
Aku tidak sadar berapa lama Drey melumat bibirku. Aku terlalu terbuai. Tahu-tahu rasanya di sana telah bengkak dan aku sesak, kehabisan nafas.
Drey memberiku waktu mengambil oksigen. Saat itu mata kami saling mengunci. Sepertinya mata Drey berkabut, seksi sekali. Pandangan yang sukses menaklukanku. Dengan cepat menghapus masalah sebelumnya di otakku. Segala pertanyaan yang harusnya kutanyakan. Bahkan rasa penasaran akan kemarahannya.
Kungkungan Drey terlalu kuat menggenggamku. Tidak hanya sulit bagiku melepaskan diri, kini aku bahkan melemah di dalamnya. Saat nafas hangat Drey dengan lembut menyapu wajahku. Ada desiran yang mengalir dari ujung kepala hingga kaki.
Drey memastikan bahwa jantungku kini hanya berdebar untuknya. Ketika bibirnya perlahan telah mengubah haluan. Usai menyisir rambutku ke belakang, dia telah menyentuh telinga. Menggigitnya kecil. Tindakan yang masih mengejutkan, hingga jari-jari kakiku berkerut menahan geli. Nafasku bahkan terasa lebih tertahan dari sebelumnya.
Bibir itu terus bergerak menyusuri garis leher. Berhenti di bagian yang menurut Drey paling rapuh. Ia meninggalkan tanda di sana. Aku harus mengeratkan peganganku pada dia. Drey terlalu keras menggodaku. Di ruang yang sepi ini, dengan cahaya yang redup.
Drey mengakhirinya dengan menyatukan kening kami lagi. Ada deru nafas tertahan terasa darinya.
"Hampir saja aku kelepasan"
Suara Drey serak. Diiringi senyum renyah. Lagi-lagi membuatku tersipu.
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Memberi kami jeda di malam yang semakin larut ini.
******
Suara nyaring alarm menarikku kembali dari dunia mimpi dengan cepat. Padahal mataku masih berat sekali, tak ingin terbuka. Aku masih ingin menikmati hangatnya selimut lebih lama. Namun karena suara alarm itu tak kunjung usai, terpaksa aku bangkit.
Mataku baru terbuka lebar saat menyaksikan sisi lain dari ranjang telah kosong. Drey yang biasanya bangun lebih siang dariku hari ini bahkan telah mendahului suara alarm. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan tak menemukan tanda-tanda kehadirannya.
Terpaksalah, dengan tubuh berat yang masih malas untuk bangun aku turun dari kasur. Memeriksa kamar mandi dan balkon. Hingga menyimpulkan bahwa Drey memang sedang tidak di kamar. Pencarianku berhenti setelah mendapat morning call dari hotel.
Aku mencuci muka, berganti pakaian dan berdandan sewajarnya sebelum keluar dari kamar. Aku memutuskan pergi sarapan sendiri. Nanti Drey juga kembali dengan sendirinya. Pria dewasa dengan tubuh besar sepertinya tidak mungkin diculik juga.
Hall utama tempat sarapan disajikan sudah ramai seperti biasa. Aku berkeliling sebentar memeriksa menu. Kali ini aku menghindari masakan Perancis. Khawatir bertemu dengan Richard.
Perutku kali ini mengajukan ide mencoba menu sarapan Mediterania. Karena makan malam lezatku semalam terhenti sebelum aku kenyang. Lagipula ada menu roti juga yang bisa kucicipi. Aku bergegas antri di meja prasmanan untuk menu mediterania.
Namun seperti hukum Murphy yang berbunyi, "Anything that can go wrong, will go wrong", sejak awal keputusanku sarapan adalah salah. Saat hendak mengambil makanan, sialnya mataku beradu dengan Richard yang ternyata berdiri di depanku. Kami sepertinya sangat berjodoh hingga kembali bertemu.
Baik aku maupun Richard sama-sama terkejut. Kami membeku untuk sesaat. Sebelum aku yang berinisiatif menyapanya.
"Good morning, Sir"
Kalau wajah manusia memiliki tingkat ketebalan, mungkin wajahku ada di tingkatan paling tebal hingga mirip kulit badak. Berkali-kali diacuhkan, masih saja memiliki keberanian menyapa Richard. Hatiku bahkan sudah mati rasa untuk itu.
"Kau sepertinya suka sekali menyapa orang"
Untuk pertama kalinya Richard menanggapiku, walau dengan nada tidak bersahabat.
"Aku harus menunjukkan bahwa aku adalah gadis yang manis dan ramah"
Jawabku percaya diri. Richard sampai menatapku heran.
"Kau ini jujur sekali ya?"
Komentarnya, dengan tatapan seolah baru saja melihat kejadian sangat mengejutkan.
"Tidak ada gunanya berpura-pura. Sebagai calon keluarga, kita harus saling mengenal"
Aku tidak bisa menahan diri untuk mengatakan itu. Ini adalah balasan karena semalam Richard mencoba memanasiku dengan menyebut dirinya sebagai calon mertua Priscilla. Aku bisa melihat ekspresi terkejut di wajah Richard.
Dia lalu menggerutu,
"Memangnya siapa yang akan menjadi keluargamu"
Di belakang Richard aku tertawa geli. Meskipun dia berkata tidak menyenangkan, tetapi Richard tidak tampak marah. Ini juga rekor pembicaraan terbanyak kami.
"Kenapa kau mengikutiku?"
Tanya Richard saat melihatku mengekor di belakangnya usai membawa makanan.
"Tentu saja untuk makan bersama"
"Siapa yang ingin makan denganmu? Kita tidak cukup dekat untuk itu"
Sergah Richard sebelum mempercepat langkahnya meninggalkanku.
Aku berteriak senang dalam hati. Kupikir akan mendapatkan ceramah pagi dari Richard. Baguslah jika dia tidak ingin satu meja denganku. Aku mungkin akan kesulitan menelan makananku.
Saat sedang mencari tempat duduk, aku melihat sosok familiar melambaikan tangan padaku. Mengajak bergabung dalam mejanya.
"Kau sendirian?"
Tanyaku saat melihat Archie tidak menemani Lara seperti biasanya.
"Kepalanya masih sakit karena minum banyak semalam"
Jawab Lara.
Begitu aku duduk, Lara langsung menarik tubuhku mendekat padanya. Lalu berbicara dengan suara berbisik.
"Apa yang kau bicarakan dengan ayahku?"
__ADS_1
"Aku hanya menyapanya"
Mata Lara terbelalak mendengar jawabanku.
"Berani sekali"
Komentarnya.
"Aku saja langsung lari melihatnya"
Lanjut Lara sambil terkekeh kecil.
Sebenarnya keluarga macam apa mereka?
Kali ini gantian aku yang menarik Lara mendekat.
"Cepat ceritakan semuanya padaku"
Pintaku. Tanpa perlu aku menjelaskan lebih jauh, Lara sepertinya langsung memahami maksudku.
Cerita panjang itu pun dimulai, tentang sebagian besar cerita keluarga Drey yang belum kupahami.
******
Turun temurun, keluarga Charleville berkecimpung di dunia bisnis. Perusahaan yang berbasis di Swiss itu menjadi salah satu perusahaan terbesar. Keluarga itu selalu membutuhkan anak laki-laki untuk mewarisi perusahaan. Menjaga eksistensinya.
Namun Richard adalah pria ambisius yang tidak puas hanya dengan Swiss. Dia merambah banyak pasar di negara lain dan berkeinginan menguasai pasar Eropa. Beberapa usahanya itu berhasil. Hanya saja, bisnis tidak hanya bicara mengenai kemampuan menguasai pasar, sebagian besar justru tentang koneksi. Richard bisa memperluas perusahaan berkat kemampuannya membangun koneksi di banyak negara.
Salah satu bentuk koneksi itu adalah perjodohan. Drey, Lucas, hingga Lara sendiri bagi Richard adalah alat untuk membangunnya. Lara dijodohkan dengan Archie yang orang tuanya menguasai pasar Eropa timur. Sedangkan Drey dijodohkan dengan Priscilla yang orang tuanya termasuk keluarga terpandang di sini. Tujuan Richard jelas agar bisa masuk ke Eropa utara, lebih lagi masuk ke seluruh wilayah persemakmuran Inggris.
Lara beruntung jatuh cinta pada Archie, tidak halnya dengan Drey. Dia menolak perjodohan itu. Belum lagi Drey yang seharusnya sebagai anak tunggal, menjadi pewaris kerajaan bisnis Charleville malah memilih menjadi pemain sepak bola. Catatan terakhir, Drey punya reputasi buruk mengenai wanita. Sangat tidak cocok disandingkan dengan putri dari keluarga terhormat. Itulah yang membuat hubungan Drey dan Richard terus memburuk.
Aku hanya bisa melongo mendengar penuturan Lara. Bingung. Antara pemikiranku yang terlalu sederhana atau ambisi Richard yang terlalu besar untuk dicerna. Ini tidak seperti kami sedang hidup di abad pertengahan di mana para raja berperang untuk menguasai daratan milik negara tetangga. Bukankah Richard terlalu berlebihan?
"Ayah bisa saja mengganti Drey dengan Lucas untuk dijodohkan dengan Priscilla, tetapi anehnya dia tidak melakukannya. Sebaliknya terus memaksa Drey menerima perjodohan itu"
Tutup Lara atas ceritanya. Sejujurnya kepalaku langsung pening mendengar cerita Lara.
"Dibandingkan dengan siapa dijodohkan dengan siapa, menurutku yang jadi masalah adalah ambisi ayahmu. Apa dia ingin menguasai dunia?"
Lara terbahak mendengar ucapanku. Padahal aku sedang serius sekali. Mendengar ambisi Richard aku jadi merasa seperti remahan roti yang tersisa di piringku saat ini.
"Yah... Begitulah dunia bisnis"
Hanya itu tanggapan Lara sebelum lebih dulu berdiri dari kursinya.
******
"Kau dari mana saja?"
Tanyaku heran.
"Hanya jogging sebentar"
Jawab Drey singkat.
"Kemana? Tumben sekali"
"Kenapa kau ingin sekali tahu?"
Drey balik bertanya dengan menyebalkan. Sepertinya dia juga tidak ingin menjelaskan tentang kemana ia pergi, jadi aku tidak bertanya lebih jauh.
"Sudah sarapan?"
"Belum"
Entah mengapa aku merasa tanggapan Drey terkesan dingin. Dia juga tidak melihat ke arahku, sibuk dengan ponsel di tangannya. Otakku sendiri masih panas setelah mendengar cerita Lara, jadi aku memilih diam.
Tanganku langsung bergerak memasukkan pakaian dan barang ke dalam koper. Siang ini kami akan pulang. Akhirnya, liburan yang sangat berantakan ini akan selesai.
Sebenarnya aku tidak ingin memikirkannya, tetapi cerita Lara berputar cukup keras di kepalaku. Memaksaku untuk terus membayangkannya. Betapa kecilnya kemungkinan aku bisa meluluhkan hati Richard jika ambisinya sebesar itu. Rasanya aku hanya akan menjadi lelucon.
Sebenarnya aku bisa membujuk Richard dengan sebuah ide gila. Perusahaannya bisa masuk ke Indonesia, mungkin Asia tenggara jika ia menerimaku sebagai menantu. Karena aku lahir di sana. Itu akan sama menguntungkannya bagi Richard seperti halnya memiliki Priscilla sebagai menantu. Sayangnya, orang tuaku bukan konglomerat atau pejabat yang memiliki posisi penting di sana.
"Kau sedang melamunkan apa?"
Tanya Drey sambil menepuk bahuku hingga aku terjengit kaget.
Drey sepertinya sudah selesai mengacuhkanku. Kini ia tersenyum seolah tidak terjadi apapun. Entah aku yang terlalu perasa atau dia yang terlalu cuek.
"Tidak ada"
Jawabku lalu kembali sibuk dengan koper.
"Bohong sekali. Kau sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku? Ada apa? Ayo katakan ada apa?"
Mendadak Drey sudah merajuk. Aku menatap sebal padanya. Tadi sikapnya dingin sekali saat kutanya, sekarang giliran jadi yang bertanya bawel sekali.
__ADS_1
Jadi dengan kesal, kujawab juga.
"Aku baru saja mendengar sebuah cerita tidak masuk akal. Putri salju yang hidup dengan tujuh kurcaci bertemu dengan seorang nenek penjual keliling. Nenek itu menawarkan apel pada si putri salju. Saat putri salju menggigit apel itu, dari dalamnya keluar laba-laba. Tidak terima rumahnya dimakan, laba-laba itu menggigit putri salju. Tiba-tiba putri salju merasa ada sesuatu yang keluar dari tangannya. Ketika ia mencoba menggerakkan jarinya, keluarlah jaring laba-laba! Putri salju sangat terkejut, tetapi dia akhirnya melompat dan merayap kesana kemari dengan jaring itu. Saat menyadari bahwa kini dia memiliki kekuatan super, putri salju pun mengatakan pada tujuh kurcaci bahwa dia ingin menguasai dunia. Tujuh kurcaci setuju dan membantunya. Mereka juga makan apel, dan akhirnya memiliki kekuatan super juga. Selesai"
Jawabku dengan cerita karangan super tidak masuk akal untuk membalas Drey.
Drey menatapku bingung.
"Apa kau keracunan seafood?"
Tanya Drey sambil mengernyitkan keningnya. Dia bahkan terlihat serius saat memeriksa keningku.
"Ada apa denganmu?"
Tanya Drey lagi. Kali ini melihatku dengan tatapan iba bercampur bingung. Aku segera menepis tangannya. Lalu kembali mengemas barangku. Selere humorku sedang kering sekarang. Bicara lebih jauh dengan Drey hanya akan membuat kami berdebat.
Liburan ini benar-benar sukses membuat suasana hatiku kacau. Dari hari pertama sampai akan pulang, jika tidak bertemu orang kejam, pasti bertengkar dengan Drey.
Aku menyesal...
Baru saja aku memikirkan hal itu, lengan Drey sudah melingkar di pinggangku. Aku merasakan punggungku bersandar pada dadanya. Terasa hangat seperti nafasnya yang menyapu tengkukku.
"Sepertinya aku sudah melakukan sesuatu yang membuatmu kesal. Maafkan aku"
Sebuah bisikan lembut diucapkan Drey.
Bibirku terkatup rapat. Sebuah kalimat sederhana yang jelas mengisyaratkan bahwa sebenarnya Drey tidak sadar kesalahannya, tetap mampu meluluhkanku. Segala kekesalanku, kebingunganku, semua menguap seketika.
Kurasakan bibir Drey memberi kecupan, membuat tubuhku meremang. Aku bahkan tidak menolak pelukannya sama sekali. Membiarkan Drey mendekat dalam hatiku.
Jari Drey memegang dahuku, lalu menariknya ke samping. Memaksaku menatap mata birunya. Wajahnya perlahan mendekat. Aku tahu apa yang dia lakukan.
*Tidak boleh!
Aku harus menolak!
Aku harus mengatakan pada Drey lebih dulu tentang kesalahannya*.
Itu perintah yang berputar di otakku. Nyatanya hati dan tubuhku hanya diam. Membiarkan ia mengambil bibirku, menciumnya dalam. Sialnya, Luna telah jatuh terlalu dalam mencintai seorang Drey. Jadi mustahil untuk membiarkan ada jarak di antara kami.
Kami tidak berciuman terlalu lama. Namun cukup bagi Drey menghapus semua kegelisahanku sebelumnya. Ada jeda saat mata kami kembali beradu. Aku tidak bisa membayangkan semerah apa wajahku saat ini. Hanya saja lega mengetahui Drey juga tersipu atas tindakannya.
"Kita harus segera bersiap"
Drey mengambil inisiatif mengakhiri Kecanggungan ini. Aku mengangguk. Begitu tangan Drey melepaskanku, aku segera menutup koper dan beranjak ke kamar mandi.
Namun baru saja aku masuk, melakukan rutinitasku setiap pagi, aku segera berlari keluar dengan histeris.
"Dreyyyy...!"
"Ada apa?"
Tanya Drey panik. Dia segera mengampiriku.
"Berat badanku naik!"
Jawabku sama paniknya. Setiap pagi aku harus memeriksa timbangan. Namun sejak liburan, ini pertama kalinya aku melakukan rutinitas itu lagi. Bukan apa-apa, sekarang aku masih dalam masa kontrak dengan sebuah film. Ada angka yang wajib kupertahankan selama syuting demi penyesuaian karakter.
Angka barusan yang kulihat cukup fantastis. Padahal besok aku akan kembali tampil di depan kamera.
Bukannya simpati, Drey malah tertawa terpingkal.
"Kau pasti sangat menikmati liburan ini"
Ledeknya. Aku hanya bisa menggigit bibir.
******
"Cut!"
Akhirnya kata favoritku itu diucapkan oleh sutradara. Setengah berlari aku meninggalkan set hanya untuk memeriksa ponselku. Aku ingin tahu pesan apa yang Drey kirim untukku. Sejak pulang dari liburan, kami lebih banyak bertukar pesan sekarang.
"Kau kelihatan bahagia sekali"
Komentar usil dari mahluk Tuhan yang paling ingin tahu urusan orang lain itu akhirnya terdengar juga. Aku tidak ingin menanggapinya.
"Apa rencanamu setelah ini?"
Daniel tidak akan berhenti meskipun aku mengacuhkannya.
"Rencana apa?"
"Syuting di sini akan segera selesai. Setelah ini kau tidak punya alasan tinggal di London. Kau harus kembali ke Los Angeles. Jadi bagaimana rencanamu?"
Mataku langsung membulat saat akhirnya memahami ucapan Daniel. Catat, dia juga mahluk Tuhan yang paling suka meneruskan kabar buruk orang lain. Dia bisa mengatakannya dengan senyum di wajahnya, meskipun sekarang aku sedang menelan ludah pahit.
Aku akan segera tinggal berjauhan dengan Drey!
__ADS_1