
Kaki Luna berayun pelan. Menapak lantai kayu itu dengan lembut, hingga hampir tak terdengar suaranya. Sambil menghitung langkahnya, tak lupa ia mengulas senyum di bibirnya.
"Cindy."
Panggilan itu menghentikan Luna. Dia segera menoleh pada asal suara.
"Dengan siapa kau akan menikah?" tanya perempuan tua yang tadi memanggilnya.
"Dengan siapapun yang akan menerima segala kekurangan di tangan ini," jawab Luna masih dengan senyuman di wajahnya.
Luna memutar tubuhnya dengan luwes. "Dia akan datang." Ia berbicara penuh keyakinan.
"Aku bukan Cinderella. Aku tak memerlukan sepatu kaca untuk membawaku bertemu dengan pangeranku ...."
"Cut!"
Luna tidak sempat menyelesaikan ucapannya. Dia mengalihkan pandangannya pada naskah di tangannya. Apa ada dialognya yang salah?
"Maaf, sepertinya latihan kita harus berhenti sampai di sini. Panggungnya akan dipakai." Rian, senior Luna di acting troupe ini memberi instruksinya. Seketika semua pemain yang langsung bubar dengan sendirinya. Termasuk Luna.
"Akting yang bagus. Sepertinya kau sudah siap memerankan Cindy," puji Rian pada Luna yang sibuk mengemas barangnya.
"Aku akan berusaha keras menyukseskan panggung pertamaku," janji Luna. Rian hanya menjawab dengan senyum.
Pukul delapan tepat, Luna telah keluar dari gedung pertunjukan "Little Hamphrey's Stage". Dia harus bergegas agar tidak terlambat datang ke pekerjaan paruh waktunya. Bosnya yang galak itu tak pernah segan memotong gajinya.
Sambil menyusuri trotoar yang masih basah akibat hujan sore tadi, Luna menghafal isi naskahnya. Setelah menunggu berbulan-bulan lamanya, dia akhirnya mendapat peran utama pertamanya. Walaupun bukan untuk pertunjukan utama, Luna ingin mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Dari panggung kecil itu, Luna memimpikan dunia yang lebih besar. Dunia yang lebih terang. Di mana namanya akan diingat banyak orang, dan ia bisa menghapus luka yang tersemat dalam namanya.
Mata Luna menangkap cahaya dari lampu jalanan. Mendongakkan kepala, cahaya itu lebih jelas menyapa matanya. Ia merentangkan telapak tangannya untuk menghalau sinar terang yang menyorotnya. Mungkin seperti ini, atau lebih terang lagi. Saat itu matanya terpaku pada sebuah gedung tinggi berjarak satu kilometer dari tempatnya berdiri.
Rodine Hauserr Co, nama gedung itu. Sebuah tulisan besar terpampang di depan memudahkan siapapun mengejanya. Tempat seseorang menatap Luna, sebagai satu titik kecil dari bagian jalanan New York yang padat.
***
Ia melihatnya. Cahaya kecil yang berjubel di bawah sana. Nampak indah dan tak berdaya di dalam pandangannya. Ini alasan Drey— pemilik gedung ini memilih memasang kaca besar di ruang kerjanya. Pemandangan itu seolah penghilang dahaga atas ambisinya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Drey. Terdengar suara langkah yang ditimbulkan dari hak sepatu wanita, maka Drey segera membalikan badannya. Ia menyambut Katie, sekretaris yang telah mengabdi padanya selama lima tahun dengan seringai.
Sebaliknya, wajah Katie justru pias. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seolah paham apa yang menunggunya.
"Jadi?" suara Drey sangat tenang, memecah keheningan di ruangan itu.
"Ma— maafkan saya," jawab Katie dengan suaranya yang bergetar. Ia sudah berusaha meredakannya dengan menarik nafas dalam-dalam, sayangnya tak berhasil. Ketakutan sudah mencekiknya.
Drey tidak bereaksi. Ruangan itu kembali hening. Katie bahkan bisa mendengar suara nafasnya yang memburu lebih jelas. Dia sadar, semakin dia mengulur waktu, posisinya akan memburuk. Sambil berharap masih memiliki sedikit keberuntungan, Katie akhirnya membuat pengakuan.
"Saya yang salah. Karena terlalu sibuk menyiapkan bahan untuk meeting hari ini, saya baru menghubungi kantor Mr. Scallot ha—"
"Brakk!"
Ucapan Katie terpotong saat mendengar suara gebrakan di meja.
__ADS_1
"Apa ada lagi yang ingin kau katakan?" meski dengan rahang yang telah mengeras, Drey masih bertanya dalam intonasi datar.
Katie tahu, itu artinya Drey sedang sangat marah. Bahkan dilempar dengan dokumen tebal akan terasa lebih baik baginya, daripada Drey bertanya dengan begitu tenang. Rasanya seperti ada pisau ditempatkan di leher karirnya. Jika salah langkah, Katie bakal berakhir di jalanan malam ini juga.
Katie segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu berjanji, "Saya akan memastikan pertemuan itu terjadi."
Drey hanya melihat Katie. Sepertinya dia tidak perlu mengingatkan Katie betapa pentingnya pertemuan itu. Sebuah pertemuan yang mempertaruhkan proyek senilai puluhan juta dollar. Walaupun Katie bekerja seumur hidupnya tidak akan cukup untuk mengganti kerugiannya.
Drey membuat gestur yang menyuruh Katie pergi dengan tangannya. Lalu kembali menatap pemandangan malam New York usai sekretarisnya itu pergi.
Katie bukan orang pertama yang menerima kemarahan Drey. Saat mengedarkan pandangan ke isi ruangan ini, banyak potongan kertas berserakan. Itu adalah laporan yang telah Drey robek seharian ini karena tidak puas dengan isinya. Siapapun yang bekerja dengan Drey tahu, dia memegang 3 prinsip dalam bisnisnya— no mistake, no doubt, no mercy. Jadi kemarahan Drey bukan hal mengejutkan.
Namun, minggu ini intensitasnya lebih tinggi dari biasa. Hal kecil saja dipermasalahkannya. Sepertinya rencana pernikahan telah membuat Drey dilanda kecemasan.
"Apa kita berangkat sekarang?" tanya Liam— orang kepercayaan Drey lainnya. Entah kapan dia masuk kemari.
Drey membuang nafasnya kasar, lalu membetulkan dasinya yang berantakan. Setelah mengancingkan jasnya, Drey mengikuti langkah Liam keluar ruangan itu.
***
Ruangan itu masih sama saat mata Drey menyisirnya. Didominasi warna coklat almond, untuk menampilkan kesan antik. Sama antiknya dengan koleksi barang yang dipajang di sana. Sayangnya Drey tak pernah merindukannya. Ruangan megah itu kusam di ingatannya. Dia hanya bersedia menginjakkan kaki di sini lagi karena memiliki kepentingan.
Drey akhirnya sampai di ruang makan, di mana semua yang menyandang nama keluarga Everdeen telah berkumpul. Ayahnya— Oswald, ibunya— Larya, serta kakaknya— Ares dan Calvin telah menunggu. Tanpa banyak bicara, Drey bergabung dengan mereka setelah mengantarkan ciuman hangat di pipi ibunya. Ia tidak menyapa yang lain. Lagipula tidak ada yang tertarik padanya.
Everdeen bukanlah keluarga yang hangat. Tidak ada percakapan hangat atau canda tawa. Maka tidak salah jika suasana di ruang makan kini teras kaku dan hening, bak upacara pemakaman.
"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Oswald pada Drey. Meskipun makan malam belum disajikan, ia tak sabar mendengar alasan Drey mengumpulkan mereka semua di sini malam ini.
Drey mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kertas dengan pita emas. Lalu menjawab, "Seperti yang sudah pernah kukatakan sebelumnya, aku akan segera menikah. Acaranya Hari Minggu ini. Aku berharap kalian semua bisa datang."
"Kenapa kau terburu-buru?" tanya Ares. Sebuah senyuman tersungging di wajah Drey, merasa dirinya mendapat perhatian.
"Tentu saja karena dia ingin menang setidaknya satu hal darimu. Dia bisa menikah lebih dulu dari kita berdua," sahut Calvin dengan nada mengejek. Dia memang paling suka memancing emosi Drey.
"Apa kau tidak ingin membawanya kemari? Aku ingin mengenal calon menantuku." Larya dengan cepat mengalihkan pembicaraan sebelum Drey meladeni Calvin.
Drey yang memang tidak datang kemari untuk perselisihan menjawab dengan senyum arogan, "Tentu, tidak akan menarik jika kukatakan sekarang. Dia akan menjadi kejutan bagi kalian."
***
Drey menarik kasar dasinya. Dalam hatinya mengutuk Calvin— kakak keduanya. Pria itu telah sukses membuat telinganya panas dengan membahas pernikahannya. Drey berharap sekali saja bisa membungkam mulut Calvin.
Pernikahan? Drey juga tidak terlalu peduli. Dia menikah bukan karena telah jatuh cinta pada seorang wanita, lalu bertekad menghabiskan hidup bersama. Dia bahkan belum pernah melihat sendiri wajah calon istrinya itu. Pernikahan itu hanya bagian dari rencana bisnisnya.
Sejak kecil, tiga bersaudara Everdeen diperlakukan berbeda. Sang ayah, Oswald, hanya memerlukan Ares untuk mewarisinya. Seperti tahta dalam sebuah kerajaan, tidak dibutuhkan dua raja. Hanya satu yang boleh menguasainya dan Ares yang ditunjuk. Karena itu, Calvin dan Drey tidak pernah berada dalam pandangan Oswald. Saat Ares bisa mendapatkan semua yang dia ingikan, tidak dengan dua adiknya. Calvin dan Drey harus selalu mengalah. Mereka selalu berada di balik bayangan kakaknya. Karena itu, Drey bertekad untuk mengalahkan kakaknya. Membuktikan pada Oswald bahwa Drey tidak memerlukan nama Everdeen untuk sukses.
Setelah menunggu 10 tahun lamanya, akhirnya Drey hampir bisa mengejar Ares. Dua tahun yang lalu Drey bertemu Emmet Helbram, salah satu raja bisnis properti di Amerika. Drey melihat peluang besar dan membuat kesepakatan. Menikahi putri Helbram adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi Drey. Syarat lainnya, tentu saja menyediakan dana investasi besar. Untuk yang kedua, Drey berharap Katie bisa memenuhi janjinya menghubungi Mr. Scallot.
Inilah alasannya menyembunyikan identitas calon istrinya dari keluarganya. Drey merasa bahwa Calvin mungkin akan usil padanya. Kakaknya itu tidak pernah suka dengan kesuksesannya.
"Apa jadwalku untuk besok?" Drey tidak tahan dengan kecemasannya, dan mencoba mengalihkan perhatian.
“Besok Anda harus melakukan fitting,” jawab Liam. Dia mengintip Drey sebentar sebelum kembali fokus pada kemudi.
__ADS_1
"Apa perlu menghubungi nona Helbram?" tanya Liam.
"Tidak perlu. Biarkan dia memilih gaunnya sendiri. Suruh saja orang mengantarnya. Oh ya, siapa nama calon istriku?"
***
"Luna Helbram!"
Merasa namanya dipanggil, Luna menoleh. Namun dengan wajah cemberut. Padahal dia sudah mengingatkan bosnya, Sella agar tidak memanggil nama belakangnya.
Sella yang melihat wajah kesal Luna hanya meringis. Dia hanya berniat menggoda saat melihat Luna menguap. Padahal ini hampir jam makan siang.
"Kau menguap." Goda Sella lagi. Kini gantian Luna yang meringis.
"Aku baru pulang dari bar jam lima. Mataku rasanya berat sekali." Luna malah curhat mengenai pekerjaannya yang lain. Dia merasa tidak mudah bekerja paruh waktu di banyak tempat.
Sella menepuk punggung Luna. "Setelah menikah, ambillah cuti dari pekerjaanmu. Kau juga masih punya pementasan akhir bulan ini, kan?"
Mendengar ucapan Sella tentang pementasan, mata Luna langsung terbuka lebar. Sella benar. Dia hanya perlu bertahan sampai pernikahan saja. Setelah itu, dia akan berhenti bekerja di bar dan fokus pada karirnya sebagai aktris teater.
Pernikahan? Luna penasaran seperti apa pernikahannya nanti. Dia tidak punya harapan muluk. Hanya membayangkan berjalan membawa buket menuju altar sudah membuatnya bahagia. Lagipula ia bukan Cinderella. Hanya gadis miskin yang sedang butuh uang. Pernikahan ini akan memberinya hal itu.
***
Drey mematut dirinya dengan teliti di depan kaca. Dia sedang mencoba setelan jas untuk upacara pernikahannya.
"Anda terlihat tampan sekali Tuan." Puji Logan menambah kepercayaan diri Drey.
"Aku rasa semua wanita di dunia ini akan merasa iri pada Miss Helbram." Timpal Liam.
Drey hanya menanggapi dengan senyuman. Kalau urusan memuji, Liam dan Logan memang tidak ada bandingannya.
Drey memiliki 2 orang kepercayaan dengan latar belakang yang berbeda. Liam adalah lulusan terbaik dari sebuah universitas ternama. Dia adalah otak kedua Drey dalam mengurus perusahaan.
Berbeda dengan Logan yang tidak memiliki latar belakang cemerlang. Dia tidak bisa mengenyam pendidikan karena keluarganya miskin. Sejak remaja telah menjadi petarung MMA amatir. Saat Logan baru saja masuk ke dunia pro, dia terlibat dalam skandal doping. Setelah itu hidup Logan menjadi berantakan hingga bertemu Drey. Logan punya badan yang besar dan berotot. Wajahnya juga memiliki kesan seram. Drey menjadikannya bodyguard. Logan biasa melakukan pekerjaan kasar dan ilegal dari bisnis Drey.
Bagi Drey, Liam dan Logan sudah seperti saudara. Mereka telah bersama selama hampir sepuluh tahun. Sejak Drey masih berusaha membangun bisnisnya. tidak ada yang lebih setia dan memahaminya lebih dari mereka berdua. Bahkan keluarganya.
"Sepertinya yang ini kebesaran."
"Benarkah? Padahal ini bagus."
Di balik tempat Drey bercermin sekarang ini terdengar suara dua perempuan sedang berdebat. Drey sedikit penasaran dan mengintip dari celah kecil di balik cermin.
Seorang gadis sedang mencoba gaun pengantin. Hanya saja Drey tidak bisa melihat wajahnya. Hanya lengannya yang kurus dan mungil. Drey tertawa tanpa sadar. Teman gadis itu benar. Gaunnya kebesaran. Gadis itu pasti akan jadi lelucon jika memaksakan diri memakainya di pernikahannya.
"Ada apa Tuan?" tanya Liam heran. Drey hanya menggelengkan kepala dan segera melepas jasnya.
Tiba-tiba saja Drey menjadi penasaran dengan calon istrinya. Gaun seperti apa yang nanti akan dikenakannya? Setidaknya Drey berharap bukan gaun yang kebesaran.
"Terima kasih."
Lagi, Drey mendengar suara dua gadis itu. Sepertinya mereka telah selesai mengepas gaun dan pamit pergi. Drey mendengar suara pintu butik dibuka setelah itu. Dengan masih penasaran, Drey akhirnya keluar dari ruang gantinya.
__ADS_1
Mata Drey langsung bisa menemukan gadis tadi. Tubuhnya yang sudah kurus jadi kelihatan makin ramping dengan balutan kemeja putih dan rok span pendek. Seragam khas pelayan restoran. Namun langkahnya lincah sekali. Entah kenapa Drey tidak bisa melepaskan pandangan darinya.
Drey terus melihat gadis itu, yang menyeberang jalan dan masuk ke sebuah restoran bernama "Sella's Kitchen".