
"Selamat datang di Indonesia"
Sambut Luna sambil merentangkan lebar tangannya. Tanpa dia mengatakannya juga aku tahu, tetapi dia sepertinya sangat ingin melakukannya. Jadi begitu turun dari pesawat, Luna mengatakannya. Apapun itu, aku senang wajahnya terlihat sumringah sekarang. Lebih baik daripada saat di London.
Kota ini lebih hangat dari perkiraanku. Mungkin karena berada di negara tropis. Namun udaranya tidak lembab seperti saat musim panas yang biasanya kurasakan.
Luna langsung menggandengku menuju pintu keluar. Kami berjalan di antara orang-orang lainnya hanya berbekal masker. Karena perjalanan ini tidak diekspose, jadi tidak ada yang mengenali kami.
Banyak orang berkumpul di depan pintu keluar. Beberapa memegang papan dengan tulisan nama orang yang dijemput. Namun tanpa itu, Luna bisa menemukan orang yang menjemputnya dengan mudah. Dia langsung melambaikan tangan pada seorang pria paruh baya di antara barisan itu.
Luna langsung mencium tangan pria itu. Mereka berbincang dalam bahasa mereka sebelum mengenalkan orang itu padaku.
"Dia pamanku, Haris. Kakak dari ibuku"
Aku segera menjabat tangan paman Luna. Sepertinya keramahan sudah mendarah daging di keluarga, Haris memberikan senyum bersahabat padaku.
Luna memberitahuku bahwa Haris kesulitan dengan bahasa inggris, jadi kami tidak berbicara sama sekali. Hanya Luna yang sesekali mengobrol dalam bahasa mereka yang tak ku mengerti.
"Tidurlah. Perjalanan kita masih panjang"
Ujar Luna saat kami baru masuk ke dalam mobil. Bisa ku lihat Haris mengiyakan ucapan Luna. Meskipun aku tidak tahu sepanjang apa sisa perjalanan kami.
Luna sudah lebih dulu tidur. Dia mungkin lebih kelelahan. Sehari sebelum berangkat, dia masih bekerja. Lalu berkeliling pusat perbelanjaan untuk mencari kado. Malamnya masih membantu mengemas pakaianku. Energinya pasti sudah terkuras.
Aku sebenarnya juga masih mengantuk, tetapi mataku tidak mau terpejam. Terkadang memperhatikan Haris yang sedang menyetir dalam diam, kadang juga memperhatikan pemandangan di balik kaca. Gedung-gedung tinggi yang asing. Kepadatan yang terlihat baru. Aku terlalu bersemangat meneliti kota tempat gadisku dilahirkan. Mungkin tidak tepat di sini, tetapi aku mengagumi tanah air Luna.
Di saat bersamaan juga gugup. Aku tidak tahu ada berapa banyak keluarga Luna. Contohnya saja Haris ini. Aku tidak memperkirakan bahwa akan bertemu dengan paman Luna. Sama halnya seperti aku yang tidak tahu bagaimana reaksi keluarga Luna saat bertemu denganku.
*****
Luna tidak bercanda saat mengatakan perjalanan ke rumahnya masih panjang. Saat aku melirik arloji di tangan, tiga jam telah berlalu sejak kami turun di bandara. Sebagian disebabkan kemacetan sepanjang perjalanan. Namun juga wajar karena menurut Luna, kami sudah berada di luar kota.
Di luar dugaanku, rumah Luna berada jauh dari hiruk pikuk Kota. Berada di tempat yang lebih sepi dan sejuk. Aroma pinus adalah yang pertama tercium saat aku turun dari mobil. Serasa berada di hutan.
Luna langsung menggandeng tanganku, mengajakku segera masuk ke dalam rumah.
"Ole...ole...ole...ole..."
Aku terjengit kaget saat Ada suara sorakan menyambut kami. Dari dalam rumah, muncul Sullivan dan beberapa pria menyanyi sambil menari menggunakan atribut timku. Mereka mengelilingiku. Ada apa ini?
"Selamat! Timmu menjadi juara musim ini"
Ujar Sullivan di tengah nyanyiannya. Jadi mereka sedang membuat perayaan? Aku hanya bisa terbengong saking bingungnya. Tidak tahu bagaimana harus bereaksi seperti ini. Sementara Luna yang sedang berdiri di sampingku sudah menutup wajahnya yang merah padam.
Sambutan heboh itu bubar setelah Mutia berteriak marah.
"Maafkan suamiku"
Ujar Mutia sambil memelukku. Sedikit canggung juga. Sullivan pasti sudah mempersiapkan sambutan itu. Untungnya Sullivan sama sekali tidak tersinggung karena aku tidak terlalu bereaksi.
Mutia segera mengenalkanku pada keluarga besarnya. Karena kabar bahwa Luna akan pulang, rumah ini jadi penuh. Aku tidak menyangka jika keluarga Luna ada sebanyak ini. Kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan. Aku bahkan tidak ingat nama dan wajah mereka satu persatu.
Wajar saja, menurut Mutia, dia berasal dari keluarga lima bersaudara.
Semuanya juga hanya keluarga dari pihak Mutia. Sedangkan keluarga Sullivan ada di Amerika. Rasanya menakjubkan memiliki keluarga sebanyak itu. Padahal keluarga besarku saat berkumpul bisa dihitung dengan jari.
Aku mengikuti cara Luna menyapa keluarganya. Dia mencium tangan orang yang lebih tua, berpelukan dengan yang sesama perempuan dan berjabat tangan dengan sisanya. Namun karena sebagian besar kesulitan dengan bahasaku, aku tidak bisa banyak berbicara dengan mereka.
Saat itu, di antara kerumunan, aku menemukan seorang wanita muda yang memiliki garis wajah mirip Luna. Hanya saja mengenakan kaca mata bulat yang lumayan besar. Dia pasti Mona.
"Hai, aku Drey. Salam kenal"
Aku memutuskan menyapanya, karena menurut Luna, kakaknya itu lancar berbahasa inggris. Aku sangat penasaran sekali seperti apa orang yang wajahnya mirip Luna ini.
Namun, bukan balasan ramah yang ku terima. Mona mengernyitkan keningnya saat menatapku. Dia diam cukup lama mengabaikan tanganku yang sudah terulur padanya. Apa ada yang salah denganku?
"Mona"
Jawabnya singkat. Sama singkatnya saat menjabat tanganku. Bukan menjabat juga. Lebih tepatnya menepuk, asal menempel saja. Sebelum dia mendadak ngacir dan pergi. Meninggalkan aku dalam keadaan bingung. Apa aku dibenci? Sepertinya aku harus menarik anggapan bahwa keramahan adalah sifat milik keluarga Eloise. Mona sama sekali tidak ramah padaku.
******
Aku membuka tumpukan buku yang sudah kelihatan lama namun masih rapi itu. Di setiap sampul buku itu selalu ada tulisan "Laluna Gempita Eloise". Tulisan tangannya juga imut sekali. Aku ingin membaca isinya, tetapi tidak mengenal bahasanya. Padahal bisa saja salah satu buku itu adalah diary Luna.
__ADS_1
Aku menyerah dan melihat berbagai barang lainnya yang juga ditata di meja itu. Crayon berbagai merk, boneka kecil, origami dan beberapa jenis pita rambut. Aku bisa membayangkan Luna kecil yang feminim dan manis.
Luna sepertinya anak kecil yang berprestasi. Ada beberapa piagam yang dipigura dan dipasang di atas rak. Begitupun piala yang semuanya menyebut bidang modelling. Luna benar-benar menekuni bidang itu sejak kecil.
Foto-foto masa lalu Luna juga digantung rapi di dinding. Garis wajahnya hampir tidak berubah setelah belasan tahun berlalu. Terutama senyumnya yang lebar dan bajunya yang kebesaran.
Kamar Luna ini sepertinya cukup banyak bercerita tentangnya. Dan aku senang dibiarkan tinggal di sini. Keinginanku untuk tidur juga langsung hilang.
Aku segera berlari membuka pintu setelah mendengar suara ketukan. Tidak bisa ku pungkiri, aku sedikit gelisah karena sekarang berada di rumah Luna. Aku lega saat tahu ternyata Luna yang mengetuk pintuku.
"Ayo ikut aku"
Ajaknya. Tanpa banyak bertanya, aku mengikuti Luna yang membawaku turun ke lantai bawah.
Karena acara pernikahan dilangsungkan besok, rumah ini cukup ramai. Orang-orang sibuk menyiapkan sesuatu. Kata Luna, sudah menjadi adat kebiasaan di sini, pernikahan membutuhkan banyak persiapan. Tidak sesederhana di Eropa.
Luna membawaku ke sebuah kamar. Di sana sudah ada Mutia dan Mona.
"Kemarilah Drey, aku ingin memeriksa ukuran bajumu"
Ujar Mutia. Aku segera mendekat padanya. Luna sudah bercerita kalau di pernikahan nanti kami akan memakai pakaian yang sama yang dipesan sendiri di penjahit.
Karena ada Mona, aku bermaksud menyapanya agar terlihat sopan. Namun sebelum aku sempat bicara, dia langsung keluar begitu melihatku. Tampangnya seperti orang ketakutan. Hanya perasaanku saja atau memang Mona tidak menyukaiku?
"Coba pakai ini"
Mutia menyodorkan sebuah kemeja perpaduan warna putih dan coklat keemasan dengan corak yang indah. Ini yang sering Luna sebut sebagai batik.
"Kenapa kau masih di sini? Keluarlah!"
Hardik Mutia pada Luna yang berdiri di belakangku. Karena sudah kebiasaan, aku langsung saja melepas pakaianku. Luna sepertinya juga sudah kebiasaan, dia tidak terganggu dengan itu.
"Lagipula aku juga sudah sering melihatnya"
Aku ingin tertawa saat mendengar gerutuan Luna. Dia akhirnya keluar dari kamar.
"Anak gadis kok tidak punya malu?"
Mutia menimpalinya dalam bahasanya. Entah maksudnya apa. Yang jelas dia pasti mengomeli Luna.
Kali ini Mutia menghardik kepala-kepala yang muncul di jendela. Aku tidak sadar jika sejak tadi ternyata di luar sana ramai orang dan anak-anak mengintip kemari. Mutia akhirnya menutup tirai jendelanya.
"Maaf ya, di sini banyak sekali yang menjadi penggemarmu. Mereka mendukung timmu. Kemarin saat kalian menang dan menjadi juara, di sini langsung membuat perayaan. Begitu tahu kau akan kemari, semua jadi penasaran"
Aku hanya tertawa menanggapi cerita Mutia. Lagipula bukannya keberatan, aku justru terharu. Semua orang di sini bersikap baik padaku.
"Wah, bajunya pas. Kau tampan sekali"
Puji Mutia saat aku selesai memakai pakaian yang akan dicoba. Aku sudah mencoba melakukan beberapa gerakan, dan hasilnya baju itu cukup leluasa dipakai.
Mutia membantu merapikan pakaianku. Saat itu, dia tiba-tiba berkata,
"Aku senang kau bersedia menemani Luna pulang kemari"
"Tidak perlu sungkan begitu. Aku justru yang berterima kasih telah diundang datang kemari"
Jawabku tak enak. Mutia tersenyum.
"Aku sempat khawatir, karena sepertinya beberapa waktu yang lalu dia seperti sedang tertekan saat aku menelfonnya. Tapi syukurlah dia baik-baik saja"
Ada sedikit rasa bersalah saat aku mendengar ucapan Mutia. Bukan hanya kelihatannya, Luna memang sempat tertekan. Pemberitaan tentang kami ternyata terlalu besar. Hingga ia kesulitan bergerak bebas.
Tunggu.
Yang dimaksud Mutia bukan saat aku dan Luna bertengkar kan? Mutia pasti tahu saat fotoku dan Priscilla beredar. Namun aku tidak punya nyali menanyakannya.
******
"Sudah selesai?"
Tanya Luna saat aku keluar dari kamar. Dia sedang bermain dengan beberapa anak kecil di depan pintu.
"Kenapa? Apa bajunya tidak pas?"
__ADS_1
Tanya Luna lagi. Aku tidak tahu ekspresi apa yang sudah ku buat sehingga dia bertanya begitu padaku. Memang sejujurnya, ini baru Hari pertama dan aku sudah merasa canggung di sini.
"Tidak apa-apa. Oh ya, di mana toiletnya?"
Aku segera mengalihkan pembicaraan.
"Di sa--"
"Luna, ayo sini. Kamu juga harus mencoba bajumu"
Panggil Mutia memotong jawaban Luna. Otomatis dia tidak akan bisa mengantarku. Namun tiba-tiba Luna sudah lebih dulu memanggil bantuan yang tidak ku harapkan.
"Mon! Anterin Drey ke toilet"
Luna memanggil Mona yang kebetulan lewat. Aku bisa melihat ekspresi kaget dan enggan di wajah Mona. Sepertinya lebih baik aku membatalkan keinginanku saja. Baru saja aku hendak bicara, Mona dan Luna sudah bercakap dalam bahasa Indonesia.
"Nggak ah! Anterin sendiri"
Ujar Mona.
"Mau ngepas baju, disuruh sama ibu"
"Jangan aku pokoknya!"
"Jahat amat sih jadi tuan rumah? Pokoknya anterin! Awas kalau sampai Drey nyasar"
Uajr Luna mengakhiri pembicaraan. Aku yakin mereka sedang berdebat. Namun Mona kalah dan akhirnya melihat ke arahku dengan tatapan waspada. Sebenarnya aku ini dipandang apa olehnya?
Mona menggunakan tangannya untuk memberitahuku agar mengikutinya. Dia membawaku ke bagian belakang rumah. Kami melewati ruang makan dan dapur yang ternyata penuh oleh orang. Sepertinya sedang memasak.
Aku merasa tidak enak saat pandangan orang yang kebanyakan ibu-ibu itu diarahkan padaku. Seperti melihat mahluk aneh dan baru. Karena terpengaruh dengan pandangan orang di sana, aku tidak sadar terus berjalan dan akhirnya menabrak Mona yang sudah berhenti.
Mona sempat menjerit kecil, tetapi sadar diperhatikan banyak orang, dia langsung mengendalikan dirinya. Dia berdeham sambil menyembunyikan wajah malunya.
"Di sini sedang dipakai, kita ke toilet luar saja"
Ujar Mona sebelum kembali melangkah pergi. Aku cepat-cepat mengekor padanya.
Kami keluar lewat pintu belakang. Tidak ku sangka, di balik rumah ini ternyata ada halaman cukup luas, bahkan mungkin lebih luas dari rumah ini sendiri. Di kanan ada tali untuk menjemur pakaian. Di tengah, ada pondok kecil yang bisa dipakai bersantai. Sementara di bagian kiri ada pot berbagai macam bunga dan sebuah bilik yang mirip toilet. Selebihnya adalah hamparan tanah luas yang entah ditanami apa. Halaman luas ini juga dikelilingi oleh pagar tinggi.
"Terima kasih"
Aku bermaksud mengucapkan itu pada Mona, tetapi saat aku menoleh, dia sudah hilang. Ku lihat Mona sudah berlari masuk ke dalam. Aku menyerah dan masuk ke bilik toilet.
******
Pukul tujuh malam, semua orang berkumpul. Dari ruang tamu hingga ruang tengah telah dipasangi karpet dan kami semua duduk di sana. Di tengah karpet telah dihidangkan berbagai jenis makanan yang aromanya menggoda. Menurut Luna, ini semacam acara syukuran keluarga karena Mona akan menikah besok. Adat di sini sungguh menarik.
Sullivan bertindak sebagai pembawa acara. Dia mengatakan beberapa sambutan, sebelum akhirnya mempersilahkan yang hadir untuk makan. Luna yang duduk di sampingku mengambilkan makanan untukku. Di sini mereka makan dengan nasi yang ditambahi beberapa jenis lauk. Luna bahkan mengajariku untuk makan hanya dengan tangan.
Apa ini sehat? Makanan yang diambilkan terlihat berat dan memakai tangan.
Aku ragu sekali mencobanya. Walaupun mencuci tangan dulu, kelihatannya tidak higienis. Namun Luna sudah lebih dulu menyantap dengan lahap. Aku melihat ke sekeliling, orang-orang pun melakukan hal yang sama. Mau tak mau aku ikut mencoba.
Lezat.
Hanya itu yang bisa kupikirkan saat baru memakan satu suap. Masakan di sini banyak menggunakan rempah dan bumbu. Jadi tidak hanya aroma, juga memiliki rasa yang kuat. Bukan hanya sekedar asin atau manis. Rasa gurih dan lezat yang belum pernah ku rasakan sebelumnya semua bercampur jadi satu.
Makan dengan nasi yang di atasnya dicampur dengan berbagai masakan memang terlihat tidak sehat. Seperti campuran antara karbohidrat dan lemak. Belum lagi dengan banyaknya minyak dalam masakan itu. Namun tidak bisa ku pungkiri rasanya cukup membuatku ketagihan. Bahkan saat Luna menawariku untuk menambah, aku langsung mengiyakan tanpa berpikir dua kali.
Duduk bersama seperti ini juga membuat makanan menjadi lebih enak. Melihat orang lain makan dengan lahap, cukup meningkatkan nafsu makanku. Ini menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan.
*****
Sejak pukul lima pagi, rumah ini sudah kembali heboh. Pernikahan dimulai jam delapan dan para wanita sudah mulai berdandan. Aku sendiri hanya mengikuti Sullivan. Kami tidak perlu banyak persiapan. Usai berganti pakaian, bisa duduk bersantai.
Setengah jam sebelum acara dimulai, para wanita yang berdandan mulai keluar. Acara dilaksanakan di tempat lain, jadi kami harus Naik kendaraan ke sana. Mona tampil cantik dengan pakaian adat. Pakaiannya serba putih, memakai mahkota besar di kepala dan rangkaian bunga yang berjuntaian. Melepas kaca matanya, aku Makin bisa melihat kemiripannya dengan Luna.
Namun yang paling membuatku terpesona bukanlah Mona yang menjadi tokoh utama Hari ini. Melainkan adiknya yang keluar di belakangnya. Apakah itu benar Luna?
Mengenakan baju adat juga berwarna coklat keemasan. Bagian bawahnya mengenakan kain yang bercorak sama dengan kemejaku. Pakaian yang disamakan dengan seluruh anggota keluarga. Dengan riasan tipis, dan rambut yang disanggul ke atas. Dia bukan hanya terlihat cantik, tetapi juga anggun.
Aku bahkan tidak bisa berkata apapun saking terpesonanya. Ada banyak wanita lain mengenakan pakaian sama dengannya, tetapi di mataku tidak ada yang lebih bersinar dibandingkan dia.
__ADS_1
"Ayo"
Luna sudah menggandengku. Kami memang akan pergi berpasangan kesana. Dan ada banyak waktu bagiku memandanginya. Meskipun begitu, aku tidak bisa mencegah untuk tidak sering-sering mencuri pandang pada Sugar-ku ini.