Sugar

Sugar
Regret


__ADS_3

Suara desiran angin yang menghantam kaca terdengar berisik. Membuatku kesulitan memejamkan mata. Mungkin juga karena hidungku yang tersumbat akibat menangis selama berjam-jam.


Rasa lelah dan sedih rasanya menekan dadaku dengan keras. Hingga aku bingung mana yang lebih dominan. Sama bingungnya dengan sudah berapa lama aku seperti ini.


Padahal bukan ini yang kuharapkan saat ingin kembali ke London. Bukan ini yang kuperjuangkan sampai harus membuat keributan dengan Daniel. Bukan ini yang ingin kudapatkan saat menempuh sebelas jam perjalanan antar benua.


Harusnya sekarang aku bahagia dalam pelukan Drey. Menghabiskan waktu bersama, mengganti satu minggu yang hilang selama kami berjauhan. Namun kebohongan Drey telah mengacaukan semua rencanaku.


Aku benci ini.


Aku bahkan tidak bisa memilah yang mana sebenarnya penyebab kemarahanku sebenarnya. Karena Drey yang menyembunyikan banyak rahasia? Karena dia bohong? Karena cemburu pada Priscilla? Atau karena pandangan orang-orang pada berita itu?


Ternyata Luna sama dengan wanita-wanita sebelumnya.


Begitu kata orang-orang. Setelah mereka melihat Drey mendekati wanita lain di belakangku, penilaian seperti itu tidak terhindarkan. Hanya memperkeruh masalah ini.


"Trrrkk...."


Suara kaca yang masih bergetar memaksaku bangkit dari ranjang. Suaranya memang tak terlalu besar, hanya saja karena berlangsung terus menerus rasanya mulai mengganggu.


Aku membuka korden dan melihat hari telah berubah gelap. Aku menatap kaca kusam yang memang terlihat murah itu. Sehingga menimbulkan suara berisik saat dihempas angin. Melihat itu akhirnya aku tahu kenapa merasa begitu marah dan sedih hari ini.


Aku lelah harus terus menebak rahasia-rahasia yang disimpan Drey. Bahkan kaca kusam ini bisa kuketahui kualitasnya. Namun begitu sulit bagiku untuk masuk ke dalam kehidupan Drey apalagi memahaminya.


*****


Aku menolak panggilan Daniel yang ke-sembilan kalinya. Dia tidak berhenti meskipun aku sudah mengirim pesan yang mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Belum lagi dengan orang lainnya seperti Drey dan Lara yang juga melakukan hal yang sama. Karena kesal, kumatikan saja ponselku.


Aku tahu mereka khawatir padaku. Keluar dari rumah, aku mencoba tidak meminta bantuan siapapun. Aku ingin menyendiri. Pergi ke tempat di mana Drey tidak bisa menjangkauku. Jadi aku kemari. Selain mengirim pesan bahwa aku baik-baik saja, aku menghindari pertanyaan Daniel tentang di mana aku sekarang.


Suara air mendidih mengalihkan perhatianku. Ku buka mie instan kemasan yang tadi ku beli di toko depan. Lalu menuangkan air panas itu ke dalamnya. Sambil menunggu mie matang, aku membuka makanan tambahan dan air kemasan.


Perutku sudah keroncongan karena tadi siang tidak makan. Bahkan hanya dengan mie instan saja aku bisa makan dengan lahap. Hanya beberapa kali suap, mie itu langsung tandas. Kuah dari mie berhasil menghangatkan perutku. Sedikit membuat perasaanku membaik.


Aku menatap langit-langit ruangan ini. Mungkin karena tadi sedang kalut, aku baru memperhatikan bahwa cahaya lampu itu terlihat temaram. Selain bunyi derak kaca, bangunan kayu ini juga mulai menimbulkan bunyi aneh. Aku berkali-kali melemparkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan bahwa tempat ini aman. Maklum, sewa tempat ini sangat murah, hanya £7 semalam.


Kenapa aku tidak menyadarinya sejak tadi? Jika tempat ini begitu suram sekaligus seram. Karena terlalu emosi, aku tidak berpikir panjang untuk datang kemari.


Aku tidak begitu mengenal London. Beberapa bulan di sini, kuhabiskan untuk tinggal di rumah atau urusan pekerjaan. Jadi saat ingin mencari tempat untuk kabur, aku mengandalkan internet. Pergi ke daerah pinggiran London, ada tempat berkemah. Menyediakan pondokan sederhana juga. Saking sederhananya, sampai tidak menyediakan terlalu banyak fasilitas.


Pondokannya sedikit tua, tidak ada kamar mandi. Hanya tersedia wastafel di tiap ruangan. Lagipula aku juga tidak berencana mandi. Aku kabur tanpa membawa pakaian ganti. Tadi siang tidak terlalu seram, namun ternyata suasananya terasa berbeda di malam hari.


Setidaknya tempat ini cukup sunyi. Tidak ada yang mengenaliku juga. Mungkin karena tadi aku datang dalam kondisi kusut atau karena mustahil juga ada selebriti datang kemari.


Usai makan malam, aku merasa sedikit tidak tenang. Sulit bagiku untuk tidur, jadi aku pergi memeriksa keluar. Di luar juga sepi dan gelap. Pondokan sebesar 4x4 meter ini dibangun berderet. Selain yang kutempati, ada dua pondokan lain yang lampunya juga menyala, walaupun pintunya tertutup. Sisanya gelap.


Tidak ada hantu kan di sini?


Pikiran konyol itu datang tanpa bisa terelakkan saat aku melihat ke arah pepohonan besar yang ada di sekitar pondokan. Gelap dan berayun oleh angin. Harusnya tadi aku memilih menyewa tenda saja. Sepertinya di area kemah untuk tenda lebih ramai daripada di sini.


Tempat ini terlalu sunyi, hingga bunyi kecil akibat hempasan angin terdengar nyaring dan terkadang membuatku jantungan.


Kalau saja ada Drey di sini.


Padahal aku datang kemari untuk menghindari pria itu. Sialnya situasi di sini malah membuatku merindukannya.


Akhirnya aku memutuskan masuk dalam ruangan. Aku segera menyembunyikan diriku di balik selimut. Berharap segera tidur dan pagi segera datang.


******


"Krieett..."


Suara derit ranjang yang ku tempati berlomba dengan suara derak dari kaca. Ini karena aku terus bergerak. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Meski sudah mengganti posisi tidur berulang kali. Sialnya sekarang aku ingin buang air kecil.

__ADS_1


Aku memeriksa jam. Baru masuk pukul sembilan malam. Namun di luar sepi sekali, aku tidak berani pergi ke toilet umum yang ada beberapa meter dari pondokan ini.


Ini belum terlalu malam, dan rasanya aku ingin menyerah. Beberapa kali melirik ke arah ponsel, tergoda untuk menghubungi siapapun agar menjemputku. Namun ku tahan perasaan itu.


Aku gelisah dengan desakan untuk segera buang air kecil. Nekat, akhirnya ku nyalakan fungsi senter di ponsel dan pergi keluar. Keberanianku langsung runtuh begitu membuka pintu.


Tak jauh dari pondokku, ada pondokan lain yang ditempati. Dua orang pria dan wanita sedang bernyanyi sambil bermain gitar di depan pintu. Mereka langsung melihat ke arahku, untung wajahku lebih cepat berpaling.


Mereka tidak mengenaliku kan?


Jantungku langsung berdetak kencang. Bagi seorang selebriti, lebih menakutkan bertemu manusia ketimbang hantu. Apalagi aku sedang sendirian di sini.


Aku mengacaukan tatanan rambut agar menutup sebagian wajah dan menarik kerah baju untuk menutupi bagian dagu sebagai pengganti masker. Dengan sedikit takut melangkah keluar.


Mereka hanya melihatku.


Batinku menenangkan diri. Namun kakiku langsung kaku saat mereka ternyata menyapaku.


"Hai..."


Aku menoleh dengan takut, mereka melambaikan tangan padaku sambil tersenyum. Dalam situasi ini, akan mencurigakan jika aku tiba-tiba lari. Jadi dengan sok percaya diri, aku membalas lambaian tangan mereka. Lalu hendak segera pergi dari sana. Sebelum kembali berhenti.


"Apa kau sendiri? Bergabunglah dengan kami"


Teriak salah satu pria di sana. Meskipun menawari dengan ramah,  rasanya aku keder saat melihat badan besar berotot milik dua pria itu. Tampilan yang wanita juga tak kalah mengintimidasi. Riasan smokey eyes dengan beberapa piercing di wajahnya. Aku tidak ingin terlibat masalah dengan mereka.


"Thank you"


Jawabku sambil menunjukkan gestur penolakan secara halus.


"Apa kau sedang terburu-buru?"


Tanya pria itu lagi.


Rutukku dalam hati. Namun dalam situasi ini aku hanya bisa mengangguk.


"Mau ku antar?"


Sebuah pertanyaan yang paling tidak ku harapkan. Otakku langsung berhenti bekerja. Antara menahan rasa ingin buang air yang makin mendesak dan takut.


Saat itu aku baru sadar jika pria yang menanyaiku sudah bangkit dari duduknya. Dia serius ingin mengampiriku. Sementara dua temannya terlihat tidak keberatan.


Otakku menyuruh agar aku segera berlari. Sayangnya tubuhku tidak bergerak semudah itu. Kaki ku berat sekali diajak melangkah. Aku bahkan tidak sadar jika sudah berjalan menjauh dari tempat itu.


Aku tidak peduli, meski harus merayap, berusaha keras menggerakkan kakiku pergi dari sana. Aku bahkan tidak berani menoleh ke belakang. Mataku tertuju pada jalan di depan. Antara melihat jalan ke toilet atau ke penjaga untuk meminta pertolongan. Apalagi setelah beberapa langkah, aku mendengar ada derap langkah kaki lain di belakangku. Aku diikuti.


*Kenapa aku harus datang kemari?


Kenapa aku harus keluar ke toilet?


Kenapa aku pulang saja tadi?


Kenapa aku harus nekat pergi sendirian*?


Segala pikiran itu berkelebat cepat dalam otakku. Membuatku merasakan kepanikan. Aku takut sekali. Meskipun mereka tidak mengenaliku sebagai artis bernama Luna Eloise, aku ini seorang wanita. Pria masih mungkin menyerangku hanya karena fakta itu. Aku harusnya lebih mawas diri.


Aku merasa pandanganku mulai kabur. Tidak bisa melihat jalan gelap di depan dengan jelas. Air mata mungkin sudah berkumpul di pelupuk mataku. Apalagi saat langkah kaki di belakangku terdengar makin dekat.


Drey!


Hatiku meneriakkan nama itu tanpa sadar. Aku berharap bisa menyebutnya keras-keras. Dan saat itu aku seperti mendapatkan kekuatan untuk berjalan lebih cepat.


Aku memutar jalan. Sedikit ada harapan saat melihat lampu dari pos penjaga. Aku bisa berlari kesana lebih dulu menghindari pria di belakangku. Begitu pikirku. Namun beberapa meter sebelum aku mencapai pos itu, sebuah lengan besar sudah lebih dulu menarik pinggangku hingga aku terhuyung hampir jatuh.

__ADS_1


Spontan aku hendak berteriak, tetapi tangan orang itu lebih sigap menutup mulutku. Kekuatannya cukup besar membekap seluruh tubuhku, menarikku menjauh dari pos penjaga.


Tubuhku langsung lemas saking kaget dan takutnya. Berontak pun tidak mampu. Suaraku tidak keluar. Dengan mudahnya, tubuhku diseret ke belakang, menuju jalanan ke toilet yang sepi dan gelap. Bodohnya di saat begini aku baru menyadari jika ada ponsel di tanganku. Kenapa aku tidak menggunakannya tadi?


Semua terasa terlambat. Pandanganku makin kabur oleh air mata yang turun menggenang. Apa yang akan terjadi padaku?


******


- 12 jam yang lalu -


Aku tersentak kaget mendengar suara dering ponsel. Aku melihat bingung ke sekeliling dan baru sadar jika aku ketiduran. Tadi pagi aku sedang bersih-bersih saat Drey menarikku bergabung dengannya di sofa. Namun sekarang pria itu bahkan sudah tidak ada. Pasti sudah pergi latihan.


Aku masih sempat tersenyum membayangkan pelukan hangat Drey tadi. Membuatku terlelap. Rasanya kerinduan itu membahagiakan. Saat aku menatap setiap sudut ruang tengah ini, hatiku meneriakkan bahwa akhirnya aku pulang. Aku senang Drey menjaga tempat ini tetap sama. Walaupun memang hanya seminggu aku mangkat dari sini.


Suara dering ponsel mengingatkan agar aku segera bangun. Tidak berlama-lama melamunkan Drey. Dengan malas aku mengangkat telfon yang ternyata dari Daniel itu.


"Apa kau sudah memeriksa e-mail yang kukirimkan?"


Tanya Daniel tanpa basa basi.


"Belum"


Jawabku masih menguap. Berusaha mengumpulkan kesadaran yang  belum sepenuhnya kembali. Ini masih  pagi dan Daniel sudah membahas pekerjaan.


"Segera periksa! Kau bisa membahasnya dengan Drey. Aku sudah berbicara dengan agen Drey, sepertinya ia juga tidak keberatan"


Mataku langsung terbuka sepenuhnya saat mendengar penjelasan Daniel. Ini pasti tentang iklan yang akan kubintangi dengan Drey. Aku langsung bersemangat saat tahu bahwa kami akan segera bekerja bersama lagi.


Aku dan Daniel membahas rencana pekerjaanku selanjutnya di sisa panggilan. Ada beberapa pekerjaan yang bisa kulakukan selama di London. Itu cukup melegakan, karena artinya aku bisa tinggal lebih lama lagi di sini.


Suasana hatiku sangat baik. Aku memperhatikan jam. Drey akan pulang dua jam lagi. Tidak ada pertandingan hari ini, dan dia bisa makan siang di rumah. Jadi ku putuskan memasak untuknya. Sambil makan bersama, aku bisa memberitahunya kabar baik ini.


Aku segera pergi ke dapur. Memeriksa isi kulkas sambil bernyanyi kecil. Aku sudah menyangka jika Drey pasti malas belanja saat aku tidak di sini, jadi kemarin ku sempatkan mampir ke supermarket membeli beberapa bahan makanan saat pulang.


Selesai memeriksa bahan, saatnya memilih menu. Kali ini aku harus mengandalkan internet untuk mencari resep masakan. Sebuah tindakan yang sangat ku sesali. Rencanaku menyenangkan hati Drey ternyata berakhir menyakiti hatiku. Rekomendasi berita bermunculan dari notifikasi mesin pencariku. Paling atas, menyebut nama Drey. Membuatku spontan membukanya.


Aku hanya bisa tercekat melihat foto Drey bersama wanita lain. Namun saat ini aku hanya berpikir bahwa ini mungkin foto yang tak sengaja diambil saat Drey bicara dengan seorang wanita. Hingga aku mengenali tempat foto itu diambil. Hotel tempat Archie mengundang kami ke pesta ulang tahunnya. Dan jelas, wanita itu bukanlah aku.


Mungkin Lara.


Alasan paling mungkin ku buat untuk menenangkan diriku. Sayangnya juga bukan. Mungkin karena aku terlalu banyak memikirkannya, hingga postur wanita itu bisa melekat kuat dalam ingatanku. Meskipun hanya sekali saja kami bertemu. Nama Priscilla langsung muncul dalam ingatanku. Rambut brunette sebahu itu juga makin menguatkan dugaanku.


*Kapan ini terjadi?


Kenapa mereka bertemu?


Apa yang mereka bicarakan*?


Semua pertanyaan itu menghujamku tanpa ampun. Aku berharap ini hanya prasangka burukku saja. Jika foto ini diambil saat Drey tiba-tiba menghilang di suatu pagi. Lalu pulang dan beralasan padaku dia pergi jogging dengan ekspresi dinginnya. Jika itu benar, aku maka tidak bisa ku hentikan kekecewaan yang sekarang meluap di hatiku ini.


Tiba-tiba aku merasa malu menyadari apa yang terjadi antara aku dan Drey. Di malam saat kami diundang dalam makan malam dengan Richard dan Priscilla, yang Drey katakan padaku adalah,


"Maafkan juga sikap ayahku. Meskipun ayahmu bersikap begitu baik padaku, kau malah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan"


Drey tidak pernah meminta maaf karena dia tidak menceritakan padaku tentang siapa Priscilla. Aku juga tahu masalah perjodohan mereka dari Lara. Ternyata selama ini, aku dan Drey tidak pernah sekalipun membicarakan masalah sebenarnya dari malam itu. Sejak awal, Drey tidak pernah jujur padaku.


Inilah akibatnya. Kami membiarkan sebuah masalah lewat tanpa menyelesaikannya. Membuatku menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa dan dibohongi pada akhirnya. Kini apapun alasan yang diberikan Drey padaku, aku tidak bisa lagi mempercayainya.


*****


Entah kenapa justru ingatan itu yang muncul di saat seperti ini. Layaknya sebuah kelebat penyesalan yang muncul saat orang di ambang kematian.


Ku rasakan tubuhku sudah lemas. Perlawanan yang kuberikan tadi menguap. Kini dengan mudahnya diseret. Tubuhku telah kebas dan mati rasa. Tidak lagi bisa kubedakan rasa sakit, sedih, atau takut. Dalam bekapan orang asing itu, mataku menatap nanar pada pepohonan yang terlihat berayun oleh hembusan angin.

__ADS_1


__ADS_2