Sugar

Sugar
Fulfilled Emptiness (Drey POV)


__ADS_3

Lelah. Rasanya aku ingin segera menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Pertandingan hari ini cukup menyita staminaku, termasuk dengan perjalanan ke venue pertandingan. Namun begitu aku memasuki rumah, suara deru mesin cuci menghentikan langkahku.


Sudah hampir tengah malam, tetapi sepertinya Luna masih sibuk dengan cucian. Hingga memaksaku mengubah arah, dari kamar menuju ruang laundry.


Gadis itu sedang duduk di depan mesin cuci sambil makan camilan. Santai sekali gayanya. Sepertinya Luna sudah tidak peduli dengan diet ketatnya untuk tidak makan lagi tengah malam begini.


Sejujurnya aku ingin berlari saat melihatnya. Rasanya kerinduan telah mendesak tak tertahan. Ingin aku menyapanya, memeluknya, dan mencium aroma hangat tubuhnya. Namun mengingat yang terjadi kemarin, aku ragu untuk pergi kesana. Luna mungkin masih marah. Gara-gara aku menyebut tentang pesta padanya. Padahal kalau dia tidak mengijinkan, aku juga tidak memaksa.


Atau Luna mungkin kecewa aku tidak bisa menemaninya hari ini. Padahal untuk pertama Kali setelah sekian lama dia mendapat libur. Membuatku tidak punya nyali mendekat padanya. Aku tidak tahu jika tidak bertemu untuk waktu yang lama telah membuat kami canggung.


"Kau sudah pulang? Aku tidak mendengar suaramu membuka pintu"


Sapaan Luna membuyarkan lamunanku. Tahu-tahu dia sudah berdiri di depanku.


"Kau sendiri kenapa belum tidur? Kau harus bekerja lagi kan besok?"


Tanyaku balik. Aku sedikit terkejut dengan sikapnya yang begitu santai seolah tidak terjadi apa-apa.


"Aku sedang menunggumu. Mau kubuatkan sesuatu?"


Luna sudah pergi lebih dulu menuju dapur. Mendengar bahwa dia menungguku cukup membuatku bersemangat. Jadi aku mengikutinya.


Luna menyodorkan secangkir susu coklat hangat. Aroma asingnya langsung menyapa hidungku.


"Aku dengar susu coklat sangat baik untuk mengembalikan stamina atlet. Lebih baik daripada kafein kopi. Susu mungkin bisa membuatmu tidur lebih cepat malam ini"


Celoteh Luna menjelaskan. Seolah dia membaca pikiranku. Aku memang lebih terbiasa menikmati kopi daripada susu.


Luna juga menyodorkan sepiring cookies, yang bentuknya sedikit berantakan.


"Tadi aku pergi ke rumah Lucy untuk membuat ini. Jelek ya? Aku tidak pernah membuat cookies sebelumnya"


Ujar Luna sambil meringis. Dia lalu menceritakan kegiatannya di rumah Lucy untuk membantu persiapan piknik anak-anak angkat Lucy.


Mendengarkan Luna bicara dengan penuh semangat menghantarkan desiran hangat dalam hatiku. Ditemani suara mesin cuci yang berisik serta secangkir minuman hangat. Rasanya aku sedang berada di rumah. Perasaan yang sering kurindukan saat Luna sibuk di luar sana. Mungkin karena itu aku merasa kesepian dan tiba-tiba berpikir untuk membuat pesta. Sebab rumah tidak terasa sama saat Luna tidak di dalamnya.


"Sugar, mengenai pesta yang kutanyakan sebelumnya..."


"Lakukanlah"


Sebenarnya aku berniat membatalkan pertanyaanku sebelumnya. Namun sudah disela lebih dulu dengan persetujuan dari Luna.


"Kau tidak keberatan?"


Tanyaku tidak percaya. Kupikir dia akan cemberut atau bahkan mencak-mencak jika aku menyebutkan mengenai pesta. Nyatanya Luna menunjukkan respon berbeda.


"Aku pikir, diriku terlalu berlebihan membatasimu. Setidaknya pesta di rumah lebih baik daripada di bar. Sekali-sekali kau harus bersenang-senang dengan temanmu"


Jawab Luna.


"Hanya saja, kau harus ingat untuk tidak berlebihan juga. Jangan sampai aku menangkap dirimu bermain dengan wanita lain. Pintu itu juga. Kau harus memastikan tidak ada yang tahu rumah kita terhubung dan muncul rumor tinggal bersama itu. Aku tidak mau melihat Gracey dan para mantanmu merasa menang di depanku"


Tambah Luna mengancam. Dia menunjuk pintu yang menghubungkan rumah kami. Aku hanya tertawa.


"Aku akan memastikan untuk menguncinya dengan baik"


Janjiku. Walau Luna masih menatapku dengan curiga, dia memilih tidak memperpanjangnya.


"Aku akan mengeringkan cucian dulu"


Luna beranjak dari kursinya dan pergi menuju ruang laundry. Aku hanya memperhatikan punggungnya yang berjalan menjauh.


Sepertinya Luna memang ditakdirkan untukku. Dia mampu membatasi dan membebaskanku di saat bersamaan. Belum pernah ada yang pernah bersikap seperti itu padaku. Hingga setiap detik yang kuhabiskan dengannya menjadi tak pernah cukup.


******


Malam di akhir pekan memang saatnya untuk melepas penat. Meski malam baru saja dimulai, rumahku sudah ramai dipenuhi tamu. Suara musik yang berdentam keras, suara botol minuman dibuka, dan suara tawa dari seluruh sudut. Pesta yang sempurna.


Namun masih ada saja beberapa dari mereka yang perhatiannya teralihkan dari acara utamanya.


"Rumahmu kosong sekali. Seperti tidak ada apapun di sini"


Komentar Gracey yang sibuk meneliti setiap sudut rumahku. Yah, memang aku lebih sering menggunakan ruangan di rumah Luna. Wajar saja kalau di sini kubiarkan kosong tanpa banyak perabotan.


"Kamarmu di sebelah mana?"


Tanya Melina celingukan. Sudah bisa ditebak tujuannya menanyakan itu.


"Aku punya barang bagus dari Perancis. Mungkin kalian ingin mencobanya"


Aku langsung mengalihkan perhatian mereka. Menggiring mereka ke tengah pesta, di mana berbagai minuman mahal sudah kusiapkan.


Aku Paling tidak bisa menghadapi gerombolan Gracey ini. Bahkan aku tidak ingat mengundang mereka, tetapi sudah muncul sendiri. Langsung merubungku. Jika mereka sampai masuk ke dalam kamarku, mereka akan membuat 1001 alasan untuk tinggal di sana. Dan aku tidak menginginkannya. Luna saja belum pernah tidur di sana.


"Mana Sugar?"

__ADS_1


Tanya Henry. Dia adalah teman yang pernah memergokiku menyebut nama Luna dengan Sugar sebelumnya. Sekarang di setiap kesempatan dia pasti menyebut panggilan Luna dengan maksud menggodaku.


"Dia sedang ada pekerjaan"


"Kasihannya, kau pasti kesepian. Mau bermain denganku?"


Gracey sudah nimbrung. Lalu mendekapku erat. Belahan pakaiannya di bagian dada cukup rendah, hingga memperlihatkan tonjolan seksi di sana. Biasanya aku akan menikmati pemandangan itu, tetapi kali ini aku merasa risih. Sikapnya itu terlalu agresif. Aku heran, kenapa dulu pernah tertarik pada Gracey. Bahkan pernah melihatnya sebagai wanita dengan kualitas terbaik.


Aku menurunkan tangan Gracey pelan-pelan. Sambil mengalihkan pembicaraan.


"Sudah dengar mengenai rencana peluncuran seri terbaru dari jam tangan ini?"


Pancingku mengubah topik. Untungnya pembicaraan kami mulai menjauh dariku dan Luna. Tujuanku berpesta memang ini. Bertemu kawan, menikmati minuman dan bertukar informasi. Kadang ada hal yang hanya bisa kuketahui dari pembicaraan langsung macam ini. Isu yang tidak terendus oleh reporter.


Malam makin larut, begitupun pesta yang makin meriah. Kebanyakan sudah berada di bawah pengaruh minuman yang kusajikan. Ada yang turun berjoget mengikuti irama musik. Ada juga yang sudah tertawa dan menangis sendiri di sudut ruangan.


Mereka yang datang dengan pasangan sudah menampilkan adegan liar di sofa, meja atau bahkan lantai. Aku tidak mengijinkan mereka masuk dan merusak kamar di sini. Yang datang sendirian pun sudah mulai menemukan tambatan hati. Mulai melakukan pendekatan yang terlalu intim. Hanya aku sendiri yang masih duduk di tempatku.


Entah mengapa aku merasa kosong. Aku tidak merasakan semangat atau kemeriahan pesta ini. Suara musik yang biasanya menggerakkan tubuhku kini terasa menusuk telinga. Minuman yang biasanya menjadi candu bagiku kini terasa getir, membuat tubuhku menolaknya. Bahkan para wanita yang berlalu lalang dengan pakaian terbuka di depanku sama sekali tidak menggairahkan.


Seperti, aku tidak ingin berada di sini.


"Drey..."


Desah Gracey yang masih betah melingkarkan tangannya di bahuku. Sejak tadi tanpa henti mencoba merayuku. Bahkan mencoba melakukan sesuatu dengan leherku.


Aroma alkoholnya terlalu kuat. Mendadak aku merasa muak. Dadaku sesak oleh aroma yang kini terasa asing itu. Aku segera melepaskan tangan Gracey, mencoba mendorongnya menjauh.


"Kenapa Drey?"


Tanya Gracey kesal. Namun dia tidak menyerah dan kembali merapatkan tubuhnya padaku.


"Aku sangat merindukanmu Drey. Sudah lama Kita tidak pernah menghabiskan waktu bersama"


Rajuk Gracey berbisik di telingaku. Ingin aku mendorongnya lebih kuat hingga dia kapok mendekat, tetapi bukan gayaku menyakiti wanita. Gracey bukan Luna yang bisa menghadapi kemarahanku. Kembali aku menurunkan tangan Gracey perlahan.


"Aku ingin ke toilet"


Bohongku mencari alasan untuk menjauh. Gracey menerimanya dan akhirnya membiarkan aku pergi.


Aku memperhatikan setiap sudut rumah. Tidak ada tempat aman di sini untukku. Ada Gracey lainnya yang menunggu dan menghantarkan senyuman merayu padaku di setiap tempat. Kemanapun aku berjalan, akan ada saja wanita merubungku. Sehingga aku memutuskan keluar dari rumah.


Rasanya lega sekali menghirup udara di luar. Terasa mewah sekali melegakan hidungku. Rasa sesak dan muak tadi langsung hilang. Tanpa sadar aku telah berjalan menjauh dari rumah, mengikuti semilir angin berhembus.


Di luar sini juga lebih sepi dan tenang. Karena memang malam telah sangat larut. Aku bahkan bisa mendengar jelas suara langkah kakiku sendiri. Terasa damai.


Pikiranku seolah terbuai dan terus berjalan tanpa tujuan. Saat sadar, aku sudah mengitari satu blok dan berhenti di depan rumah Luna. Rumah itu tampak gelap, menandakan bahwa Luna belum pulang. Namun aku juga tidak ingin beranjak. Akhirnya aku duduk di depan pagar. Sambil menikmati sejuknya malam itu.


Mungkin aku akan menunggu begini sampai pagi. Begitu pikirku, ternyata tak lama mobil Daniel muncul dan Luna keluar dari sana. Wajahnya terlihat lelah.


"Ahhh...! Kau mengagetkanku"


Teriak Luna saat mendapati aku di depan pagarnya.


"Kupikir kau hantu"


Lanjutnya sambil tertawa kecil. Aku hanya mengekor pada Luna yang memasuki rumah. Ada banyak hal ingin kukatakan padanya, tetapi melihat raut wajahnya, aku memilih diam.


Luna pamit untuk pergi mandi sedangkan aku sendiri memilih berdiam di ruang tengahnya. Lampu tetap kubiarkan mati, tetapi Lumiere buatan kubiarkan hidup. Menatap cahaya kecil yang terbentuk indah di langit-langit ruangan cukup menyenangkan buatku. Kekosongan yang kurasakan tadi dengan mudah terisi.


Ternyata semudah ini merasa bahagia. Aku tidak perlu membuat pesta, atau mengundang banyak orang. Merebahkan tubuh sejenak, lalu berdiam dalam keheningan seperti ini sebenarnya sudah cukup untuk menghilangkan rasa penatku.


Aku hampir saja jatuh tertidur saat aroma wangi dari sabun menggelitik hidungku. Luna ternyata sudah bergabung denganku di sofa.


"Bagaimana pestanya?"


Tanya Luna.


"Membosankan, aku kabur dari sana"


Jawabku jujur. Luna tertawa geli mendengarnya.


"Lalu kau duduk di depan pagarku seperti seorang stalker? Hei! Bagaimana bisa kau sebagai tuan rumah meninggalkan tamu"


Omel Luna. Gantian aku yang tertawa. Memang tindakanku tadi seperti orang mencurigakan. Untung saja tadi tidak ada polisi yang lewat untuk berpatroli. Bisa-bisa aku ditangkap.


"Aku ingin bertemu denganmu"


Tanpa basa basi aku langsung menghempaskan diriku ke tubuh Luna. Menyembunyikan wajah di balik ceruk lehernya. Lalu menghirup aroma wangi dari sabun mandinya.


"Kau bau alkohol"


Protes Luna, tetapi dia sama sekali tidak mendorongku menjauh. Malah mengusap pelan punggungku.


Sudah lama kami tidak begini. Rasanya aku tidak tahan ingin melampiaskan seluruh kerinduanku. Namun aku harus menahannya atau aku akan meremukkan tubuh mungil itu.

__ADS_1


"Drey..."


Panggil Luna lembut. Dia menggoyangkan tubuhku, memberi tanda agar aku mengangkat wajahku.


"Ada apa?"


Jantungku sedikit berdesir. Aku sudah berpikir bahwa Luna mungkin ingin melihat wajahku agar bisa menciumku. Namun tiba-tiba Luna memegang leherku dengan sedikit keras.


"Ini apa?"


Tanya Luna dengan mata melotot. Ekspresinya seperti orang yang menahan rasa histeris. Tangannya menekan salah satu bagian leherku.


"Memangnya apa?"


Aku meraba bagian yang ditekan Luna. Tidak ada yang salah dari sana. Tidak ada benjolan atau semacamnya. Saat itu sesuatu terbesit sesuatu di pikiranku.


Gracey. Wanita itu tadi melakukan sesuatu pada leherku.


"Kutanya ini apa?"


Luna mengulangi pertanyaannya. Terdengar geram. Dan aku sadar, pasti Gracey meninggalkan jejaknya di sana. Bahkan di ruangan segelap ini, Luna bisa melihatnya dan aku bisa melihat dia siap meledak.


"Mungkin digigit nyamuk"


Jawabku asal. Aku sudah panas dingin melihat ekspresi Luna. Tatapannya seperti laser yang sudah siap menembak dan melubangiku.


"Kau pikir aku bodoh?"


Tanyanya makin kesal. Aku tahu alasan bodoh itu tidak akan cukup mengelabuinya. Aku hanya ingin sedikit bercanda untuk menenangkannya. Namun sepertinya ia tidak menganggap itu sebagai hal lucu.


"Bukankah sudah kubilang tidak mengijinkanmu bermain dengan wanita lain?"


"Aku tidak melakukannya. Sungguh! Aku sama sekali tidak menyentuh wanita lain"


Jawabku tegas. Aku memang tidak menyentuh mereka. Gracey saja yang terlalu agresif menyerangku.


"Tapi kau membiarkan mereka memainkanmu?"


Tebak Luna tajam. Aku otomatis diam. Dia tidak salah. Aku memang membiarkan Gracey saat menandaiku di sana. Sekarang apapun yang kukatakan pasti hanya akan memperburuk situasi.


"Siapa yang melakukan ini?"


Tanya Luna makin mengintimidasi saat melihat aku telah kalah berdebat.


"Memangnya kenapa?"


Tanyaku takut-takut. Aku tahu Luna punya perasaan buruk pada Gracey, mungkin dia akan benar-benar marah jika aku menyebut nama wanita itu.


"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Jika ada wanita yang berani menyentuhmu, akan kupatahkan lehernya. Memangnya dia ini vampir apa? Menandai lehermu seperti ini"


Omel Luna sambil memperhatikan lebih jelas tanda di leherku. Aku sendiri tidak tahu sejelas apa bekas itu.


Benar sekali. Luna pernah mengancamku seperti itu sebelumnya. Jika aku menyebut nama Gracey, bukan tidak mungkin Luna akan benar-benar melakukannya.


"Kau tidak bisa menyebutkan namanya karena dia sangat penting buatmu? Atau kau bahkan tidak tahu siapa yang melakukannya karena saking banyaknya wanita menyerangmu?"


"Gracey"


Jawabku cepat. Luna berhasil memancingku dengan pertanyaan mematikan. Memastikan bahwa dia akan semakin salah paham kalau aku hanya diam.


"Sudah kuduga"


Jawab Luna yang akhirnya melepaskan leherku. Dia bicara dengan nada kecewa.


"Maaf, ini memang salahku. Kau boleh memukulku, tetapi jangan marah padaku"


Pintaku memelas.


"Sudahlah. Memukulmu juga tidak akan membuat perasaanku membaik"


Jawab Luna. Walaupun terdengar dingin, tetapi setidaknya dia sudah tidak terlihat marah. Aku melihat kesempatan ini untuk semakin meluluhkan hatinya.


"Kalau begitu-"


Baru saja aku hendak memeluknya, Luna sudah berdiri.


"Sudah malam, sebaiknya Kita tidur. Aku akan kembali ke kamar"


"Apa kau akan membiarkanku tidur sendirian dan kedinginan di sini?"


Tanyaku tak percaya. Dari ucapan Luna, aku bisa menyangka jika dia tidak akan membiarkanku tidur dengannya di kamar.


"Jadi, di mana kau ingin tidur tuan Drey?"


Tanya Luna balik dengan sangat sopan. Dia tersenyum padaku, tetapi aku bisa mengartikan makna di balik senyumannya itu. Dia mungkin akan tega membiarkanku tidur di jalanan jika aku terus meminta lebih padanya. Sehingga aku menurut dan segera menata sofa itu.

__ADS_1


"Sialan si Gracey itu"


Umpatku dalam hati.


__ADS_2