Sugar

Sugar
Healing


__ADS_3

Sepertinya musim gugur akan segera tiba. Karena warna daun di pepohonan mulai berubah. Sebagian juga sudah mulai meranggas. Berjatuhan di sepanjang jalanan.


Di antara semua musim, aku Paling suka musim gugur. Warna jalanan jadi lebih indah dengan coklat dan kuning keemasan. Terasa hangat walaupun sebenarnya udaranya dingin. Mataku jadi Tak lepas menatap jalanan di balik kaca.


Cangkirku hampir kosong. Padahal aku sudah memesannya Dua Kali. Mungkin teh susu di cafe ini sesuai dengan selera lidahku. Namun, apa yang sudah ku lakukan selama Dua jam ini? Apakah aku hanya duduk di sini menikmati minuman?


Aku tahu, bahwa sebenarnya aku sekarang hanya sedang mencari Cara menghabiskan waktu usai melarikan diri. Aku pamit pergi ke lokasi syuting pagi ini. Tetapi bayangan menakutkan mimpi buruk semalam dan juga suasana tidak menyenangkan di Sana membuatku berubah pikiran. Jadi aku berbohong dan minta ijin tidak datang untuk syuting Hari ini. Aku mencari alasan agar tidak perlu kesana. Hanya saja jika aku pulang ke rumah, Drey pasti curiga. Akhirnya di sinilah aku. Duduk sendirian melamun menunggu waktu akan cepat berlalu.


Aku tahu, tindakanku salah. Hari ini aku bisa bolos. Tapi bagaimana dengan besok? Aku harus tetap pergi ke tempat syuting lagi. Mau sampai kapan aku begini? Padahal masih Ada beberapa bulan lagi syuting berjalan.


Mungkin akan lebih baik jika aku bisa sedikit membagi rasa sakitku ini pada seseorang. Namun tidak Ada yang bisa ku ajak bicara. Daniel bukan seorang pendengar yang baik. Berdasarkan pengalaman, dia selalu menanggapiku dengan penuh kejujuran tanpa sedikitpun mempertimbangkan bahwa kata-katanya menyakitkan.


Orang tua? Aku tidak cukup tega membuat mereka yang tinggal jauh mengkhawatirkanku. Pasti akan lebih menyakitkan bagi mereka tahu bahwa aku sedang memiliki masalah Dan tidak Ada di sampingku.


Aku sudah mempertimbangkan Lara atau Lucy. Hanya saja, rasanya kurang tepat memilih mereka. Aku sungguh tidak punya siapapun yang bisa mendengarku selain Drey di sini. Hanya dia satu-satunya teman terbaikku. Dan dia adalah orang yang Paling tidak ku harapkan Tau masalahku.


Apakah aku harus berada di siklus ini sendirian?


Dadaku mulai kembali merasa sesak. Seperti Ada sesuatu yang menekannya dan membuatku tidak bisa bernafas. Bahkan jika aku mencoba mengambil nafas untuk mengaturnya, sama sekali tidak berpengaruh. Rasanya keringat dingin di tengkuk juga memperburuknya.


Aku cepat-cepat meminum isi cangkirku hingga tandas. Bahkan rasa manisnya tidak terasa. Lidahku kebas. Perlahan perut yang baru menampung tehku malah ikut menjadi mual. Rasanya seperti diaduk dan aku ingin memuntahkannya lagi.


Kenapa denganku?


Aku selalu seperti ini tiap kali memikirkan semua masalahku akhir-akhir ini. Rasanya menyakitkan di seluruh tubuhku.


Butuh waktu beberapa menit bagiku agar kembali merasa normal. Setelah nafasku teratur, maka rasa sakit dan mual yang ku rasakan akhirnya hilang. Aku bisa kembali berpikir jernih.


Apa aku mengalami gejala serangan panik?


Itu adalah kemungkinan yang terlintas di benakku. Karena memang itu bukan hal yang aneh untuk orang dengan pekerjaan sepertiku. Bahkan aku sempat belajar saat mulai merintis karir ini.


Artis sepertiku bekerja untuk memenuhi ekspektasi banyak orang. Ada standar yang harus kami penuhi, dan banyak Hal yang tidak bisa dengan bebas kami lakukan. Banyak Mata mengawasi. Karir yang tidak stabil. Dalam sehari bisa menjadi nomor satu, di detik berikutnya bisa hancur tanpa reputasi. Bebannya sangat berat. Sehingga rentan dengan depresi. Jika menjadi buruk, mungkin akan berakhir dengan diagnosa lainnya. Seperti serangan panik.


Dulu, aku hanya mendengar cerita tentang Artis lain. Apa sekarang giliranku? Tak ku sangka akan menjadi seperti ini karena sebuah alasan bodoh, karena ayah dari pria yang ku cintai.


Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang.

__ADS_1


Suara ketukan di meja membuyarkan lamunanku. Saat menoleh, di Sana sudah Ada seorang wanita tersenyum ramah.


"Dokter...?"


Aku terkejut karena dr. Lily bisa Ada di sini.


"Boleh aku duduk di sini?" Tanyanya sopan. Aku segera mempersilakan karena memang tidak Ada alasan menolaknya.


Namun sempat melihat sekeliling. Aku duduk di tempat yang didesain secara tertutup. Seharusnya tidak kelihatan dari luar. Karenanya aku merasa heran Dr. Lily bisa tahu aku Ada di sini.


"Aku mendengar obrolan pelayan. Tidak ku sangka kau benar-benar ada di sini" Dr. Lily menjelaskan seakan tahu apa yang sedang ku pikirkan.


Sedikit malu, padahal ku pikir penyamaranku sudah cukup baik. Aku mengenakan kaca Mata Dan masker. Ternyata orang masih bisa mengenaliku.


"Apa kau sedang sakit? Wajahmu kelihatan pucat sekali" Tanya Dr. Lily. Memang sulit mengelabui mata seorang dokter.


Aku hanya mengangguk pelan.


"Apa Ada yang perlu ku bantu?"


Entah ini adalah perasaan butuh yang tiba-tiba muncul, aku jadi merasa ingin bergantung padanya. Terakhir kali dia mendengarkanku tentang Priscilla.


"Apa kau bisa mengenalkanku pada seorang psikiater?"


Aku bisa menangkap ekspresi terkejut di wajah dokter itu. Aku memang bertanya tanpa basa basi. Melihat kondisiku sekarang, aku harus segera mengobatinya sebelum menjadi lebih buruk.


Dr. Lily nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya.


"Apa sudah sangat buruk? Sesuatu yang membutuhkan obat Dan penanganan medis?"


Sudah ku duga, Dr. Lily cukup peka jika pertanyaanku sebelumnya adalah untuk diriku sendiri. Dan pertanyaannya sedikit membuatku senang. Dia tidak langsung menilaiku. Melainkan memastikan bahwa aku benar-benar membutuhkannya. Karena ini sebuah keputusan yang berat. Walaupun aku memiliki pekerjaan yang rentan atau mungkin ini Hal yang wajar di masyarakat modern, catatan atas kejiwaan tetaplah sesuatu yang mengerikan. Aku mungkin akan lebih tertekan saat memilikinya.


Aku merasakan tangan Dr. Lily menggenggam tanganku. Rasanya hangat, seperti genggaman ibuku.


"Jika belum seburuk itu, aku mungkin bisa membantu. Kau tidak perlu dicatat sebagai pasienku. Meskipun ini bukan bidangku, aku pernah mempelajarinya dan punya pengalaman mengatasinya. Kau bisa menganggapnya sebagai saran dari teman"


Suara Dr. Lily lembut sekali. Dia memberiku harapan.

__ADS_1


*****


Dr. Lily bilang, kontraknya di Belanda telah berakhir. Sejak seminggu yang lalu dia telah berada di London untuk pekerjaan barunya. Mungkin untuk setahun ke depan. Dr. Lily bilang, dia tidak betah berdiam di satu Kota. Hampir setiap tahun bekerja di berbagai rumah sakit yang berbeda. Terkadang menjadi sukarelawan. Dia tidak menetap untuk waktu yang lama.


Mungkin itu alasannya sehingga apartemennya terlihat kosong. Selain perabotan primer, Tak Ada apapun di sini. Tak Ada hiasan maupun foto. Bahkan di dapurnya yang terlihat di sini, hanya Ada satu gelas yang tergantung.


Sebenarnya cukup mengejutkan bagiku, mengetahui bahwa Dr. Lily tinggal sendirian. Dia tidak punya keluarga, padahal caranya bersikap, seperti ibu yang sempurna. Kelihatannya Dr. Lily menjalani kehidupannya dengan bebas.


"Maaf, hanya Ada ini di rumahku" ujar Dr. Lily. Dia menyajikan segelas jus yang dituang dari jus kemasan.


"Maaf merepotkan" jawabku sungkan.


"Kau sungguh sopan untuk gadis seusiamu"


Aku memang sungguh-sungguh dengan perkataanku. Dr. Lily baik sekali membiarkanku menjalani sesi konseling di rumahnya ini. Dia berusaha membuatku senyaman mungkin.


Maka tanpa ragu, aku menceritakan semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Seperti sudah menunggu momen seperti ini, aku menumpahkan segalanya. Tidak ada yang terlewat. Lalu mendengarkan pengobatan yang diberikan oleh Dr. Lily.


Dia mungkin geram dengan ceritaku, tetapi berusaha menyembunyikannya. Sebaliknya mengajak berdiskusi dan  memberikan banyak Saran.


"Mungkin dia bersikap begitu karena tidak tahu serapuh apa hati seorang perempuan. Dia bahkan tidak punya anak perempuan"


Aku sedikit heran. Bagaimana Dr. Lily tahu jika Richard tidak memiliki anak perempuan? Padahal ada Lara. Tapi kemudian aku berpikir, bahwa Richard sangat terkenal. Mungkin dr. Lily tahu jika Lara bukan anak kandungnya. Dr. Lily bahkan tahu kepribadian buruk Richard.


"Luna, melawannya atau bersikap berontak padanya adalah ide yang buruk. Dia merasa ditantang dan akhirnya terus mengganggumu sampai kau mengaku kalah. Cara terbaik menghadapinya adalah mengambil hatinya. Jika dia menyukaimu dan tidak menganggapmu sebagai musuh. Dia akan berhenti dengan sendirinya"


"Bagaimana caraku mengambil hatinya?" Tanyaku.


Dr. Lily kemudian memberitahukan berbagai cara. Aku sampai harus mencatatnya saking banyaknya.


*****


Esoknya aku kembali pergi ke lokasi syuting. Tidak ku sangka aku akan kembali kemari secepat ini. Aku juga sudah tidak segelisah sebelumnya.


Seperti yang sudah ku perkirakan, Richard masih saja ada di tempat ini. Dia pasti merayakan absenku kemarin. Aku bisa melihatnya tertawa lebar. Namun Kali ini aku sudah tidak gentar lagi. Dengan langkah penuh percaya diri, aku melangkah ke arah Richard.


Kau ingin perang? Akan ku ladeni.

__ADS_1


__ADS_2