Sugar

Sugar
Desperation (Drey POV)


__ADS_3

Suara sorak sorai dukungan yang biasanya ku nikmati itu terdengar jauh, seolah meninggalkan ku. Lapangan yang biasanya terlihat sempit itu kini terlalu luas untuk ku. Serta bola yang selalu berada di kaki ku, kini seolah hilang.


Aku sudah kehilangan kepekaan dan inderaku. Rasanya Ada sesuatu yang berat membebani bahu ku. Lalu membuat ku terjatuh ke bawah. Membuat ku kelelahan dan ingin berhenti.


Ada istilah yang biasa di gunakan untuk menyebut kondisi ini, Slump. Aku sering mendengarnya, tetapi tidak ku sangka akan mengalaminya. Semua orang juga membicarakan itu sekarang. Baik di Artikel, berita maupun komentar di media sosial. Mereka membicarakan penurunan performaku. Namun Sekeras apapun aku mencoba bangkit, sulit menemukan ritme ku yang lama.


Rasanya aku Ada di dalam mimpi buruk yang tak berujung.


Satu-satunya kesempatan yang ku miliki untuk bernafas adalah Saat aku melihat punggung Luna. Rasanya punggung itu sekarang terlihat lebar dan kuat, bahkan melebihi luasnya lapangan tempat aku biasa berlari. Karena di Sana, aku bisa bersandar.


"Apa kau ingin menyeduh kopi?" Tanya Luna. Tangannya yang tadi asyik membuat sesuatu berhenti untuk melihat ku.


"Ya, aku butuh banyak kafein"


Luna langsung kembali sibuk menyiapkan kopi.


"Sugar..." Panggilku lirih.


Luna langsung menoleh, "hm...Ada apa?"


"Aku tidak tahu bagaimana kembali pada performaku sebelumnya. Permainan ku begitu buruk meskipun di sesi latihan."


"Kau tidak bisa fokus?"


"Aku sudah merasa fokus ta--" belum selesai aku bicara, Luna sudah menyela,


"Tapi.. kau bahkan tidak bisa melihat apa yang di depanmu atau bahkan di Mana bola nya" dia mengatakan persis seperti yang ku pikirkan.


Luna menaruh kopi di depanku. Aromanya terasa lebih kuat, seperti Luna telah mengganti biji kopinya.


"Hm.. ya" jawabku sambil meraih cangkir kopi itu. Lalu mencium aromanya lebih kuat, memang terasa berbeda.


"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku.


"Karena aku juga pernah sepertimu. Kamera Ada di depanku, tetapi rasanya juga tidak ada di Sana. Aku tidak tahu harus melakukan apa"


"Lalu..?"


"Aku bertemu seorang ahli psikologi yang hebat. Dia membantuku mengatasi perasaan itu. Kalau saja dia ada di sini, aku akan mengenalkannya padamu agar dia juga mengobatimu. Tapi ku rasa kau pun tidak akan tertarik"


Aku tersenyum kecut. Jelas sekali bahwa yang Luna ceritakan adalah ibuku. Hanya dia yang sering Luna kunjungi di rumah sakit. Walaupun dia tidak pernah mengatakannya.


"Ya, ku rasa begitu"


Luna menatapku, "Drey, Kau tidak ingin menemuinya?"


Kami sepertinya memikirkan Hal yang sama sekarang. Setelah menghindarinya beberapa lama, ini p pertama kalinya kami bicara soal ibu.


Aku hanya diam, menyesap rasa kopi baru itu. Kafeinnya yang kuat langsung menendang Kesadaranku, hingga aku merasa terbangun sepenuhnya.


"Dia sendiri Tidak Ada niat untuk bertemu, lalu untuk apa aku menginginkannya. Jika aku melakukannya, dia mungkin akan merasa jika aku memaafkannya" sergahku.


Luna menggenggam tanganku, "kau pun tahu masalah nya. Apa yang membuatmu berada di kondisi ini"


Luna berkata begitu lembut, tetapi itu menghantamku dengan keras. Ya, aku memang tahu. Dan aku selalu berusaha untuk menyangkal nya. Bahwa sekarang ada distorsi antara impian dan kenyataan dalam diri ku. Impianku tentang bermain sepak bola dan pertemuanku dengan ibu. Tidak sejalan dengan yang akhirnya terjadi. Akan lebih baik jika ibu benar-benar tidak menemuiku karena ayah menghalanginya. Dengan begitu aku hanya perlu membenci dan menyalahkan ayah.


Sekarang semua menjadi sulit karena aku harus membenci Mereka berdua.

__ADS_1


"Aku rasa perpisahan yang ku ucapkan padanya sudah cukup"


Luna tersenyum mendengar jawabanku. Tangannya yang satunya kini ikut menggenggam tanganku.


"Aku tahu tidak seharusnya ikut campur dalam masalah ini. yang bisa ku katakan adalah, Kau tidak perlu datang padanya untuk menerima permintaan maafnya kalau kau tidak mau. Tapi lakukan lah demi dirimu. Bukan kah sayang sekali, belasan tahun kerja keras mu agar bisa menjadi pemain sepak bola seperti sekarang ini harus berakhir menyakitkan. Pada akhirnya, tanpa menjadikan ibumu sebagai alasan bermain, kau masih harus terus melanjutkan jalan mu"


Luna mengatakan itu dengan ekspresi yang hangat. Lebih hangat Dan kuat daripada kopi yang barusan ku minum.


*****


Aku menyusuri pinggiran sungai Thames. Hari sedang mendung sehingga tidak banyak orang di Sana selain aku. Angin berhembus lembut, terasa dingin. Membawa daun-daun berguguran. Seperti biasanya saat musim dingin.


Dari tempatku berjalan, terlihat London Eye, salah satu ikon tempat ini. Banyak yang merekomendasikan untuk mencobanya sebagai tujuan kencan. Jika di pikir, sudah lama kami di sini, aku belum pernah mengajak Luna menaikinya.


Aku jadi memikirkan gadis itu,


Luna telah berhasil membuatku berpikir ulang tentang kekerasan keinginanku. Aku selalu berusaha menghindar Dan akhirnya merasa kesulitan. Sehingga kini aku berusaha mengubah itu.


Setelah merenungkan untuk waktu yang lama, aku sadar mencoba balas dendam dengan mengacuhkan ibuku tidak akan Ada gunanya. Pada akhirnya aku sendiri yang terluka. Semua kerja kerasku seolah menguap sia-sia. Mungkin saatnya aku mengubah tujuanku bermain.


Lamunanku buyar saat aku melihat payung berwarna kuning yang mencolok. Padahal hujan belum turun, payung itu sudah di buka, dan warnanya sangat menarik perhatian. Lalu jantung ku berdetak kencang saat melihat siluet familiar di baliknya.


Rupanya aku sudah sampai di tempat aku berjanji akan menemui ibuku. Tidak ku sangka dia akan datang. Karena bisa saja dia kembali lari dariku.


Aku tidak menyapa dan hanya berjalan mendekat, lalu berhenti satu meter di samping nya. Aku tahu dia akan menyadari ke datangan ku.


Ibu ku menoleh. Anehnya sekarang aku bisa melihat wajah nya lebih jelas ketimbang malam itu. Dia memang ibu. Ingatan ku tentang seperti apa rupa nya belasan tahun yang lalu memang samar, tetapi aku bisa dengan jelas mengenalinya.


"Aku datang untuk bicara" ujar ku.


"Ya, bicaralah"


"Kenapa kau tidak menemui ku?" Tanya ku.


"Itu... Kau akan tahu ketika tiba waktu nya"


Aku mengepalkan tinju ku. Obrolan ini terasa berat sebelah bagi ku. Seolah aku yang sangat menginginkan nya.


"Aku sangat membenci sikapmu. Jika memang tidak menginginkan ku, harusnya kau katakan. Dengan begitu aku tidak perlu menunggu. Tidak perlu bekerja begitu keras menjadi pemain sepak bola terkenal hanya agar kau melihat ku. Andaikan saja ku tahu kau tidak peduli. Aku tidak akan berusaha sekeras itu"


"Drey..." Tiba-tiba ibu memanggil nama ku.  Benar juga, meskipun ia bersikap dingin, Cara nya memanggil ku justru terdengar akrab.


"Maafkan ibu sudah menyakitimu. Entah Ada berapa banyak dosa yang sudah ku lakukan selama Delapan belas tahun meninggalkanmu. Andaikan bisa, aku akan menebus semuanya. Tapi kau tahu, itu mustahil"


Aku merasa hati ku bergetar saat itu. Seperti Ada suatu perasaan yang muncul setelah terpendam selama ini. Ibu ku memang jahat. Dia begitu mudah merengkuh ku setelah mendorong ku.


"Ibu senang, kau tumbuh dengan baik. Kau menjadi pria yang tampan dan membanggakan, ibu sangat bahagia. Aku bersyukur, bertemu denganmu lagi Dan kau telah memiliki kehidupan yang baik"


Mungkin ini alasan Luna menyuruhku bertemu dengan ibu. Ada sesuatu yang hanya bisa tersampaikan saat aku benar-benar mendengarnya dari orang yang bersangkutan. Rasanya Ada sebuah beban lepas dari dada ku. Kata-kata bahwa dia bangga padaku, bahwa dia senang melihatku, sudah cukup untukku memaafkan semua waktu yang ku buang menunggunya.


Hanya kata-kata itu yang ingin ku dengar.


*****


Mobil ku mulus memasuki halaman. Rumah terlihat sepi, sepertinya Luna belum pulang. Hari sudah gelap saat aku kembali ke rumah. Kali ini aku pulang dengan langkah kaki yang ringan. Aku telah meninggalkan bebanku di sungai Thames.


Aku sudah mengucapkan perpisahan pada Luka ku di Masa lalu. Juga pada ibu yang telah bersiap untuk pergi. Ini memang bukan akhir yang pernah ku bayangkan, tapi setidaknya aku telah mendengar permintaan maaf darinya.

__ADS_1


Karena masih gelap, aku tidak menyadari bahwa Ada kardus di depan pintu yang membuat ku hampir terjatuh karena tersandung. 


Sepertinya itu paket.


Aku segera membawanya masuk. Pengirimnya dari alamat yang tidak ku kenal, tanpa nama juga. Jadi aku menelfon Luna untuk memastikan apakah paket itu milik nya.


"Aku menerimanya tadi siang, Dan itu di tujukan padamu" begitu jawaban Luna.


Ada Dua kardus Dan aku membuka salah satu nya yang di beri nomor 1. Isi nya membuat ku benar-benar tertegun. Apakah benar tidak salah di tujukan pada ku?


Di dalam kardus itu Ada Surat yang Tak terhitung jumlah nya. Sangat banyak di susun rapi. Ada instruksi agar aku membuka nya dari salah satu sudut agar tidak salah urutan.


Di amplopnya memang tertulis untuk ku, tapi memakai alamat rumah ku yang lama di Swiss. Dan nampaknya surat itu sudah sangat lama. Amplopnya mulai berwarna kecoklatan dan bernoda.


Tak sabar aku membuka Dan membaca isi suratnya. Namun ternyata hidup bisa sangat kejam. Terkadang kebenaran yang di ketahui bisa menjadi berbeda, tergantung dari Mana Kita mendengar nya.


Surat itu di tulis ibu ku. Dengan tulisan tangan. Tanggal nya tertulis Tak lama Setelah perceraian orang tua ku. Di tulis ibu ku untuk mengatakan bahwa aku tidak bisa tinggal dengannya.


Ayah ku sangat marah, lalu membuat ibu ku di pecat dari pekerjaannya. Ibu bahkan tidak bisa mengambil pekerjaan di Mana pun. Namanya telah dicoret karena kekuasaan ayah. Ibu ku hidup dalam kesusahan, bahkan untuk makan. Karena itu dia meminta maaf tidak bisa membawa ku. Aku harus tinggal dengan ayah agar bisa hidup dengan nyaman.


Semua surat di dalam kardus itu semuanya di tulis ibu untukku. Bisa setiap bulan, setiap tahun, setiap dia melihat sesuatu yang baik, setiap ulang tahun ku. Selama delapan belas tahun ia menulisnya.


Ibu ku tidak pernah melupakanku. Dia selalu merindukanku, beberapa Surat Ada yang tulisannya hilang Karena terkena air matanya. Namun ibu tidak pernah mengirimkan satu pun dari Surat itu. Dia merasa tidak pantas memeluk ku yang telah menjadi orang hebat karena tidak pernah menemuiku.


Ibu ku juga menjalani hidup yang sepi selama ini. Sementara aku dengan jahatnya mengatakan bahwa aku membencinya.


"Aku pulang... Apa Kau su-- Drey, kenapa kau menangis?" Tanya Luna. Dia segera meletakkan tas Dan mantelnya untuk melihatku.


Aku tidak sanggup bicara, hanya menyerahkan kertas di tanganku. Bisa ku tebak jika Luna juga terkejut membacanya.


"Jadi..." Luna Tidak melanjutkan ucapannya.


"Drey, kau harus pergi ke rumahnya sekarang. Kau mungkin tidak memiliki kesempatan melihatnya lagi!" Seru Luna kemudian. Dia sudah lebih dulu berdiri dan mencari kunci Mobil.


"Aku tahu di mana rumahnya" ujarnya sambil menarikku.


*****


Kami sudah membunyikan bel berkali-kali, bahkan mengetuk pintunya. Namun tetap tidak ada yang membukakan pintu. Sepertinya ibu sudah pergi.


Luna menepuk punggung ku, sementara badan ku langsung merosot. Lagi-lagi aku terlambat. Bahkan tidak sampai beberapa jam aku berpisah dengan nya di sungai Thames.


"Kita pasti bisa menemukannya lagi. Aku akan mencari tahu ke mana dokter Lily pergi" hibur Luna.


Tapi semua tidak akan sama. Hanya berbeda sehari atau sebulan, tidak akan bedanya.


"Kalian sedang apa di sini?" Seseorang bertanya dan Aku mengenali suara itu.


"Ibu..." Untuk pertama kalinya aku memanggil nama itu dengan Cara yang sama seperti saat dia memanggil namaku.


Ibu ku melihat kami dengan wajah heran. Sebelum dia bicara, aku sudah lebih dulu bangkit dan memeluknya.


Aku memeluk ibu ku dengan sangat erat. Mendekap tubuhnya yang ternyata sangat kurus. Dia mungkin mengenakan pakaian berlapis- lapis hanya agar bisa terlihat berisi. Padahal sebenarnya aku bisa merasakan tulang bahu nya.


"Maafkan aku. Aku tidak pernah membencimu. Malahan sangat merindukanmu, aku... "


Ada ratusan kata ingin ku ucapkan padanya. Mungkin tidak sebanyak kata-kata yang ia tulis dalam Surat yang dikirimnya pada ku. Namun aku berharap perasaan ku juga tersampaikan padanya.

__ADS_1


"Aku menyanyangimu, Bu"


__ADS_2