tidak ada salahnya juga.
"Padahal ayah Kira kalian batal pulang"
Ayahku datang dan langsung bergabung dengan kami. Memelukku dengan wajah kecewa.
"Kalau ayah punya pesawat pribadi, mungkin aku bakal berubah pikiran"
Candaku.
"Sudah, tidak usah kembali. Tinggal di sini saja. Ayah akan membiayai kalian"
Rajuk ayahku yang hanya bisa ku jawab dengan tawa. Kami sudah membeli tiketnya untuk pulang besok. Dan minggu depan Drey juga ada pertandingan. Mustahil mengubah jadwal.
"Yaahh...hilang sudah semua anak perempuanku"
Ujar ayah kemudian. Kali ini ibu ikut tertawa. Aku paham, mereka mungkin akan lebih kesepian sekarang. Mona telah menikah dan Setelah aku pulang akan pindah ke rumah suaminya di kota. Sementara aku, tidak tahu kapan lagi bisa pulang kemari.
******
Setelah kalah berdebat dengan ibu mengenai oleh-oleh, aku pergi ke ruang tengah. Ternyata Drey sudah ada di sana. Menikmati kopi dan camilan. Mata kami beradu Tak sengaja, dan sama-sama terdiam. Rasanya ada Kecanggungan yang Tak terelakkan setelah kejadian dia air terjun. Aku yang menangis heboh dan langsung sakit tadi malam.
"Apa kau sudah merasa baikan?"
Tanya Drey. Terlihat sekali dia juga sedikit merasa bersalah.
"Iya, semalam demamku langsung turun setelah minum obat dan dikompres ibu. Bukan sesuatu yang buruk"
Jawabku hati-hati, mencoba menyampaikan agar dia tidak mencemaskanku lagi. Aku tahu tadi pagi dia berkali-kali memeriksa ke kamar. Namun urung masuk karena ibu dan Mona bergantian menjagaku.
Aku memberanikan diri mendekat dan duduk di samping Drey.
"Kau sendiri bagaimana? Apa benar-benar tidak ada rasa sakit yang terasa setelah jatuh?"
Drey tersenyum tipis.
"Sudah ku bilang aku baik-baik saja, kan?"
"Mm... Syukurlah"
Kami berdua kemudian sama-sama terdiam. Hingga suara derap langkah kaki yang cepat datang menghampiri kami.
"Terima kasih... Terima kasih banyak"
Ujar Mona dengan mata berkaca-kaca. Di tangannya ada tiket penerbangan dan sepucuk surat. Aku sudah bisa menebak bahwa itu hadiah pernikahan dari aku dan Drey.
"Suka?"
Tanyaku memastikan. Mona mengangguk dengan wajah haru. Dia langsung memelukku.
"Ini akan jadi perjalanan terindah seumur hidupku"
Ujar Mona lagi. Aku dan Drey saling melemparkan pandangan sambil tersenyum.
Tiket dan akomodasi perjalanan bulan madu keliling Islandia. Itu hadiah kami untuk Mona dan Adam. Mona selalu menyebutkan bahwa dia ingin pergi kesana, setelah menonton serial "game" yang terkenal itu. Lagipula, hadiah ini tidak akan membuat ibu mengomel padaku meskipun sangat mahal. Jadi sama-sama menguntungkan.
"Terima kasih, Drey"
Gantian, Mona mengucapkan itu pada Drey. Dia kelihatan senang sekali. Membuatku tidak tahan untuk meledeknya.
"Hm.. katanya serem, dapat hadiah langsung berubah gitu"
__ADS_1
Mona segera membekap mulutku.
******
Aku memasukkan pakaianku ke dalam koper. Seluruh pakaian telah dilipat oleh ibuku sehingga siap kemas. Begitupun dengan barang lain yang telah dipisahkan dengan rapi agar aku tidak kesulitan menatanya.
Besok aku akan pulang.
Pikiran itu yang muncul saat aku memasukkan baju kebesaran yang diminta Drey agar ikut dibawa ke London. Rasanya aneh saat memikirkan hal itu. Sebelumnya aku selalu berpikir bahwa ke rumah inilah yang ku sebut pulang. Nyatanya sekarang berubah. Aku merasa di sana juga rumahku.
Namun aku tidak bisa memungkiri ada sedikit kesedihan saat mengemas semua pakaian ini. Rasanya menyenangkan saat di sini. Kebebasan dan rasa nyaman yang tidak bisa kudapatkan sebagai Luna Eloise yang seorang aktris.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
"Apa kau sudah selesai?"
Drey melongokkan kepalanya di balik pintu.
Aku segera menaruh baju terakhirku. Lalu menutup koper dan menghampiri Drey.
"Sudah"
Kami lalu pergi ke halaman belakang. Di sana semua keluargaku sedang berkumpul. Mereka masing-masing sibuk melakukan sesuatu.
Karena ini hari terakhir aku dan Drey di sini, orang tuaku membuat semacam pesta kecil-kecilan. Mereka ingin melakukan sesuatu untuk Drey. Kami akan menarik perhatian jika pergi keluar. Jadi satu-satunya jalan hanya melakukannya di rumah.
Sejak dulu, keluargaku punya tradisi tiap malam pergantian tahun. Membuat api unggun dan membuat berbagai makanan yang dipanggang atau dibakar. Kami melakukannya dari sebelum tengah malam hingga dini hari. Itulah yang sekarang sedang dilakukan keluargaku.
Ayah sibuk menata kayu untuk api unggun. Ibu dan Mona menyiapkan berbagai bahan makanan yang Akan dimasak. Sedangkan Adam menyiapkan arang untuk memanggang. Mereka sepertinya bekerja keras untuk acara ini.
Namun entah mengapa ini terasa ganjil bagiku. Aku mendongak dan melihat langit yang masih terang, karena ini belum lewat tengah hari.
Buat apa api unggun siang bolong begini?
"Sudah lama aku tidak melakukan barbekyu"
Celetuk Drey penuh semangat. Senyumnya terkembang melihat alat pemanggang yang sedang disiapkan oleh Adam.
Sepertinya dia sudah salah paham. Memang ibuku sudah menyiapkan sate ayam dan jagung siang ini, tetapi itu hanya sebagian kecil dari bahan yang disiapkan. Menu utama dari acara ini adalah ubi yang aku yakin bukan menu dari acara barbekyu.
Namun aku tidak mengungkapkan pikiranku itu. Semua orang terlihat bersemangat dan menikmati acara ini. Aku tidak ingin merusak suasananya.
*****
Tepat tengah Hari, pesta kecil itu seharusnya telah dimulai. Sayangnya, langit yang sangat cerah tadi pagi mendadak berubah menjadi hujan deras di siang hari. Cukup deras bak air bah yang dicurahkan dari langit.
Aku dan Drey memandang api unggun yang tadi ditata oleh ayah. Kayu-kayu itu sudah berserak tidak pada tempatnya. Persis seperti harapan Drey. Aku bisa melihat jelas kekecewaan di wajahnya.
Keluh Drey dengan nada merajuk. Ini memang sebuah pesta perpisahan yang tak terduga.
Drey hanya tersenyum kecut Saat aku menggenggam tangannya untuk menghibur. Tidak ada yang bisa kami lakukan dalam situasi ini.
Suara tembang lawas tahun '80-an kesukaan ayah jadi satu-satunya hiburan siang ini. Ayah memutarnya cukup kencang hingga seluruh rumah bisa mendengarnya. Sepertinya yang kecewa bukan hanya Drey. Keluargaku juga merasa tidak enak.
"Jadi kau sudah bermain sepak bola sejak berusia enam tahun?"
Bahkan Mona berinisiatif memulai obrolan dengan Drey. Padahal sebelumnya ia bahkan tidak bisa menatapnya. Untungnya Drey cukup terhibur dengan sikap hangat keluargaku. Dia mulai bercerita, dengan ekspresi wajah yang lebih baik.
"Terima kasih kadonya"
Suara lain yang kembali mengalihkan perhatianku. Dari Adam yang duduk di depanku. Membahas kado perjalanan bulan madu ke Islandia. Sejujurnya aku juga canggung dengan kakak iparku itu. Kami belum pernah bertemu sampai acara pernikahan.
"Mona sudah lama ingin pergi kesana. Maaf jika aku tidak bertanya dulu apa kau baik-baik saja dengan itu"
Jawabku.
"Aku suka apapun yang disukai Mona"
Aku bisa melihat Adam tersenyum malu-malu. Sementara aku tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Sepertinya istilah "bucin" yang sempat disematkan Mona padaku harus diberikan juga pada Adam.
Rasanya obrolan kami jadi berjalan ke arah yang aneh. Aku malah semakin canggung dengannya. Akhirnya aku beranjak dari kursiku Dan pergi ke dapur. Di mana ibuku berkutat dengan daging yang harusnya dijadikan sate. Berhubung membakarnya di dalam rumah bukan pilihan yang baik, sekarang daging-daging itu sedang diolah dengan wajan.
"Ada yang bisa ku bantu?"
Tanyaku basa basi. Ibu biasanya tidak butuh bantuan saat memasak, tetapi sekarang aku sedang mencari alasan menjauh dari ruang tamu.
"Ambilkan garam," pinta ibu.
Dengan cepat aku menyambar toples di sampingku lalu menyerahkannya padanya. Aku memperhatikan ibu yang masih terus sibuk mengaduk masakannya. Daging-daging itu kini telah tercampur dengan bumbu kental berwarna coklat. Aroma rempahnya menguar sempurna. Sangat harum hingga membuat perutku meraung.
Ibu memang koki hebat. Bahkan sayuran yang tadi sedianya Akan dipanggang sudah berubah menjadi tumis di atas meja. Aku jadi semakin menantikan makan siang kami.
"Jadi, kamu serius dengan dia?"
Pertanyaan ibu membuyarkan lamunanku.
"Huh?"
__ADS_1
Aku balik bertanya tidak paham.
Ibu mengecilkan api kompor Setelah memastikan masakannya hampir matang. Lalu menatap serius padaku.
"Dengan Drey" ujar ibuku singkat.
Aku tidak bisa langsung menjawab karena bingung. Aku yakin definisi serius menurut ibuku berbeda dengan milikku. Apalagi ibu menatapku dengan penuh minat. Seolah tidak Akan melepaskanku sebelum aku memberikan jawaban memuaskan.
"Ya, cukup serius"
Jawabku sekenanya. Aku sedang mencari Cara mengalihkan pembicaraan, sebelum ibuku bertanya lebih jauh.
"Sudah bicara tentang pernikahan?"
Terlambat. Ibu sudah lebih dulu menyebut kata yang Paling tidak ingin ku dengar. Inilah definisi serius menurut ibuku, kami harusnya sudah menikah dalam Dua atau tiga bulan ke depan.
Otakku langsung berpikir keras mencari jawaban yang tepat. Jika aku bilang tidak, itu Akan menganulir jawaban pertamaku. Ibu pasti akan mencecarku lebih jauh. Kalau ku jawab iya, aku takut ibu mulai bicara dengan Drey. Meminta bertemu dengan orang tuanya.
"Ibu, aku Kan masih muda. Masih banyak yang harus ku lakukan. Aku rasa Drey juga begitu"
Aku berusaha berkelit.
"Apa menikah Akan membuatmu tidak bisa melakukan sesuatu?"
"Bukan begitu, maksudku... Sekarang aku masih sibuk-- "
"Drey memintamu berhenti bekerja jika menikah?"
"Bukan Bu, a-- "
"Bukankah itu Hal yang bagus? Kau selalu mengeluh tentang beratnya menjadi aktris"
Aku langsung meneguk ludah pahit. Ibu memang Paling ahli mencecar orang hingga aku tidak bisa membela diri.
Sebenarnya bukan itu masalahnya. Pekerjaan dan kesibukan hanyalah alasanku. Bukan hal sulit mengambil rehat dari pekerjaan jika Drey memintaku. Sesibuk apapun kami, pasti Ada waktu yang bisa diluangkan untuk menikah.
Masalahnya adalah ayah Drey tidak menyukaiku. Dia tidak merestui kami bahkan hendak menjodohkan Drey dengan wanita lain. Jadi Meskipun Drey memintaku menikah dengannya, selama Richard belum menerimaku, aku juga tidak bisa menerimanya. Tapi aku tidak bisa mengatakan semua itu pada ibuku.
Aku takut ibu akan kecewa atau bahkan menyalahkan Drey.
"Apa ada yang kau sembunyikan dari ibu?"
Suara ibu menyadarkanku. Dia seolah menangkap semua kebohongan dan kecemasan di wajahku.
Aku langsung menggeleng cepat. Lalu memeluk ibuku agar dia tidak lagi melihat ekspresi wajahku.
"Tidak apa-apa Bu. Aku dan Drey serius, hanya saja saat ini bukan waktu yang baik bagi kami membicarakan pernikahan"
Aku bisa merasakan tubuh ibuku menengang mendengar ucapanku. Seolah tidak terima. Sebelum ibu memotong, aku cepat-cepat melanjutkan ucapanku.
"Aku masih ada kontrak film, dan Drey baru saja pindah ke Inggris. Kami butuh waktu menyesuaikan diri. Kami hanya khawatir merencanakan pernikahan dalam situasi sulit begini malah berakhir berantakan nantinya"
Untuk ke sekian kalinya aku membuat-buat alasan. Namun Kali ini aku merasakan tubuh ibu melembut, tanda setuju. Perdebatan kami berakhir.
"Baiklah. Tapi sebaiknya kalian tidak terlalu lama menggunakan alasan menyesuaikan diri. Nanti kalian akan terlalu nyaman dengan situasi ini, sebelum akhirnya menjadi bosan"
Aku tersenyum kecut mendengar nasehat ibuku.
****
Aku segera memasang sabuk pengaman Setelah mendengar instruksi dari awak kabin yang bertugas. Sebentar lagi pesawat yang ku tumpangi akan mendarat di bandara kota London.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
Tanya Drey mengejutkanku. ku pikir dia sedang tidur tadi.
"Kau terlihat gelisah sejak Kita pulang," ujar Drey tentang alasan dia bertanya.
Sejujurnya aku memang tidak bisa berhenti memikirkan pembicaraanku dengan ibu. Antara merasa bersalah sudah berbohong dan juga mencari Cara menyelesaikannya. Bagaimanapun ibu Ada benarnya. Sampai kapan kami akan menjalani hubungan seperti ini? Terlalu lama menjalin hubungan, kami mungkin berakhir seperti saat aku bersama Casey.
Akan lebih baik jika membicarakan ini dengan Drey. Tapi ini bukan saatnya, sehingga aku hanya menggelengkan kepala.
Hari sudah hampir gelap saat kami menapakkan kaki di bandara Internasional Heathrow. Setelah ini, masih Ada perjalanan sekitar hampir satu jam dengan taksi.
Rumah benar-benar dalam keadaan gelap saat kami sampai. Untuk alasan keamanan, kami tidak menyalakan lampu saat pergi. Namun sepertinya aku sudah sangat merindukan rumah ini. Tidak sabar aku melangkah lebar untuk segera masuk hingga tanpa sadar tersandung dan jatuh.
"Tidak perlu terburu-buru"
Ujar Drey sambil tertawa. Dia membantuku berdiri. Lalu mengambil barang yang sudah membuatku jatuh.
"Sepertinya ini barang kiriman"
Drey meneliti kotak di tangannya dengan cahaya dari ponselnya.
"Ini ditujukan untukmu"
Ujar Drey lagi Setelah membaca nama dan alamat yang tertera di Sana. Segera ku raih kotak itu dari tangan Drey.
__ADS_1
Senyumku terkembang saat membaca nama pengirim bingkisan itu, kemudian kembali menyodorkannya pada Drey.
"Ini untukmu"