Sugar

Sugar
Confession (Drey POV)


__ADS_3

Luna duduk di sampingku dengan terkantuk-kantuk. Dia mungkin tidak menyadarinya, beberapa Kali masih mencoba berbicara. Aku memeriksa jam, ini sudah hampir jam setengah empat pagi Dan Lucas belum juga datang. Dia bilang akan segera kemari, tetapi aku tidak tahu akan memakan waktu selama ini. Entah dia berangkat dari Mana.


Aku melihat ayahku. Bukan pemandangan luar biasa melihatnya terbaring di Sana. Terlalu banyak bekerja dan mengesampingkan kesehatan, dia sudah mengidap penyakit jantung sejak muda. Dulu saat kami masih tinggal bersama, hampir setiap tahun dia masuk rumah sakit layaknya perayaan ulang tahun. Aku sampai bosan keluar masuk menjenguk. Karena dia tetap saja pongah saat sakit. Bersikap seolah tidak membutuhkan bantuanku. Padahal selain aku, dia tidak memiliki siapapun.


Aku hanya tidak ingin dia bersikap begitu juga pada Luna yang telah menolongnya. Itu membuatku merasa gelisah.


Suara pintu dibuka membuyarkan lamunanku. Luna yang sudah bersandar di bahuku juga terbangun. Ini semua karena Lucas membuka pintu sekenanya. Tidak mempertimbangkan bahwa sekarang ini masih dini Hari.


"Aku tidak mengira sebentar yang kau katakan itu ternyata lebih dari sejam," protesku.


Lucas hanya menyeringai, tidak berniat menjawabku.


"Terima kasih sudah membawa ayah kemari"


Lucas bahkan mengabaikanku dan langsung menyapa Luna. Padahal yang disapa dalam keadaan setengah sadar. Seperti biasa, dia selalu tahu Cara membuatku kesal.


"Kalau begitu kami akan pergi" pamitku tanpa basa basi. Aku segera menarik Luna keluar dari ruangan itu sebelum Lucas punya ide baru untuk menggangguku.


*****


Aku memeriksa email dengan teliti. Pagi-pagi, Armand memberitahuku bahwa Ada tawaran pekerjaan. Dia ingin aku membaca poin kesepakatannya. Sebenarnya tidak terlalu penting buatku. Menjadi model iklan produk sudah biasa ku jalani. Walaupun Kali ini adalah kontrak besar, karena yang menginginkanku adalah brand sport apparel terkenal.


"Jam berapa Kita pulang ke rumah?" Luna tiba-tiba muncul. Matanya masih mengerjap karena baru dibuka. Terlihat kantuk masih menggelayutinya.


"Sekitar jam 4"


Luna duduk di depanku, lalu menaruh kepalanya di meja.


"Kalau masih mengantuk, tidurlah di kamar"


Luna langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar ucapanku. Dia melebarkan matanya seolah ingin membantah bahwa dia sudah tidak mengantuk.


"Aku sudah bangun," jawabnya sambil meringis.


Aku terpaksa harus berhenti membaca emailku untuk melihatnya.


"Kalau begitu, kau pasti sudah bisa menjawab pertanyaanku," pancingku.


"Pertanyaan apa?"


"Kenapa ayahku bisa ada di tempat syutingmu?"


Ekspresi Luna yang santai itu langsung berubah mendengar pertanyaanku. Terlihat sekali dia tidak ingin mendengarnya atau Ada sesuatu yang ia sembunyikan.


Luna menggigit bibirnya, sebuah kebiasaan saat dia gugup.


"Dia investor filmku. Sepertinya kau sudah tahu tentang ini"


"Karena dia investor, lalu dia setiap hari datang ke Sana?"


Luna kembali terkejut. Dia pasti tidak menyangka jika di balik pertanyaanku masih Ada kelanjutannya. Jika aku langsung mengucapkannya dalam satu pertanyaan, aku yakin Luna tidak Akan menjawab dengan jujur.


"Apa... Daniel yang memberitahumu?" Tanya Luna yang secara tidak langsung dia sedang menjawab 'ya' atas pertanyaanku. Aku hanya mengangguk.


"Jadi, ayahku yang membuatmu menangis waktu itu. Dia pasti mengganggumu selama syuting, dan  membuatmu mengalami waktu yang sulit"


Aku tidak sedang bertanya pada Luna. Jelas sekali sedang mengatakan kesimpulan yang ku pikirkan setelah tahu masalah ini. Jadi Luna Tidak perlu berbohong dan mengatakan bahwa itu tidak benar Dan membela ayahku.


Rasanya Ada amarah menggelegak di hatiku. Aku menahan diri cukup lama setelah melihat Luna menangis begitu keras waktu itu. Dia bukan gadis yang Akan menangis karena Hal sepele. Jadi bisa ku bayangkan seburuk apa perlakuan pak tua itu padanya. Meskipun tidak Ada yang menceritakan detail tentang kejadiannya. Lalu tindakan Luna yang tetap menolong ayah walaupun sudah disakiti hanya menambah kobaran amarahku. Layaknya minyak yang dituangkan ke dalam api.


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"

__ADS_1


Sebelum Luna membuka mulut untuk membela ayah, aku sudah lebih dulu menyelanya.


"Drey... Aku... Tolong beri aku kesempatan menjelaskannya"


Meskipun rasanya sekarang aku ingin pergi ke rumah sakit Dan melabrak ayah, aku memilih memberi kesempatan pada Luna untuk menjelaskan.


Luna akhirnya menceritakan hal-hal yang terjadi di lokasi syuting. Bagaimana ayahku membuatnya harus bekerja lebih keras saat mengulang adegan berkali-kali. Aku tidak tahu seberapa banyak yang ia katakan atau pilih untuk disimpan. Namun aku sedikit tidak percaya dengan ceritanya yang terakhir.


Hubungan mereka telah membaik akhir-akhir ini?


Rasanya itu sedikit mustahil jika memang ayah pergi kesana dengan maksud menghancurkan Luna. Sama saja seperti panglima perang yang mengobarkan bendera putih di tengah medang perang. Dan itu bukanlah Gaya ayahku.


Namun Luna berusaha meyakinkanku. Dia juga tidak kelihatan berbohong. Meskipun mengulang ceritanya beberapa Kali, dia selalu menyebut dengan persis perubahan sikap ayahku padanya.


Tanpa ku sadari, amarahku tadi sedikit mereda. Walaupun tidak sepenuhnya. Dilihat bagaimanapun ayahku tetap salah. Dan aku yakin dia belum minta maaf pada Luna.


"Baiklah, aku Akan percaya padamu. Tapi aku tetap Akan membicarakannya dengan ayahku, karena ini masih Ada sangkut pautnya denganku. Aku juga akan bicara Setelah dia sudah lebih sehat nanti"


Luna tersenyum mendengar janjiku. Terlihat dia lega bahwa aku tidak berencana datang dengan mengamuk saat ini juga.


"Kalau begitu, ayo siap-siap dulu. Kita harus ke rumah sakit"


"Untuk apa Kita ke rumah sakit lagi?" Tanyaku bingung.


"Tentu saja menjenguk ayahmu. Bagaimanapun kau adalah anaknya"


Entah muncul semangat dari Mana Luna bisa mengatakan itu. Mungkin tidak Ada orang seantusias dia saat hendak bertemu musuh. Aku jadi tidak bisa menolak dan hanya bisa menggerutu.


*****


"Aku akan memarkir mobilnya, kau masuklah dulu" ujarku pada Luna. Dia menurut Dan langsung turun dari mobil.


Aku segera mencari tempat untuk memarkir Mobilku. Hari ini sepertinya banyak pengunjung sehingga parkir hampir penuh. Untung aku bisa menemukan tempat yang Tak jauh dari pintu masuk. Saat aku sedang mematikan Mobil, tiba-tiba mataku menangkap bayangan orang yang lewat di belakang mobilku melalui kaca spion. Meskipun sekilas, aku seperti melihat wajah ibuku.


Aku tahu ini mustahil. Bisa saja itu hanya perasaanku atau orang tadi sekedar mirip dengannya. Meskipun begitu, aku bergegas turun dan pergi ke belakang Mobil untuk memastikannya. Namun orang itu sudah tidak Ada. Walaupun aku mencari ke sekeliling, tetap tidak menemukannya. 


Akhirnya aku menyerah Dan masuk ke dalam rumah sakit. Aku tidak bisa melepaskan wajah yang mirip itu dari pikiranku. Sama seperti saat aku merasa melihatnya sewaktu di Amsterdam. Namun, bisa saja halusinasiku. Yang benar, ibu pasti sedang di Amsterdam, untuk apa kebetulan datang kemari.


"Drey..." Panggilan Luna membuyarkan lamunanku. Ternyata dia belum masuk dan menungguku di depan ruang rawat ayah.


"Ada apa?" Tanya Luna saat aku tidak menjawab panggilannya. Atau karena dia bisa membaca ekspresi wajahku.


"Kenapa kau belum masuk?" Aku balik bertanya, mengalihkan pembicaraan.


Luna hanya tersenyum. Jelas sekali dia sedang 'malu'. Akhirnya aku menggandengnya untuk masuk.


Di dalam, hanya ada ayah dan Lucas. Mereka sedang sibuk sendiri-sendiri. Ayah dengan tab di tangannya, sedangkan Lucas mengetik sesuatu di laptop. Aku rasa menjadi pebisnis pasti sangat sibuk hingga tidak bisa beristirahat meskipun sedang sakit.


Aku tahu ayahku terkejut melihat Luna, yang seperti biasa tetap ramah. Bahkan sangat baik dengan membawakannya banyak makanan kesukannya. Saat orang lain yang menjenguknya hanya membawakan bunga. Padahal dia sendiri tidak menyukai bunga.


"Bagaimana keadaan Anda?" Tanya Luna sopan.


"Apa kelihatannya aku sedang baik-baik saja?" Seperti biasa, tanggapan ayahku sengak. Seperti tidak tahu Malu sudah diselamatkan.


"Ya. Kau kelihatan baik-baik saja" sahutku kesal. Luna sampai menyikutku.


Aku Makin kesal saat Tak sengaja menangkap Lucas yang sedang tersenyum di samping ayahku. Bukan untuk mengejek Luna. Matanya jelas sekali sedang menatapku. Mungkin karena amarahku cepat sekali terpancing. Namun aku tidak bisa meninjunya sekarang.


"Karena Drey sudah di sini. Sebaiknya aku pulang sebentar. Aku akan kembali sebelum makan siang," ujar Lucas sambil mengemasi barangnya.


"Memangnya siapa yang mau menunggu di sini?" Protesku. Saat itu Luna kembali menyikutku.

__ADS_1


"Ya, pulang saja. Kami akan berjaga di sini" ujar Luna. Jujur saja, dia terlalu baik. Jika saja aku Ada di posisinya, aku akan membiarkan Pak tua ini terbaring sendirian di ruang membosankan ini.


*****


Ruangan ini sunyi sekali. Tidak ada suara kecuali detak jarum jam meskipun Ada Dua orang di dalamnya. Memang biasanya begini. Tidak Ada yang bisa ayahku Dan aku bicarakan. Walaupun Mata kami saling bertatapan pun, kami tetap membisu.


Aku benci suasana ini. Namun Luna sedang pamit keluar. Dia ingin mengembalikan selimut yang ia pinjam semalam sekalian mengatakan terima kasih pada seorang dokter di sini. Akhirnya tinggal kami berdua di sini.


Notifikasi pesan terdengar di ponselku, membuatku segera memeriksanya. Dari Lucy, membalas kabar yang ku katakan tadi pagi. Sekarang aku jadi memiliki alasan bicara dengan ayahku. Dan sejujurnya aku benci ini.


"Lucy akan kemari Setelah Lara menyelesaikan pekerjaannya" ujarku memberitahukan isi pesan Lucy pada ayah.


Sementara dia tidak menanggapinya. Hanya 'Mm' yang keluar dari mulutnya seolah itu Hal yang wajar. Tidakkah dia ingat sudah menelantarkan istrinya itu selama ini? Memikirkan itu akhirnya membuatku merasa tidak tahan.


"Kau sungguh beruntung. Menjalani hidup sebagai orang kejam, tetapi masih banyak orang yang peduli padamu. Ironisnya, mereka adalah orang tidak bersalah yang kau sakiti" sindirku.


Aku bisa melihat ekspresi tidak terima di wajahnya. Kerutan di keningnya jadi terlihat lebih jelas. Menyadarkanku, bahwa ternyata ayahku sudah menua. Lebih tua dari yang selama ini ku pikirkan. Karena itu aku lebih tidak tahan dengan semua keburukannya. Dia harusnya menjadi orang tua yang bijaksana.


"Apakah itu dia, orang yang telah mengubah hatimu selama ini?" Tanya ayahku mengganti topik.


Walaupun dia tidak menjelaskan, aku tahu yang sedang ayah bicarakan adalah Luna. Baru-baru ini, saat aku mengiriminya pesan, ayahku menanyakan hal yang sama.


Kenapa aku berubah?


Aku telah menjadi orang asing yang dingin padanya selama belasan tahun. Mendadak berubah, menyapanya lewat pesan-pesan singkat atau panggilan telfon. Semua setelah dia bertemu Luna, juga Setelah menyakitinya.


"Ya, dia telah mengubahku," jawabku tegas.


"Aku selalu berpikir bahwa ayahku hanyalah orang egois, yang melakukan apapun demi mendapatkan keinginannya. Ayahku adalah gambaran orang Paling ku benci di dunia ini. Karena itu aku selalu berusaha menghindarinya. Tapi... Luna meyakinkanku, bahwa aku mungkin berpikir begitu karena tidak mengenalmu. Aku mungkin berubah pikiran jika sudah melihatmu lebih dekat"


Rasanya aku sudah mengatakan sesuatu yang emosional. Suaraku terdengar goyah. Sementara ayahku hanya melihatku masih membisu. Karena sudah kepalang tanggung, ku keluarkan semua isi hatiku.


"Dia begitu baik dan perhatian padamu. Jadi aku tidak mengerti, Kenapa kau tidak menyukainya?"


Aku bisa merasakan rasa marah, kesal, tidak terima, bercampur jadi satu di hatiku.


Ayahku diam sejenak. Dia malah menatap ke arah jendela, dengan tatapan yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Kemudian, sebuah kalimat yang tidak ku sangka, akhirnya keluar dari mulutnya.


"Karena dia mirip dengan ibumu"


Jantungku langsung berdetak cepat ketika ayah menyebutkan tentang ibu. Aku rasa ini yang pertama kalinya sejak ibuku pergi dari rumah. Ayahku seolah menjadikan namanya terlarang untuk disebut.


"Tidak menyerah berapa kalipun dihancurkan. Tetap tersenyum berapa kalipun diabaikan. Dia sekeras Batu, di saat bersamaan sehangat musim semi. Dia membawakan warna Dan menawarkan rumah untuk berlindung. Seperti itulah ibumu"


Ah, aku baru tahu. Tatapan yang dimiliki ayahku saat ini, adalah milik seorang pria yang mengenang cintanya. Suaranya terdengar sedih Dan penuh kerinduan. Sama sekali tidak seperti ayahku yang biasanya. Namun ia mendeskripsikan semuanya persis seperti Luna.


Ini adalah alasan yang tidak ku duga, jadi aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Kalau saja alasannya status atau alasan bodoh yang lainnya, mungkin aku bisa membantah.


"Drey..." Ayahku memanggil dengan suara lembut, hampir lirih tidak terdengar.


"Karena dia mirip ibumu, aku takut kau akan hancur sepertiku. Saat dia memutuskan melepaskan tanganmu Dan cintanya berubah, hatimu mungkin mati sepertiku" ayahku sepertinya sedang menasehatiku.


Aku baru tahu, ternyata ayahku patah hati. Ku pikir saat memutuskan bercerai, ayahku tidak merasakan apapun pada ibuku. ku pikir, karena itu dia berusaha menghancurkannya. Aku pikir, tidak Ada Luka di antara mereka.


Aku tidak pernah merasa kasihan pada ayahku. Meskipun dia terbaring sakit seperti ini, tidak pernah aku merasa iba. Entah mengapa Kali ini berbeda. Hanya melihatnya mengenang ibuku, Ada getar aneh di hatiku, seolah aku ingin memeluknya.


Ternyata, cinta sama saja bagi siapapun, tidak peduli sekeras apapun orangnya. Hanya saja, Ada satu Hal yang tidak.


"Tidak, Luna berbeda dengan ibu. Dia tidak akan berubah, atau menghancurkan hatiku. Kalaupun ia ingin meninggalkanku, aku Akan berusaha lebih keras membuatnya bertahan " ujarku tegas.


Ya, aku tidak Akan membiarkan kisah kami berakhir seperti mereka. Entah aku menahannya, atau Luna yang tidak akan berubah. Akan ku pastikan kami bisa terus bersama.

__ADS_1


__ADS_2