
Suara alarm memaksaku membuka mata. Rasanya aku masih malas bergerak dan ingin kembali tidur pulas. Namun aku memaksakan untuk menggoyangkan tubuh di sampingku yang jelas masih berada di Alam mimpi.
"Drey.. kau harus kembali ke kamarmu" ujarku.
Drey masih tidak bergeming, padahal alarm yang dipasangnya sudah berbunyi selama Lima menit.
"Drey..."
Aku kembali membangunkan Drey. Ada suara gumaman penolakan darinya. Terpaksa aku mematikan alarm yang suaranya berisik itu.
Tim Drey tidak ada yang tahu kalau aku di sini. Karena dia Ada pertandingan penting, akan jadi masalah kalau kami ketahuan tinggal di tempat yang sama. Semalam Drey juga menyelinap dari kamarnya agar tinggal di sini. Tetapi sebelum anggota timnya bangun, dia harus kembali ke kamarnya.
Drey tidur pulas sekali, membuatku tidak tega membangunkannya. Aku segera mendekat ke telinganya.
"Dreeeyyy...."
Bisikku pelan namun menekan. Tapi dasar Drey, dia masih tak bergerak seperti Batu.
Aku kembali melakukan hal yang sama, kini sambil mencubit pipinya. Dia akhirnya mengeliat sedikit. Namun tetap tidak berniat bangkit dan bangun. Lama-lama aku kesal juga.
"Jangan buka matamu, aku sedang tidak memakai apapun sekarang" bisikku memancing.
Tidak sampai sedetik, Drey langsung membuka matanya. Sangat lebar seolah tadi dia hanya berpura-pura tidur.
"Kau bohong" ujarnya kecewa.
"Cepat bangun dan kembali ke kamarmu sana! Dasar orang mesum!"
Bentakku sambil mendelik.
Drey hanya cengengesan dan segera bangkit. Pagi-pagi sudah membuat orang darah tinggi saja.
*****
Berkat Drey, aku tidak bisa kembali tidur nyenyak. Imbasnya, aku jadi tidak terlalu bersemangat menjalani hari ini. Sudah begitu, hari ini aku harus pergi ke acara yang Paling membuatku tidak nyaman, pesta.
Pestaku dimulai bersamaan dengan pertandingan Drey sehingga aku tidak bisa datang mendukungnya. Aku pergi ke lokasi pesta menggunakan taksi. Acara itu diadakan di hotel lain, yang meskipun lokasinya sama-sama di jantung Kota Amsterdam, jaraknya lumayan juga saat ditempuh.
Sebenarnya, James, sutradara film yang mengundangku memintaku menginap di hotel tempat pesta. Kalau saja bukan karena Drey, aku mungkin tinggal di Sana.
Hotel itu tidak kalah mewahnya dengan yang ku tempati. Namun penampilannya cukup kontras. Jika hotelku mengadaptasi arsitektur klasik yang elegan, hotel ini memiliki arsitektur modern yang unik. Pengunjung dimanjakan dengan pemandangan yang lebih glamor. Siapapun yang mengatur interior hotel ini ku rasa memiliki selera yang bagus. Cukup membuatku berdecak kagum.
Begitu aku sampai, seseorang telah datang untuk menyambutku. Dia mengantarku ke lantai 48, tempat sky lounge berada. Tempat itu telah penuh dengan tamu saat aku tiba. Seolah sudah menantikan kedatanganku, semua Mata langsung terarah padaku. Aku sampai kikuk sendiri.
Untung saja James muncul, dia menggandeng tanganku dan langsung membawaku ke mejanya.
"Kau cantik sekali sampai menjadi pusat perhatian" puji James seolah sedang berkelakar.
Kalau menurutku, mungkin mereka memperhatikanku karena aku datang sendirian kemari. Aku bisa melihat hampir semua orang berpasangan.
Menurut James, kebanyakan yang hadir adalah pebisnis. Pesta ini juga sebenarnya merayakan anniversary hotel. Investor yang mengundangku adalah pemilik hotel ini. Maka memang kehadiranku sedikit mencolok.
"Dia sangat ingin sekali bertemu denganmu." James menceritakan tentang investor itu. Membuatku penasaran.
"Aku akan memperkenalkanmu padanya. Ah.. itu orangnya"
Sontak aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh James.
Jantungku langsung berdetak cepat saat melihat seorang pria paruh baya berjalan ke arah kami. Tidak lain dan tidak bukan adalah ayah Drey, Richard!
Aku tahu cepat atau lambat kami akan bertemu lagi, tetapi tidak secepat ini. Aku belum siap untuk menghadapi sikap culasnya.
Aku hanya bisa menggigit bibir dengan cemas. Harusnya aku sudah merasa curiga saat Daniel menyebut ada investor yang ingin menemuiku. Harusnya aku memasukkan Richard yang kaya raya dan mengenal James ke dalam daftar. Aku juga harusnya sudah sadar saat bertemu Lucas kemarin.
"Kejutan...! Luna kau akan terkejut saat tahu siapa dia. Dia adalah ayah Drey, Richard Charleville"
Bersemangat sekali James mengenalkan kami. Padahal aku sama sekali tidak terkejut. Kami sudah saling mengenal sebelumnya. Dalam keadaan yang tidak menyenangkan tentunya.
Namun Richard nampaknya adalah seorang aktor yang baik. Dia mengulurkan tangannya untuk menjabatku. Tersenyum, dan bicara seolah ini adalah pertemuan pertama kami.
"Kau ternyata sangat cantik seperti yang dibicarakan," puji Richard yang aku tahu hanya dibuat-buat. Aku bisa melihat senyum meledek di wajahnya.
Tetapi aku juga adalah seorang aktris. Akting adalah keahlianku. Bermain peran dan kebohongan seperti ini bukan masalah buatku.
"Anda juga masih tampan Dan terlihat awet muda"
Aku bisa merasakan Richard mengeratkan tangannya, seolah meremas tanganku. Lalu kami tertawa canggung.
"Tapi apakah cantik saja cukup untuk bermain di film ini? Akting yang bagus harusnya lebih utama"
Sindir Richard. Dia akhirnya menunjukkan perangai aslinya.
"Tentu saja aktingnya bagus. Kau harus lihat film terbarunya nanti. Aku cukup terharu saat menonton trailernya" ujar James membelaku.
Aku langsung memandang Richard dengan senyum kemenangan. Pendapat James yang seorang sutradara tentu lebih valid darinya.
"Aku hanya meragukan apakah ini akan menguntungkan atau tidak. Apalagi jika memasang wajah pemeran pendukung sebagai pemeran utama"
__ADS_1
Telingaku kembali dibuat panas. Kalau saja Richard tidak lebih tua dariku, atau kalau saja dia bukan ayah Drey, mungkin aku sudah meraih kerahnya. Kejam sekali menyebutku sebagai wajah pemeran pendukung.
Aku berharap James akan membelaku lagi. Namun dia harus meninggalkan kami karena dipanggil kenalannya. Ini adalah hal yang terburuk, ditinggalkan berdua saja dengan Richard.
"Terima kasih sudah mengundangku kemari" ujarku sopan. Bagaimanapun tugasku adalah meluluhkan hatinya. Jadi aku harus menahan diri.
Richard tertawa kecil.
"Tentu saja. Karena kau sepertinya sulit diajak bicara, Aku ingin menunjukkan secara langsung betapa berbedanya duniamu dengan Drey"
Rasanya ucapan Richard seperti belati yang menusuk hatiku. Belum lagi senyum angkuh di wajahnya. Lebih menyebalkan lagi, aku tidak bisa membantahnya. Aku bisa membayangkan di mana keluarga Drey berada saat melihat kemewahan hotel ini. Richard pasti adalah pengusaha yang sangat sukses. Aku tidak sebanding dengannya.
"Kenapa kau diam saja? Kau harusnya membantahku seperti terakhir Kali Kita bertemu"
Aku heran dengan sikap Richard. Dia seolah menyimpan dendam kesumat padaku. Tak hentinya mencecarku.
"Apa aku perlu membantahnya? Memang benar kami berasal dari tempat yang berbeda. Aku dari Indonesia, dan Drey dari Swiss" jawabku asal.
Aku bisa melihat Richard menggertakkan giginya. Kesal.
"Kau pernah menyebutku ayah yang tidak baik bagi Drey, kan? Apa kau tidak merasa keliru sekarang setelah melihat semua ini? Aku ayah yang baik. Aku memiliki Segalanya dan bisa memberikan semua hal terbaik untuk anakku"
Aku ingat memang pernah mengatakan itu padanya. Tapi saat ini itu tidak relevan dengan obrolan kami.
Richard benar-benar kekanakan sekali. Terlihat jelas bahwa Dia sengaja memprovokasiku. Saat satu topik tidak berhasil, dia malah melemparkan topik lain yang sama sekali tidak Ada hubungannya. Namun aku sama sekali tidak terpengaruh oleh itu.
"Ayah yang baik tidak akan membuat acara di saat yang bersamaan dengan anaknya sedang menghadapi momen penting dalam hidupnya. Bukankah seharusnya Anda saat ini duduk di stadion dan mendukung pertandingan Drey. Itu hal yang Paling dia butuhkan saat ini. Bukan pesta atau hotel ini"
Tadinya aku berencana bicara baik-baik pada Richard. Namun dia sepertinya tipe yang tidak mendengarkan orang lain.
Aku bisa melihat wajah Richard merah padam. Mungkin marah sekali. Aku jadi menyesal sudah berkata begitu jujur padanya.
"Kenapa kau berani sekali berbicara balik padaku?" Tanyanya kesal.
"Anda yang memintaku tidak diam saja kan?" Tanyaku balik, menyebutkan ucapan Richard sebelumnya.
Richard pasti kehabisan kata-kata untuk mendebatku. Dalam situasi ini, semakin banyak dia bicara, pasti akan semakin malu. Yang ku katakan, semuanya adalah fakta. Hanya saja hatiku sama sekali tidak merasa senang dengan kemenangan ini. Sepertinya hubunganku dengan Richard malah semakin memburuk saja.
"Aku adalah ayahnya. Aku tahu yang terbaik bagi anakku lebih dari siapapun termasuk dirimu. Jadi sebaiknya kau tidak merasa menjadi orang yang Paling penting baginya." Richard mulai terdengar seperti orang ngambek.
Bukannya kesal, aku justru merasa geli. Sepertinya aku tahu alasan Richard terus menyerangku seperti ini. Mungkin bukan karena perjodohan dengan Priscilla atau bahkan karena aku tidak pantas bagi Drey.
"Apa Anda cemburu padaku?"
Richard nampak terkejut. "Siapa yang cemburu?"
Richard mungkin merasa tersisihkan dari hidup Drey. Seolah tidak memiliki tempat di Sana. Drey bermain sepak bola demi ibunya, lalu kini aku orang Paling dekat dengannya. Baik di pekerjaan maupun kehidupan pribadi, Drey sama sekali tidak menyediakan tempat bagi Richard. Mungkin itu membuatnya cemburu sebagai seorang ayah.
"Kau harusnya lebih berhati-hati padaku. Aku ini investor film ini. Jika kau membuatku tidak suka, aku bisa dengan mudah menyingkirkanmu dari sini" ancam Richard dengan wajah kikuk sebelum meninggalkanku. Aku tahu dia tidak serius.
Sepertinya aku sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan ayah Dan anak.
*****
Aku memang orang yang tidak cocok dengan pesta. Rasanya aku terasing dengan keriuhan di ruangan itu. Apalagi karena kebanyakan orang yang hadir adalah pebisnis. Aku Tak mengenal mereka.
"Hai"
Seseorang menyapaku. Salah satu tamu di sini. Tidak sendirian, dia datang dengan tiga temannya, yang seluruhnya adalah pria. Mungkin kelompok ini menyadari kesendirianku Dan memutuskan untuk berbaik hati menemani.
Itu yang kupikirkan saat mereka menghampiriku. Nyatanya tidak. Hal yang Paling ku benci dari status selebritiku di pesta ini adalah karena mereka berpikir bahwa aku adalah wanita gampangan. Jelas sekali mereka datang kemari menggodaku.
Kami hanya berbicara beberapa kata, dan mereka sudah mulai merapatkan tubuhnya padaku. Menggunakan kedok sebagai fans. Mereka melingkariku agar aku tidak bisa menghindar. Membuatku persis seperti mangsa untuk mereka.
Bagian terburuk adalah mereka terlihat masih muda. Biasanya pengusaha yang sukses di usia muda cenderung lebih angkuh. Mereka punya cukup uang untuk membeli apapun di dunia ini, termasuk wanita. Apalagi jika penampilannya lumayan. Sayangnya mereka tidak peka. Tak mampu menyadari ekspresi tidak nyaman di wajahku.
"Kami sudah menyewa tempat bersantai yang bagus di lantai bawah, jika kau tidak keberatan untuk bergabung" tawar salah satu dari mereka.
Aku bisa melihat matanya menatapku dari atas hingga bawah, saat mengatakannya. Terlihat juga seringai mesum di wajahnya. Sama halnya dengan rekan-rekannya yang seolah sedang menilai tubuhku.
Haruskah aku memukul mereka?
Belum pernah aku dengar Artis memukul seseorang di pesta dengan investor. Mungkin aku bisa menjadi yang pertama.
Aku sudah mengepalkan tanganku. Apalagi saat mereka mulai mendekat tanpa jarak padaku.
"Apa kalian menikmati pestanya?"
Seseorang datang menyela kami. Aku harus berterima kasih padanya karena pria-pria itu mulai sedikit menjauh dariku.
"Tentu saja"
Aku merasakan orang yang baru datang itu menjajariku sebelum aku sempat melihat wajahnya. Namun aroma itu terasa familiar.
Lucas. Batinku.
Benar saja. Pria jangkung itu menyelamatkanku. Dia mengajak orang-orang di depan kami mengobrol. Mengalihkan perhatian mereka dariku. Untuk memberi ruang bagiku.
__ADS_1
Aku terjengit kaget saat Lucas tiba-tiba merangkulku.
"Kalau begitu silahkan bersenang-senang. Aku harus membawanya dulu"
Menyadari bahwa Lucas sedang berusaha membawaku pergi dari sana, membuatku batal berontak. Dia mungkin hanya ingin menunjukkan pada mereka bahwa kami dekat sehingga mereka tidak akan bersikap kurang ajar lagi.
Lucas benar-benar menuntunku pergi. Setelah kami cukup jauh, dia melepaskanku.
"Maaf, aku harus membawamu menjauh dari mereka" ujar Lucas menjelaskan.
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku"
"Mereka adalah teman kuliahku. Memang sedikit kurang ajar"
Aku hanya mengangguk canggung. Bahkan aku sudah menyadari sejauh mana level kesopanan orang-orang tadi tanpa perlu dijelaskan.
"Jadi ini urusan bisnis yang kau katakan?" Tanyaku mengganti topik.
Lucas tersenyum, tetapi dia pasti tahu alasan kami bisa bertemu lagi di sini. Termasuk jika ayah tirinya menjadi investor di filmku.
"Kau sepertinya tidak nyaman berada di sini. Bagaimana kalau aku mengajakmu berkeliling hotel saja?" Tawar Lucas.
Aku segera mengiyakan ajakannya.
*****
Lucas berbaik hati menjauhkanku dari pesta. Lalu memperlihatkan tempat-tempat terbaik di hotel ini. Walaupun tidak semuanya. Karena sepatu yang ku pakai, aku juga tidak nyaman banyak bergerak. Jadi kami menghabiskan waktu untuk duduk dan mengobrol.
Semakin memperhatikannya, hotel ini Makin mengagumkan. Sama halnya dengan Lucas. Semakin aku bicara padanya, ia aku Makin dibuat takjub.
Mungkin karena hubungan yang rumit di keluarganya, aku sering melihat Lucas dengan imej tidak baik. Nyatanya, dia punya pesonanya sendiri. Dia tidak sepenuhnya sukses hanya dengan memanfaatkan nama Richard. Dia mungkin memang berbakat di dunia bisnis.
Dari desain bangunan hingga Interior hotel yang ku kagumi rupanya diatur oleh Lucas. Ia mengerjakan banyak Hal sambil memikirkan setiap detailnya. Hingga rasanya tempat ini tidak memiliki celah untuk dikritik.
Dia terlihat hebat.
"Drey cedera?"
Tiba-tiba suara itu menyita perhatianku. Aku sontak menoleh pada dua orang yang sedang lewat saat mendengar nama Drey disebut.
"Ada apa?" Tanya Lucas menyadari aku tidak mendengarkan ucapannya.
"Mereka baru saja membicarakan Drey. Aku jadi khawatir"
Suaraku hampir terbata-bata mengucapkannya. Perasaanku mendadak tidak enak.
"Di mana aku bisa melihat berita tentang pertandingan Drey?"
"Aku membawa ponsel. Kau bisa melihatnya di sini"
Lucas mengeluarkan ponsel dari sakunya Dan langsung membuka laman browser. Dia membacanya dulu sebelum memberitahuku isi beritanya.
"Tim mereka menang, tapi... Sepertinya Drey cedera"
Hatiku langsung mencelos.
Cedera? Berarti Drey terluka.
Memikirkan itu membuatku panik. Aku langsung berdiri dari kursiku dan hendak berlari. Ingin cepat melihat Drey. Namun Lucas dengan cepat menangkap tanganku.
"Kau mau kemana?"
"Aku harus segera melihat Drey"
"Kemana?"
"Aku tidak tahu... Aku akan bertanya pada--"
Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Rasanya tubuhku lemas sekali hendak ambruk. Mataku juga mendadak buram oleh air Mata.
Lucas menahan tubuhku. "Aku antarkan. Ini sudah malam. Berbahaya bagimu berkeliaran sendirian"
Lucas segera menuntunku ke lantai bawah.
*****
Menggunakan koneksinya, Lucas berhasil mencari tahu di rumah sakit Mana Drey dibawa. Aku sendiri sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Mengkhawatirkan keadaan Drey. Jadi begitu, sampai langsung berlari ke tempat Drey dirawat. Aku bahkan melupakan Lucas yang mungkin kesulitan menyusulku.
Sepertinya perawatan telah selesai saat aku tiba. Beberapa orang dari klub sepak bola Drey yang mengenalku langsung mengijinkanku masuk menjenguk.
Drey sedikit terkejut melihatku. Namun aku sendiri langsung menangis saat melihat perban di pergelangan kakinya. Seluruh perasaanku langsung tumpah. Tidak ku pedulikan riasan yang luntur atau terlihat begitu bodohnya aku saat ini.
Butuh beberapa lama bagiku untuk tenang dan mendengar penjelasan tentang cedera Drey. Pergelangan kaki Drey hanya mengalami cedera ringan setelah menerima tackle dari lawannya. Pertolongan pertama sudah cukup menolong, dan dia hanya perlu beristirahat. Namun karena dia sedang berada di tengah kompetisi besar, media jadi sedikit berlebihan memberitakannya.
"Maaf sudah membuatmu khawatir" ujar Drey sambil mengusap rambutku.
Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan. Masih syok. Entah ringan atau parah, rasanya cedera Drey akan tetap menakutkan bagiku.
__ADS_1